Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retaknya Belenggu
"Anda berani mengusir saya, Nona Montmirail?"
Suara Lucien terdengar sangat pelan, nyaris seperti sebuah bisikan yang dipaksakan keluar dari tenggorokannya yang mendadak kering. Rahang pria itu mengeras hingga otot-otot di sekitar lehernya menonjol. Ia berdiri mematung menatap wajah Geneviève yang sama sekali tidak memancarkan emosi.
Di ambang pintu ruang tamu utama, beberapa pelayan kediaman Montmirail yang sejak tadi mencuri dengar mulai berbisik-bisik. Suara gumaman mereka terdengar seperti dengungan lebah. Pierre sang kepala pelayan bahkan harus berdehem keras dan menatap tajam para pelayan muda agar mereka kembali bekerja, meski ia sendiri tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya.
Putri Duke kesayangan mereka baru saja memutuskan pertunangan, membuang cincin mahal itu ke atas meja, dan mengusir Duke Vaudémont secara terang-terangan. Ini adalah skandal sosial yang akan menjadi topik utama di seluruh pesta minum teh ibu kota besok pagi.
"Saya rasa bahasa yang saya gunakan sudah sangat jelas, Tuan Duke." Geneviève melipat tangannya di depan dada. Ia berdiri dengan postur yang sangat tegak dan elegan. "Saya tidak mengusir Anda dengan kasar. Saya hanya meminta Anda dan Yang Mulia Putri Mahkota untuk meninggalkan properti keluarga saya secara sukarela. Kehadiran Anda berdua di sini tidak memberikan nilai tambah apa pun selain membuang waktu produktif saya."
"Kau pasti sudah gila," desis Lucien. Matanya menatap nyalang cincin safir yang tergeletak pasrah di atas meja kayu mahoni. "Kau melakukan semua sandiwara ini hanya untuk memancing perasaanku. Kau pikir dengan melempar cincin itu, aku akan berlutut dan memohon padamu? Kau pikir taktik murahan ini akan membuatku melupakan betapa kasarnya kau pada Yang Mulia Putri Mahkota?"
Rasa frustrasi kembali menyelimuti ruang tamu itu. Lucien de Vaudémont, ksatria paling ditakuti di seluruh kekaisaran, nyatanya memiliki kepala yang lebih keras daripada batu granit. Pria itu masih saja menjadikan Camille sebagai pusat kebenarannya.
Geneviève menghela napas pendek. Ia bahkan tidak merasa marah lagi. Berdebat dengan pria yang otaknya tidak berfungsi normal adalah tindakan paling tidak efisien di dunia bisnis.
"Silakan anggap semua ini sebagai sandiwara murahan, Tuan Duke," balas Geneviève dengan nada santai yang justru terdengar sangat meremehkan. "Jika menganggap saya sedang mencari perhatian bisa membuat Anda merasa lebih superior, silakan bawa pemikiran itu sampai Anda tertidur malam ini. Namun bagi saya, transaksi kita sudah selesai. Cincin itu adalah buktinya."
Camille yang sejak tadi duduk menunduk akhirnya angkat bicara. Wanita bergaun putih itu mencoba berdiri. Kakinya sengaja dibuat sedikit bergetar agar terlihat rapuh.
"Geneviève, tolong hentikan semua ini," isak Camille dengan suara lembut yang memuakkan. Air matanya kembali menetes perlahan. "Aku yang salah. Kunjungan mendadakku ini pasti membuatmu tertekan. Tolong jangan putuskan ikatanmu dengan Duke Vaudémont hanya karena cemburu padaku. Beliau adalah pria yang sangat baik. Kalian sudah saling mengenal sejak lama."
Odette yang berdiri di belakang Geneviève memutar bola matanya dengan sangat dramatis. Pelayan itu benar-benar harus menggigit lidahnya sendiri agar tidak meneriakkan kata-kata kotor khas jalanan pasar. Wanita pirang ini benar-benar ular berbisa tingkat tinggi. Camille sengaja menempatkan dirinya sebagai malaikat pelerai, padahal ia sedang menyiramkan garam ke atas luka gengsi seorang pria.
"Anda terlalu banyak mencampuri urusan pribadi orang lain, Yang Mulia," ucap Geneviève dingin, memotong tangisan palsu Camille. "Saya tidak cemburu. Saya murni merasa rugi. Mulai sekarang, Anda bisa memonopoli kebaikan Tuan Duke tanpa perlu khawatir ada wanita gila yang mengirimkan musisi jalanan di tengah malam. Bukankah itu kabar baik untuk Anda?"
Mata biru Camille melebar. Ia tidak menyangka Geneviève akan merespons dengan logika yang begitu mematikan. Biasanya, putri Duke ini akan langsung menjerit histeris dan memecahkan perabotan jika diprovokasi.
Lucien mengambil satu langkah panjang ke depan. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Ia berniat membentak Geneviève agar wanita itu berhenti menghina Camille. Ia ingin memaksa Geneviève mengambil kembali cincin itu dan bersikap seperti wanita terobsesi yang biasanya ia kenal.
"Jaga bicaramu di depan Yang Mulia. Kau tidak punya hak untuk..."
Kalimat Lucien terpotong secara brutal.
Tiba-tiba saja, Lucien merasakan hantaman luar biasa keras di dalam kepalanya. Rasanya seperti ada paku besi panas yang dipalu langsung ke bagian belakang tengkoraknya. Pria itu tersentak hebat. Napasnya terhenti seketika.
Dunia di sekelilingnya mendadak berputar cepat. Telinganya berdenging kencang, menenggelamkan suara isak tangis Camille dan deru napasnya sendiri. Di dalam otaknya, dua kenyataan yang saling bertolak belakang sedang bertabrakan dengan sangat ganas.
Sihir Putih yang ditanamkan Camille selama tiga tahun terakhir terus meneriakkan perintah mutlak. Geneviève sangat mencintaimu. Geneviève adalah wanita gila yang terobsesi. Kau harus membencinya. Kau harus menjauhinya.
Namun, mata Lucien baru saja menangkap kenyataan yang sangat berbeda. Geneviève membuang cincinnya. Geneviève menatapnya dengan pandangan kosong. Geneviève tidak mencintainya lagi.
Kontradiksi antara ilusi sihir dan realitas fisik ini menciptakan retakan pertama pada dinding belenggu di otak Lucien.
"Argh." Erangan kesakitan meluncur dari celah bibir Lucien.
Ksatria tangguh yang pernah menahan sabetan pedang tanpa berkedip itu kini kehilangan keseimbangannya. Lutut kanannya menghantam karpet Persia dengan bunyi debuman keras. Ia menunduk dalam-dalam. Kedua tangannya mencengkeram kepalanya sendiri seolah berusaha menahan tengkoraknya agar tidak pecah berkeping-keping.
"Tuan Duke." Camille memekik panik. Kali ini suaranya tidak dibuat-buat. Wanita itu maju selangkah dengan wajah pucat pasi. Ia menyadari ada yang tidak beres dengan sihir kendalinya. Jika sihir itu hancur sekarang, semua rencananya akan hancur lebur.
Gaspard bergerak lebih cepat dari bayangan. Dalam sekejap mata, ksatria berpakaian serba hitam itu sudah berlutut di samping majikannya. Wajah kakunya memancarkan kepanikan yang jarang terlihat.
"Yang Mulia." Gaspard menahan bahu Lucien dengan kedua tangannya yang kokoh. "Apakah luka lama Anda terbuka kembali? Ataukah Anda diracun?"
Lucien tidak bisa menjawab. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari pelipisnya. Dadanya naik turun dengan sangat cepat, berusaha meraup udara sebanyak mungkin. Rasa sakit di kepalanya perlahan mereda, namun digantikan oleh rasa kosong yang luar biasa mengerikan di dalam rongga dadanya. Ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang sangat penting, yang bersembunyi di balik kabut tebal ingatannya, telah direnggut darinya hari ini.
Tangannya meraba permukaan meja teh secara membabi buta, lalu jari-jarinya menyentuh logam dingin cincin safir tersebut. Tanpa sadar, ia menggenggam cincin itu erat-erat di dalam kepalan tangannya.
Geneviève menatap pemandangan di depannya dengan alis terangkat sebelah. Tidak ada kepanikan atau rasa kasihan di matanya. Ia murni merasa terganggu.
"Odette," panggil Geneviève dengan nada bosan.
"Hamba di sini, Nona," jawab Odette sigap.
"Tolong beritahu Ksatria Gaspard untuk segera membawa majikannya ke tabib ibu kota. Lantai ruang tamuku bukan tempat yang pantas untuk pingsan. Selain itu, aku harus kembali menyortir buku kas wilayah. Jam kerja dan waktu bertamuku sudah habis."
Odette mengangguk patuh. Ia melangkah maju dengan postur yang sangat sopan, lalu menundukkan kepalanya ke arah Gaspard.
"Mohon maafkan kelancangan hamba, Tuan Ksatria," ucap Odette dengan nada formal yang diatur sedemikian rupa. "Seperti yang Anda lihat, kesehatan Yang Mulia Duke Vaudémont menurun drastis karena terlalu lama menghirup udara di rumah hamba yang sederhana ini. Demi keselamatan nyawa beliau, hamba sarankan Anda segera membawa beliau kembali ke kereta kuda. Tolong berhati-hati saat mengangkat beliau. Jangan sampai sepatu boot Anda merusak rajutan karpet ini."
Gaspard mendongak. Matanya yang gelap menatap tajam ke arah pelayan kecil bermulut mematikan itu. Ada rasa kesal yang berkecamuk di dalam dada sang ksatria bayangan, tetapi ia sama sekali tidak punya waktu untuk berdebat dengan Odette. Prioritas utamanya adalah keselamatan Lucien.
"Saya mengerti," jawab Gaspard kaku. Suaranya terdengar seperti dua lempeng besi yang saling bergesekan.
Gaspard menarik lengan Lucien dan merangkulkan lengan itu ke bahunya. Dengan kekuatan fisik yang sangat tidak masuk akal, ia mengangkat tubuh Lucien yang jauh lebih besar darinya hanya dengan satu tangan. Lucien tampak setengah sadar. Matanya memejam erat menahan sisa-sisa rasa sakit yang berdenyut di pelipisnya.
Camille mundur beberapa langkah, memberi jalan bagi ksatria itu. Wajah sang Putri Mahkota terlihat sangat kaku. Ia menatap Geneviève dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Ada kebencian murni yang tersembunyi di balik mata birunya yang rapuh.
"Kita pergi sekarang, Yang Mulia Putri Mahkota," ucap Gaspard singkat, sama sekali tidak memberikan penghormatan formal karena situasinya sedang gawat.
Camille mengangguk kaku. Ia mengangkat sedikit ujung gaunnya yang kotor oleh sisa debu cat kipas palsu tadi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Geneviève, wanita itu berbalik dan berjalan cepat keluar dari ruang tamu, mengikuti langkah lebar Gaspard yang memapah Lucien.
Geneviève berdiri diam di tempatnya sampai suara langkah kaki mereka benar-benar menghilang di balik pintu utama. Hening kembali menguasai ruangan itu.
Odette membuang napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Pelayan itu mengusap dadanya berulang kali dengan dramatis.
"Dewi Cahaya Yang Agung," keluh Odette sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Hamba merasa umur hamba berkurang sepuluh tahun setiap kali melihat pasangan suci itu. Tuan Duke itu badannya saja yang besar, tetapi otaknya pasti tertinggal di barak militer. Bagaimana bisa dia jatuh pingsan hanya karena Anda mengembalikan cincin norak itu?"
"Mungkin gengsinya terlalu besar untuk menerima penolakan," jawab Geneviève santai. Ia berbalik dan merapikan lipatan gaun birunya. "Atau mungkin dia hanya mencari alasan dramatis untuk lari dari kenyataan bahwa Putri Mahkota kesayangannya membawa barang murahan ke rumahku."
Geneviève tidak memedulikan rasa sakit misterius Lucien. Menurut perhitungannya, memikirkan kesehatan pria yang tidak memberikan keuntungan finansial adalah hal yang sia-sia.
"Suruh pelayan membersihkan meja ini, Odette. Aku akan kembali ke ruang kerja. Kita harus menyelesaikan penghitungan nilai aset perhiasanku sebelum malam tiba. Besok pagi, kita akan pergi ke pasar gelap untuk mencari pandai besi yang kau janjikan itu."
"Siap laksanakan, Nona," jawab Odette dengan senyum yang akhirnya merekah. Membahas uang selalu bisa membuat suasana hati pelayan itu membaik seketika. "Hamba jamin pandai besi kenalan hamba tidak akan banyak bertanya. Mereka hanya peduli pada kemurnian emas."
Geneviève mengangguk pelan. Ia melangkah menaiki tangga marmer, meninggalkan drama murahan itu di belakangnya. Tidak ada lagi penjahat obsesif. Tidak ada lagi cinta yang mengemis. Mulai besok, Kekaisaran Valerand akan mengenal Geneviève de Montmirail yang baru.
Di luar gerbang kediaman Montmirail, sebuah kereta kuda hitam dengan lambang singa emas milik keluarga Vaudémont melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan berbatu ibu kota.
Di dalam kereta yang temaram, suasana terasa sangat mencekam. Gaspard duduk tegak dengan postur siaga penuh di kursi seberang. Tangannya tidak pernah lepas dari gagang pedang di pinggangnya. Ia menatap majikannya dengan kekhawatiran yang terkunci rapat di balik wajah kakunya.
Sementara itu, Putri Mahkota Camille telah berpisah di gerbang depan, menaiki kereta putih miliknya sendiri kembali ke Istana Soleil dengan alasan tidak ingin mengganggu waktu istirahat sang Duke. Sebuah alasan yang sangat masuk akal di permukaan, namun Gaspard tahu ada kepanikan aneh di mata wanita suci itu sebelum ia pergi.
Lucien duduk bersandar di sudut kereta. Matanya terbuka, menatap kosong ke arah lantai kayu berlapis karpet di bawah kakinya. Rasa sakit di kepalanya telah sepenuhnya hilang bagai ditiup angin. Namun, sisa-sisa benturan realitas di otaknya meninggalkan jejak yang jauh lebih menyiksa.
Napas Lucien terdengar berat. Ia perlahan mengangkat tangan kanannya yang sejak tadi bertumpu di atas paha. Jari-jarinya perlahan terbuka, memperlihatkan sebuah cincin emas tebal dengan permata safir biru berukuran besar.
Lucien menatap cincin itu lekat-lekat. Kilauan biru dari permata itu memantulkan cahaya lampu jalan yang menembus kaca jendela kereta.
Selama tiga tahun terakhir, cincin ini adalah lambang keangkuhan Geneviève yang paling ia benci. Setiap kali ia melihat benda ini melingkar di jari wanita itu, ia merasakan dorongan kuat untuk menghancurkannya. Ia sangat membenci Geneviève. Wanita itu gila. Wanita itu kejam dan selalu mengganggu hidupnya. Pemikiran itu sangat solid dan tak terbantahkan di kepalanya.
Namun, mengapa sekarang berbeda?
Saat Geneviève melepaskan cincin ini dan melemparnya ke meja, Lucien seharusnya merasa sangat lega. Ia seharusnya merasa merdeka karena benalu yang selama ini menempel padanya akhirnya menyingkir secara sukarela.
Sebaliknya, saat ia menatap tangannya yang kini menggenggam cincin yang dibuang itu, dadanya terasa hampa. Sebuah ruang kosong yang sangat dingin dan gelap tiba-tiba menganga di dalam hatinya. Rasanya seolah ada bagian dari dirinya yang sangat berharga baru saja dipotong secara paksa.
"Gaspard," panggil Lucien tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat parau, seolah ia belum minum air selama berhari-hari.
"Ya, Yang Mulia," jawab Gaspard seketika, tubuhnya sedikit condong ke depan menunggu perintah.
Lucien tidak mengalihkan pandangannya dari cincin safir tersebut. Ibu jarinya perlahan mengusap ukiran emas di bagian samping cincin itu.
"Apakah aku... pernah berjanji pada seseorang di masa lalu?" tanya Lucien pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada ksatrianya.
Gaspard terdiam cukup lama. Wajah kakunya memancarkan kebingungan yang sangat mendalam. Sebagai ksatria bayangan yang selalu mengikuti Lucien sejak kecil, ia tahu semua rahasia majikannya. Namun, sejak kecelakaan berburu musim panas tiga tahun lalu yang membuat Lucien koma selama sebulan, banyak hal yang terasa janggal.
"Saya tidak memahami maksud Anda, Yang Mulia," jawab Gaspard hati-hati.
Lucien menutup telapak tangannya, menyembunyikan cincin itu dari pandangan. Ia memejamkan mata, mencoba menekan perasaan asing yang membuat dadanya sesak.
Sebuah ingatan buram melintas secepat kilat di balik kelopak matanya yang tertutup. Bayangan tentang sepasang batu permata berwarna biru lembut dan ungu yang bercahaya di bawah sinar bulan. Dan suara tawa seorang wanita yang tidak terdengar melengking, melainkan sangat elegan dan menenangkan.
Siapa wanita itu?
Lucien membuka matanya kembali. Ia menatap ke luar jendela kereta, melihat jalanan ibu kota Lumière yang mulai gelap. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Namun satu hal yang ia yakini dengan sangat kuat malam ini. Pernyataan Geneviève bahwa wanita itu melepaskannya sepenuhnya, entah mengapa terasa seperti sebuah kesalahan fatal yang tidak bisa ia biarkan begitu saja.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa komen atau like. Sesekali berkunjung di Tiktok dan Instagram aku untuk mendapatkan update ceritaku yang lainnya🫶🫶
Tiktok & Ig: nadnote__