Aldo pulang merantau dari kota karena mendengar kabar bahwa sebentar lagi Airin akan segera menikah, Kakak kesayangannya itu akan menikah sehingga dia harus segera pulang.
tanpa dia tahu bahwa sesuatu telah terjadi dan Aldo sama sekali tidak mendengar kabar tentang hal itu, bahkan hal yang begitu buruk akan segera menghampiri dia karena kedatangan dia ke desa ini hanya akan mengungkap apa yang telah terjadi kepada Airin yang telah lama menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Calon suami Airin
Fitra diam tertunduk ketika Aldo mendatangi dia untuk bertanya apa yang telah terjadi kepada Airin, tentu sebagai calon suami maka harusnya dia mengetahui apa yang telah terjadi kepada calon istri dia sehingga sampai sekarang tak kunjung kembali, dan lagi Aldo ingin melihat bagaimana reaksi Fitra ketika berbicara dengan dia sekarang.
Maka nya pagi ini dia langsung bertamu ke rumah Fitra untuk bertanya apakah memang tidak ada yang mengetahui tentang hilangnya Airin tersebut, terlebih lagi keluarga Airin sudah menemukan gaun pengantin yang berlumuran darah di dekat ujung desa sehingga itu membuat hati Hartini semakin yakin bahwa ada sesuatu yang telah terjadi kepada Airin ini.
Sakit dan juga sedih perasaan Aldo karena semua bercampur aduk menjadi satu, selain itu dia juga masih penasaran kenapa mendadak saja kemarin bisa bertemu dengan Airin dan mengatakan bahwa dia harus menjaga Bu Hartini, apakah yang mendatangi Aldo itu hanya seorang arwah dan ingin memberi pesan kepada Aldo agar dia bisa menjaga Ibu mereka.
Semua masih menjadi tanda tanya besar di dalam pikiran pemuda ini sehingga dia belum bisa menyimpulkan dengan jelas apa yang telah terjadi, oleh sebab itu dia sibuk ke sana kemari untuk mencari informasi yang tepat agar bisa mengetahui apakah memang Airin sudah meninggal dunia.
"Demi Allah aku juga sama sekali tidak tahu kenapa Airin mendadak menghilang dan mengalami nasib tragis itu." Fitra berkata dengan wajah nelangsa.
"Apa sebelum kejadian itu kalian tidak ada bertemu?" Aldo bertanya dengan serius.
"Tidak ada, karena kami sebentar lagi akan menikah maka tentu saja tidak boleh bertemu dalam waktu yang cukup dekat." jawab Fitra apa adanya.
"Lalu apa selama ini juga tidak ada kabar dari siapa saja tentang Airin?" Aldo agak greget karena Fitra terlihat biasa saja seolah tidak melakukan pencarian.
"Astaga, kalau saja ada maka pasti aku sudah mengambil dia dan membawa dirinya pulang." Fitra juga mulai kesal kepada Aldo.
Aldo menarik nafas panjang dan sesaat dia melirik kepada calon Abang ipar yang tidak jadi ini, sebenarnya sejak dulu dia kurang menyukai karena Fitra di kenal sebagai pria yang agak berandalan di desa ini namun itu semua sudah berlalu karena belakangan tersebut kabar bahwa Fitra telah insaf.
"Airin menghilang seolah dia lenyap ditelan bumi dan tidak ada kabar walau hanya sehembus saja." Fitra berkata dengan sangat serius.
"Lalu apa polisi juga tidak berhasil menemukan keberadaan dia? Kenapa seolah semuanya hanya tertutup begini dan tidak ada pergerakan lagi!" kesal Aldo dengan keadaan ini.
"Apa kau berpikir selama ini aku hanya diam saja tanpa melakukan pencarian?!" Fitra juga ikut bangkit karena terbawa emosi.
"Apa buktinya bila selama ini kau bergerak untuk mencari dia? bila kau memang mencari maka tidaknya ada sedikit info tentang Airin!" bentak Aldo.
"Kau yang tidak pernah tahu kabar berita lalu datang sekarang menyalahkan semua orang, terutama kau menyalahkan aku seolah ini adalah ulah ku untuk menghilangkan Airin!" Fitra berkata dengan emosi yang sangat tinggi.
Gigi Fitra sampai gemeletuk tidak karuan setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Aldo tadi, jelas dia di sini merasa tersinggung atas ucapan calon adik ipar dia itu. namun sebisa mungkin dia masih berusaha menahan agar jangan sampai bertengkar, sebab nanti yang ada para warga akan membicarakan tentang hal tersebut.
"Assalamualaikum." Aldo langsung pergi begitu saja dari tempat ini.
Fitra sama sekali tidak menjawab karena dia masih terbawa emosi yang ada di dalam diri setelah mendengar segala ucapan yang keluar dari mulut Aldo, jadi dia berdiam diri mengepalkan tangan dan menunggu emosi Ini hilang dengan sendirinya dari dalam diri dia.
"Sudah lah, wajar dia seperti itu karena pulang dari kota dan tidak menemukan keberadaan Airin." Bu indah keluar dari dalam rumah.
"Ya setidaknya dia bisa bertanya dengan baik apa yang telah terjadi pada Airin, ini malah ucapan Dia seolah menyudutkan aku." Fitra berkata dengan nada yang mulai menurun.
"Aldo itu masih muda sehingga kurang bisa mengontrol emosi, Kamu adalah calon suami dari Airin sehingga wajar dia merasa kamu pasti tahu segalanya." Bu indah tersenyum dan berusaha menenangkan sang putra.
"Hais entahlah." Fitra segera masuk ke dalam rumah.
Bu indah juga hanya bisa diam karena dia pun bingung dengan masalah yang sudah terjadi ini, entah bagaimana harus menghadapi masalah yang terus datang dalam hidup mereka karena semua ini terasa begitu sulit untuk mereka terima, apa lagi Bu Hartini yang pasti sangat kehilangan setelah tahu Airin hilang.
"Bila dia datang kembali maka lebih baik dibicarakan dengan kepala dingin, kau jangan larut emosi terus seperti itu." Pak bujang juga membuka suara.
"Siapa yang tidak emosi bila mendadak saja mendapat tuduhan!" Fitra kembali membantah.
"Kau sedang berbicara dengan orang tua dan menggunakan nada seperti itu?" Bu indah kembali masuk dan bertanya.
"Kau terus memakai barang haram itu kan? ini akibatnya bila kau tidak bisa menghentikan dan sekarang justru masalah semakin rumit!" Pak bujang juga mulai kesal.
"Apa? Ini semua tidak ada hubungan dengan barang yang sering aku pakai!" Fitra membantah ucapan Pak bujang.
"Melihat kau yang seperti ini maka wajar bila Aldo merasa curiga, saat ini bukan hanya Aldo tapi aku juga merasa curiga bahwa kau mengetahui di mana Airin berada!" tegas Pak bujang.
"Apa yang ada di dalam pikiran Ayah sekarang?!" Fitra membentak dan dia berdiri dengan mata melotot karena dia memang mudah sekali terbawa emosi.
Bu indah hanya bisa menarik nafas panjang bila kedua orang itu berdebat seperti ini, bahkan belakangan ini mereka juga selalu berdebat Karena beda pendapat dan merasa Fitra selalu saja berbeda. kedua orang tua ini mengetahui bahwa sang anak telah memakai barang haram, jadi wajar kalau mereka merasa curiga bahwa Airin pasti ada sangkut paut juga dengan Fitra ketika menghilang.
"Bila semua sudah terbukti maka aku juga tidak akan sungkan untuk memenjarakan dirimu." Pak bujang berkata dengan tegas.
"Ya, silakan saja bila kalian mampu melakukan hal itu kepada diriku." tantang Fitra dan menyambar jaket karena dia pasti keluar dari rumah.
"Kau lihat itu, Bu! dia pasti akan memakai barang itu kembali ketika keluar dari rumah." Pak bujang malah memarahi sang istri.
Istri pun hanya bisa diam karena tidak tahu mau menjawab apa, sebab memang benar kalau Fitra sudah keluar dari rumah maka dia pasti akan membeli lalu memakai dan kemudian teler, saat tidak memakai barang itu maka emosi dia menjadi begitu tinggi dan mudah membanting apa yang ada di dalam rumah.
Selamat sore, jangan lupa like dan komentar kalian semua ya.
GK JD member kah