NovelToon NovelToon
ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: NeyNaa

Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertahan di Tengah Kejatuhan

Kebangkrutan usaha reklame milik Irwan membawa dampak yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan Sulis. Meski selama ini kebutuhan rumah tangga sebagian besar sudah terbantu dari usaha katering yang ia jalankan, kenyataannya ada banyak kewajiban yang tetap harus dipenuhi. Utang usaha, cicilan yang belum selesai, serta berbagai kebutuhan sehari-hari membuat kondisi keuangan mereka semakin tertekan.

Irwan yang biasanya menjadi tulang punggung keluarga kini hampir tidak memiliki pemasukan tetap. Sebagian uang yang berhasil ia dapatkan dari pekerjaan serabutan habis untuk membayar kewajiban yang masih tersisa dari usahanya yang bangkrut. Akibatnya, beban ekonomi keluarga perlahan berpindah ke pundak Sulis.

Meski lelah, Sulis tidak punya banyak pilihan.

Ia sadar Dito dan Rara masih membutuhkan biaya hidup. Anak-anaknya masih sekolah dan tinggal bersama nenek mereka di kampung. Setiap bulan, Sulis selalu berusaha mengirim uang untuk membantu kebutuhan mereka. Berapa pun jumlahnya, ia tidak ingin anak-anaknya merasa ditinggalkan.

Di sisi lain, ada satu hal yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Diam-diam Sulis mulai menabung.

Bukan untuk membeli barang mewah. Bukan pula untuk berlibur.

Ia menyimpan uang itu sebagai persiapan jika suatu hari rumah tangganya benar-benar berakhir.

Setelah semua yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, Sulis tidak lagi menutup mata terhadap kemungkinan itu. Ia tidak tahu kapan akan terjadi. Ia juga tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Namun ia sadar bahwa seorang perempuan harus memiliki pegangan untuk masa depannya sendiri.

Karena itulah hampir seluruh keuntungan dari usaha katering ia sisihkan sedikit demi sedikit. Uang itu disimpan rapat-rapat dan hanya ia yang mengetahui keberadaannya.

Suatu hari, seorang tetangga memberitahunya bahwa sebuah pabrik plastik di kawasan industri sedang membuka lowongan pekerja harian.

Awalnya Sulis ragu.

Tubuhnya sudah cukup lelah mengurus usaha katering setiap hari. Namun setelah memikirkan kebutuhan yang terus bertambah, ia akhirnya memberanikan diri melamar.

Beberapa hari kemudian, kabar baik datang.

Sulis diterima bekerja.

Pekerjaannya memang bukan pekerjaan yang mudah. Ia ditempatkan di bagian sortir sampah plastik daur ulang. Tugasnya memilah berbagai jenis plastik yang nantinya akan diproses kembali oleh pabrik.

Jam kerjanya dimulai pukul dua belas siang hingga pukul empat sore.

Upahnya tidak besar.

Namun bagi Sulis, setiap rupiah sangat berarti.

Sejak saat itu, hari-harinya menjadi jauh lebih padat.

Pukul tiga dini hari, alarm ponselnya sudah berbunyi. Dalam keadaan masih mengantuk, ia segera bangun dan menuju dapur. Kompor dinyalakan. Beras dicuci. Bumbu mulai dihaluskan.

Sementara sebagian besar orang masih terlelap, Sulis sudah sibuk memasak.

Menjelang subuh, berbagai menu sarapan mulai siap. Ada nasi kuning, lontong sayur, nasi uduk, dan beberapa jenis gorengan yang menjadi favorit pelanggan.

Setelah salat Subuh, ia menyiapkan gerobak kecil dan membuka stan makanan di depan rumah. Pelanggan berdatangan silih berganti. Ada pegawai kantor, tukang ojek, pedagang pasar, hingga anak-anak sekolah yang membeli sarapan sebelum berangkat.

Meski lelah, Sulis selalu berusaha melayani dengan ramah.

Pukul sepuluh pagi, stan sarapan mulai ditutup. Ia segera membereskan peralatan, mandi seperlunya, lalu berangkat ke pabrik.

Di sana, ia berdiri selama berjam-jam memilah tumpukan plastik bekas. Terkadang bau menyengat membuat kepalanya pusing. Debu dan kotoran sering menempel di pakaian kerjanya. Tangannya terasa pegal hampir setiap hari.

Namun Sulis tidak pernah mengeluh.

Setiap kali rasa lelah datang, ia membayangkan wajah Dito dan Rara.

Membayangkan masa depan yang ingin ia perjuangkan.

Pukul empat sore, jam kerjanya selesai. Namun hari Sulis belum berakhir.

Sesampainya di rumah, ia hanya memiliki sedikit waktu untuk beristirahat. Setelah itu ia kembali masuk ke dapur. Menyiapkan berbagai menu makan malam yang akan dijual mulai pukul enam sore.

Saat matahari tenggelam, stan kecilnya kembali ramai.

Kali ini pelanggan datang mencari makan malam. Ada nasi goreng, ayam bakar, mie goreng, dan berbagai lauk sederhana yang dimasak sendiri oleh Sulis.

Ia melayani pembeli hingga pukul sepuluh malam.

Barulah setelah semua selesai, ia menghitung hasil penjualan, membersihkan peralatan, lalu menyiapkan bahan untuk esok hari.

Sering kali ketika akhirnya berbaring di tempat tidur, jarum jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.

Artinya ia hanya memiliki waktu tidur sekitar tiga jam sebelum kembali bangun pukul tiga dini hari.

Rutinitas itu berlangsung hari demi hari.

Tubuh Sulis semakin kurus. Lingkar hitam mulai terlihat di bawah matanya. Namun ada satu hal yang terus membuatnya bertahan.

Harapan.

Harapan bahwa suatu hari kehidupannya akan menjadi lebih baik.

Harapan bahwa anak-anaknya akan memiliki masa depan yang layak.

Dan harapan bahwa jika saatnya tiba untuk berdiri sendiri tanpa Irwan, ia tidak akan lagi merasa takut.

Karena kini Sulis mulai membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa meskipun hidup berkali-kali menjatuhkannya, ia masih mampu bangkit dan melangkah dengan kekuatannya sendiri. Bahkan ketika hampir tidak ada seorang pun yang benar-benar menopangnya.

...****************...

Rutinitas yang dijalani Sulis perlahan menjadi bagian dari hidupnya. Hari-harinya dipenuhi pekerjaan tanpa jeda. Kadang ia bahkan lupa kapan terakhir kali benar-benar beristirahat. Namun anehnya, di tengah kelelahan itu, ia justru merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari dirinya: rasa memiliki kendali atas hidupnya sendiri.

Setiap malam, setelah stan makanan ditutup dan pelanggan terakhir pulang, Sulis akan duduk sendirian di meja makan sambil menghitung hasil penjualan hari itu. Uang receh dan lembaran uang yang terkumpul ia rapikan dengan teliti. Sebagian digunakan untuk membeli bahan baku, sebagian untuk biaya hidup, dan sebagian lagi langsung ia masukkan ke dalam tabungan yang ia simpan diam-diam.

Jumlahnya memang belum besar.

Namun setiap kali melihat tabungannya bertambah, meski hanya sedikit, Sulis merasa lebih tenang. Setidaknya ia memiliki sesuatu yang bisa diandalkan jika suatu hari keadaan menjadi lebih buruk.

Di sela kesibukannya, Sulis juga rutin menelepon Dito dan Rara. Suara kedua anaknya selalu menjadi penyemangat terbesar. Meski sering menyembunyikan rasa lelah, anak-anak itu tetap bisa merasakan ada yang berbeda dari ibunya.

"Bu, jangan kerja terus," kata Rara suatu malam.

Sulis tersenyum meski matanya mulai berkaca-kaca.

"Nggak apa-apa, Nak. Ibu kuat."

"Tapi Ibu capek."

Kalimat polos itu membuat hati Sulis terenyuh. Ia menahan air mata agar suaranya tetap terdengar biasa.

"Kalau Ibu nggak kerja, nanti siapa yang kirim uang jajan buat kalian?"

Di seberang telepon terdengar tawa kecil Dito dan Rara.

Percakapan singkat itu selalu berhasil mengembalikan semangatnya.

Sementara itu, Irwan mulai menyadari perubahan yang terjadi pada Sulis. Ia melihat istrinya berangkat pagi, pulang sore, lalu kembali bekerja hingga malam. Namun untuk pertama kalinya, Sulis tidak lagi mengeluh atau meminta bantuan.

Ada jarak yang kini terasa jelas di antara mereka.

Bukan jarak karena pertengkaran.

Melainkan jarak karena Sulis perlahan belajar hidup tanpa bergantung padanya.

Dan tanpa disadari Irwan, itulah hal yang mulai membuatnya merasa kehilangan. Karena perempuan yang selama ini selalu bertahan untuk keluarganya kini sedang membangun kekuatannya sendiri. Sedikit demi sedikit, Sulis sedang menyiapkan diri untuk menghadapi masa depan, apa pun bentuknya nanti.

1
Yati Adek
dasar janda bolong wkwkwk
NeyNaa: wkwkwkw tenangin diri kak 🤣🤣
total 1 replies
Yati Adek
dasar janda gatal
Yati Adek
memang perempuangktau malu
NeyNaa: mksh ud mmpir kak 😄
total 1 replies
Neriya Naura
Si lakor kayaknya pke guna2, si iwan ampe segitunya, author matiin tu lakor, gatal bgt....
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
NeyNaa: jgn emosi kak 🤭
total 1 replies
NeyNaa
ud buta sma cnta, efeknya amnesia 🤭
Lili Amalia
laki2 klau sdh mulai mengalami puber ke 2 atau apapun itu alasannya, TDK akan bisa mendengar nasihat dari siapapun.
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂: 🕺🏻💃🏻🤙🏻👍🏻
total 3 replies
Neriya Naura
Gak tau malu bgt 🤭
Neriya Naura
Ni si pastri gatel ya gak ketulungn, gatel+gak tau malu, si iwan juga silau bgt ama godaan janda🤭, lemah bgt imannya.
NeyNaa: tenangkan dirimu kak...🤭
total 1 replies
Neriya Naura
Cerita menarik, makin seru, si suami naksir janda gatel...
Neriya Naura
Si pastri gatel bgt sih.... 🤭
NeyNaa
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!