Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11: Connection
Setelah berpisah dari Algernon di kedai itu, Amorette berjalan kembali ke istana dengan langkah tegap namun pikiran yang sudah tersusun rapi. Rencana bisnis dan pembangunan koneksi yang baru saja mereka bahas menuntut dukungan resmi, dan orang pertama yang harus ia temui untuk itu adalah pemimpin tertinggi kerajaan ini—Raja Julius, ayahnya sendiri.
Ia berjalan menaiki tangga besar menuju lantai dua, tempat sayap utama istana berada dan ruang kerja Raja berlokasi. Di sana, suasana jauh lebih sepi dan eksklusif, hanya dijaga oleh pengawal-pengawal terpilih yang menunduk hormat saat ia lewat. Amorette baru saja mengangkat tangannya, hendak mengetuk pintu kayu besar berukir lambang kerajaan itu, saat langkah kaki berat dan cepat terdengar mendekat dari arah koridor.
Cornelius berhenti tepat di sampingnya. Wajah kakak laki-lakinya itu terlihat kaku, tatapan matanya meneliti Amorette dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan ekspresi yang sangat rumit—campuran antara kebingungan, rasa curiga, dan yang paling mendominasi: rasa tidak suka yang mendalam. Bagi Cornelius, perubahan drastis Amorette ini terasa janggal, seolah-olah gadis ini menyembunyikan sesuatu yang besar dan berbahaya.
"Apa maumu?" tanya Cornelius ketus, nadanya dingin dan penuh kecurigaan. "Berkeliaran di sekitar ruang kerja Ayah, kau mau membuat masalah apa lagi?"
Amorette sama sekali tidak menoleh atau terpengaruh oleh nada bicaranya. Ia mengacuhkan keberadaan Cornelius seolah pria itu tidak lebih dari sekadar tiang di pinggir jalan. Dengan tenang, ia kembali mengetuk pintu tiga kali, keras dan jelas, lalu menunggu.
"Masuk," suara berat Raja Julius terdengar dari balik pintu.
Amorette mendorong pintu itu terbuka dan melangkah masuk, meninggalkan Cornelius yang berdiri mematung di koridor dengan wajah merah padam karena diacuhkan.
"Ayahanda," sapa Amorette lembut sambil membungkuk hormat singkat namun penuh etika. Ia berdiri tegap di depan meja kerja besar yang berantakan dengan tumpukan surat dan peta wilayah. "Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Ayahanda."
Raja Julius yang sedang memeriksa dokumen, mengangkat wajahnya dan tersenyum sedikit saat melihat putri sulungnya. Semenjak pesta kemarin, pandangannya terhadap Amorette memang sedikit berubah. Ia memberi isyarat tangan agar gadis itu mendekat.
"Maju ke sini, Amorette. Apa yang ingin kau bicarakan?"
Belum sempat Amorette menjawab, pintu terbuka lagi dan Cornelius ikut masuk, berdiri di dekat ambang pintu seolah ingin mengawasi atau mendengarkan. Raja Julius menatap putranya itu sekilas, lalu mengerutkan kening.
"Cornelius, ada urusanmu? Aku sedang berbicara dengan adikmu. Kau boleh pergi dulu," ucap Raja Julius singkat.
"Tapi Ayah, aku hanya ingin memastikan—"
"Pergi," potong Raja Julius tegas. Cornelius terpaksa menunduk dan keluar, menutup pintu dengan kasar.
Sekarang tinggal berdua saja. Amorette menarik napas panjang, menyusun kata-katanya agar terdengar alami namun tetap mencapai tujuannya.
"Ayahanda, aku mendengar bahwa dalam waktu dekat akan diadakan beberapa perjamuan teh dan pertemuan sosial bagi para bangsawan tinggi, pedagang besar, dan tokoh berpengaruh di ibu kota," mulai Amorette dengan suara jernih. "Aku ingin meminta izin dan dukungan Ayahanda untuk hadir di acara-acara tersebut."
Raja Julius mengangkat alisnya, penasaran. "Oh? Dulu kau selalu menolak acara-acara seperti itu. Kau bilang itu membosankan dan hanya berisi orang-orang yang menyebalkan. Kenapa tiba-tiba ingin ikut?"
"Aku sudah berpikir panjang, Ayah," jawab Amorette dengan tatapan tulus yang ia latih sedemikian rupa. "Aku sadar, sebagai Putri Kerajaan Elowen, tugasku bukan hanya berdiri diam dan terlihat cantik. Aku ingin memperluas koneksi, mengenal para pemilik kekayaan dan pengaruh, serta membangun hubungan baik yang bisa menguntungkan kerajaan kita. Aku juga... sering berbicara dengan Pangeran Algernon belakangan ini. Dia memiliki pandangan yang sama. Kami berpikir, dengan bergerak lebih aktif di tengah masyarakat bangsawan, kami bisa membantu Ayahanda dalam urusan ekonomi dan hubungan persahabatan antar golongan."
Amorette hanya memberikan gambaran besar yang kabur, menyebutkan nama Algernon hanya untuk meyakinkan ayahnya bahwa ini bukan keinginan sepihak, namun sama sekali tidak membocorkan rencana bisnis tambang atau makanan mereka. Ia hanya menanamkan benih bahwa mereka berdua kini adalah aset yang berguna.
Raja Julius terdiam sejenak, lalu perlahan senyum lebar merekah di wajahnya. Ia berdiri dan berjalan mengelilingi meja, mendekati Amorette lalu menepuk bahu putrinya dengan bangga.
"Bagus... sangat bagus! Akhirnya kau sadar akan tanggung jawabmu, Amorette. Aku sangat bangga mendengarnya. Kau benar-benar berubah menjadi wanita yang bijaksana dan dewasa. Ayah sangat senang."
Namun, di dalam hati Amorette, pujian itu terasa kosong dan hampa. Tidak ada rasa bahagia atau haru yang menjalar di dadanya. Walaupun jelas Raja Julius menyayanginya—setidaknya sebatas kata-kata—namun fakta bahwa rasa sayang dan perhatian utamanya selalu tercurah untuk Elarise membuat pujian ini terasa seperti kata-kata standar belaka.
Mungkin kalimat 'Ayah bangga' ini telah ia ucapkan berkali-kali kepada Elarise untuk hal-hal kecil saja. Ini tidak spesial. Ini tidak berarti apa-apa, batin Amorette dingin, namun ia tetap memasang senyum manis di bibirnya.
"Terima kasih, Ayahanda. Aku hanya ingin berguna bagi kerajaan dan keluarga," jawabnya sopan.
"Baiklah," Raja Julius kembali duduk di kursi kerajaannya. "Aku akan mengurusnya. Jika ada undangan perjamuan teh atau pertemuan sosialita yang cocok dan layak kau hadiri, Ayah akan beritahu kau segera. Kau berhak ada di sana."
Amorette mengangguk, namun menambahkan satu kalimat yang penting.
"Ayahanda, jika persetujuan atau prosesnya memakan waktu terlalu lama... aku terpaksa akan mencari undangan itu sendiri melalui koneksi yang sedang aku bangun. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu."
Raja Julius tertawa kecil, merasa semakin bangga dengan inisiatif putrinya. "Lakukan apa yang menurutmu terbaik, Putriku. Ayah mendukungmu."
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Amorette berpamitan dan keluar dari ruang kerja itu dengan langkah ringan namun tergesa-gesa. Ia harus kembali ke kamarnya secepat mungkin sebelum Elarise atau Ratu Mirelle muncul di koridor ini dan mencari-cari kesalahan atau membuat masalah baru.
...***...
Di sisi lain, jauh di distrik pusat perdagangan dan seni kota, Algernon sedang berdiri di tengah ruangan luas yang mewah namun agak pengap. Ia menghadiri acara lelang barang antik dan pusaka kerajaan yang cukup bergengsi, di mana para kolektor, bangsawan tua, dan pedagang kaya berkumpul untuk memperebutkan benda-benda bersejarah.
Tujuannya datang ke sini ada dua: pertama, ia ingin mencari hadiah berharga untuk diberikan kepada Raja August sebagai bukti bakti dan peningkatan statusnya. Kedua, dan yang paling utama, ia ingin mulai memperluas koneksinya dengan kalangan elit yang hadir di sini, sesuai rencana bisnisnya bersama Amorette.
Suasana ruangan itu penuh bisik-bisik dan aroma parfum mahal. Di atas panggung kecil, satu per satu barang dipajang. Algernon berdiri di sudut belakang, bersandar santai dengan tangan disilangkan di dada, menatap setiap barang yang diangkat dengan pandangan kritis dan dingin.
"Berikutnya, Pedang Upeti Kerajaan Selatan! Diperkirakan berusia 200 tahun, terbuat dari baja murni yang sangat langka!" seru juru lelang.
Harga ditawar naik dengan cepat. Banyak yang berdecak kagum dan berebut. Namun Algernon hanya menggeleng pelan. Ia ingat betul penjelasan Amorette tentang sejarah kerajaan ini, juga ciri-ciri barang palsu yang sering beredar. Pedang itu memang tua, tapi bukan dari selatan, dan bahannya sudah banyak mengandung besi biasa. Itu barang mahal tapi palsu atau berlebihan nilainya.
"Berikutnya, Kalung Permata Putri Adeline! Dihiasi berlian seberat 5 karat!"
Sekali lagi harga melambung tinggi. Algernon tetap diam. Barang itu indah, tapi asal-usulnya dibuat-buat, tidak seberharga yang diklaim. Banyak orang mulai menoleh ke arahnya dengan pandangan mengejek.
"Lihat itu, bukankah itu Pangeran Algernon? Katanya dia bodoh dan tidak paham apa-apa. Pasti dia bingung memilih," bisik seorang bangsawan tua di dekatnya dengan suara yang cukup keras agar terdengar.
"Iya, dia melewatkan barang-barang terbaik. Pasti dia takut menghabiskan uang atau tidak tahu mana yang bagus," sahut yang lain sambil tertawa kecil.
Algernon pura-pura tidak mendengar. Ia menunggu. Dan akhirnya, barang keempat belas dikeluarkan. Itu hanyalah sebilah pedang pendek yang tampak usang, sarungnya kusam dan ukirannya sudah hampir hilang.
"Barang selanjutnya... sebuah pedang kuno yang asal-usulnya belum teridentifikasi dengan pasti. Diperkirakan berusia 200 hingga 300 tahun. Tidak ada bukti kekuatan magis. Harga dasar: 15 keping emas."
Ruangan itu sepi. Tidak ada yang tertarik. Barang itu terlihat biasa saja, kusam, dan tidak ada cerita hebat di baliknya.
Namun mata Algernon berbinar. Ia ingat persis apa yang dikatakan Amorette tempo hari saat mereka membahas sejarah Kerajaan Remington. "Perhatikan ukiran di bagian pangkal bilahnya. Ada pola daun melengkung yang hampir hilang. Itu tanda dari 580 tahun yang lalu, masa keemasan Remington saat memenangkan Perang Wilayah Utara. Itu adalah senjata milik Kesatria Legendaris Sir Gareth. Pedang itu memiliki sihir pertahanan yang sangat kuat, konon dia membunuh seribu musuh sendirian sebelum gugur. Barang ini asli, sangat langka, tapi sering dianggap sampah karena penampilan luarnya yang rusak."
"20 keping emas," ucap Algernon dengan suara datar dan lantang.
Semua mata tertuju padanya. Tidak ada yang menawar lagi karena tidak ada yang menginginkannya. Pedang itu jatuh ke tangan Algernon dengan harga yang sangat murah jika dibandingkan nilai aslinya.
Acara lelang selesai. Algernon membawa pedang itu keluar, namun belum sampai di pintu, seorang pria tua berjubah panjang—seorang ahli sejarah dan kolektor kerajaan—menghampirinya.
"Permisi, Yang Mulia. Bolehkah saya melihat barang yang baru saja Anda beli? Penasaran saja," pinta pria itu sopan.
Algernon menyerahkan pedang itu. Pria tua itu mulai memeriksa dengan teliti, mengusap bilahnya, melihat pangkalnya, lalu matanya melotot terbelalak. Tangannya gemetar hebat.
"Ini... ini tidak mungkin... Pola ini... logam ini... rasanya sihirnya masih ada... Ini Pedang Sir Gareth! Barang peninggalan 580 tahun lalu! Ini harta nasional! Bagaimana bisa dijual semurah itu?!"
Kehebohan pun terjadi. Para peminat barang antik, bangsawan, dan pedagang kaya yang tadinya mengejek Algernon kini berkerumun mengelilinginya dengan wajah penuh rasa hormat dan penasaran. Gosip bahwa Pangeran Algernon ternyata memiliki pengetahuan luar biasa tentang sejarah dan barang berharga langsung menyebar cepat.
"Yang Mulia! Saya tawarkan 5.000 keping emas! Tolong jual pada saya!" seru seorang pedagang kaya.
"6.000! Saya berikan 6.000 beserta tanah perkebunan!" seru yang lain.
"Yang Mulia, ini barang yang sangat berharga, Anda pasti mau melepasnya, bukan?"
Algernon tersenyum tenang, mengambil kembali pedang itu dan menyimpannya dengan hati-hati. Ia menggeleng tegas.
"Maafkan saya, Tuan-tuan. Barang ini bukan untuk dijual. Ini adalah hadiah yang khusus saya beli untuk Ayahanda, Raja August. Harganya tak terhingga nilainya bagi keluarga kami."
Jawaban itu membuat mereka semakin kagum. Bukan hanya cerdas mengenali barang, tapi juga berbakti dan tidak gila harta.
Banyak dari mereka—terutama bangsawan berpengaruh dan pedagang besar yang ingin berhubungan baik dengan keluarga kerajaan—langsung mendekat dan menyerahkan kartu nama serta lencana identitas mereka kepada Algernon.
"Jika suatu saat Yang Mulia membutuhkan bantuan dalam perdagangan, penelitian sejarah, atau apa pun... mohon hubungi saya," ucap seorang Duke.
"Saya juga, Yang Mulia. Saya memiliki jaringan luas di seluruh benua," ucap yang lain.
Algernon menerima semua kartu nama itu dengan senyum sopan dan wibawa, menyimpannya di dalam saku jubahnya. Saat ia berjalan keluar dari gedung itu, kepalanya terangkat tinggi.
Langkah pertama tercapai. Ia telah membuktikan kecerdasannya, mengubah pandangan orang, dan yang paling penting: ia telah membuka gerbang jalur koneksi bisnis dan politik yang luas, persis seperti yang mereka rencanakan. Besok, ia akan bertemu Amorette lagi atau mengirimkannya surat, dan melaporkan bahwa rencana mereka berjalan jauh lebih mulus dari yang dibayangkan.