Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?
Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.
Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.
Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.
Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.
Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.
Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.
Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Merebut Panggung
Udara pengap pendopo utama sarat oleh wangi melati dan semerbak parfum menyengat dari pekarangan depan menyusup lewat celah jendela kayu jati.
Sumarni berdiri di ambang pintu pembatas. Dada dan lehernya terasa sedikit gatal di balik kerah cheongsam modifikasi itu. Otot punggungnya terkunci tegak. Nafasnya ditarik perlahan.
Kue lapis legit dan gelas-gelas sirup frambozen merah terang tersaji rapi di atas meja marmer. Di tengah ruangan, Sulastri duduk memimpin meja. Istri pertama itu tertawa renyah di depan belasan istri saudagar dan para juragan.
Gelang keroncong emas di pergelangan tangannya berdenting berisik setiap kali ia memutar kipas cendana.
"Mas Harjono itu memang terlalu sibuk di Kudus, Jeng. Maklum, pesanan pabrik sedang membeludak." Sulastri bersuara lantang. Kipas cendananya menutupi separuh wajah. "Kita yang di rumah harus pintar menjaga wibawa suami. Jangan sampai terlihat miskin."
Sumarni melangkah masuk. Hak selop plastiknya mengetuk lantai teraso.
Tuk, tuk, tuk.
Satu per satu kipas cendana di ruangan itu berhenti berayun. Riuh tawa menguap seketika digantikan keheningan. Belasan pasang mata ibu-ibu kelas atas itu menoleh serempak ke arah pintu. Tatapan mereka memindai sosok yang baru muncul dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Sumarni membiarkan mereka menatap. Ia berjalan tenang membelah ruangan.
Gaun tambal sulam dari beludru hitam dan sutra merah marunnya menyerap cahaya siang. Siluet gaun itu membalut lekuk tubuh dengan presisi sempurna. Aksen asimetris batik tulis motif parang rusak di bagian pinggang menjuntai elegan. Gaya ini mendobrak pakem kebaya tradisional yang kaku.
Rambutnya hanya disanggul rendah dengan tusuk konde kayu. Tanpa perhiasan emas sebiji pun, pesonanya mengerdilkan seisi ruangan.
Pendar biru berkedip di sudut mata Sumarni. Layar transparan melayang di udara kosong.
[Misi Utama Aktif: Dominasi Panggung Sosial. Kalahkan nyali istri pertama.]
[Hadiah: 100 Poin Reputasi.]
Jari Sumarni bergetar pelan menyentuh lipatan gaunnya. Poin ini cukup untuk membeli vitamin perbaikan gizi tingkat satu untuk Dimas dari toko sistem. Ia harus memenangkan misi ini. Di masa depan, gaun dengan potongan asimetris dan perpaduan tekstur kontras adalah mahakarya butik mahal. Di tahun 1984, ini adalah sebuah revolusi visual.
"Jeng Sulastri." Bu Harun, istri juragan tembakau, menyenggol lengan Sulastri dengan siku. Mulutnya setengah terbuka lebar. "Itu siapa? Bintang film dari Jakarta? Cantik sekali potongannya."
Sulastri menoleh cepat. Wajahnya pias seketika. Ujung jarinya memutih mencengkeram gagang kipas. Matanya melebar tak percaya melihat perempuan miskin yang ia hina tadi pagi kini berdiri bak permaisuri keraton.
"Itu adik maduku, Jeng. Sumarni." Nada suara Sulastri bergetar tipis. "Dia memang suka mencari perhatian."
Bu Tejo, pemilik pabrik batik terbesar di pecinan, mendadak berdiri dari kursinya. Ia mendekati Sumarni dan melupakan etiket arisan. Matanya memicing tajam meraba potongan sutra di lengan gaun Sumarni.
"Astaga, jahitan siapa ini? Polanya tidak ada di butik mana pun di Beringharjo. Rapi sekali tarikan benangnya."
Sumarni menunduk sedikit. Ia memberi hormat sopan namun tak merendah. "Saya jahit sendiri, Nyonya."
"Jahit sendiri?" Bu Tejo terkesiap kaget. "Potongan batiknya jatuh sempurna di pinggang. Penempatan motif parang ini sungguh brilian! Pasti kainnya mahal sekali. Pak Harjono membelikan kain sutra impor untukmu?"
Sulastri bangkit dari kursinya. Ia menghampiri mereka dengan langkah cepat dan menyela posisi Bu Tejo secara kasar. Bibir bergincu merah mudanya berkedut menahan kesal.
"Dik Marni." Sulastri menyentuh bahu Sumarni. Kuku berpoles cat merahnya menekan kulit Sumarni di balik kain sutra. "Kamu pasti salah mengambil kain di lemariku. Bukankah sudah kubilang, jangan sembarangan mengacak-acak kamarku saat aku tidak ada?"
Langkah taktis yang rapi. Sulastri bermain licik. Ia menuduh Sumarni sebagai pencuri halus di depan para tamu pentingnya. Ia ingin mempermalukan Sumarni hingga tak punya muka lagi.
Sumarni tidak ciut. Ia menepis pelan tangan Sulastri dari bahunya. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi panik.
"Mbakyu lupa?" Sumarni menatap mata istri pertama itu lurus-lurus. Suaranya jernih merambat ke seluruh penjuru pendopo yang hening. "Ini kain perca gombal dari karung sampah yang mau dibakar Mbok Darmi tadi pagi."
Sumarni sengaja memberi jeda dua detik. Ia membiarkan informasi itu meresap.
"Kata Mbok Darmi, Mbakyu yang suruh buang karena sisanya sudah digigit tikus dan bau apak. Sayang kalau dibakar, jadi saya olah sedikit pakai mesin jahit tua di gudang."
Keheningan absolut jatuh di pendopo. Ibu-ibu saling pandang dengan mata terbelalak. Kain sampah? Dijahit menjadi gaun semewah ini?
Pendar biru menyala terang di depan mata Sumarni.
[Face-slapping berhasil telak. +30 Poin Reputasi.]
"Baju seindah ini dari kain perca sampah?" Bu Harun menggeleng tak percaya. Tangannya meraba kerah cheongsam Sumarni. Kainnya terasa dingin dan lembut di kulit jarinya. "Luar biasa. Jeng Marni, kamu bisa buatkan satu untukku? Kebetulan bulan depan aku ada undangan ke rumah bupati. Aku bayar uang mukanya sekarang, dua kali lipat dari harga butik!"
"Aku juga, Jeng!" timpal nyonya yang lain. Mereka berebut maju mengerumuni Sumarni. "Bosan pakai kebaya kutubaru ketat terus. Aku punya banyak sisa kain sutra menganggur di rumah. Tolong jahitkan untukku ya."
Sumarni tersenyum anggun. Insting masa depannya bersorak kegirangan melihat prospek bisnis yang terbuka lebar. "Tentu, Ibu-ibu. Nanti saya catat ukurannya satu per satu. Silakan nikmati sirupnya dulu."
Di sudut ruangan, napas Sulastri memburu cepat. Dadanya naik turun beringas menahan amarah. Urat di pelipisnya menonjol kecil. Ia biasa menginjak Marni dan menjadikannya keset bernapas. Melihat keset itu kini berdiri sejajar dan merebut panggungnya membuat ulu hatinya terbakar cemburu.
Terdengar bunyi retakan kayu kecil.
Ujung bilah kipas cendana di tangan Sulastri patah akibat cengkeraman yang terlalu kuat. Panggung yang ia siapkan berhari-hari untuk memamerkan kekayaannya hancur berantakan.
[Misi Utama Selesai. Kemenangan mutlak di panggung sosial.]
[Hadiah ditambahkan: 100 Poin Reputasi. Total Poin: 130.]
Angka biru menyala terang di benak Sumarni. Sensasi hangat mengalir di dadanya.
Dua jam berlalu dengan cepat. Acara arisan selesai. Para tamu bersiap pamit pulang menuju mobil sedan Holden dan Toyota mereka di pekarangan depan. Sumarni mengantongi tiga pesanan gaun dengan uang muka tebal berwujud lembaran uang kertas di saku kebayanya.
Modalnya untuk mandiri akhirnya terkumpul. Ia berbalik dan berniat kembali ke paviliun belakang untuk melihat kondisi Dimas.
Tiba-tiba, suara langkah kaki serabutan memecah keramaian pekarangan luar.
"Nyonya! Nyonya Besar!"
Ningsih, pelayan muda yang bertugas menyapu rumah utama, berlari dari arah lorong kamar. Wajahnya sepucat kapas basah. Ia ambruk berlutut di dekat kaki Sulastri dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Ada apa teriak-teriak? Bikin malu di depan tamu saja." Sulastri menendang pelan ujung rok pelayan itu.
"Anu, Nyonya." Ningsih menunjuk ke arah kamar utama dengan jari bergetar hebat. Napasnya putus-putus. Keringat dingin membasahi leher pelayan itu. "Laci meja rias Nyonya dibongkar orang."
Ningsih mengambil napas panjang dengan susah payah.
"Kotak perhiasan yang isinya kalung berlian dan bros emas warisan, sudah hilang dicuri."
Udara di pendopo mendadak membeku. Para tamu yang hendak masuk ke dalam mobil menghentikan langkah mereka seketika.
Bisik-bisik kasar mulai terdengar mendengung bagai kawanan lebah.
Sulastri menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Ia perlahan menoleh. Sorot matanya langsung mengunci punggung Sumarni yang baru melangkah dua tindak menuju pintu belakang.
"Marni!" Suara Sulastri bergetar. Nada bicaranya sarat akan tuduhan tajam yang siap memenggal leher. "Tadi pagi, kamu yang masuk ke rumah utama sebelum tamu datang, kan?"