Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 ~ Ditolak
Saat ini mobil Arga baru saja berhenti tepat didepan gerbang besar rumah Oma Gloria. Namun bahkan sebelum mobil itu sempat memasuki gerbang, beberapa penjaga keamanan sudah lebih dulu bergerak menutup akses jalan masuk.
Tatapan Arga langsung menyipit. Dia tidak tau kenapa begitu banyak orang yang harus berjaga didepan gerbang seperti ini. Tidak biasanya.
Akhirnya Arga memutuskan untuk keluar dari mobilnya. Dengan wajah dingin, tatapannya langsung tertuju pada beberapa bodyguard berpakaian hitam yang berdiri berjajar didepan gerbang.
“Aku ingin menemui Ayra.” ucapnya tegas.
Salah satu bodyguard segera menundukkan kepala sopan. “Maaf Tuan Arga. Oma Gloria tidak menerima tamu hari ini.”
Rahang Arga langsung mengeras. “Aku bukan tamu.”
“Maaf, Tuan. Tapi kami hanya menjalankan perintah.”
“Aku ingin bertemu dengan istriku, Ayra. Apa kalian tidak dengar itu?!”
“Maaf Tuan, Oma Gloria tidak menerima siapapun yang ingin bertemu dengan Nona Ayra. Termasuk anda.”
Deg. Ucapan itu langsung membuat emosi Arga semakin naik. Dia melangkah maju, namun dua bodyguard lain segera bergerak menghalangi jalannya.
“Minggir! Aku butuh bicara dengan Ayra!” suara Arga mulai dingin penuh tekanan.
“Maaf Tuan Arga, lebih baik anda segera tinggalkan tempat ini. Karena kami tidak ingin terjadi keributan disini.” pria itu kembali berkata sopan namun tegas.
"Brengsek! Kalian pikir kalian siapa, hah?!" hardik Arga geram.
"Sekali lagi kami hanya menjalankan tugas," ucap salah satunya tegas.
Tentu saja Oma Gloria sengaja melakukan pengamanan ketat dirumahnya. Dia tau jika hal ini bisa terjadi kapan saja. Karena bagaimanapun, saat ini yang terpenting adalah kenyamanan untuk Ayra dan kandungannya. Wanita tua itu tidak mau masalah sedikitpun bisa membuat Ayra stres, apalagi saat ini kandungan Ayra masih sangat lemah jadi harus benar-benar dijaga.
"Harghh..!!" geram Arga.
Pria itu langsung merogoh ponselnya, dan langsung menekan salah satu nomor dikontaknya. Detik itu juga Arga langsung menghubungi Ayra, sambil menatap ke lantai paling atas dia masih berharap jika Ayra masih mau menemuinya saat ini.
Namun diluar dugaan. Panggilan tersebut langsung diputuskan secara sepihak, bahkan sebelum sempat diangkat oleh Ayra.
"Sial!" lagi-lagi Arga hanya bisa menatap ponselnya dengan geram.
Dia menatap wajah para pengawal tersebut satu persatu, sebelum memberikan perintah.
"Bicara pada Ayra, aku menunggunya dibawah. Aku tau, dia pasti akan turun."
Mereka semua diam. Lalu salah satunya mengangguk dan langsung menghubungi Ayra lewat earphone.
Sementara itu, dari lantai atas rumah megah tersebut Ayra berdiri diam dibalik jendela kamar. Tatapannya lurus menatap Arga yang masih bersikeras ingin masuk.
Wajah pria itu terlihat kacau. Bahkan dari kejauhan Ayra bisa melihat bagaimana Arga beberapa kali mengusap wajahnya frustasi sambil berdebat dengan para penjaga.
Namun kali ini hati Ayra tidak lagi selemah dulu. Tangannya perlahan menyentuh perutnya sendiri.
Sekarang bukan hanya dirinya yang harus dia pikirkan, tapi juga calon bayi dalam perutnya.
Tiba-tiba ponsel Ayra bergetar pelan. Dia tau, pasti Arga yang meminta salah satu dari mereka untuk menghubunginya. Ayra menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum mengangkat panggilan itu.
“Nona… Tuan Arga bersikeras ingin bertemu dengan Anda. Apa kami perlu mengizinkannya masuk?”
Hening beberapa detik. Tatapan Ayra kembali turun kearah halaman depan rumah. Namun perlahan sorot mata Ayra berubah dingin.
“Tidak.” jawabnya tegas. "Usir dia dari tempat ini. Aku tidak mau lagi melihat wajahnya. Mulai sekarang, jangan biarkan dia masuk tanpa izinku.”"
“Baik Nona.”
Sambungan telepon terputus.
Dibawah sana, salah satu bodyguard segera berjalan mendekati Arga dan langsung berbicara dengan tegas.
“Tuan Arga, Nona Ayra meminta anda untuk Pergi dari sini sekarang juga."
Deg.
Tubuh Arga langsung membeku sesaat. “Apa?!”
“Maaf Tuan. Itu perintah langsung dari Nona Ayra. Jika Anda tidak segera melakukannya, maka kami terpaksa harus bertindak tegas!"
Rahang Arga langsung mengeras kuat. Tatapannya perlahan naik menatap jendela lantai atas. Perasaannya benar-benar campur aduk saat ini. Tapi Arga tidak mau mencari masalah saat ini, karena hidupnya sekarang benar-benar sudah cukup kacau.
Akhirnya Arga mundur, berbalik. Masuk kedalam mobil. Dengan berat hati pria itu menyalakan mesin mobilnya lalu pergi dari tempat tersebut.
Hidup Arga benar-benar kacau sekarang, dia tidak tau jika sesuatu yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun akhirnya akan meledak begitu hebatnya sampai membuatnya hancur seperti ini.
••
••
Sementara itu disalah satu pusat perbelanjaan mewah ditengah kota, Nyonya Ratna berjalan anggun memasuki butik perhiasan ternama bersama Lisa disampingnya. Wanita paruh baya itu tampak begitu elegan dengan setelan mahal yang dikenakannya. Bibirnya sesekali tersenyum tipis melihat deretan perhiasan berlian yang dipajang didalam etalase kaca.
Sudah lama rasanya dia tidak memanjakan diri seperti ini. Beberapa minggu terakhir hidupnya terasa cukup melelahkan. Mulai dari masalah Ayra, Arga, hingga Samuel yang semakin sulit dikendalikan. Namun bagi Nyonya Ratna, kepergian Ayra bukanlah sesuatu yang terlalu perlu dikhawatirkan.
Wanita itu yakin Ayra hanya sedang emosi sesaat. Lagipula selama ini Ayra terlalu mencintai Arga. Cepat atau lambat, menantunya itu pasti akan kembali lagi kerumah.
Tak lama kemudian salah satu pelayan butik segera berjalan mendekat dengan senyum profesional diwajahnya.
“Selamat siang, Nyonya.” sapanya ramah. “Apa ada yang bisa saya bantu?”
Nyonya Ratna mengangguk santai sambil menunjuk satu set perhiasan berlian yang dipajang khusus ditengah ruangan.
“Saya ingin melihat koleksi itu.”
“Baik, Nyonya.” Pelayan itu segera mengenakan sarung tangan lalu mengambil set perhiasan tersebut dengan hati-hati.
“Ini adalah koleksi terbaru limited edition kami, Nyonya. Kalung berlian Rubby Merah Maroon asli dengan potongan eksklusif.” jelasnya ramah.
Lisa langsung tampak tertarik. “Cantik banget, Ma.”
“Kalau begitu aku ambil yang itu," tunjuk Nyonya Ratna antusias.
Lisa melirik sekilas lalu tersenyum kecil. Mamanya memang tidak pernah melihat harga jika sudah melihat barang-barang mewah seperti ini. Wanita itu pasti akan langsung mengambilnya tanpa harus berpikir.
Lagipula siapa yang tidak tau Nyonya Ratna, wanita itu sangat mencintai kemewahan. Dan apa yang dia beli sekarang itu bukan apa-apa, dikamarnya bahkan beberapa set perhiasan mewah berjejer rapi dan begitu indah.
Pelayan butik itu langsung tersenyum ramah. “Baik Nyonya. Total semuanya menjadi delapan ratus tujuh puluh lima juta rupiah.”
Nyonya Ratna sampai tersenyum kecil mendengar nominal tersebut. Namun bagi keluarga mereka, angka sebesar itu memang bukan sesuatu yang perlu dipikirkan lagi.
Dengan santai Nyonya Ratna langsung membuka tas branded mahal miliknya lalu mengeluarkan sebuah black card eksklusif.
“Gunakan ini.” ucapnya tenang sambil menyerahkan kartu tersebut.
Pelayan butik langsung menerimanya dengan hati-hati. Sementara Lisa tersenyum kecil sambil menyilangkan tangannya didada.
Pelayan butik segera memberikan alat pembayaran elektronik tersebut pada Nyonya Ratna. “Silahkan masukkan PIN Anda, Nyonya.”
Nyonya Ratna langsung mengetik pin kartunya dengan tenang.
Sementara Lisa sudah tampak tidak sabar. “Ayo cepat, Ma. Aku masih mau ke butik tas sama kesalon setelah ini.”
"Iya, sabar dong.." jawab Nyonya Ratna pelan.
Pelayan butik kembali mengambil alat pembayaran tersebut selesai Nyonya Ratna selesai memasukkan PIN-nya.
Namun beberapa detik kemudian, Ekspresi pelayan butik itu perlahan berubah seketika.
Ting! Keningnya sedikit berkerut sambil menatap layar mesin pembayaran tersebut.
Nyonya Ratna langsung menyadarinya. “Kenapa?”
“Maaf Nyonya… Transaksinya ditolak.” suara pelayan itu mulai terdengar hati-hati.
Deg.
"APA?!!"