NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10_Boneka Anabel part3

Bab 3: Lorong Tumbal yang Tak Pernah Mengembalikan Siapa Pun

"K... kamu siapa?" tanya Alena dengan suara bergetar. Wajahnya memucat, matanya membelalak penuh ketakutan, sementara tubuhnya gemetar hebat.

"Hehehe..." terdengar tawa pelan dari balik lorong gelap.

Sosok kecil itu perlahan melangkah keluar.

Tok... Tok... Tok...

Cahaya petir yang sesekali menyambar dari luar jendela menerangi wajahnya.

Alena langsung menjerit.

"Itu... Anabel..." pekiknya sambil mundur beberapa langkah. Napasnya memburu, air matanya terus mengalir.

Anak perempuan itu mengenakan gaun putih yang sudah berubah kecokelatan oleh tanah. Rambutnya panjang kusut menutupi sebagian wajah. Kedua matanya hitam legam tanpa bola mata, sementara kukunya panjang dipenuhi tanah yang mengering.

Di pelukannya masih ada boneka yang sama.

Boneka Anabel.

"Aku kedinginan..." bisik Anabel lirih. Bibirnya membentuk senyum tipis, tetapi wajahnya dipenuhi kesedihan.

Alena menelan ludah dengan susah payah.

"A... aku bisa membantumu..." ucapnya terbata-bata. Wajahnya dipenuhi belas kasihan meski rasa takut menguasai seluruh tubuhnya.

Anabel perlahan mengangkat wajahnya.

"Terlambat..." katanya pelan.

Seketika senyumnya berubah sangat lebar.

"Karena sekarang... giliranmu."

Brak!

Pintu kamar langsung menutup sendiri.

"Nek!" teriak Alena histeris. Wajahnya dipenuhi kepanikan.

Nenek Ratih mencoba membuka pintu.

"Jangan dengarkan apa pun yang dia katakan!" teriak Nenek Ratih sambil memukul-mukul pintu. Air matanya bercucuran.

Namun...

Tubuh Nenek Ratih perlahan memudar. Alena membelalak.

"Nenek... tubuh Nenek!" ucap Alena panik.

Nenek Ratih hanya tersenyum sedih.

"Aku sudah lama meninggal, Alena..." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi penyesalan.

Mata Alena membesar.

"Apa... apa maksud Nenek?" tanyanya dengan suara pecah.

"Aku juga korban rumah ini." lanjutnya.

Air mata Nenek Ratih terus mengalir.

"Dulu aku gagal menyelamatkan Anabel." katanya

Suasana mendadak sunyi. Yang terdengar hanya suara tangisan dari lorong bawah tanah.

"Ibu...Ibu..."

Tiba-tiba...

Brakkk!

Lantai kamar bergetar keras. Retakan panjang muncul tepat di depan kaki Alena. Dari sela-sela retakan itu keluar puluhan tangan kecil yang kurus dan pucat. Mereka meraih kaki Alena.

"Tolong!"

"Tolong kami..."

"Jangan tinggalkan kami..."

Suara mereka saling bertumpuk. Alena menjerit histeris.

"Lepaskan aku!" teriaknya sambil berusaha menarik kakinya. Wajahnya dipenuhi air mata.

Namun tangan-tangan itu justru mencengkeram semakin kuat.

Perlahan... Tubuh Alena diseret menuju lorong bawah tanah.

"Nek! Tolong aku!" jeritnya sekuat tenaga.

Nenek Ratih menangis histeris.

"Jangan masuk ke sana! Jangan lihat ke belakang!" ucapnya Nek Ratih khawatir.

Namun semuanya sudah terlambat. Tubuh Alena jatuh ke dalam lorong gelap.

Bruk!

Debu beterbangan. Lorong itu sangat sempit. Dindingnya dipenuhi bekas cakaran. Di beberapa bagian tampak bercak darah yang sudah menghitam.

Alena mencoba berdiri.

Tiba-tiba...

Ia mencium bau anyir yang jauh lebih pekat. Perlahan ia menoleh.

Puluhan boneka tua berdiri memenuhi lorong. Semuanya memiliki wajah yang sama. Wajah Anabel.

"Hehehe..."

"Hehehe..."

"Hehehe..."

Tawa mereka menggema bersamaan.

Boneka-boneka itu serempak menoleh ke arah Alena. Kepala mereka berputar perlahan hingga terdengar suara...

Krek... Krek... Krek...

Alena memejamkan mata sambil menangis.

"Ya Allah... lindungi aku..." bisiknya dengan bibir bergetar.

Saat membuka mata kembali...Semua boneka itu telah menghilang. Lorong kembali sunyi.

Namun...

Ada sesuatu yang menyentuh bahunya.

Perlahan... Sangat perlahan...

Alena menoleh.

Anabel sudah berdiri tepat di belakangnya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

"Aku sendirian selama lima puluh tahun..." bisik Anabel. Senyumnya melebar hingga hampir mencapai telinga.

"Kini...Kamu akan menemaniku selamanya." lanjutnya

Belum sempat Alena berteriak...

Anabel menggenggam tangannya. Sentuhan itu sedingin es. Dalam sekejap, bayangan-bayangan mengerikan memenuhi kepala Alena.

Ia melihat ritual puluhan tahun lalu.

Sejumlah orang berjubah hitam berdiri melingkar sambil membawa obor. Di tengah ruangan bawah tanah, Anabel kecil menangis histeris sambil memeluk bonekanya.

"Ibu! Tolong Anabel!" jerit gadis kecil itu. Wajahnya dipenuhi air mata dan ketakutan.

Tak seorang pun datang.

Pintu ruang bawah tanah ditutup rapat dari luar. Gelap, tangisan.

Lalu... Sunyi.

Air mata Alena mengalir deras setelah melihat semua itu.

"Maafkan mereka..." bisiknya dengan suara lirih. Wajahnya dipenuhi kesedihan.

Untuk pertama kalinya...

Senyum Anabel perlahan menghilang. Dua tetes air mata hitam menetes dari matanya.

Namun pada saat yang sama...

Terdengar suara berat dari balik lorong yang jauh lebih dalam.

"Bukan dia yang harus meminta maaf..." kata suara itu

Suara itu menggelegar memenuhi ruang bawah tanah. Tanah berguncang hebat. Boneka Anabel mendadak berteriak keras.

"Tidak...! Dia bangun...!" teriak Boneka Anabel histeris.

Dari kegelapan paling ujung lorong...

Sepasang mata merah menyala perlahan terbuka. Diikuti suara rantai besi yang diseret.

Srek... Srek... Srek....

Napas Alena kembali tercekat. Karena ia sadar...

Anabel bukanlah roh paling mengerikan yang menghuni rumah terkutuk itu. Sesuatu yang jauh lebih jahat selama ini masih terkunci di dasar ruang bawah tanah... dan kini segelnya mulai terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!