Bertahan atau melangkah pergi?
Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?
Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00^13
Masih menunggu uluran tangan dari seseorang yang rela memberikannya, tanpa adanya rasa balas kasihan. Karena menanggung akibatnya sendiri itu benar-benar memberatkan diri jika pun, awal kesalahan bukan dirinya yang memulai. Akan tetapi, niat hanya ingin bersenang-senang dengan, sebuah penekan yang tidak ingin ia rasakan. Hanya sebuah perselisihan nilai.
Diam, membaca satu kalimat pesan yang baru saja masuk. Ampuh membuat benak merasa kesal dengan rasa khawatir menjadi selimut jiwa.
"Sebenarnya apa yang mereka rundingkan?" Bergumam, sebelum membuang napas lelah. "Kenapa dia mengirim ku pesan?"
Tanpa meberi balasan, gadis itu beranjak dari duduknya. Melangkah cepat keluar kelas tanpa peduli akan teman-teman sekelasnya yang sibuk dengan buku-buku mereka. Dan tidak menyadari jika hal itu menarik pasang mata milik seseorang.
Berjalan melewati lorong kelas yang tidak begitu sepi, pandangan setia lurus kedepan. Hingga langkah itu tiba di halaman yang berada di sebelah sisi kanan bangunan sekolah. Di mana seorang wanita tengah menunggu kehadirannya, dengan posisi membelakangi gadis itu.
"Apa yang ingin ibu bicarakan?" Cetus sang gadis, ampuh membuat wanita itu memutar tumit untuk berhadapan langsung dengan putrinya.
"Kau sudah datang?" Pertanyaan konyol yang ingin sekali gadis itu mengeraskan tawanya yang tersenyum dalam batin.
"Apa itu sangat penting? Hingga ibu menemuiku lebih dulu sebelum pulang. Itu tidak seperti biasanya." Melontarkan sebuah kalimat tanya yang mungkin akan membuat gadis itu menyesali akan keberaniannya yang berhadapan dengan sang ibu saat ini.
Tersenyum kecil, sembari mengikis jarak. Menyelipkan lebih dulu anak rambut milik sang gadis di belakang telinga, sebelum memberi tanggapan. "Jika itu tidak panting, ibu tidak akan menyuruh mu untuk menemui ibu. Karena bagi ibu, belajar paling utama dari apapun."
Perlahan sorot mata sang wanita berubah menjadi tajam penuh peringatan, membuat tubuh gadis itu sedikit bergetar. Tahu, suatu hal telah terjadi.
"Kenapa kau tidak pernah bilang pada ibu, jika murid beasiswa masuk ke dalam lima besar? Itu sangat melukai harga diri ibu." Diam sejenak menelan ludahnya yang getir. "Sedangkan dirimu, berada di urutan setelah dia, enam. Kau tidak malu?"
Gadis itu berusaha untuk memberi tanggapan, tetapi lidahnya begitu keluh untuk bersuara. Dan, diam pilihannya saat ini.
"Ibu hanya ingin, kau masuk ke lima besar. Atau tidak, geser nama Anna." Sangat rendah, tapi begitu tajam hingga menusuk relung hati sang gadis.
"Ibu__" lirihnya yang dianggap seperti debu.
"Lakukan, atau kau ingin membuatnya murka setelah pulang dari dinasnya."
"Bagaimana bisa aku melakukannya, jika aku tidak sepandai mereka?" Frustasi sang gadis, berusaha menahan suaranya agar tidak meninggi. Karena mau bagaimanapun, wanita di depan matanya tetaplah wanita yang melahirkannya dengan sebuah pengorbanan.
"Maka dari itu," seru sang wanita yang entah di sengaja atau tidak. Tangan itu mencengkeram kuat lengan putrinya. "Kau bisa melakukannya dengan cara lain. Karena, mengambil alih posisi orang di atas mu itu akan merubah hidup mu."
"Aku tidak ingin melukai siapapun, karena perkataan ku sudah buruk sama sekali. Apa ibu ingin membuat ku masuk ke dalam ruangan mengerikan itu?"
"Itu tidak pernah terjadi, ibu ada di belakang mu. Apapun yang kau lakukan, ibu akan mendukung mu. Sampai kau berada di posisi yang sanggup membuatnya melihat ke arah mu." Tidak begitu cepat wanita itu mencetuskan perkataannya.
Kembali tersenyum, sembari menjauhkan cekalan tangannya dari lengan sang putri. Dan memberi jarak di antara mereka. "Dekati lah Yuna, berteman baiklah dengannya. Agar kau mendapat bantuan darinya. Karena, tidak ada yang sanggup melawannya saat beradu argumen."
"Kembalilah ke kelas mu, ibu harus pulang." Akhir sang wanita. Melangkah pergi dari hadapan putrinya dengan senyum kecil penuh kepahitan.
Sedangkan sang gadis masih ada pada posisinya. Membuang napas lelah sembari menyisir surai panjangnya kebelakang, hingga tatanan rambut itu terlihat tidak rapi.
"Sebenarnya apa yang ibu inginkan?" Gumam sang gadis, seraya meletakkan telapak tangan kirinya di kening. Walau sebentar.
"Dia hanya mau kau mendapat posisi yang dia inginkan." Celetuk seorang murid yang entah sejak kapan berdiri di belakang gadis itu.
Spontan tersenyum masam akan kalimat yang baru saja menyapa pendengarannya. Membalikkan tubuh, tepat melihat siapa yang datang menemuinya. "Kau menguping?"
Tidak langsung memberi balasan, murid itu melihat sekitarnya terlebih dahulu. Sebelum kembali menatap lawan bicaranya. "Seharusnya dia tidak mengatakannya di lingkungan sekolah, karena banyak pasang telinga yang tidak menyukai topik seperti itu."
"Bukankah itu hanya dirimu yang tidak menyukainya?" Kesal sang gadis. Entah kenapa ingin sekali melampiaskan amarahnya pada seseorang. Tapi tidak untuk lawan bicaranya saat ini.
Lengkungan tidak sempurna murid itu perlihatkan. "Austyn, banyak orang yang mengejar apa yang mereka inginkan di saat kau memilih memainkan handphone mu. Banyak orang yang mati-matian menempatkan diri agar layak di hargai, di saat kau bersenang-senang menghamburkan uangmu. Banyak orang yang menghabiskan malam mereka untuk belajar, di saat kau pergi ke tempat hiburan."
Diam sejenak, sebelum menimbulkan perkataannya. "Bukankah hal itu sangat wajar, jika ibu mu begitu tidak menyukai putrinya berada di posisi setelah murid beasiswa?"
"Aku pun juga penasaran, bagaimana bisa kau kalah dengan gadis itu. Bukankah iu sanga memalukan?" Tambahnya yang terlihat tidak memiliki ketakutan sama sekali dalam dirinya.
"Berhentilah bicara dengan ku, jika kau hanya ingin merendahkanku." Geram Austyn yang menahan diri untuk tidak menarik surai panjang milik lawan bicaranya.
Dan kini Austyn memilih melangkah pergi, ketimbang amarah dalam dirinya semakin menjadi-jadi.
Saat itu juga, seorang pemuda dermawan yang tak lain. Aldi berjalan mendekati sang murid yang masih saja melihat kepergian Austyn dengan sorot mata penuh makna.
"Perkataan mu akan membuatnya merundung gadis itu lagi?" Cetus Aldi yang tidak mengalihkan pandangan murid itu. "Dan kau akan membelanya dengan perkataan kasar, hingga melukai harga diri Austyn. Apa kau tidak bosan hal-hal seperti itu?"
"Tidak!!" Diam sejenak, perlahan menoleh kearah di mana Aldi berdiri di dekatnya. "Itu akan sangat menyenangkan."
"Kekasih mu akan murka dengan sikap mu." Tidak begitu cepat, Aldi memberi sahutan.
"Aku harus mengakhiri hubungan ku dengannya, agar dia tidak murka saat melihat ku betingkah konyol." Sangat tenang, murid itu memberi balasan.
"Anna," diam membuang napas lelah. "Kenapa kau senang sekali melihatnya menjadi wanita jahat? Bukankah itu sangat keterlaluan? Dan, posisimu akan dianggap sebagai seorang penjahat yang melebihi sifat predator."
"Aldi, apa kau tidak melihat keadaannya akhir-akhir ini? Bukankah Austyn yang memulainya terlebih dahulu? Dia sering menghasut ku dengan omong kosonnya. Tapi kenapa perkataan mu seolah-olah kesalahan itu berawal dariku?" Perlahan Yuna mengikis jarak dengan kening mengerut samar. Tidak lupa akan kedua tangan yang bersedekap dada.
"Apa kau sangat membenciku?" Tambah Yuna yang begitu penasaran dengan Aldi. Akan sikap pemuda itu yang terus-menerus mendorongnya ketepi jurang.