"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Sinkronisasi Hati
Setelah malam yang luar biasa di puncak Desa Pinus, pagi di kabin terasa jauh lebih hangat. Nggak ada lagi pengejaran, nggak ada lagi suara helikopter.
Yang ada cuma bau kopi yang diseduh Dedik dan suara burung yang sahut-sahutan di dahan pohon pinus.
Gua keluar dari kamar, masih pake jaket flanel Dedik yang baunya udah jadi favorit gua. Gua nemuin Dedik lagi duduk di teras, tapi kali ini laptopnya tertutup.
Dia cuma diem, natap ke arah lembah sambil megang cangkir kaleng.
"Pagi, Partner," sapa gua sambil duduk di sebelahnya.
Dedik nengok, terus dia senyum tipis banget, senyum yang sekarang gua tau itu spesial buat gua. "Pagi, Rey. Secara biologis, tidur lo tadi malem sangat nyenyak. Detak jantung lo stabil di frekuensi istirahat."
Gua ketawa. "Lo masih aja merhatiin frekuensi detak jantung gua pas tidur? Dasar stalker logis!"
"Itu namanya pemantauan variabel keamanan, Rey," sahutnya lempeng, tapi dia ngeraih tangan gua dan menggenggamnya. Tangan dia anget banget. "Gimana perasaan lo? Maksud gua... setelah lagu semalem?"
Gua nyenderin kepala di pundaknya. "Gua ngerasa kayak... semua potongan puzzle di otak gua akhirnya pas, Ded. Gua nggak pernah nyangka kalau 'partner sialan' gua ternyata bisa seromantis itu."
Dedik diem sebentar, terus dia nunduk, ngecup puncak kepala gua pelan. "Logikanya, kalau gua bisa nemuin algoritma buat suara bambu yang rumit, harusnya gua juga bisa nemuin cara buat bikin lo seneng.
Meskipun gua harus latihan nyanyi seribu kali di dalem Lab sendirian."
Gua kaget. "Hah?! Jadi lo latihan lagu itu sendirian di Lab? Sejak kapan?"
"Sejak kita balik dari Desa Pinus yang pertama kali," akunya jujur, mukanya agak merah.
"Gua pake alat peredam suara biar anak-anak Teknik lain nggak denger. Gua nggak mau reputasi 'kaku' gua hancur gara-gara lagu romance."
Gua ketawa kenceng banget sampe hampir jatoh dari kursi. "Ya ampun, Ded! Lo bener-bener niat ya!"
***
Siangnya, kita mutusin buat jalan-jalan santai di sekitar desa sebelum tim Universitas jemput kita sore nanti. Kita nemuin padang rumput kecil yang penuh bunga liar.
"Rey, diem di situ," kata Dedik tiba-tiba. Dia ngambil HP-nya.
"Mau foto gua ya? Tumben banget!" gua langsung pasang pose cantik.
"Bukan. Gua mau ambil referensi pencahayaan alami buat sampul laporan riset kita," katanya. Tapi gua liat dia malah fokus motret muka gua, bukan pemandangannya.
Pas gua intip layarnya, ada foto gua yang lagi ketawa lepas dengan latar belakang gunung.
"Tuh kan! Bohong lo! Itu foto gua, bukan referensi laporan!" seru gua sambil nyoba merebut HP-nya.
Kita malah kejar-kejaran di padang rumput itu kayak anak kecil. Gua lari sekencang mungkin, tapi langkah kaki gunung Dedik jauh lebih cepet.
Dia berhasil nangkep pinggang gua dari belakang, dan kita berdua jatuh berguling di rumput yang empuk.
Kita berenti dengan posisi gua di bawah dan Dedik di atas, tangan dia nahan badannya biar nggak nimpa gua. Jarak kita deket banget. Gua bisa liat pantulan diri gua di kacamatanya.
"Rey," bisiknya.
"Ya?"
"Makasih ya udah mau jadi variabel yang nggak terduga dalam hidup gua. Tanpa lo, riset ini cuma soal angka mati. Tapi karena lo, riset ini jadi punya jiwa."
Gua megang kedua pipinya. "Dan makasih udah jadi partner paling sialan yang pernah gua punya, Ded. Karena lo, gua nggak takut lagi buat bersuara."
Dedik pelan-pelan ngelepas kacamatanya, naruhnya di rumput, terus dia mendekat. Detik itu, di bawah sinar matahari Desa Pinus yang cerah, kita berbagi ciuman pertama kita.
Nggak ada logika, nggak ada rumus, nggak ada perhitungan. Cuma ada kita berdua yang bener-bener sinkron.
***
Sore hari, mobil jemputan dari Universitas dateng. Kita naik ke mobil bareng Arlan yang udah kelihatan lebih tenang.
Di perjalanan pulang, gua ketiduran di bahu Dedik. Gua ngerasa dia nyelimutin gua pake jaketnya lagi dan megangin tangan gua sepanjang jalan.
Pas kita nyampe di gerbang kampus, banyak mahasiswa yang udah nunggu. Mereka tepuk tangan, nyebut nama kita. Kita bener-bener jadi bintang.
"Siap hadapin dunia, Rey?" tanya Dedik pas kita turun dari mobil.
Gua genggam tangannya kenceng. "Selama lo di sebelah gua, gua siap."
***
Malam itu, Dedik nganterin gua sampe depan kamar kostan.
"Besok jam sepuluh, kita ada pertemuan sama Pak Dekan soal paten," kata Dedik.
"Iya, Bos. Jangan telat ya!"
"Gua nggak pernah telat, Rey. Logikanya, waktu adalah aset paling berharga... setelah lo."
Gua senyum-senyum sendiri pas masuk kamar. Gua ngerasa hidup gua bener-bener sempurna sekarang. Riset sukses, musuh kalah, dan gua punya cowok paling jenius sekaligus paling manis di dunia.
Tapi, di saat gua lagi asik guling-guling di kasur sambil dengerin rekaman suara Dedik nyanyi semalem, gua nggak tau kalau di sebuah bandara internasional, ada seorang cewek yang baru saja mendarat.
Dia bawa koper mahal, kacamata hitam branded, dan sebuah foto lama di HP-nya.
Foto dia bareng Dedik saat mereka menang olimpiade matematika tingkat nasional tiga tahun lalu.
Cewek itu tersenyum tipis sambil ngeliat layar berita di HP-nya yang menayangkan keberhasilan riset Dedik. "I'm back, Ded. Let's see if your new partner can handle the real complexity," gumamnya pelan.
Gua masih asik bermimpi indah, tanpa sadar kalau variabel baru yang sangat berbahaya sedang menuju ke arah kami.
***
Masa indah baru saja dimulai, tapi badai masa lalu sudah mengintai di gerbang kampus.
Siapakah cewek misterius ini? Dan bagaimana reaksi Dedik saat "masa lalu" yang paling dia hargai secara intelektual kembali muncul di hadapannya? Apakah hubungan baru Reyna dan Dedik cukup kuat untuk menahan distorsi dari masa lalu yang sempurna?