Setelah berhasil melarikan diri dari siksaan Om dan Tantenya, Bella Claudia remaja (13 tahun) tidak sengaja bertemu dengan sosok Andrew Permana (25 tahun) saat wanita itu ingin mengakhiri hidupnya di usia muda. namun Andrew menghalangi dan menolong Bella pada saat itu, pertemuan di antara mereka tersebut membuat Bella jatuh cinta kepada Andrew saat pandang pertama. hingga beranjak dewasa, tepatnya saat usia Bella menginjak 23 tahun. perasaan itu tumbuh semakin besar untuk pria yang selama 10 tahun dia panggil dengan sebutan paman Andrew tersebut, di saat wanita itu ingin melupakan perasaannya kepada Andrew tiba-tiba sebuah insiden panas di antara mereka terjadi dan membuat mereka terpaksa menikah. semenjak menikah sikap Andrew berubah dingin dan galak kepada Bella, namun wanita itu tidak menyerah dia akan membuat pria itu berbalik mengejarnya dan mencintainya pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indrie Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Hampir ketahuan
HEI SIAPA DI SANA, AYO SEGERA KELUAR SEBELUM AKU TEMBAK! ancam polisi tersebut mulai berjalan ke arah tempat pembuangan sampah di gang sempit.
"Ya tuhan apa yang harus aku lakukan." Panik Bella sambil berpikir untuk kabur.
Di saat sedang berpikir keras bagaimana cara agar bisa keluar dari posisi sulit saat ini. tiba-tiba saja seekor kucing liar lewat di hadapan gadis itu. seketika ia langsung mendapatkan ide setelah melihat keberadaan kucing tersebut.
"Sepertinya aku bisa mengunakan kucing ini untuk melabuhi polisi itu." Batin Bella sembari tersenyum tipis.
Perlahan Bella mulai mengangkap kucing liar itu, untung saja kucing itu tidak memberontak atau berisik saat di tangkap olehnya.
Sementara polisi itu terus berjalan pelan ke arah tempat pembuangan sampah sembari memegang sebuah pistol di tangan nya.
Perlahan Bella mulai mengintip keadaan di depan, dan ia melihat polisi tersebut hampir berjalan mendekat ke arahnya. dengan rencana dadakannya ia berniat melempar kucing yang sedang ia pegang ke arah depan berniat untuk mengagetkan polisi tersebut.
TIGA...DUA....SATU....LEMPAR! ucap Bella dalam hati sambil melempar kucing tersebut.
MEONG!! ARRGGGHHRTTT APA ITU! Teriak sang polisi sedikit memundurkan langkah kakinya karena terkejut melihat sesuatu yang melompat ke arahnya.
Meong...meong...meong
terdengar ngeongan suara kucing. sontak saja polisi tersebut langsung menatap ke bawah, langsung melihat kucing liar yang sedang mengeong di bawa kakinya saat ini.
"SIALAN BIKIN KAGET SAJA! KU PIKIR ADA ORANG DI BALIK TEMPAT SAMPAH ITU!" gerutu polisi itu kesal sambil menatap ke arah kucing yang terus menatap ke arahnya.
"Ngapain situ lihat-lihat saya?, barusan saya gak takut cuma kaget saja." Ucap polisi tersebut berbicara dengan kucing liar.
Di balik tempat pembuangan sampah terlihat Bella yang tengah mengintip dan menahan tawanya agar tidak pecah saat ini juga karena menertawakan tingkah konyol polisi itu yang malah mengajak kucing liar berbicara.
"Hahahaha....dasar polisi aneh." Batin Bella tertawa dalam hati.
Di saat polisi tersebut sedang mengomel dan mengajak bicara kucing liar, tiba-tiba dari arah mobil patroli teman sesama polisinya memanggil.
HEI KAWAN AYO CARI DI TEMPAT LAIN, DI SINI TIDAK ADA! teriak polisi bertubuh agak gemuk itu kepada temannya yang terlihat sedang berdiri di dekat tempat pembuangan sampah.
BAIKLAH,KAMU MASUK DULU SAJA KE DALAM MOBIL AKU AKAN MENYUSUL! ucap polisi tersebut kepada temanya yang agak gemuk.
Polisi bertubuh gemuk itu terlihat mengacungkan jempolnya ke atas tanda membalas ucapan teman nya itu.
sebelum benar-benar pergi, polisi tersebut terlihat menatap sekeliling untuk memastikan tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis yang sedang mereka cari di sekitar sini.
"Sepertinya gadis itu lari ke arah lain." Guman polisi itu pelan dan mulai berjalan menuju mobil patroli dan segera meninggalkan area tersebut.
Sementara di balik tempat pembuangan sampah terlihat Bella yang menghela nafasnya lega karena mobil patroli milik polisi tersebut telah pergi dari area tempatnya bersembunyi saat ini.
"Syukurlah mereka telah pergi yang artinya aku telah aman untuk sementara waktu ini."
******
Tidak sampai 30 menit mobil yang di kendarai oleh Tiara dan Rudi telah sampai di kantor polisi, dengan terburu-buru mereka turun dari mobil dan memasuki kantor polisi.
Kini Tiara dan Rudi terlihat mengedarkan pandangannya menelusuri ruangan yang ada di dalam kantor polisi untuk menemukan keberadaan keponakan mereka.
"Maaf ibu dan bapak ada keperluan apa yang kemari?" Tanya salah satu polisi menghampiri Tiara dan Rudi saat ini.
"Kami ingin bertemu dengan keponakan kami yang beberapa waktu lalu sempat kami laporkan hilang, setengah jam yang lalu kami mendapatkan telepon jika keponakan kami datang ke kantor polisi ini." Terang Tiara sembari menatap polisi tersebut.
"Keponakan yang ibu maksud itu adalah gadis remaja berpakaian kumal dengan rambut panjang bukan." Tanya polisi.
"Iya benar pak, sekarang di mana dia?" Tanya Tiara yang tidak sabar untuk membawa pulang Bella dan memberikan gadis itu pelajaran di rumah nantinya.
"Mohon maaf sekali pak Bu, keponakan ibu itu telah kabur dan saat ini sedang di cari oleh tim patroli kami dan tim tersebut belum juga kembali ke kantor." Ucap polisi tersebut sembari menatap Tiara dan Rudi secara bergantian.
BAGAIMANA BISA GADIS ITU KABUR DARI KANTOR POLISI!, KERJAAN KALIAN APA SIH! teriak Rudi emosi setelah mengetahui keponakannya itu telah melarikan diri dari kantor polisi.
MOHON TENANGKAN DIRI BAPAK, HAL ITU TERJADI DI LUAR KENDALI KAMI. MOHON MAAF SEKALI! ucap polisi tersebut berusaha menenangkan Rudi dan meminta maaf.
AKU TIDAK BISA TENANG SEBELUM GADIS ITU TERTANGKAP! ucap Rudi begitu sengit menatap sang polisi.
JIKA BAPAK MASIH BERTERIAK DAN MEMBUAT KERIBUTAN, JANGAN SALAHKAN JIKA SAYA AKAN MEMBUAT LAPORAN TENTANG ANDA YANG TELAH MEMBUAT KERIBUTAN DI DEPAN UMUM DAN AKAN DI PIDANA! ucap polisi tersebut tak kalah sengit menatap ke arah Rudi.
Rudi terlihat bertambah marah dan emosi setelah mendengar ucapan polisi tersebut, bukanya merasa takut dengan ancaman polisi itu. Rudi terlihat akan kembali membalas ucapan polisi yang ada di hadapanya, untung saja dengan cepat di tahan oleh Tiara.
"Sudahlah mas Jangan buat keributan di sini, yang ada kita akan mendapatkan masalah besar nantinya." Bisik Tiara tepat di telinga sang suami.
Seketika Rudi terdiam dan mulai mengatur emosinya saat ini karena benar kata istrinya, ia akan mendapatkan masalah jika terus berdebat dengan polisi yang ada di hadapanya saat ini.
"Maaf ya pak polisi tadi saya khilaf dan tidak sengaja marah-marah di hadapan bapak, saya harap bapak tidak marah dan memasukannya ke dalam hati." Ucap Rudi berusaha bersikap ramah kepada polisi tersebut.
"Tidak apa-apa pak, saya mengerti saat ini anda sedang kalut dan sempat terbawa emosi." Jawab polisi tersebut begitu pengertian.
"Sekali lagi saya mohon maaf dan terima kasih untuk pengertian pak polisi." Ucap Rudi pura-pura tersenyum ramah ke arah polisi tersebut.
"Sama-sama pak." Jawab polisi tersebut.
*******
Sementara di tempat lain Bella terus berjalan tanpa arah tujuan yang jelas, saat ini ia sudah benar-benar sebatang kara dan tidak memilki rumah untuk pulang.
Bella terus berjalan menelusuri jalan namun tiba-tiba langkah kakinya terhenti saat mencium aroma roti yang baru saja matang dari oven. kini tatapan matanya langsung tertuju ke arah toko roti yang tepat ada di hadapanya, Bella melihat salah satu pegawai toko roti tersebut sedang membawa nampan yang berisikan roti yang baru saja matang dari oven.
seketika air liur gadis itu hampir saja menetes hanya dengan melihat dan membayangkan roti yang sedang ia lihat saat ini.
KRUK!
terdengar suara perut Bella yang berbunyi cukup nyaring.
Dengan refleks ia langsung memegangi perutnya sendiri yang terasa keroncongan saat ini, selain lapar Bella pun merasa sangat haus karena terus berlari dan berjalan tanpa minum.
"Ya tuhan aku sungguh lapar dan haus sekali, tapi aku tidak memiliki uang sepeser pun saat ini." Lirih Bella pelan merasa sedih.
Hiks...hiks...hiks
Bella mulai menangis sambil menunduk saat ini, namun tiba-tiba saja ada dua buah pasang kaki yang berdiri tepat di hadapannya saat ini.
"Jangan menangis, ini untuk mu." ucap wanita muda memberikan sebuah roti dan air minum kepada Bella.
Sontak saja Bella yang sedang menangis dan menunduk langsung menatap ke arah sosok tersebut.
Kini Bella dapat melihat jelas senyum manis wanita muda yang sepertinya pegawai toko roti tersebut. Bella terlihat hanya diam tidak berani mengambil roti dan air minum yang di berikan oleh wanita muda tersebut.
"Jangan takut ayo ambil saja" ucap wanita muda tersebut membujuk Bella.
Bella menatap wajah wanita muda itu sekilas dan perlahan mulai mengambil roti dan air minum yang di pegang oleh wanita tersebut.
"Terimakasih banyak kak." Ucap Bella tersenyum tipis ke arah wanita muda tersebut.
"Sama-sama, salam kenal nama ku Indah kamu bisa memanggil ku kak Indah. Siapa nama mu gadis cantik?" Ucap Indah memamerkan senyum manisnya.
Bella terlihat agak malu saat wanita itu memuji dirinya cantik, padahal ia sudah sangat mirip seperti gembel saat ini tidak ada cantik-cantiknya sama sekali.
"Be...lla, nama ku Bella kak." Jawab Bella pelan.
"Nama yang sangat cantik." Puji Indah.
Namun tiba-tiba wanita bernama Indah itu terlihat terkejut setelah melirik ke arah lain, karena ia melihat salah satu rekan kerjanya telah kembali dari luar setelah membeli sesuatu.
"Bisa gawat kalo tuh orang tahu aku ngasih roti dan minuman gratis kepada gadis yang ada di hadapan ku saat ini." Batin Indah menatap rekan kerjanya yang masih jauh dan Bella secara bergantian dengan ekspresi wajah yang panik saat ini.
"Bella kamu segera pergi dari depan toko tempat kakak bekerja ya?, soalnya ada nenek lampir yang akan segera datang kemari. bisa-bisa nenek lampir tersebut mengambil roti dan minuman yang sedang kamu pegang. jadi kamu harus pergi dari sini." Ucap Indah menyuruh Bella untuk segera pergi dari depan toko tempatnya bekerja.
gadis itu seakan mengerti dengan situasi yang ada, ia beniat segera pergi dari sana.
"Terimakasih banyak kak untuk roti dan air minumnya, Bella pamit." Ucap Bella segera pergi.
*******