Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengusir Galang
Langkah Arini keluar dari ruang rapat terasa begitu ringan, seolah-olah setiap langkahnya mengikis beban lima tahun yang selama ini menghimpit dadanya. Di koridor kantor, para karyawan berdiri mematung, menatapnya dengan campuran rasa hormat dan kehilangan. Arini tidak berhenti, tidak juga menoleh. Ia terus berjalan menuju lobi, di mana Kevin sudah menunggunya di samping mobil dengan senyum tipis yang menenangkan.
"Sudah selesai?" tanya Kevin singkat.
Arini mengangguk pelan. "Sudah. Semuanya. Ayo kita pergi dari sini, Vin."
Sementara itu, di dalam ruang rapat yang mendadak terasa sesak, Galang masih terpaku di kursinya. Suara bising di telinganya seolah meredam kasak-kusuk para staf senior yang mulai panik. Mr. Chen telah memutus sambungan dengan kalimat yang menghancurkan harga diri Galang.
"Pak... Pak Galang?" Sania memberanikan diri mendekat. "Bagaimana dengan instruksi selanjutnya? Mr. Chen meminta draf revisi klausul pembatalan sore ini juga."
Galang tiba-tiba berdiri, membuat kursinya terjungkal ke belakang. "Diam! Semuanya keluar! Keluar dari sini!" teriaknya murka.
Setelah ruangan kosong, Galang meraup wajahnya dengan kasar. Ia merasa dipermalukan di depan karyawannya sendiri, di depan investor paling bergengsi, dan yang paling menyakitkan, di hadapan Arini. Ia merasa dikhianati oleh wanita yang ia klaim sebagai miliknya.
"Dia pikir dia bisa pergi begitu saja setelah menjatuhkanku?" desis Galang. Amarahnya kini beralih menjadi obsesi untuk mengejar Arini. Ia harus menyeret wanita itu kembali, dengan cara apa pun.
Tanpa memedulikan jadwal kantor yang berantakan, Galang menyambar kunci mobilnya dan memacu kendaraan itu menuju rumah Pak Bayu, rumah yang ia tau sebagai rumah Arini dan ayahnya. Pikirannya hanya terisi satu hal, Arini pasti ada di sana.
Sesampainya di kediaman Pak Bayu, atau rumah nenek Arini dulu. Galang tidak lagi mengetuk pintu dengan sopan. Ia menggedor pintu kayu jati itu dengan keras.
"Arini! Keluar! Kita belum selesai bicara!" teriaknya. "Jangan jadi pengecut dengan bersembunyi di balik nama besarmu sebagai profesional!"
Pintu terbuka, namun bukan Arini yang muncul. Pak Bayu berdiri di sana, mengenakan sarung dan baju koko, menatap Galang dengan mata mengernyit. Dia datang ke rumah orang tuanya untuk bersih-bersih di rumah tua itu.
"Berhenti berteriak di rumah ini, Galang," ucap Pak Bayu dingin. "Kamu sudah menjatuhkan talak kemarin. Kamu sudah menandatangani surat cerai. Secara agama dan secara harga diri, kamu tidak punya hak lagi menemui anak saya."
"Aku tidak peduli dengan surat itu, Pak! Arini menyabotase rapatku! Dia menghancurkan reputasiku di depan Mr. Chen!" Galang mencoba merangsek masuk, Namun Pak Bayu berhasil menahannya.
"Dia tidak menghancurkanmu, Galang. Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri sejak hari pertama kamu memutuskan untuk menipu anak saya," balas Pak Bayu. "Sekarang pergi, atau saya akan membiarkan tim hukum Kevin melaporkanmu atas gangguan ini, perbuatan tidak menyenangkan."
Galang tertawa sinis, matanya menyapu halaman rumah mencari keberadaan mobil Arini. "Kevin lagi? Di mana bajingan itu? Apa dia yang mengajari Arini untuk menjadi licik seperti ini?"
"Aku di sini, Galang."
Suara itu datang dari arah samping. Kevin muncul dari balik taman samping setelah mendengar teriakan Galang, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Ia berjalan tenang mendekati Galang. Aura yang terpancar dari Kevin membuat Galang tanpa sadar mundur satu langkah.
"Kamu..." Galang menudingkan jarinya. "Apa maumu sebenarnya? Kenapa kamu mencampuri urusan kami?"
Kevin berdiri tepat di hadapan Galang, sedikit lebih tinggi sehingga Galang harus mendongak. "Aku tidak mencampuri urusanmu. Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya tidak pernah jatuh ke tangan orang sepertimu. Arini adalah permata, dan kamu memperlakukannya seperti alat bantu kerja."
"Dia istriku!"
"Bukan. Secara hukum dia sudah bebas. Dan secara hati, dia sudah tidak lagi melihatmu sebagai manusia," ucap Kevin dengan nada datar yang menusuk. "Dan soal reputasimu di depan Mr. Chen? Itu baru permulaan. Aku sudah memeriksa laporan keuangan perusahaanmu. Kamu tidak membayar pajak selama dua tahun terkakhir, dan menggunakan uang perusahaan untuk menghidupi istrimu. Benarkan, Tuan Galang! "
Wajah Galang mendadak pucat pasi. "Bagaimana kamu..."
"Jangan remehkan siapa yang kamu hadapi, Galang. Aku punya semua bukti penggelapan dana yang kamu lakukan. Jika kamu masih berani mengganggu Arini, atau bahkan muncul dalam radius satu kilometer darinya, aku akan memastikan besok pagi kamu bukan hanya kehilangan kontrak Singapura, tapi juga kebebasanmu."
Galang terdiam seribu bahasa. Ketakutan kini benar-benar menjalar di punggungnya. Ia tahu Kevin tidak sedang menggertak. Pria ini memiliki semua kelemahannya.
"Pergilah, Galang," suara Arini terdengar dari balik pintu. Ia tidak muncul sepenuhnya, hanya suaranya yang terdengar tegas. "Kembalilah pada Dita dan Galih. Jadilah suami yang benar untuk wanita yang sudah menamanimu sebelum aku, dan berhentilah mengejarku. Bagiku, kamu sudah mati bersama semua kebohongan mu.
Galang terdiam menatap kosong ke arah pintu yang dibaliknya ada sosok Arini, yang mungkin sedang menekan semua amarahnya.
Ia kembali ke rumahnya dengan sisa-sisa kehancuran. Begitu ia masuk, ia disambut oleh Dita yang sedang menangis sambil memegang ponselnya.
"Mas... ada apa ini?" Dita menyodorkan ponselnya. "Kenapa ada berita di forum bisnis kalau perusahaanmu sedang dalam investigasi internal? Dan kenapa orang-orang bank menelepon terus?"
Galang tidak menjawab. Ia mengempaskan tubuhnya ke sofa ruang tamu, dikelilingi oleh kemewahan yang ia bangun dari hasil keringat Arini. Ia baru menyadari bahwa tanpa Arini, rumah ini hanyalah bangunan kosong yang menanti disita jika waktunya tiba. Dita yang selama ini ia anggap sebagai tempat kembali, kini menatapnya dengan penuh tuntutan dan ketakutan akan kemiskinan.
"Mas! Jawab aku!" teriak Dita histeris.
Galang hanya bisa tertawa pahit. Tawanya terdengar kosong di ruang tamu yang sunyi, tempat dimana Arini selalu menunggunya pulang.
Kembali ke rumah tua, Bayu masuk ke dalam rumah diikuti Kevin , menemui Arini yang mungkin sedang hancur. Wanita itu terlihat sangat kuat walau mereka berdua tau hatinya pasti sedang hancur.
"Tenanglah, semua sudah berlalu sayang. Kamu bisa kembali ke rumah kita sekarang. " Ujar Pak Bayu, "Untung saja sebelumnya kamu berpesan agar papa ke rumah tua ini. Apa kamu sudah mengira kalau Galang akan datang? "
"Iya, dia pasti akan mencariku, karena merasa tidak puas dengan apa yang terjadi tadi. Dan satu-satunya tempat yang bisa dia tuju adalah rumah nenek ini, tempat dimana papa dulu menolaknya. " ujar Arini dengan senyum kecut.
Pak Bayu tertawa keras saat mengingat waktu itu, "Sudah jangan di bahas lagi, yang penting sekarang kamu sudah keluar dari kebohongan Galang. Dan sudah waktunya kamu mencari pasangan yang benar-benar tulus mencintaimu. "
"Apa masih ada orang seperti itu, pa?"