Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur
Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32: Jejak Misteri di Catatan Lama
Suasana di dalam rumah besar keluarga Ardiansyah masih terasa tegang meski sudah lewat tengah malam. Kertas hitam bertuliskan ancaman dari Roh Kuno masih tergeletak di atas meja, menjadi bukti nyata bahwa bahaya belum hilang, justru semakin dekat dan misterius. Semua orang duduk diam, wajah mereka penuh kekhawatiran dan kebingungan, tidak ada yang tahu siapa sebenarnya sosok yang bersembunyi di balik nama seram itu.
Raga memegang kertas itu erat, matanya meneliti setiap lekukan tulisan merah yang tampak seolah ditulis menggunakan darah asli. Ia bangkit berdiri, lalu berjalan menuju rak buku besar di sudut ruangan—rak yang berisi koleksi catatan, buku harian, dan dokumen keluarga yang tersimpan selama puluhan tahun, sebagian besar belum pernah dibuka dan dibaca olehnya.
“Kalau dia bilang organisasi ini sudah ada jauh sebelum ayahku lahir, pasti ada jejaknya di sini,” gumam Raga pelan, tangannya mulai menyusuri satu per satu buku tebal yang berdebu di sana. “Ayahku selalu mencatat segala hal yang dia anggap penting, tidak terkecuali hal-hal aneh atau berbahaya yang berhubungan dengan Lingkaran Emas.”
Lira segera bangkit dan mendekat, berdiri di samping suaminya untuk membantu mencari. Ingatannya kini sudah utuh kembali, namun nama Roh Kuno itu tetap terasa samar dan menakutkan, seolah ada selubung tebal yang menutupi ingatan buruk yang ingin ia lupakan.
Mereka mencari selama hampir satu jam, meneliti halaman demi halaman catatan tua yang tulisannya mulai pudar dimakan usia, sampai akhirnya tangan Raga berhenti di sebuah buku kulit tua berwarna cokelat gelap, ukurannya lebih kecil dari yang lain, dan di sampulnya terukir lambang aneh: lingkaran dengan ular yang menggigit ekornya sendiri.
“Ini… Ini buku catatan kakekku,” ucap Raga kaget. “Aku baru pertama kali melihatnya. Ayahku pernah bilang kakekku meninggal secara misterius sebelum aku lahir, dan sebagian barang miliknya disimpan tersendiri karena berisi hal yang berbahaya.”
Dengan hati-hati, Raga membuka halaman pertama buku itu. Kertasnya sudah tipis dan rapuh, namun tulisan tangan kakeknya masih terbaca jelas, rapi, dan tegas. Ia mulai membaca pelan, sementara Lira dan orang-orang lainnya mendekat dengan penuh perhatian.
Tahun 1967. Hari ini aku bertemu dengan mereka untuk pertama kalinya. Mereka menyebut kelompok mereka sebagai Lingkaran Emas, namun nama asli yang mereka gunakan di antara anggota inti adalah Roh Kuno. Mereka bukan sekadar sekelompok orang kaya atau penguasa biasa. Mereka adalah keturunan keluarga-keluarga tua yang dulunya memiliki kekuasaan mutlak di tanah ini, yang merasa bahwa tanah dan rakyat adalah milik mutlak mereka untuk diatur dan diperas sesuka hati.
Mereka punya aturan utama: tidak boleh menampakkan wajah asli, tidak boleh menyebutkan nama asli, dan setiap pemimpin baru harus mewarisi nama Roh Kuno sebagai tanda bahwa kekuasaan itu terus berjalan abadi, tidak peduli siapa orangnya. Tujuannya satu: menguasai semua sumber kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tanpa ada hukum, tanpa ada keadilan, tanpa ada yang berani melawan.
Aku sempat menjadi bagian dari mereka, sampai aku melihat kejahatan yang mereka lakukan. Mereka tidak ragu membunuh, menghancurkan nyawa orang lain, bahkan mengorbankan nyawa rakyat banyak demi keuntungan pribadi. Aku sadar, jika aku terus bersama mereka, tanganku akan penuh darah dosa. Aku memilih keluar, dan mulai melawan mereka secara diam-diam, meskipun aku tahu nyawaku dan nyawa keturunanku akan menjadi taruhan selamanya.
Hati-hati, anakku, cucuku, dan semua keturunanku. Roh Kuno itu bukan satu orang, tapi sebuah warisan kejahatan yang terus berpindah tangan. Selama masih ada keturunan mereka yang hidup, selama masih ada orang yang mau bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan, mereka tidak akan pernah benar-benar mati. Mereka bisa kalah, bisa bersembunyi, tapi mereka akan selalu bangkit kembali, lebih kuat dan lebih kejam dari sebelumnya.
Dan satu hal yang paling berbahaya… Mereka punya rahasia terbesar yang disimpan di tempat yang disebut Gua Warisan. Di sana tersimpan semua bukti, semua kekayaan, dan semua rahasia yang bisa menghancurkan atau menguasai seluruh negeri ini. Selama tempat itu belum ditemukan dan dihancurkan, kekuatan Roh Kuno tidak akan pernah bisa diputus sampai akarnya.
Membaca sampai baris terakhir, tangan Raga gemetar pelan, dadanya terasa sesak. Semua tebakannya benar. Pak Surya hanyalah pengganti sementara, orang yang menjalankan tugas. Di baliknya ada rantai kejahatan yang sudah berjalan lebih dari setengah abad, dan sekarang giliran pemimpin baru Roh Kuno yang mengambil alih, untuk melanjutkan dendam lama.
“Jadi begitulah asalnya…” bisik Raga pelan. “Roh Kuno itu bukan nama orang, tapi gelar kekuasaan jahat yang diturunkan dari generasi ke generasi. Selama Gua Warisan itu belum ditemukan, mereka akan selalu punya kekuatan untuk bangkit lagi.”
Dani yang mendengarkan dari samping, mengerutkan kening bingung.
“Tapi Tuan Muda, di mana letak Gua Warisan itu? Apakah ada petunjuk di catatan ini?”
Raga kembali membalik halaman demi halaman dengan cepat, sampai di halaman terakhir, ada peta sketsa kasar yang digambar tangan, disertai tulisan pendek:
Lokasi Gua Warisan tersembunyi di wilayah Pegunungan Seribu, di balik tiga air terjun yang bertingkat. Hanya orang yang tahu jalan rahasia yang bisa masuk. Jangan pernah pergi ke sana sendirian, tempat itu dijaga ketat dan penuh jebakan mematikan.
Jantung Lira berdegup kencang. Pegunungan Seribu… Itu adalah wilayah pegunungan terpencil, liar, dan sangat berbahaya, jarang ada orang yang berani masuk ke sana karena jalurnya terjal, penuh jurang, dan sering terjadi longsor.
“Pegunungan Seribu…” gumam Lira pelan. “Dulu aku pernah mendengar orang tua bercerita tentang tempat itu. Mereka bilang tempat itu angker, dan menjadi tempat persembunyian orang-orang jahat zaman dulu.”
Raga menutup buku itu perlahan, wajahnya kembali tegas dan dingin.
“Inilah kuncinya. Selama Gua Warisan itu masih ada, Roh Kuno akan terus punya kekayaan, bukti pemerasan, dan kekuatan untuk mengatur orang lain. Kita tidak akan pernah aman selamanya selama tempat itu belum kita temukan dan kita hancurkan isinya sampai bersih. Di situlah letak akar utama kejahatan mereka.”
Ia menoleh ke arah semua orang yang ada di ruangan itu.
“Mulai besok pagi, kita persiapkan segalanya. Kita akan berangkat ke Pegunungan Seribu, mencari Gua Warisan itu, dan mengakhiri sejarah kejahatan Roh Kuno selamanya. Ini adalah satu-satunya cara supaya keturunan kita nanti bisa hidup tenang, tanpa harus mewarisi dendam dan bahaya seperti yang kita alami sekarang.”
“Tapi itu tempat sangat berbahaya, Tuan Muda,” sela Dani cemas. “Belum lagi, pasti pihak Roh Kuno juga tahu tempat itu. Mereka pasti sudah menjaga ketat di sana, bahkan mungkin sudah menunggu kita datang.”
“Aku tahu,” jawab Raga mantap. “Tapi kita tidak punya pilihan lain. Kalau kita diam saja, mereka yang akan datang mencari kita, dengan cara yang jauh lebih kejam. Lebih baik kita yang menyerang duluan, ke pusat kekuatan mereka, sebelum mereka sempat mengatur rencana baru.”
Lira memegang tangan Raga erat, tatapannya penuh keberanian.
“Aku ikut kamu, Raga. Di mana pun kamu pergi, aku ikut. Aku tidak mau kamu menghadapi bahaya besar itu sendirian.”
Raga menatap mata istrinya lama, lalu mengangguk lembut, tidak lagi melarang. Ia tahu, melarang Lira hanya akan membuatnya sedih dan cemas, dan di perjalanan berbahaya ini, kehadiran Lira justru menjadi kekuatan terbesarnya.
“Baiklah. Kita pergi bersama-sama. Tapi kamu harus janji, selalu dekat denganku, selalu berhati-hati, dan jangan pernah berpisah dariku sedetik pun.”
“Aku janji,” jawab Lira tegas.
Malam itu, mereka tidak tidur lagi. Semua orang sibuk menyiapkan perbekalan, perlengkapan mendaki, peta wilayah, dan senjata pertahanan. Suasana menjadi sibuk namun penuh semangat—mereka tahu, perjalanan yang akan mereka tempuh ini adalah perjalanan terpenting dalam hidup mereka, yang akan menentukan nasib mereka dan nasib banyak orang di masa depan.
Menjelang fajar, saat langit di timur mulai memutih, Raga berdiri di jendela kamar, memandang keluar ke halaman rumah yang mulai disinari cahaya matahari pagi. Di tangannya, ia memegang peta sketsa dari buku kakeknya, matanya tajam memandang ke arah utara, ke arah Pegunungan Seribu yang tersembunyi di balik kabut tebal.
“Kakek, Ayah… Tolong beri kami petunjuk dan perlindungan. Kami akan selesaikan apa yang kalian mulai, dan pastikan kejahatan ini tidak akan pernah muncul lagi,” bisik Raga pelan dalam hati.
Di sampingnya, Lira datang membawa jaket tebal, lalu memakaikannya ke bahu suaminya.
“Sudah siap?” tanyanya lembut.
Raga menoleh, tersenyum hangat, lalu menggenggam tangan Lira erat.
“Sudah siap. Selama ada kamu di sisi, aku siap menghadapi apa saja.”
Pagi itu juga, rombongan kecil namun tangguh berangkat meninggalkan rumah besar keluarga Ardiansyah. Mereka tidak membawa banyak orang, hanya orang-orang yang paling setia, paling terlatih, dan paling bisa dipercaya—karena semakin sedikit orang, semakin mudah bergerak di jalur pegunungan yang sempit dan berbahaya.
Perjalanan menuju Pegunungan Seribu memakan waktu dua hari penuh. Semakin mereka mendekati wilayah pegunungan, jalanan semakin terjal, semakin sempit, dan pemukiman penduduk semakin jarang. Di sepanjang jalan, suasana semakin sunyi dan angker, hanya terdengar suara angin menderu di celah bebatuan dan suara burung hantu yang sesekali terdengar dari kejauhan.
Sore hari kedua, mereka sampai di kaki bukit terluar wilayah Pegunungan Seribu. Kabut tebal mulai turun menutupi pandangan, udara menjadi sangat dingin dan lembap. Di depan mereka, deretan bukit tinggi menjulang tertutup hutan lebat, seolah menatap tajam pada orang yang berani menginjakkan kaki di sana.
Raga menurunkan peta, membandingkan dengan bentuk bukit yang ada di depan mata.
“Menurut petunjuk kakekku, jalan masuk menuju kawasan tiga air terjun ada di balik hutan tua itu. Tapi hati-hati, mulai tempat ini sampai ke tujuan, kita sudah masuk wilayah yang dijaga ketat oleh mereka. Kita tidak boleh bicara keras, tidak boleh membuat suara berlebihan, dan harus selalu waspada setiap langkah.”
Mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, melangkah pelan dan hati-hati menyusuri jalan setapak yang licin dan penuh akar pohon besar. Kabut semakin tebal, sampai pandangan mereka hanya tinggal sekitar sepuluh meter saja. Suasana menjadi hening total, sampai tiba-tiba Dani yang berjalan paling depan mengangkat tangan, memberi tanda berhenti.
“Diam!” bisik Dani pelan sekali. “Ada sesuatu yang tidak beres. Di sekitar sini ada bau asap… Bau api yang baru saja padam.”
Raga segera mengintip ke balik semak, matanya meneliti sekeliling dengan teliti. Benar saja, di tanah yang sedikit terbuka, ada bekas api unggun yang masih mengeluarkan sedikit asap tipis, dan di sekelilingnya terlihat jejak kaki banyak orang yang masih baru.
“Mereka benar-benar sudah menunggu kita,” bisik Raga dingin. “Mereka tahu kita akan datang ke sini. Mereka sudah bersiap menyambut kita.”
Tepat saat itu, dari balik kabut tebal di sekeliling mereka, terdengar suara tawa dingin bergema, sama persis dengan suara yang mereka dengar malam itu di rumah besar.
“Selamat datang, Raga Ardiansyah… Selamat datang di wilayah kami. Kalian benar-benar punya nyali besar berani masuk ke sarang macan dengan sukarela… Sekarang, kalian tidak akan bisa keluar lagi hidup-hidup…”
Suara itu lenyap, dan seketika itu juga, dari segala arah, anak panah tajam melesat cepat keluar dari balik kabut, mengarah tepat ke tubuh mereka.
“AWAS!!! SERANGAN!!!” teriak Raga keras, segera menarik tubuh Lira ke balik batu besar terdekat.
Pertarungan di tengah kabut tebal dan hutan liar itu pun pecah. Musuh menyerang dari segala arah, tersembunyi di balik kabut dan pepohonan, sementara pasukan Raga bertahan mati-matian, tidak tahu berapa banyak musuh yang sebenarnya ada di luar sana.
Perjalanan menuju kebenaran dan kedamaian itu, ternyata baru saja masuk ke bagian yang paling berbahaya dan mematikan.
(Bersambung ke Episode 33)