NovelToon NovelToon
THE ECLIPSE PROTOCOL: THE ELEVENTH COORDINATE

THE ECLIPSE PROTOCOL: THE ELEVENTH COORDINATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Kentos46

Tiga abad lalu, "The Eclipse Protocol" diaktifkan—sebuah proyek rahasia umat manusia untuk mematikan matahari demi menghentikan perang global. Rencananya berhasil, tapi efek sampingnya jauh lebih mengerikan: dunia jatuh ke dalam kiamat es abadi.

Kini, sisa peradaban manusia hidup di sembilan "Sovereign Spires"—menara kota raksasa yang ditopang energi geotermal dan dikelilingi kubah pelindung. Di luar sana, "The Drowned Lands" menjadi kuburan bagi siapa pun yang berani keluar.

Kian Veyr adalah produk gagal dari sistem ini. Seorang jenius taktis yang dipecat dari pasukan elit karena menolak menjalankan perintah yang akan mengorbankan ribuan warga sipil demi "kebaikan yang lebih besar".

Dia kini hidup sebagai pemulung informasi, menjual data rute aman ke para pedagang gurun hitam. Hingga suatu hari, dia menemukan peta usang yang menunjukkan adanya "Koordinat Kesebelas"—wilayah yang tidak tercatat di peta resmi Dewan Menara.

Peta itu menyebut tempat itu sebagai "Titik Nol",

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KALKULASI DI AMBANG KEPUTUSASAAN

Cahaya merah darah yang memancar dari mata makhluk raksasa di dalam tabung kaca memantul di wajah Kian yang pucat. Setiap detak jantung monster itu mengguncang seluruh ruangan bawah tanah, menciptakan getaran yang merambat hingga ke lantai logam tempat mereka berdiri. Mata mekanis kiri Kian terus berkedip tidak stabil. Untuk pertama kalinya sejak ia memasang The Probability Lens, sistem kalkulasinya gagal memberikan jawaban. Angka-angka biru yang biasanya memenuhi pandangannya berubah menjadi deretan eror yang berulang tanpa henti. Tidak ada solusi. Tidak ada jalur kemenangan. Tidak ada kemungkinan yang bisa menyelamatkan semua orang.

Viona berdiri terpaku di depan prasasti tembaga kuno. Air mata mengalir tanpa mampu ia tahan saat membaca kebenaran yang selama ini disembunyikan keluarganya. Menara-menara yang dianggap sebagai harapan terakhir umat manusia ternyata bukan benteng perlindungan. Semuanya hanyalah bagian dari sistem raksasa yang menjaga makhluk mengerikan di hadapan mereka tetap tertidur. Dunia telah hidup dalam kebohongan selama ratusan tahun.

"Kian..." suara Viona bergetar. "Kalau semua ini benar... berarti keluargaku juga terlibat dalam kebohongan ini?"

Kian tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada tabung kaca raksasa yang berdiri di tengah ruangan. Di dalamnya, makhluk hitam itu perlahan bergerak. Kabel-kabel mekanis yang menancap di tubuhnya berdenyut mengikuti detak jantung kolosal yang terus menguat. Setiap denyut membuat udara terasa semakin berat.

"Tempat ini bukan obat," gumam Kian. "Ini pabrik kiamat."

Belum sempat Viona mencerna kata-katanya, suara ledakan besar mengguncang lorong masuk.

BOOM!

Dinding batu bergetar keras. Debu berjatuhan dari langit-langit. Retakan-retakan mulai muncul di sepanjang terowongan yang mengarah ke gerbang.

Gideon.

Pria itu tidak berhenti mengejar.

Ledakan kedua menyusul beberapa detik kemudian. Kali ini seluruh ruangan berguncang lebih keras.

BOOM!

Kian menoleh ke arah lorong. Ia tahu barikade yang dibuatnya tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat, Gideon akan masuk.

Ia kembali mengalihkan perhatian pada tabung kaca. Lensa kirinya memindai seluruh sistem yang terhubung dengan makhluk itu. Ribuan jalur energi membentang jauh ke bawah tanah dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Semua jalur itu berakhir di sembilan menara raksasa yang selama ini menjadi pusat peradaban manusia.

Perlahan sebuah fakta baru muncul di hadapan matanya.

Menara-menara itu tidak hanya melindungi manusia.

Menara-menara itu memberi makan Jantung Mutasi.

Ketakutan manusia dipanen sebagai energi agar monster itu tetap tertidur.

Kian mengepalkan tangannya.

Jika sistem itu dihancurkan, Jantung Mutasi akan mati.

Namun pada saat yang sama seluruh menara akan kehilangan sumber dayanya. Kabut kegelapan di luar akan langsung menelan jutaan manusia yang tinggal di dalam menara.

Sebaliknya, jika sistem itu dibiarkan berjalan, monster di dalam tabung akan terus bangun sampai akhirnya menghancurkan dunia.

Pilihan mana pun berarti kematian.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kian menghadapi masalah yang tidak memiliki jawaban benar.

"Viona."

Gadis itu menoleh.

"Ambil plat koordinatmu."

Viona segera membuka tas kulitnya dan mengeluarkan lempengan logam hitam yang selama ini mereka pertahankan.

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Kita tidak akan menghancurkan sistem ini."

"Lalu?"

"Kita akan membajaknya."

Viona membeku.

Kian melangkah mendekati salah satu terminal kuno yang berada di bawah tabung kaca. Jari-jarinya menyentuh permukaan logam yang dipenuhi simbol-simbol kuno.

"Sistem ini bekerja menggunakan resonansi emosi manusia. Selama ratusan tahun, ketakutan digunakan sebagai bahan bakar utama. Kalau ketakutan bisa dikirim ke seluruh jaringan menara, maka emosi lain juga bisa."

"Kau ingin menggantinya?"

Kian mengangguk pelan.

"Perlawanan. Harapan. Kemauan hidup."

"Itu gila."

"Kita sudah berada di ujung dunia. Menjadi waras tidak akan membantu."

Viona menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menggenggam plat koordinat itu lebih erat.

"Apa yang kau butuhkan dariku?"

"Darah Sovereign."

Viona terdiam.

"Kau adalah kunci utama sistem ini. Jika ada satu orang yang bisa mengubah frekuensi jaringan menara, itu adalah dirimu."

Sebelum pembicaraan mereka berlanjut, suara retakan keras terdengar dari lorong.

CRASH!

Barikade batu akhirnya hancur.

Debu hitam membubung memenuhi udara.

Langkah kaki perlahan bergema dari balik kabut.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Lalu sosok berjubah putih muncul dari kegelapan.

Inkuisitor Gideon.

Mata emas mekanisnya menyala terang di tengah ruangan yang gelap. Rapier perak di tangannya memancarkan cahaya keemasan yang membuat bayangannya membentang panjang di lantai.

Tidak ada kemarahan di wajahnya.

Tidak ada kebencian.

Hanya keyakinan dingin seseorang yang percaya bahwa dirinya melakukan hal yang benar.

"Waktumu habis, Kian."

Suara Gideon bergema tenang.

"Kau sudah melihat kebenaran dunia ini. Sekarang kau mengerti kenapa sistem ini harus dipertahankan."

Kian berdiri di depan Viona.

"Gadis itu harus mati, bukan?"

Gideon tidak menjawab selama beberapa detik.

Lalu ia mengangguk.

"Ya."

Viona memucat.

"Darah Sovereign diperlukan untuk mengaktifkan protokol penenang. Jika dia dikorbankan, Jantung Mutasi akan kembali tertidur selama seratus tahun."

"Dan jika tidak?"

"Miliaran orang mati."

Keheningan menyelimuti ruangan.

Viona menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya sejak perjalanan ini dimulai, ia memahami posisi Gideon.

Secara logika, pria itu benar.

Satu nyawa untuk menyelamatkan dunia.

Itu adalah keputusan yang masuk akal.

Namun Kian melangkah maju.

"Sekarang aku mengerti."

Mata Gideon menyipit.

"Mengerti apa?"

"Mengapa kau selalu menang."

"Katakan."

"Karena kau hanya menghitung angka."

Aura biru mulai menyala di mata kiri Kian.

"Tapi manusia bukan angka."

Gideon menghela napas panjang.

"Kau masih keras kepala."

"Mungkin."

"Kau akan membunuh dunia."

"Mungkin."

"Lalu kenapa masih melawanku?"

Kian mengangkat tombak titaniumnya.

Karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak lagi bertarung demi misi, demi dunia, atau demi kalkulasi.

Ia bertarung karena menolak menerima bahwa satu-satunya jawaban adalah pengorbanan.

"Aku akan mencari jawaban yang tidak bisa ditemukan lensamu."

Untuk pertama kalinya, ekspresi Gideon berubah.

Sedikit.

Sangat sedikit.

Namun cukup untuk menunjukkan bahwa kata-kata itu berhasil mengusiknya.

Kemudian aura emas meledak dari tubuh sang Inkuisitor.

Lantai batu retak.

Udara bergetar.

Rapier perak terangkat perlahan.

"Kau benar-benar menyebalkan, Kian."

Dan di hadapan Jantung Mutasi yang terus terbangun, dua pengguna lensa terkuat di dunia bersiap memulai pertarungan yang akan menentukan nasib umat manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!