NovelToon NovelToon
Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.

​"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."

​Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal dari sebuah skenario

​Sinar matahari pagi hari Selasa menerobos masuk melalui celah gorden kamar, membentuk garis-garis cahaya terang di atas lantai. Tyas perlahan membuka matanya dan melirik jam dinding digital yang sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Ia menggeliat pelan di balik selimutnya, merasakan kehangatan kasur yang membuatnya enggan untuk beranjak.

​Masih ada sisa 6 hari lagi sebelum masa orientasi dan perkuliahan barunya dimulai. Di benak Tyas, minggu terakhir ini seharusnya ia habiskan untuk bermalas-malasan, menonton serial drama di laptop, atau sekadar rebahan sepanjang hari tanpa beban pikiran. Namun, ketenangan pagi itu langsung pecah ketika ponselnya di atas nakas bergetar hebat dan menderingkan nada panggilan masuk.

​Layar ponselnya menyala, menampilkan nama 'Satya' yang berkedip-kedip.

​Tyas mengembuskan napas panjang. Ingatan tentang kejadian semalam, sentuhan Angga, serta peringatan keras mengenai bahaya foto-foto intimnya langsung berputar kembali di kepalanya, seketika melenyapkan rasa kantuk yang tersisa. Tyas mengubah posisinya menjadi duduk, merapikan rambut pendek sebahunya yang agak berantakan, lalu menggeser layar ponsel untuk mengangkat telepon tersebut.

​"Halo, Sat," ucap Tyas. Suaranya terdengar datar dan sedikit malas, sengaja mempraktikkan arahan dari kakak iparnya.

​"Halo, Yang! Kamu baru bangun ya? Kok lama banget sih angkatnya? Aku dari tadi nungguin tahu," cerocos Satya dari seberang telepon, suaranya terdengar menuntut seperti biasa. "Gimana semalam? Mas Angga enggak curiga kan pas kamu keluar kamar mandi?"

​Tyas menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, memainkan ujung selimut satin maroon-nya dengan jemari. "Enggak kok. Biasa aja. Mas Angga langsung tidur ke kamarnya."

​"Oh, syukurlah. Eh, Yang, nanti siang vc lagi yuk? Kebetulan kosan aku lagi sepi nih, anak-anak pada kelas pagi. Aku masih kangen sama yang semalam," ajak Satya dengan nada suara yang mulai berubah manja, mencoba memancing gairah Tyas kembali.

​Sesuai dengan taktik yang sudah disusun bersama Angga, Tyas menarik napas dalam-dalam dan mengeraskan hatinya. "Enggak bisa, Sat. Aku lagi malas. Badanku agak enggak enak hari ini, mau tidur seharian aja."

​Sejenak, keheningan tercipta di seberang telepon. Satya tampaknya terkejut dengan penolakan mentah-mentah yang jarang sekali ia dapatkan dari kekasihnya.

​"Lho, kok gitu sih? Biasanya juga kamu mau. Kamu lagi datang bulan ya? Atau... kamu lagi menyembunyikan sesuatu dari aku di rumah kakakmu itu?" tanya Satya, nada suaranya mulai meninggi, terselip rasa curiga dan ego mudanya yang mulai terusik karena merasa diabaikan.

​Tyas memutar bola matanya pelan, mendengar respons Satya yang persis seperti tebakan Angga semalam. "Aku cuma lagi capek, Sat. Enggak usah berlebihan deh. Udah dulu ya, aku mau mandi," jawab Tyas pendek, lalu langsung memutuskan panggilan sepihak tanpa menunggu jawaban dari kekasihnya.

​Tyas meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas dengan jantung yang sedikit berdebar. Ia tahu, satu umpan telah dilemparkan, dan kini ia tinggal menunggu bagaimana reaksi Satya selanjutnya sebelum kakak iparnya mengambil alih permainan.

Tyas beranjak dari tempat tidur, meraih handuknya, dan melangkah keluar kamar menuju kamar mandi. Setelah membasuh wajah dan menyikat gigi, rasa segar mulai mengembalikan energinya.

​Saat berjalan melewati area dapur, ia melihat Angga sudah duduk rapi di meja makan dengan kemeja kerjanya yang belum dikancingkan sepenuhnya. Di atas meja, sudah tersedia dua piring nasi goreng sederhana yang tampaknya sengaja dibeli atau dibuat oleh Angga.

​Mengingat apa yang terjadi semalam—perjanjian rahasia, sentuhan fisik, hingga rencana licik yang mereka susun bersama—anehnya rasa canggung yang sempat menghantui Tyas kini menguap entah ke mana. Ada ikatan rahasia yang mendalam di antara mereka sekarang. Tyas tidak lagi merasa malu, melainkan merasa memiliki pelindung di rumah ini.

​"Pagi, Mas," sapa Tyas santai, berjalan mendekati meja makan dengan piyama maroon-nya yang masih melekat. Rambut pendek sebahunya yang agak basah sehabis cuci muka membuatnya terlihat segar.

​Angga mendongak, menatap adik iparnya dengan senyuman tipis yang hangat, namun sarat akan arti. Tatapan matanya yang tadi malam begitu liar kini tampak tenang dan terkendali. "Pagi, Tyas. Sudah bangun? Itu Mas sudah siapkan sarapan. Sini, makan dulu."

​Tyas menarik kursi di hadapan Angga dan mendudukkan diri tanpa ragu. Ia mengambil sendok dan mulai menyuap nasi gorengnya. "Tadi Satya telepon, Mas," ujar Tyas membuka obrolan, suaranya pelan namun terdengar mantap.

​Gerakan tangan Angga yang sedang memegang gelas kopi terhenti sejenak. Ia menatap Tyas dengan ketertarikan penuh. "Lalu? Kamu jalankan sesuai rencana kita?"

​Tyas mengangguk kecil, sudut bibirnya terangkat tipis. "Iya. Dia ngajak vcs lagi siang ini, tapi langsung aku tolak. Aku bilang lagi malas dan badanku enggak enak. Sesuai tebakan Mas, dia langsung sensi dan marah-marah, nanya yang macam-macam sebelum akhirnya telponnya aku matiin sepihak."

​Membaca laporan dari Tyas, seringai puas kembali menghiasi wajah tegas Angga. Ia meletakkan gelas kopinya, lalu memajukan tubuhnya sedikit ke depan meja.

​"Bagus. Kerja bagus, Tyas," puji Angga dengan suara rendah yang terdengar protektif. "Biarkan saja dia frustrasi hari ini. Cowok seperti dia pasti akan terus membombardir pesan atau meneleponmu karena egonya terluka. Terus bersikap dingin sampai dia benar-benar lepas kendali dan memaki lewat pesan. Di saat itulah, Mas yang akan ambil alih ponselmu."

​Tyas menatap kakak iparnya dengan rasa aman yang aneh. Di balik punggung Mbak Rani, di atas meja makan yang biasanya menjadi tempat hangat keluarga, sebuah konspirasi terlarang kini tengah berjalan dengan mulus, mengikat Tyas dan Angga ke dalam hubungan rahasia yang semakin sulit untuk dilepaskan.

1
Anonim
Kurang ajar banget si angga dan si tyas ini,buat rani tau lebih cepat thor tentang kebangsatan suami dan adik nya
Anonim
Lama bener thor muter nya ,si rani kapan sadar perselingkuhan adik nya sama suami nya jangan kelamaan
Anonim
Si rani kenapa oneng sih g bisa liat sekilas model ade nya kek apaan dah ,cuek apa emang buta dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!