NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sahabat Yang Tak Akan Tergantikan

Setelah melewati dua hari yang penuh kehangatan dan canda bersama keluarga di rumah, akhirnya aku kembali menuju tempat tinggalku di kosan. Kepulangan ini bukan karena aku merasa bosan atau tidak betah berlama‑lama di sisi orang‑orang tersayang, melainkan karena Maya—sahabatku—sudah menelepon berkali‑kali. Nada bicaranya yang tegas namun penuh kerinduan, adalah jenis suara yang sulit sekali untuk kutolak.

“Tari, kamu wajib bertemu aku sebelum kamu berangkat ke sana. Aku tidak akan terima kalau kamu pergi jauh tanpa meluangkan waktu yang cukup bersamaku.”

Saat itu aku hanya tertawa mendengar ucapannya. Maya memang selalu pandai berlebih‑lebihan, seolah‑olah ini adalah akhir dari segalanya. Namun jauh di balik sikapnya yang sering terasa berlebihan itu, aku paham betul: ada rasa takut kehilangan yang sama persis dengan apa yang juga sedang kurasakan di dalam hati.

Maka, pada hari Sabtu yang cerah dan berangin segar ini, aku berdiri tepat di depan kedai kopi langganan kami—“Kopi & Kenangan”. Sebuah tempat kecil yang letaknya tersembunyi di antara bangunan‑bangunan tua kawasan Kemang, yang telah menjadi saksi bisu persahabatan kami sejak masa sekolah menengah atas dulu.

***

Pukul sepuluh pagi, suasana di dalam kedai Kopi & Kenangan.

Tempat ini tidaklah terlalu luas. Mungkin hanya berukuran sekitar empat kali enam meter persegi saja. Dindingnya berupa bata yang sengaja dibiarkan terekspos dan dicat putih bersih, menciptakan kesan yang sederhana namun nyaman. Di sudut‑sudut ruangan, tersusun rak‑rak kayu tua berisi buku‑buku bekas yang boleh dibaca siapa saja, sementara tanaman‑tanaman gantung menjuntai indah dari langit‑langit, memberikan kesan teduh dan asri. Alunan musik irama jazz mengalir pelan dari pengeras suara di pojok ruangan, mengisi keheningan dengan nada‑nada yang menenangkan hati.

Namun sesungguhnya, bukanlah dekorasi yang indah, bukan pula rasa makanan yang lezat, atau irama musik yang enak didengar yang membuat kedai ini begitu istimewa bagiku dan Maya.

Melainkan kenangan yang terpatri di setiap sudutnya.

Di sinilah kami berdua pertama kali bertemu dan mengobrol panjang lebar di luar lingkungan sekolah, tak lama setelah kami lulus dari SMA. Di sini pula kami menghabiskan berjam‑jam duduk berhadapan, membahas segala hal tentang masa depan, cita‑cita yang ingin diraih, serta impian‑impian gila yang hanya kami berdua saja yang mengetahuinya. Di sudut meja yang sama, aku pernah menangis tersedu‑sedih di bahu Maya saat pertama kali berpisah dengan Reza. Dan di tempat yang sama pula, Maya tertawa terbahak‑bahak hingga membuat pengunjung lain menoleh, saat aku mulai bercerita tentang sosok Aldo yang perlahan masuk ke dalam hidupku.

Bagi kami, kedai Kopi & Kenangan adalah rumah kedua.

“Sudah kusiapkan pesananmu, Tari: es kopi susu gula aren untuk Maya, dan teh chamomile hangat untukmu,” sapa pria muda di balik meja pelayanan. Ia adalah salah satu barista di sini—berambut pendek, selalu tersenyum ramah, dan sudah hafal benar selera kami sejak bertahun‑tahun silam.

“Terima kasih banyak, Mas,” jawabku sambil tersenyum, lalu berjalan menuju meja pojok favorit kami yang berdekatan dengan jendela kaca besar.

***

Pukul sepuluh lewat lima belas menit, Maya akhirnya datang.

Aku melihatnya berlari kecil menyeberang jalan dari arah tempat parkir. Rambut panjangnya yang bergelombang indah berkibar‑kibar tertiup angin pagi. Wajahnya tampak agak memerah—entah karena terik matahari yang mulai menyengat, atau karena ia terlalu terburu‑buru agar tidak membuatku menunggu lama. Ia mengenakan kaos berukuran agak besar berwarna kuning cerah dengan tulisan “SUNSHINE” yang tertulis tegas di bagian dada, dipadukan dengan celana jeans yang sengaja dibuat sobek di bagian lutut, serta sepatu kanvas berwarna krem yang sudah terlihat agak lusuh karena sering dipakainya berjalan jauh.

“TARIII!” serunya lantang begitu melihatku, suaranya bergema hingga membuat beberapa pengunjung lain menoleh sejenak karena terkejut.

Aku tersenyum lebar melihat tingkahnya. Maya memang tidak pernah berubah, tetap sama seperti yang kukenal dulu—penuh semangat dan apa adanya.

“MAYAAAA!” balasku dengan suara yang sedikit meninggi, setengah berteriak namun disertai tawa bahagia.

Ia segera berlari mendekatiku, lalu memelukku dengan sangat erat—begitu kuat hingga rasanya aku hampir tak mampu bernapas dengan leluasa.

“Aku rindu sekali padamu, Tari,” bisiknya di sela‑sela pelukan itu.

“Padahal baru minggu lalu kita bertemu, Ya,” jawabku sambil tertawa kecil.

“Tetap saja aku rindu. Dan aku akan selalu merindukanmu, kapan pun dan di mana pun,” ucapnya mantap.

Aku menggeleng sambil tersenyum. “Dasar ratu drama.”

“Kamu pun sama, ratu drama juga,” balasnya cepat sambil melepaskan rangkulannya. Ia lalu menatapku lekat‑lekat, dan seketika sorot matanya yang cerah berubah menjadi sendu. “Aku bicara sungguh‑sungguh, Tari. Aku sungguh tak tahu apa yang akan kulakukan di Jakarta nanti jika tidak ada kamu di sini.”

Aku segera menggenggam tangannya yang hangat. “Kan kamu masih punya Dimas, pacarmu yang baik itu?”

“Ah, Dimas itu sibuk terus,” potongnya sambil mendengus pelan. “Dia kan dosen, seharian waktunya habis hanya untuk mengajar dan mengurus tugas mahasiswanya.”

“Kamu juga masih punya teman‑teman yang lain, kan?” tanyaku lagi.

“Tapi tak ada satu pun yang persis seperti kamu,” jawabnya pelan namun tegas.

Tanpa kusadari, air mataku mulai menetes di pipi. “Maya… jangan buat aku menangis di tengah kedai kopi begini.”

“Kenapa tidak? Kamu justru terlihat cantik saat sedang menangis,” katanya santai.

Aku tertawa sambil menyeka air mata yang jatuh. “Kata‑kata manis itu… jangan‑jangan kamu dengar dari Aldo ya?”

Maya tersenyum penuh teka‑teki. “Bisa jadi…”

“Kamu dan Aldo pasti bersekongkol di belakangku, ya?” godaku.

“Kami sama‑sama hanya peduli padamu, itu saja,” jawabnya sambil kembali menggenggam tanganku erat. “Tari, ada satu hal yang kuminta… berjanjilah padaku.”

“Apa yang harus kujanjikan?”

“Berjanjilah kamu takkan pernah melupakan aku.”

“Maya…”

“Aku serius, Tari,” potongnya dengan nada yang mulai bergetar. “Di sana nanti, kamu pasti akan bertemu begitu banyak orang baru. Punya teman‑teman baru, merasakan pengalaman‑pengalaman yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya. Dan aku… aku takut…”

“Takut apa?” desakku lembut.

“Takut kamu perlahan melupakan aku. Takut kamu menemukan sahabat baru yang lain, lalu menggantikan posisiku di hatimu.”

Aku menatap wajah Maya lama sekali, dalam‑dalam, seolah berusaha mengingat setiap lekuk dan rinciannya agar tak pernah pudar dari ingatan: matanya yang berwarna coklat muda dan selalu bersinar tulus, hidungnya yang mancung, serta bibirnya yang selalu siap tersenyum ceria meski hatinya sedang dilanda kesedihan sekalipun.

“Dengar baik‑baik, Ya,” ucapku sungguh‑sungguh. “Kamu adalah sahabat terbaikku. Sejak masa SMA dulu. Sejak sebelum aku mengenal Aldo. Bahkan sejak sebelum aku pernah mengenal Reza dan merasakan sakit hati. Sejak sebelum segala kisah hidupku ini terjadi. Kamu adalah satu‑satunya orang yang selalu ada di sisiku, tak peduli saat aku sedang bahagia atau sedang jatuh tersungkur. Dan percayalah, tak ada satu pun orang lain di dunia ini yang sanggup menggantikan posisi istimewamu itu.”

Maya pun menangis terharu mendengarnya. “Janji ya?”

“Janji,” jawabku tegas tanpa ragu.

Kami pun saling berpelukan erat di meja pojok kedai Kopi & Kenangan, di antara dua gelas minuman—es kopi susu gula aren yang mulai mencair dan teh chamomile yang perlahan menjadi dingin—serta di tengah ikatan persahabatan yang kami yakini takkan pernah lekang dimakan waktu atau terhalang jarak.

***

Pukul dua belas siang, setelah kami duduk mengobrol tanpa henti selama hampir dua jam lamanya, Maya mengajakku beranjak keluar dari kedai.

“Ayo kita jalan‑jalan sebentar,” ajaknya sambil menarik lenganku pelan. “Sebentar lagi kamu benar‑benar pergi jauh. Mari kita habiskan waktu bersama sebanyak yang kita bisa.”

Kami pun berjalan beriringan menyusuri trotoar kawasan Kemang yang teduh, terlindungi oleh rimbunnya pepohonan tua yang berjejer rapi di pinggir jalan. Sesekali Maya berhenti di depan etalase toko, sekadar melihat‑lihat baju‑baju cantik, aksesoris kecil, atau barang‑barang unik yang sesungguhnya tidak terlalu dibutuhkannya, namun selalu berhasil menarik perhatiannya.

“Tari, lihat yang ini deh,” serunya tiba‑tiba saat berhenti di depan sebuah toko suvenir kecil yang penuh warna. Ia mengambil satu gantungan kunci berbentuk binatang koala—lucu sekali, dengan mata yang besar serta hidung bulat berwarna hitam.

“Lucu sekali bentuknya,” sahutku mengagumi.

“Ini akan kuberikan padamu. Supaya setiap kali melihatnya, kamu selalu teringat padaku,” katanya sambil tersenyum bangga.

“Koala? Kan koala itu hewan khas Australia,” kataku sedikit tertawa.

“Nah, itulah gunanya. Supaya kamu tak terlalu merindukan rumah dan negeri sendiri saat berada di sana nanti,” jawabnya cerdik.

“Kamu kira seekor koala kecil ini bisa menggantikan keberadaanmu di hatiku?” godaku.

“Memang tidak bisa sepenuhnya, tapi setidaknya kamu punya benda yang berasal dariku untuk selalu kamu bawa ke mana saja,” ucapnya tegas.

Maya segera membayar harga gantungan kunci itu, lalu menyerahkannya kepadaku dengan penuh kehati‑hatian. “Simpanlah dengan baik dan jangan sampai hilang, ya.”

Aku menerimanya dengan senang hati, lalu segera memasukkannya ke dalam tas kecilku agar aman. “Terima kasih banyak, Ya.”

“Jangan cuma bilang terima kasih saja. Pastikan kamu benar‑benar menyimpannya selamanya,” pesannya sekali lagi.

“Aku janji akan menjaganya sebaik‑baiknya,” jawabku meyakinkan.

Maya pun tersenyum puas, lalu kami kembali melanjutkan perjalanan berjalan santai.

***

Pukul satu lewat tiga puluh menit siang, kami duduk beristirahat di sebuah taman kota kecil yang letaknya tak jauh dari kedai tadi.

Taman ini sederhana saja penampilannya: hanya ada beberapa bangku panjang dari kayu yang diletakkan di bawah pohon‑pohon rindang, serta hamparan bunga‑bunga kecil berwarna‑warni yang tumbuh mengelilingi jalan setapak. Di sana tak terlalu banyak orang yang berlalu‑lalang. Hanya terlihat beberapa ibu rumah tangga yang sedang duduk mengawasi anak‑anaknya bermain di halaman rumput, serta sepasang remaja yang asyik berduaan di bangku kayu di seberang kami.

“Tari…” panggil Maya pelan sambil menatap langit biru yang luas di atas kami.

“Iya?” jawabku menoleh ke arahnya.

“Kamu… kamu merasa takut tidak?”

“Takut soal apa?” tanyaku balik.

“Takut menghadapi segala hal yang baru. Takut tinggal di Australia yang jauh. Takut… menghadapi masa depanmu sendiri yang belum pasti,” jelasnya perlahan.

Aku terdiam sejenak, menarik napas panjang sebelum menjawab. “Ya, ada rasa takutnya. Jujur saja, aku memang merasa takut.”

“Ceritakan semuanya padaku,” pintanya lembut, memintaku mengeluarkan apa saja yang ada di hati.

Aku menghela napas berat, lalu mulai berbicara. “Aku takut kalau nanti aku tak sanggup mengikuti pelajaran kuliah yang mungkin terlalu sulit. Aku takut merasa kesepian dan sendirian di negeri orang. Aku takut semangatku untuk menulis cerita malah hilang di tengah kesibukan nanti. Aku takut… aku takut kalau…”

“Kalau apa?” desaknya saat aku terdiam.

“Kalau aku perlahan berubah menjadi orang yang lain. Aku takut sifat‑sifat baikku hilang. Aku takut saat aku pulang ke Jakarta nanti, tak ada lagi hal yang sama persis seperti yang aku tinggalkan sekarang.”

Maya terdiam beberapa saat, seolah memikirkan kata‑kata yang paling pas untuk menenangkanku. Lalu ia menoleh dan menatapku dengan pandangan yang mantap dan bijak.

“Dengarkan aku, Tari. Perubahan itu tidak selalu berarti hal yang buruk. Berubah itu tanda bahwa kamu sedang tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa. Berubah itu bukti bahwa kamu telah belajar banyak hal baru. Berubah itu tanda nyata bahwa kamu… sedang menjalani hidup ini dengan sungguh‑sungguh.”

Aku diam, menyimak setiap kalimatnya dengan saksama.

“Dan percayalah,” lanjutnya lagi sambil menggenggam tanganku, “meskipun nanti kamu berubah, meskipun kamu menjadi orang yang berbeda dari sekarang, aku akan tetap menjadi sahabatmu yang sama persis seperti dulu. Sebab persahabatan kita tidak dibangun berdasarkan siapa diri kamu saat ini saja, melainkan dibangun dari segala kisah, tawa, dan air mata yang sudah kita lalui bersama sejak bertahun‑tahun silam.”

“Maya…” suaraku tercekat haru.

“Aku sangat menyayangimu, Tari. Dan aku takkan pernah berhenti menyayangimu, apa pun yang terjadi. Mau kamu berubah atau tetap sama saja, kamu tetaplah kamu—sahabatku yang paling berharga.”

Air mataku kembali menetes tak tertahankan. “Terima kasih ya, Maya… terima kasih untuk segalanya.”

Maya segera menarikku ke dalam pelukannya yang hangat. “Sudah, jangan menangis terus. Nanti matamu bengkak dan wajahmu terasa asin kena air mata.”

Aku tertawa kecil sambil menyeka sisa air mata. “Kata‑kata itu… jangan‑jangan kamu dengar dari Ibuku ya?”

Maya tersenyum nakal. “Bisa jadi…”

Kami pun tertawa lepas bersama‑sama, dan untuk sesaat, segala rasa berat di hati terasa hilang seketika. Dunia terasa ringan dan indah saat itu.

***

Pukul tiga sore, Maya mengantarku kembali ke tempat kosan.

Mobilnya—sebuah mobil berwarna putih buatan lama yang mesinnya sudah mulai terdengar berisik saat melaju—terparkir rapi tepat di depan pagar gerbang kosanku. Kami berdua duduk diam di dalam kendaraan itu, tak ada satu pun yang berani bergerak turun lebih dulu, seolah menunda waktu agar momen berdua ini tak segera berakhir.

“Tari…” panggilnya memecah keheningan.

“Iya?” jawabku pelan.

“Berjanjilah kamu akan meneleponku setiap minggu sekali, ya?” pintanya dengan nada memohon.

“Setiap minggu, Ya. Aku janji,” jawabku mantap.

“Bukan cuma seminggu sekali… tapi setiap hari!” desaknya menaikkan syarat.

“Maya… kan aku nanti pasti sibuk sekali dengan kuliah dan tugas‑tugas,” bantahku lembut.

“Pokoknya setiap hari, Tari. Kalau tidak, aku akan terbang langsung ke Melbourne hanya untuk memukulmu sedikit karena ingkar janji,” ancamnya setengah bercanda.

Aku tertawa melihat kesungguhannya. “Baiklah, baiklah… aku akan berusaha meneleponmu setiap hari. Aku janji.”

Maya tersenyum puas mendengar persetujuanku itu. “Baguslah kalau begitu.”

“Maya… aku sangat menyayangimu,” ucapku tulus.

Maya menatapku lekat, matanya kini berkaca‑kaca menahan rindu. “Aku pun sangat menyayangimu, Tari. Sampai kapan pun dan di mana pun kita berada.”

Kami saling berpelukan erat sekali di dalam mobil yang perlahan mulai terasa hangat terkena sinar matahari sore yang makin terik.

“Sudah, pergilah pulang… nanti pacarmu Dimas marah kalau kamu terlalu lama,” usulku pelan.

“Tenang saja, Dimas takkan pernah marah padaku. Dia orangnya sabar sekali,” jawabnya santai.

“Mirip kesabaran Aldo ya?” godaku.

Maya tersenyum lebar. “Memang agak mirip. Tapi kalau dibandingkan, Aldo tetap jauh lebih tampan.”

Aku tertawa renyah. “Hati‑hati ya, jangan sampai Dimas mendengar bicaramu begitu.”

“Aku takkan bilang padanya. Lagian itu kenyataan yang tak bisa dibantah,” jawabnya polos.

Kami tertawa bersama untuk terakhir kalinya, lalu Maya perlahan melepaskan pelukannya.

“Sudah, ayo kamu masuk dulu. Aku tak mau kamu melihat aku menangis di depanmu,” katanya sambil memalingkan wajah sedikit.

Aku membuka pintu mobil, melangkah turun ke jalan, lalu menutup pintu itu perlahan agar tidak menimbulkan suara keras.

Maya melambaikan tangan kepadaku dari balik kaca jendela yang sudah diturunkan. Aku membalas lambaian tanganku dengan senyum yang kucoba pertahankan.

Mobil itu pun melaju perlahan menjauh, membelok di ujung jalan hingga akhirnya hilang dari pandangan, meninggalkanku berdiri sendirian di depan gerbang kosan dengan air mata yang kini jatuh membasahi pipi tanpa sanggup kutahan lagi.

Aku tahu pasti… aku akan sangat merindukan Maya.

Sangat, sangat merindukannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!