Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Logam yang Berteriak dan Sisa Hati yang Terluka
*"Jangan berani-berani kau mati di tanganku sekarang, Marie! Jika ada yang berhak menghabisimu setelah semua pengkhianatan ini, itu adalah aku—bukan tumpukan besi tua tak berjiwa ini!"*
Julius menerjang maju, tidak lagi menghiraukan kebencian yang beberapa detik lalu mengaburkan pandangannya. Instingnya sebagai seorang petarung ulung mengalahkan keraguan yang disuntikkan oleh ingatan-ingatan pahit yang baru saja tersentuh permukaan jiwanya. Sosok makhluk logam itu—setinggi tiga meter dengan sendi-sendi yang berderit memuakkan dan rantai yang melilit tubuhnya seperti otot buatan—mengayunkan lengan besinya. Debuman saat lengan itu menghantam tanah menciptakan retakan yang menyebar hingga ke kaki kami.
Aku terhempas ke belakang, menabrak tumpukan tulang-tulang binatang purba. Tubuhku terasa sangat rentan, sangat *manusia*. Tanpa sihir yang melindungiku, setiap benturan terasa seperti pisau yang mengiris tulang. Aku melihat Julius melompat ke atas punggung makhluk itu, mencoba mencari celah di antara lempengan besi yang berkarat. Dia tidak menggunakan sihir, karena dia tidak bisa, tapi dia menggunakan setiap inci ototnya dengan teknik yang presisi.
*"Julius, jangan! Itu tidak akan melukainya!"* teriakku, meski suaraku nyaris hilang tertelan raungan mekanis makhluk tersebut.
Makhluk itu meraung—sebuah suara yang bukan berasal dari pita suara, melainkan gesekan logam yang dipaksa bergetar. Ia memutar tubuhnya, memaksa Julius terlempar. Pria itu mendarat dengan kasar, berguling di tanah yang berdebu sebelum akhirnya berhasil bangkit dengan satu lutut. Dia terbatuk, dan aku melihat ada noda merah di sudut bibirnya.
*"Lari, Marie!"* serunya, kali ini tanpa nada kebencian, hanya ada urgensi yang murni. *"Cari jalan keluar dari kawah ini! Aku tidak bisa menahannya lama-lama tanpa senjata!"*
Aku menolak untuk bergerak. Pikiranku berpacu, mencoba memproses fragmen ingatan yang muncul seperti serpihan kaca yang menusuk. *Julius adalah musuh. Dia manipulatif. Dia kejam.* Tapi saat melihatnya berdiri di depan monster itu, rela hancur demi memberiku waktu, otaknya tidak sinkron dengan hatiku yang berdenyut tidak beraturan. Ada rasa sesak yang aneh di dada—bukan karena kehilangan jantung sihir, tapi karena ketakutan kehilangan seseorang yang entah sejak kapan menjadi satu-satunya jangkar di dunia yang telah kehilangan akal sehatnya ini.
Aku tidak memiliki sihir, tapi aku memiliki sesuatu yang lain: aku memiliki ingatan tentang bagaimana "Penyihir Kuno" membangun penjaga ini. Itu bukan mesin, itu adalah artefak yang digerakkan oleh *titik keseimbangan*.
*"Julius, fokus pada dadanya!"* teriakku sambil berlari ke arah pusat pertarungan, mengabaikan peringatan untuk lari. *"Ada kristal di bawah lempengan besi di tengah dadanya! Itu adalah pusat energinya! Hancurkan itu!"*
Julius tidak bertanya. Dia tidak meragukanku. Dia menatapku sedetik, seolah mencoba menembus kabut amnesia yang menyelimuti kami berdua, lalu dia mengangguk. Dia berlari ke arah tiang batu yang tersisa, memanjatnya, dan melompat dengan tenaga yang luar biasa tinggi, langsung menuju ke arah dada monster tersebut.
Monster besi itu mengangkat tangan, berusaha menangkapnya di udara. Namun, Julius melakukan gerakan memutar di tengah lompatan, menghindari tangan logam tersebut, dan mendarat tepat di lempeng dada makhluk itu. Dia menghantamkan sikutnya berkali-kali ke satu titik yang sama. *Brak! Brak! Brak!*
Logam yang berkarat itu mulai retak.
Namun, makhluk itu tidak tinggal diam. Ia menusukkan rantai tajamnya ke arah tubuh Julius. Julius berhasil menghindar, namun rantai itu menggores bahunya, merobek kulit dan baju dengan darah yang mulai membasahi tanah. Dia terhuyung, namun tidak berhenti. Dengan satu hentakan kuat, dia merobek paksa lempeng logam tersebut.
Di sana, di balik besi, sebuah kristal biru redup berdenyut lemah.
*"Marie, sekarang!"*
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, tapi tanganku secara refleks bergerak. Aku tidak menggunakan sihir. Aku hanya berlari ke arahnya, mengambil belati batu yang kutemukan di tanah, dan ketika Julius memberikan celah, aku melompat dan menghujamkan batu tajam itu tepat ke pusat kristal.
*PRANG!*
Suara itu seperti lonceng yang pecah di tengah badai. Kristal itu hancur menjadi serpihan debu.
Makhluk besi itu membeku. Rantainya jatuh lemas, suaranya berhenti. Seluruh struktur raksasa itu perlahan runtuh, berdebum jatuh di atas pasir kawah, menciptakan awan debu yang menyelimuti kami berdua.
Kami terengah-engah, tergeletak di samping bangkai logam tersebut. Hening kembali merajai kawah. Hanya suara napas kami yang terdengar, tidak beraturan dan berat.
Julius bangkit lebih dulu. Dia menatapku, tatapannya kini bukan lagi tatapan benci, melainkan tatapan lelah yang luar biasa. Dia mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. Saat jemarinya menyentuh tanganku, sebuah kilasan ingatan yang jauh lebih terang muncul: kami berdua, di tengah perpustakaan tua, berdebat tentang teori sihir yang mustahil, tertawa karena kesalahan konyol, dan sebuah janji untuk saling menjaga di tengah badai yang paling buruk.
*Kami bukan sekadar partner bisnis,* pikirku. *Ada sesuatu yang lebih... sesuatu yang telah kami korbankan berkali-kali.*
*"Marie,"* suaranya kini terdengar sangat lembut, nyaris menyerupai bisikan yang pernah kudengar di dalam mimpi buruk dan indahnya masa lalu. *"Siapa kita sebenarnya? Karena aku merasa... aku merasa aku telah jatuh cinta padamu di seribu kehidupan yang berbeda, dan aku membencimu di seribu kehidupan yang lainnya."*
Aku menatapnya, tidak mampu menjawab. Kebencian yang tadi kurasakan perlahan menguap, digantikan oleh kesedihan yang mendalam. *"Aku tidak tahu, Julius. Tapi aku tahu satu hal: kita tidak bisa tetap di sini. Jika mereka bisa mengirim monster ini untuk menjaga kita, artinya mereka tidak ingin kita keluar dari kawah ini hidup-hidup."*
Kami berjalan keluar dari kawah dengan kaki yang gemetar. Langit masih gelap gulita, namun di ufuk utara, cahaya keemasan yang tidak alami mulai muncul—tanda bahwa Dewan Langit sedang melakukan ritual besar untuk mengubah dunia ini menjadi sesuatu yang mereka inginkan. Sesuatu yang bebas dari sihir, tapi penuh dengan kendali absolut.
Kami berjalan berjam-jam, menyusuri perbatasan hutan. Saat matahari mulai menampakkan dirinya di balik cakrawala, kami sampai di sebuah perbukitan. Dari sana, pemandangan yang terlihat membuat kami berdua membeku.
Bukan pos perbatasan. Bukan desa penduduk. Di depan kami, terhampar sebuah reruntuhan kota yang sangat luas—kota yang dulu merupakan pusat peradaban sihir Oakhaven. Namun, kota itu kini berubah menjadi lapangan eksekusi raksasa. Ribuan orang sedang berbaris, dipaksa untuk berdiri di atas lingkaran-lingkaran sihir yang digambar dengan darah.
Dan di tengah-tengah kerumunan itu, di atas panggung tinggi, berdiri seseorang yang sangat kukenal. Pria bertopeng burung hantu. Dia tidak lagi menyembunyikan kekuatannya. Dia berdiri di sana, memegang tongkat yang memancarkan cahaya ungu yang menelan segalanya.
*"Lihat,"* bisik Julius, matanya menatap tajam ke bawah. *"Dia tidak menghapus sihir. Dia sedang memanennya. Dia mengumpulkan jiwa-jiwa mereka yang memiliki sisa residu sihir untuk membangkitkan sesuatu yang bahkan lebih tua dari Dewan Langit."*
Aku merasa mual. *Apakah itu sebabnya kita dihapus? Karena kita adalah satu-satunya yang tahu caranya menghentikan proses ini?*
Tiba-tiba, pria bertopeng itu menoleh. Dia tidak melihat ke arah kerumunan. Dia melihat ke arah kami, di atas bukit, seolah-olah dia sudah tahu kami akan datang. Dia mengangkat tangannya, dan sekelompok tentara berbaju zirah perak—bukan dari Dewan Langit, tapi dari sesuatu yang jauh lebih kuno—mulai bergerak ke arah bukit tempat kami berdiri.
*"Julius,"* kataku, menyadari posisi kami terjepit. *"Kita tidak punya apa-apa. Tidak ada pedang, tidak ada sihir. Bagaimana kita akan melawannya?"*
Julius menatapku, lalu menatap reruntuhan kota yang membara itu. Dia menarik napas panjang, sebuah senyum tipis yang penuh dengan keputusasaan namun juga keberanian yang luar biasa muncul di wajahnya.
*"Kita tidak melawannya dengan sihir, Marie. Kita melawannya dengan cara yang mereka tidak akan pernah mengerti. Kita melawannya sebagai manusia."*
Dia memegang tanganku erat-erat. *"Apa pun yang terjadi setelah ini, jangan lepaskan tanganku. Bahkan jika dunia ini harus runtuh di bawah kaki kita."*
Pasukan zirah perak itu semakin dekat. Mereka bergerak tanpa suara, langkah mereka yang serempak seperti detak jantung yang mematikan. Kami berbalik, siap untuk berlari turun ke arah reruntuhan kota—menuju pusat dari sarang musuh. Kami bukan lagi penyihir, kami bukan lagi penguasa Syndicate, kami hanya dua jiwa yang tersesat yang memutuskan untuk melawan nasib yang paling kejam.
Saat langkah pertama kami menuruni bukit, sebuah suara menggema di seluruh lembah, suara yang merobek langit dan membuat bumi bergetar:
*"Selamat datang di tempat terakhir di mana takdir kalian akan ditentukan, Marie. Dan kali ini, tidak akan ada Sumur Kehampaan untuk menyelamatkan kalian."*
Di depan kami, tanah terbuka, memperlihatkan sebuah labirin raksasa yang bergerak sendiri, sebuah konstruksi yang dirancang untuk menjebak kami di dalam permainan yang tidak bisa dimenangkan.