Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Mengais Sisa Sabar Di Sudut Sajadah
Mengais sisa sabar di sudut sajadah menjadi satu satunya pilihan batin yang tersisa bagi Azzam sewaktu deretan kalimat tajam di dalam surat itu menghentak seluruh kesadarannya. Lembaran pengakuan dari masa silam tersebut mendedahkan sebuah kebenaran kelam yang selama ini tertutup rapat oleh keangkuhan silsilah keluarga besar asrama. Di bawah remang lampu kamar paviliun belakang yang dingin, sang ustaz muda merasakan seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas laksana kehilangan tiang penyangga. Kepergian Hana yang tergesa mengggunakan kereta fajar kini meninggalkan lubang penyesalan yang teramat besar, mengurung jiwanya dalam pusaran rasa bersalah yang tidak bertepi.
"Bagaimana mungkin aku bisa begitu buta terhadap ketulusan hati Hana yang selama ini selalu mengalah?" ratap Azzam lirih sembari meremas pinggiran kain sajadah yang mulai basah.
Suara ketukan pintu yang teramat kasar mendadak membuyarkan keheningan pekat yang sedang merantai seluruh konsentrasi berpikir lelaki itu. Umi Kalsum melangkah masuk dengan guratan wajah yang penuh amarah, diikuti oleh Sarah yang membawakan nampan berisi secangkir kopi hangat. Pandangan mata sang penguasa asrama langsung tertuju pada lembaran kertas pengakuan yang berserakan di atas lantai ubin dekat tempat bersujud.
"Jangan membuang waktumu untuk meratapi kepergian wanita kota yang tidak tahu cara berkhidmat pada tradisi suci, Azzam," tegur Umi Kalsum dengan intonasi suara yang begitu dingin.
Azzam mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata ibunya dengan sorot mata yang tidak lagi memancarkan kepatuhan kaku seperti biasanya. "Surat pengakuan ini menjelaskan bahwa Sarah bukanlah sosok suci yang selama ini Umi agungkan untuk menggantikan posisi Hana."
"Itu hanya fitnah murahan yang sengaja disebarkan oleh pihak luar untuk merusak keharmonisan rencana masa depan kita," sanggah Sarah dengan nada suara yang bergetar hebat menahan kepanikan.
Kebencian yang dibungkus topeng kesalehan kini mulai menampakkan wujud aslinya di hadapan sang ustaz muda yang tengah didera nestapa. Azzam bangkit berdiri perlahan, merapikan jubah putihnya yang kusut dengan gerakan tangan yang mencerminkan ketegasan yang baru saja lahir. Keberanian yang selama ini terkunci oleh doktrin bakti sepihak mendadak mencuat, menembus sekat ketakutan yang biasa membungkam suaranya di depan meja makan. Ia menyadari bahwa membiarkan ego manusia mengatur jalannya syariat penikahan hanya akan melahirkan kezaliman emosional yang berkepanjangan bagi wanita yang ia cintai.
Sementara itu, di dalam gerbong kereta yang melaju kencang membelah hamparan sawah, Hana duduk termenung memandangi titik titik air hujan yang menempel di kaca jendela. Tas kain besar di samping tubuhnya seolah menjadi saksi bisu atas keputusan berani yang ia ambil demi menyelamatkan sisa sisa martabat diri. Isak tangisnya sudah lama mereda, digantikan oleh kekosongan rasa yang teramat hambar seiring bertambahnya jarak dari kompleks pesantren yang mencekam. Wanita asal kota itu bertekad tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi, mengubur dalam dalam memori tentang lelaki penakut yang gagal menjadi pelindung batinnya.
"Apakah jalur hukum adalah jalan terbaik yang harus aku tempuh setelah sampai di rumah orang tua nanti?" bisik Hana dalam hati seraya memeluk erat kitab tafsir peninggalan almarhum ayahnya.
Guncangan roda besi kereta yang ritmis perlahan membawa kesadaran Hana pada kenangan manis masa lalu sebelum jeruji tradisi kaku merenggut kebebasannya. Ia mengingat kembali bagaimana dirinya selalu menjadi sosok mandiri yang dihormati di lingkungan kerja, jauh dari predikat kerikil kota yang tidak berharga. Kepasrahan total kini ia gantungkan pada ketetapan langit, berharap ada keadilan nyata bagi seorang istri yang hak kelayakannya telah diinjak sampai lumat.
"Azzam, kamu telah memilih untuk mengunci rapat mulutmu saat aku membutuhkan pembelaan, maka biarkan waktu yang menjawab seluruh penyesalanmu," gumam Hana dengan tatapan mata yang kian mendingin.
Kembali ke lingkungan pesantren, perdebatan horizontal di dalam kamar paviliun belakang semakin memanas hingga mencapai titik didih yang menegangkan. Umi Kalsum melayangkan pukulan kata kata baru, mencoba menekan kembali mental putranya agar tetap berada di bawah kendali mutlak kekuasaan asrama. Namun, Azzam memilih untuk berjalan melewati raga ibunya, melangkah menuju lemari besar guna mengambil seluruh berkas dokumen pernikahan resminya dengan Hana.
"Jika Umi tetap memaksakan Sarah untuk berada di dalam lingkaran rumah tanggaku, maka aku akan memilih keluar dari kompleks ini," ancam Azzam dengan volume suara yang rendah namun sarat akan ketetapan hati.
Umi Kalsum terperanjat, memegangi dadanya yang mendadak terasa sesak akibat shock melihat pembangkangan pertama dari putra kesayangannya. "Kamu berani menukar surga baktimu demi seorang wanita kota yang bahkan tidak sanggup menyelesaikan ujian hafalan fajar?"
"Ujian yang Umi ciptakan hanyalah panggung sandiwara untuk memuaskan ego ego manusia yang haus akan pengakuan duniawi," balas Azzam tanpa ragu lagi.
Sarah hanya mampu berdiri mematung di sudut ruangan, meremas ujung pakaian syarinya sewaktu mendapati pesonanya tidak lagi mampu memengaruhi keputusan sang ustaz. Azzam melangkah lebar meninggalkan paviliun belakang, mengabaikan teriakan panggilan ibunya yang menggema membelah keheningan kompleks asrama putri yang mulai ramai oleh santri. Tujuannya kini sudah bulat, yaitu mengejar belahan jiwanya yang tengah melesat menuju kota, terlepas dari segala risiko sanksi adat yang siap menghadang di depan jalan.
Matahari kini telah bergeser tepat di atas kepala sewaktu kereta api yang membawa Hana akhirnya tiba di stasiun besar kota kelahirannya. Hana turun dengan langkah kaki yang tegak, menghirup dalam dalam udara kota yang terasa jauh lebih membebaskan daripada atmosfer pekat di dalam kompleks surau. Di area penjemputan, beberapa kerabat dekat sudah berdiri menanti dengan gurat kecemasan yang tampak jelas menghiasi wajah mereka setelah menerima pesan darurat tadi pagi.
"Hana, apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahan barumu hingga kamu pulang tanpa didampingi oleh suamimu?" tanya salah seorang sepupu wanitanya dengan nada penuh selidik.
Hana hanya mengulas senyum tipis, menggelengkan kepala perlahan seolah enggan membagi beban perih yang masih basah di dalam dadanya. "Mari kita bicarakan semuanya di rumah saja, aku membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran yang teramat kusut ini."
Rombongan kecil itu bergerak meninggalkan stasiun, membiarkan Hana tenggelam dalam lamunan panjang di dalam kabin mobil yang melaju membelah kepadatan jalan raya. Di balik saku pakaian, gawai miliknya terus bergetar memunculkan puluhan panggilan tidak terjawab dari nomor kontak sang suami yang sengaja ia abaikan sejak fajar menyengat. Hana merasa waktu untuk memberikan toleransi telah habis, dan kini saatnya bagi dirinya untuk berdiri di atas kaki sendiri tanpa bayang bayang penindasan mertua.
Di belahan tempat yang lain, Azzam memacu kendaraan roda duanya dengan kecepatan penuh menyusuri jalur lintas provinsi demi mengejar waktu ketertinggalan. Penyesalan yang datang terlambat itu kini menjelma menjadi bahan bakar emosional yang memutus seluruh urat ketakutannya terhadap kemarahan sang penguasa pesantren. Bayangan wajah pucat Hana yang menangis di sudut ruang makan terus membayangi setiap jengkal pandangan matanya, memicu rasa sakit yang teramat luar biasa di dalam dada.
"Tunggu aku, Hana, aku tidak akan membiarkan dinding ego manusia menghancurkan janji suci yang telah kita ikrarkan di depan tuhan," ucap Azzam bertekad di balik helm hitamnya.
Gema azan asar mulai berkumandang dari arah menara masjid agung kota sewaktu Azzam akhirnya memasuki wilayah batas pemukiman rumah orang tua Hana. Jantung sang ustaz muda berpacu liar, membayangkan bagaimana penerimaan keluarga besar Hana terhadap dirinya yang telah gagal menjadi tameng pelindung emosional. Ia menghentikan kendaraannya di depan pagar besi bercat putih, menatap nanar ke arah pintu rumah yang tampak tertutup rapat tanpa ada aktivitas luar. Dengan langkah kaki yang terasa berat akibat kepasrahan, Azzam melangkah maju lalu mengetuk permukaan kayu jati pintu depan dengan penuh kehati hatian.
Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok wanita paruh baya dengan tatapan mata yang teramat dingin bercampur kecewa yang mendalam. Azzam menunduk takzim, bersiap menerima segala bentuk konsekuensi terburuk atas kelalaiannya dalam menjaga kelayakan batin sang istri sah selama sepekan ini. Keheningan pekat kembali membentang luas di antara mereka, menjadi pembuka dari babak baru pertempuran harga diri yang sesungguhnya di luar kompleks asrama.