NovelToon NovelToon
Balas Dendam Nyonya Cha

Balas Dendam Nyonya Cha

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.

​Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Kemenangan yang Elegan

​Suara sirene polisi yang berdenging di depan Rumah Sakit Pusat Seoul menjadi latar belakang yang sempurna bagi runtuhnya martabat seorang Jung Se-hee. Di hadapan puluhan staf medis dan kilatan kamera wartawan yang tiba-tiba muncul bagai burung hering, Se-hee digiring keluar dengan tangan diborgol dan kepala tertutup mantel.

​Kang Min-woo tidak berbuat apa-apa untuk membelanya. Pria itu berdiri di lobi rumah sakit dengan tatapan kosong, mengabaikan teriakan histeris wanita yang telah bersamanya selama tiga tahun terakhir.

Fokusnya telah terenggut sepenuhnya oleh bayangan Han Ji-an yang melangkah pergi bersama Cha Jin-wook—sebuah kontras yang merobek harga dirinya hingga tak bersisa.

​Namun, neraka bagi keluarga Kang baru saja berpindah tempat ke kediaman mereka di Seongbuk-dong.

​Pukul 19.00 KST, ruang tamu mewah yang biasa menjadi tempat arisan elit Nyonya Oh kini dipenuhi oleh pria-pria berjas hitam dari Kejaksaan Distrik Pusat Seoul. Mereka menempeli setiap sudut barang mewah—mulai dari lukisan dinding, vas porselen, hingga brankas pribadi—dengan stiker merah penyegelan.

​"Apa yang kalian lakukan?! Ini rumahku! Berani-beraninya kalian menyentuh barang-barangku!" Nyonya Oh berteriak histeris, mencoba menarik lengan salah satu petugas kejaksaan.

​"Nyonya Oh Young-sook," petugas itu menunjukkan surat perintah dengan dingin.

"Ilsung Group telah dinyatakan gagal bayar atas obligasi senilai dua ratus miliar won yang jatuh tempo hari ini. Atas gugatan dari kreditur utama, yaitu Cha Financial Corporation, seluruh aset pribadi atas nama Anda dan putra Anda, Kang Min-woo, resmi disita oleh negara sebagai jaminan."

​"Cha... Cha Financial?!" Nyonya Oh terhuyung ke belakang. Itu adalah anak perusahaan dari Cha Group.

​Tepat saat itu, pintu rumah terbuka. Kang Min-woo melangkah masuk dengan penampilan yang jauh dari kata rapi. Jasnya entah ke mana, kemejanya kusut, dan bau alkohol tercium menyengat dari tubuhnya.

​"Min-woo ya! Katakan pada mereka kalau ini salah paham! Hubungi ayahmu!" ratap Nyonya Oh, mencengkeram lengan putranya.

​Min-woo tertawa getir, tawa kosong seorang pria yang telah kehilangan segalanya. "Ayah? Ayah baru saja mengumumkan pencopotan gelarku secara permanen di depan rapat umum pemegang saham, Ibu. Dan satu jam yang lalu... Ayah resmi mengajukan gugatan cerai kepada Ibu agar aset pribadinya tidak ikut terseret dalam kebangkrutan kita."

​"A-apa?!" Nyonya Oh memegangi dadanya, napasnya tersengal-sengal. Suaminya, pria yang selama puluhan tahun ia layani demi status sosial, mencampakkannya begitu saja di saat badai datang.

​"Ini semua karena jalang itu... Han Ji-an..." desis Nyonya Oh dengan mata memerah penuh kebencian. "Dia menghancurkan kita!"

​"Bukan dia, Ibu," Min-woo bergumam lirih, menatap stiker penyegelan di dinding. "Kita yang menghancurkan diri kita sendiri sejak mengusirnya malam itu."

​Dua hari kemudian, di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit di kawasan Gangnam, sebuah pesta minum teh privat diadakan. Han Ji-an duduk di dekat dinding kaca besar, menikmati secangkir Earl Grey hangat.

Di sekelilingnya, beberapa nyonya sosialita papan atas Seoul—yang dulu kerap ikut menghina Ji-an saat masih menjadi menantu Ilsung—kini duduk dengan sikap yang sangat manis, bahkan cenderung menjilat.

​"Nyonya Cha, teh ini benar-benar luar biasa. Kudengar ini dikirim langsung dari perkebunan pribadi di Inggris?" ujar Nyonya Kim, istri dari seorang menteri, dengan senyum ramah yang dipaksakan.

​"Benar, Nyonya Kim. Jin-wook yang memesankannya untukku karena tahu aku menyukai aromanya," jawab Ji-an tenang, meletakkan cangkirnya dengan denting halus yang elegan.

​"Ah, Presdir Cha memang sangat perhatian," sela Nyonya Lee, istri dari pemilik jaringan hotel saingan Ilsung. "Ngomong-ngomong, Nyonya Cha... kami semua benar-benar mengagumi ketegasan Anda. Skandal Ilsung Group benar-benar membuka mata kami tentang betapa busuknya keluarga itu. Memalsukan dokumen medis? Menjijikkan sekali."

​Ji-an menatap wanita-wanita di hadapannya satu per satu. Tiga tahun lalu, ketika dia diusir, wanita-wanita ini adalah orang pertama yang memblokir nomor ponselnya dan menyebarkan rumor bahwa dia adalah "wanita mandul pembawa sial". Kini, takdir memutar roda begitu cepat hingga mereka harus memohon waktu Ji-an hanya untuk sekadar mendapatkan anggukan kepala.

​"Dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang mengira kekuasaan mereka abadi, Nyonya-nyonya," kata Ji-an, suaranya lembut namun mengandung sindiran yang membuat ruangan itu mendadak hening.

"Mereka lupa bahwa air mata yang mereka paksa keluar dari mata orang lain, suatu hari akan kembali sebagai badai yang menenggelamkan mereka sendiri."

​Pertemuan itu berakhir dengan cepat ketika Sekretaris Kim masuk dan membungkuk di dekat Ji-an. "Nyonya, Presdir Cha sudah menunggu Anda di bawah."

​Ji-an berdiri, merapikan gaun terusan sutra berwarna biru dongker yang dipadukan dengan mantel putih gading. "Saya permisi dulu, Nyonya-nyonya. Anak-anak saya pasti sudah merindukan ibunya."

​Di dalam mobil jurnalis yang terparkir tidak jauh dari gedung kejaksaan, Kang Min-woo duduk di kursi pengemudi mobil murah yang ia sewa. Matanya yang cekung terus menatap ke arah pintu keluar. Hari ini adalah hari pertama persidangan Jung Se-hee atas kasus penyuapan dan pemalsuan dokumen publik.

Min-woo sendiri hadir sebagai saksi, namun statusnya bisa berubah menjadi tersangka kapan saja jika tim hukum Cha Group terus menekannya.

​Ketika ia keluar dari gedung, sebuah mobil Bentley hitam berhenti tepat di jalur pejalan kaki.

​Pintu belakang terbuka, dan Han Ji-an melangkah keluar. Dia tidak sendiri. Cha Jin-wook turun bersamanya, menggandeng tangan Ji-an dengan posesif. Mereka tampaknya baru saja kembali dari makan siang di restoran bintang lima terdekat.

​Melihat Ji-an yang begitu bersinar, elegan, dan tampak sangat bahagia, seolah ada sebilah belati yang membelah dada Min-woo.

Kaki pria itu bergerak sendiri, melangkah mendekati pasangan itu seperti orang linglung.

​"Ji-an..." panggil Min-woo, suaranya parau.

​Langkah Ji-an terhenti. Jin-wook langsung menajamkan tatapannya, melangkah satu babak ke depan untuk melindungi istrinya, namun Ji-an menyentuh lembut lengan Jin-wook.

"Tidak apa-apa, sayang. Biarkan aku bicara dengannya untuk terakhir kali."

​Jin-wook menatap Ji-an lama, lalu mengangguk kecil, memberikan ruang namun matanya tetap mengawasi setiap gerak-gerik Min-woo.

​Min-woo menatap Ji-an dengan mata berkaca-kaca. "Ji-an... rumah kami sudah disita. Ibu masuk rumah sakit karena depresi. Aku... aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Apakah ini semua belum cukup bagimu? Apakah kau harus menghancurkan sisa hidupku sampai aku mati?"

​Ji-an menatap mantan suaminya tanpa ada binar kemarahan lagi di matanya. Yang tersisa di sana hanyalah kehampaan yang dingin—dan itu jauh lebih menyakitkan bagi Min-woo daripada makian.

​"Kang Min-woo," panggil Ji-an, suaranya seringan angin malam. "Tiga tahun lalu, saat aku berdiri di depan gerbang rumahmu di tengah badai, aku memohon padamu untuk mendengarkan penjelasanku. Aku bilang aku rela hidup miskin bersamamu asal kita menghadapi dunia bersama. Kau tahu apa yang kau katakan saat itu?"

​Min-woo menunduk, air matanya menetes ke atas sepatu usangnya.

​"Kau bilang, tangan kotorku tidak pantas menyentuh pria terhormat sepertimu," lanjut Ji-an, senyum sinis terukir di bibirnya. "Kau membuangku karena kau mengira aku tidak bisa memberikanmu apa yang kau inginkan—seorang penerus. Sekarang, lihatlah dirimu. Kau kehilangan perusahaanmu, rumahmu, ibumu, dan harga dirimu. Sementara aku? Aku memiliki suami yang menghormatiku, dan dua anak yang sehat yang memanggilku Ibu."

​Ji-an melangkah satu babak lebih dekat, berbisik tepat di samping telinga Min-woo yang gemetar.

​"Penyesalanmu tidak akan pernah bisa membayar setiap pil pahit yang kupaksa telan demi melindungimu dulu. Nikmatilah kemandulanmu di dalam kemiskinan, Min-woo ya. Karena itu adalah takdir yang paling adil untuk pria sepertimu."

​Ji-an mundur, berbalik, dan menyambut uluran tangan Cha Jin-wook yang langsung mendekapnya hangat.

Mereka berdua masuk ke dalam mobil Bentley, meninggalkan Kang Min-woo yang jatuh berlutut di atas trotoar jalanan Gangnam yang ramai, menangis histeris di tengah kepulan asap knalpot kota yang acuh tak acuh.

​Nyonya Cha telah menyelesaikan babak pertamanya dengan kemenangan mutlak.

1
Mutia Kim🍑
Seneng banget deh Ji-An dapat pengganti yg jauh lebih baik🥰
Mutia Kim🍑
Memang lebih baik kamu pergi saja dari keluarga toxic itu Ji-an😌
Mayraa_Tapaa: makasih ka udah mampir
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
Mampir ya readers readers yg baik dan keren-keren, udah up banyak episode loh jadi enak bacanya...setiap hari juga bakal up min 4 episode sehari ya....
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!