( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
After The Fall Of Peak Cavalry
Peak Cavalry
Kerajaan Peak Cavalry telah runtuh.
Satu hari telah berlalu sejak langit pecah dan membawa bencana ke dunia. Dari seluruh penghuni istana, hanya tiga orang yang berhasil melarikan diri dari kerajaan itu bersama-sama. Clarissa Fountaine, Deon sang kepala koki kerajaan, dan Edward sang kepala pelayan.
Setelah melewati malam panjang yang dipenuhi teror, tangisan, dan ketakutan, mereka akhirnya berhasil keluar dari wilayah perbukitan Gray Hills. Kini mereka berada jauh di bawah bukit-bukit menjulang itu, di sebuah hutan yang asing dan sunyi.
Pagi itu, mereka berhenti di dekat aliran sungai kecil untuk beristirahat.
Suara air yang mengalir perlahan menjadi satu-satunya suara yang terasa menenangkan setelah semua mimpi buruk yang mereka alami. Mereka membersihkan diri secara bergantian sambil memeriksa keadaan sekitar.
Clarissa mendapat giliran pertama.
Sementara itu, Edward mencoba mencari sesuatu yang bisa dijadikan makanan. Namun dari cara ia bergerak dan hasil yang ia dapatkan, jelas terlihat bahwa berburu bukanlah keahliannya.
Tidak jauh dari sana, Deon sedang memeriksa kereta kuda yang membawa mereka keluar dari Peak Cavalry.
Tatapannya tertuju pada kuda yang semalaman menarik kereta mereka tanpa henti. Hewan itu kini terbaring diam. Tubuhnya dipenuhi luka dan kelelahan yang sudah tidak mungkin ditahan lebih lama lagi.
Deon terdiam beberapa saat.
Lalu sebuah ide muncul di kepalanya.
Ia segera memanggil Edward dan menjelaskan pikirannya dengan suara pelan. Edward awalnya terlihat ragu, namun setelah melihat keadaan mereka saat ini, ia sadar bahwa mereka memang tidak memiliki banyak pilihan.
Meski begitu, keduanya sepakat pada satu hal.
Clarissa tidak perlu mengetahui semuanya sekarang.
Akhirnya mereka mulai mengumpulkan batu, ranting, dan potongan kayu. Dengan alat seadanya, mereka mencoba membuat tempat memasak sederhana seperti manusia zaman dahulu yang hidup dengan segala keterbatasannya.
Tak lama kemudian Clarissa selesai membersihkan dirinya.
Ia memanggil Deon dan Edward agar bergantian membersihkan diri di sungai. Namun keduanya langsung panik dalam hati.
Mereka belum selesai menyiapkan makanan.
Edward yang berpikir cepat segera menghampiri Clarissa, sementara Deon akan tetap melanjutkan tugasnya untuk memasak.
"Nona Clarissa... bagaimana jika kita membuat makam sederhana untuk Tuan Roberto?" usulnya dengan hati-hati.
Mendengar nama Roberto, Clarissa terdiam sejenak.
Lalu ia mengangguk pelan.
Mereka berdua mulai mengumpulkan batu-batu dari tepi sungai. Batu demi batu ditumpuk di bawah sebuah pohon besar sebagai penanda peristirahatan seorang pria yang telah mengorbankan nyawanya demi mereka.
Sementara Clarissa dan Edward sibuk menyusun makam sederhana itu, Deon mendapat waktu yang cukup untuk menyiapkan makanan.
Setelah semuanya selesai, Edward berdiri di depan tumpukan batu tersebut.
Ia memimpin doa singkat.
Doa yang sederhana.
Namun tulus.
Doa untuk seorang pengawal yang tetap menjalankan tugasnya hingga detik terakhir hidupnya.
Clarissa menundukkan kepala selama doa berlangsung.
Tak ada suara tangisan.
Namun beberapa tetes air mata tetap jatuh ke tanah.
Tidak lama kemudian, suara Deon terdengar dari kejauhan.
"Makanannya sudah siap!"
Edward menghampiri Deon terlebih dahulu dan mengambil jatah makanan mereka sebelum kembali ke makam sederhana itu.
Clarissa masih duduk diam di sana.
Memandangi tumpukan batu yang menjadi pengganti nisan Roberto.
Baru setelah beberapa saat, ia akhirnya berdiri dan berjalan menghampiri mereka.
Matanya terlihat sedikit merah.
Namun ia tetap berusaha tersenyum.
Edward melihat hal itu dan merasa dadanya terasa sesak.
Selama ini Clarissa adalah putri yang selalu hidup dalam kasih sayang kedua orang tuanya. Bahkan rakyat Peak Cavalry pun mencintainya dengan tulus.
Namun hanya dalam satu malam, dunia yang ia kenal telah runtuh.
Meski begitu, gadis itu tetap berusaha terlihat kuat di depan mereka.
Clarissa menerima makanan yang diberikan Deon.
Ia mencicipinya perlahan.
Lalu matanya sedikit membesar.
"Rasanya unik sekali..." katanya.
Deon langsung menegang.
Edward yang melihat itu segera menyela.
"Tapi enak bukan, Nona? Itu salah satu keahlian terbaik Tuan Deon."
Clarissa mengangguk.
"Enak kok."
Ia kembali melanjutkan makannya.
Deon dan Edward saling menatap.
Lalu menghembuskan napas lega secara bersamaan.
Sayangnya ketenangan itu tidak berlangsung lama.
"Tunggu..."
Clarissa tiba-tiba menoleh.
"Bagaimana keadaan kudanya?"
Seketika suasana menjadi canggung.
Deon menatap Edward.
Edward menatap Deon.
Keduanya sama-sama berharap orang lain yang menjawab pertanyaan itu.
Namun pada akhirnya Deon menutup mata pasrah.
Ia tahu tidak mungkin terus berbohong.
"Nona Clarissa..."
Suara Deon terdengar pelan.
"Daging yang sedang kita makan sekarang... adalah daging kuda itu."
Clarissa membeku.
Butuh beberapa detik sampai kata-kata itu benar-benar masuk ke kepalanya.
"Apa?"
Deon menjelaskan bahwa kuda tersebut sudah berada di ambang kematian akibat luka dan kelelahan setelah membawa mereka keluar dari Peak Cavalry sepanjang malam.
Mendengar itu, Clarissa langsung menutup mulutnya.
Ia memuntahkan sedikit makanan yang masih ada di mulutnya.
Deon dan Edward langsung bersujud bersamaan.
"Kami minta maaf, Nona!"
"Kami tidak bermaksud menyembunyikannya!"
"Kami benar-benar minta maaf!"
Mereka berdua menundukkan kepala serendah mungkin.
Siap menerima kemarahan ataupun hukuman.
Namun yang datang justru keheningan.
Beberapa saat kemudian, suara Clarissa terdengar pelan.
"Angkat kepala kalian."
Mereka perlahan mengangkat wajah.
Clarissa tidak terlihat marah.
Ia justru tampak sedih.
"Aku tidak marah..."
Suaranya bergetar.
"Aku hanya merasa sedih."
Ia menunduk.
"Kuda itu sudah membantu kita sejauh ini."
"Dia membawa kita keluar dari kerajaan."
"Dia menyelamatkan kita."
"Lalu sekarang kita malah memakannya..."
Deon dan Edward langsung panik.
Mereka baru saja berhasil membuat Clarissa sedikit tenang, dan sekarang putri itu terlihat ingin menangis lagi.
Edward buru-buru berpikir keras.
Lalu akhirnya ia menemukan sesuatu untuk dikatakan.
"Saya yakin kuda itu merasa terhormat, Putri Clarissa."
Clarissa menoleh.
Edward melanjutkan.
"Jika bukan karena dirinya, kita mungkin tidak akan sampai sejauh ini."
"Dan jika bukan karena dirinya sekarang, kita mungkin tidak punya tenaga untuk melanjutkan perjalanan."
"Dia masih membantu kita."
"Kali ini dari cara yang berbeda."
Clarissa terdiam mendengarnya.
Lalu tiba-tiba Deon berteriak.
"AAAARGH!"
Semua orang langsung menoleh.
"Mataku kelilipan! Tuan Edward, cepat bantu aku!"
Edward langsung tahu itu hanya akting.
Meski begitu ia tetap mendekat dan meniup mata Deon.
Deon lalu membuka matanya lebar-lebar.
"Ah!"
"Aku melihat sesuatu!"
"Apa?" tanya Clarissa.
Deon menunjuk ke langit.
"Ada wajah kudanya!"
Clarissa berkedip bingung.
"Kuda itu sedang tersenyum dan menangis bahagia di atas awan sana!"
Edward langsung memukul pelan kepala Deon.
"Mana mungkin ada yang seperti itu, bodoh."
"Ya siapa tahu!" balas Deon.
"Kau benar-benar tidak berbakat menghibur orang."
"Yah, aku memang tidak dilatih untuk menghibur putri yang cengeng."
Hening.
Deon membeku.
Edward membeku.
Keduanya perlahan menoleh ke arah Clarissa.
Wajah sang putri langsung mengerut.
"APA KATAMU?"
Beberapa detik kemudian, suara protes Deon dan Edward menggema di tepi sungai.
Clarissa mencubit pipi mereka tanpa ampun.
"Kami minta maaf!"
"SAKIT NONA!"
"Ampun!"
Mereka berdua langsung memohon belas kasihan.
Clarissa akhirnya melepaskan cubitannya.
Namun begitu mendengar Deon bergumam pelan, "...setidaknya jangan di depan Clarissa..."
Sisa daging yang ada di tangannya langsung ia pukul pukul pelan ke arah mereka.
"Itu Deon yang bilang!" teriak Edward.
"Pengkhianat!" balas Deon.
Untuk pertama kalinya sejak malam mengerikan itu, tawa terdengar kembali.
Tawa kecil.
Tawa sederhana.
Namun cukup untuk membuat mereka melupakan kesedihan mereka sesaat.
Menjelang siang, ketiganya akhirnya tertidur karena kelelahan.
Mereka bersandar pada batang pohon tumbang di tengah hutan.
Rumput menjadi kasur mereka.
Langit menjadi atap mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak Peak Cavalry runtuh, mereka tertidur dengan senyum kecil yang masih tersisa di wajah mereka.
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.