NovelToon NovelToon
Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Masuk ke dalam novel / Penyesalan Suami
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Unamed

Valeria Francesca terbangun di dalam tubuh wanita antagonis sebuah novel yang ditakdirkan mati tragis di meja operasi setelah kedoknya membobol keluarga konglomerat terbongkar. Di cerita asli, wanita ini menipu sang CEO, Alessandro Dirgantara, menggunakan pahlawan palsu dan jebakan kehamilan untuk memaksa menikah.

Saat terbangun di momen tepat sebelum melabrak Alessandro dengan hasil tes kehamilan, Valeria langsung merobek kertas itu. Demi selamat dari maut, ia memilih pura-pura penurut sambil diam-diam menabung untuk kabur.

Namun saat Valeria menyelinap ke rumah sakit untuk aborsi diam-diam agar bisa lari dengan tenang, Alessandro justru mendobrak pintu ruang operasi dengan mata memerah dan membentak, "Siapa yang memberi kamu izin menggugurkan anak kita?!"

Valeria melongo. Bos, bukankah di novel aslinya kamu yang paling ingin anak ini mati?!

!!(KARYA INI MURNI FIKTIF PENULIS)!!
!!(TEMPAT,LATAR MURNI IMAJINASI)!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unamed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Rahasia Yang Nyaris Terkoyak

Alessandro Dirgantara sedang terlibat obrolan serius dengan salah seorang kolega bisnisnya ketika sudut matanya tanpa sengaja menangkap pergerakan janggal di sudut ruangan. Beberapa meter di dekat meja konter makanan, tubuh Valeria Francesca tampak membungkuk dalam, merapatkan kedua tangannya di atas perut dengan raut wajah yang menahan penderitaan luar biasa.

Alessandro langsung melontarkan kalimat permohonan maaf yang singkat kepada lawan bicaranya. Dengan langkah tegap yang lebar, ia bergegas menghampiri Valeria, mengulurkan sepasang lengan kokohnya untuk menyokong tubuh wanita itu agar tidak ambruk ke lantai. "Kamu kenapa?"

Valeria mendongak lambat dengan sisa tenaga yang ia miliki. Sepasang alis tebal Alessandro tampak bertaut rapat, memancarkan gurat ketegangan yang pekat. Sambil mencengkeram erat gaun satin di bagian perutnya, Valeria bersuara dengan intonasi yang teramat payah dan putus-putus, "Ales... perutku... perutku mendadak sakit banget..."

Pandangan mata Alessandro seketika jatuh tertuju pada sisa potongan salmon asap yang masih berada di dalam piring kecil di tangan Valeria. Mengasumsikan bahwa lambung kekasihnya yang sensitif baru saja mengalami keracunan akibat mengonsumsi hidangan mentah, ia mengerutkan dahinya semakin dalam. "Sakitnya parah? Ayo, saya antar ke rumah sakit sekarang juga untuk diperiksa dokter spesialis."

Mendengar frasa 'rumah sakit', jantung Valeria seketika seolah melompat keluar dari rongga dadanya. Ke rumah sakit?! Jika ia nekat menuruti ajakan tersebut dalam kondisi medis seperti ini, maka fakta kehamilannya dipastikan akan langsung terbongkar dalam hitungan menit di tangan tim medis. Segala rencana pelarian dan aborsi rahasianya akan hancur berantakan tanpa sisa.

Menyadari situasi yang kian mendesak, Valeria dengan gerakan refleks yang super cepat langsung mencengkeram balik lengan kemeja formal Alessandro dengan kuat. "Nggak mau! Aku nggak mau ke rumah sakit!"

Raut wajah Alessandro seketika beralih menjadi teramat berat dan mengintimidasi. "Perut kamu jelas-jelas sakit parah sampai pucat seperti ini, Valeria. Bagaimana mungkin kamu menolak untuk diperiksa medis?"

Valeria justru semakin mempererat cengkeraman jemarinya di lengan tegap sang CEO, bersikeras meluncurkan alasan pembelaan diri. "Ini... ini murni karena tadi aku terlampau serakah makan salmon asap yang dingin dalam jumlah banyak saat perutku kosong. Aku cuma butuh waktu buat duduk istirahat sebentar, nanti juga bakal membaik sendiri. Nggak usah sampai membesarkan masalah dengan pergi ke klinik segala."

Seberapa keras pun Alessandro mencoba membujuknya malam itu, Valeria tetap teguh pada pendiriannya. Wanita itu menolak keras setiap opsi bantuan medis, bahkan mulai merengek manja mendesak untuk segera diantarkan pulang ke vila. Alessandro menatap lekat-lekat ke dalam sepasang manik mata bulat milik Valeria dengan pandangan penuh selidik yang sarat akan keraguan. "Kamu beneran yakin nggak apa-apa?"

Valeria menahan denyutan nyeri yang kian pekat menghantam rongga rahimnya, memaksakan seulas anggukan kaku. "Iya, aku beneran aman. Cuma butuh tidur sebentar di rumah."

Melihat keteguhan sikap yang tidak bisa diganggu gugat tersebut, Alessandro akhirnya tidak memiliki alternatif lain selain berpamitan darurat kepada pihak penyelenggara pesta dan segera membimbing tubuh lemas Valeria menuju ke dalam mobil Bentley hitamnya.

Di sepanjang rute perjalanan pulang, atmosfer di dalam kabin penumpang baris belakang diselimuti oleh keheningan yang kaku. Alessandro memutar tubuhnya ke samping, memfokuskan pandangan matanya menatap siluet Valeria yang kini sedang menyandarkan kepalanya yang lunglai ke arah kaca jendela mobil. Kedua tangan wanita itu masih mencengkeram erat area perut bagian bawah, dengan seluruh pasokan energi fisik yang tampaknya telah terkuras habis tak tersisa.

"Masih terasa sakit?" tanya Alessandro rendah, memecah kesunyian malam.

Valeria yang saat itu sedang meremas kuat telapak tangannya sendiri demi mengalihkan fokus dari rasa nyeri biologisnya, tersentak pelan mendengar gema suara bariton tersebut. Ia menolehkan kepalanya kaku, memaksakan sebuah jawaban parau, "Udah... udah jauh lebih mendingan kok, Ales."

Namun, jauh di dalam lubuk batinnya, Valeria meratapi nasibnya dengan kepasrahan yang mendalam. Seberapa pekat pun rasa sakit yang menghantam tubuhnya malam ini, ia mutlak tidak akan pernah berani menyuarakannya secara jujur di hadapan Alessandro. Jika tidak, kebohongannya akan langsung terkoyak di bawah lampu operasi rumah sakit.

Baru saja menyelesaikan kalimat pembelaannya, gelombang rasa melilit yang teramat tajam kembali merangsek maju menguasai rahimnya. Valeria yang sudah tidak sanggup lagi mempertahankan topeng ketenangannya terpaksa meringkuk membulat, memejamkan matanya erat-erat sembari bergumam lemah, "Aku mau merem sebentar ya, Ales. Nanti kalau mobilnya udah sampai di depan teras vila, tolong bangunin aku."

Alessandro menatap profil wajah Valeria yang tampak memutih pucat dalam keheningan yang misterius. Karakter Valeria Francesca yang ia kenal selama bertahun-tahun adalah sosok wanita yang teramat manja, rapuh, dan penakut; bahkan di masa lalu, hanya karena masalah sepele seperti kulit jarinya yang sedikit tergores ujung kertas, wanita itu sudah akan menangis histeris seolah dunianya runtuh dan menuntut Alessandro untuk mendampinginya ke unit gawat darurat rumah sakit top.

Namun malam ini, di saat kondisi fisiknya jelas-jelas sedang didera penderitaan rasa sakit yang luar biasa nyata, wanita itu justru bersikeras menolak bantuan medis dengan cara yang teramat janggal. Apakah dia mendadak berubah menjadi sangat dewasa dan bijaksana karena tidak ingin merepotkan fokus waktu kerja saya... atau sebenarnya ada sebuah rahasia besar yang sedang dia sembunyikan rapat-rapat dari jangkauan mata saya?

Begitu kendaraan mereka menapakkan kaki di area garasi rumah, Alessandro langsung membimbing dan membopong tubuh Valeria naik ke lantai atas menuju kamar tidur utama agar bisa segera berbaring di atas kasur yang empuk. Menatap gurat kecantikan Valeria yang masih tampak layu dan memutih, sepasang alis tebal Alessandro kembali bertaut rapat penuh kecemasan moral. "Sakitnya belum reda juga? Lebih baik saya telepon dokter pribadi keluarga kita sekarang untuk datang memeriksa kondisi rahim atau lambung kamu di kamar ini."

Valeria buru-buru melambaikan tangannya di udara dengan gerakan panik. "Jangan, Ales! Ini udah larut malam banget, nggak usah sampai merepotkan dan mengganggu waktu istirahat dokter cuma buat urusan lambung kayak gini."

Valeria segera menarik selimutnya, meringkuk menyedihkan di sudut ranjang raksasa tersebut, seolah mencoba mengecilkan eksistensi tubuhnya agar tidak memancing perhatian lebih lanjut. Alessandro terdiam membisu menatap pemandangan rapuh tersebut selama beberapa saat, sebelum akhirnya memutar tubuh tegapnya melangkah keluar meninggalkan area kamar.

Ketika pria itu kembali masuk beberapa menit kemudian, sepasang tangannya kini telah membawa dua butir tablet obat pereda nyeri berwarna putih beserta secangkir air putih hangat yang masih memancarkan kepulan uap tipis.

"Minum obat pereda nyeri ini dulu," ucap Alessandro sembari mendudukkan postur tubuh tegapnya di sisi tepi ranjang, menyodorkan obat dan cangkir hangat tersebut ke hadapan wajah Valeria. "Kalau sampai tengah malam nanti denyutan sakitnya belum berkurang, saya tidak akan menerima bantahan apa pun lagi dan akan langsung membawa tubuh kamu ke rumah sakit secara paksa."

Valeria berusaha menegakkan posisi duduknya dengan payah, menyandarkan punggungnya pada permukaan sandaran kayu ranjang. "Kamu... dari mana bisa dapet obat pereda nyeri malam-malam begini, Ales?"

"Saya baru saja menghubungi nomor pribadi kepala pengasuh rumah lewat telepon untuk menanyakan letak kotak penyimpanan obat medis darurat vila ini," jawab Alessandro lempeng.

Valeria tertegun sejenak, sama sekali tidak menduga bahwa seorang pria yang biasanya berkarakter sedingin es dan acuh tak acuh seperti Alessandro akan bersedia menurunkan gengsinya demi mengurus hal sedetail ini untuknya. Namun, otaknya dengan cepat menemukan kesimpulan rasional: Alessandro melakukan semua perhatian darurat ini murni karena didorong oleh rasa bersalah dan ketakutan moral; pria itu khawatir jika dirinya teledor mengabaikan kesehatan sang wanita penyelamat nyawanya, Valeria akan langsung memanfaatkan momentum tersebut sebagai amunisi baru untuk menyulut pertengkaran hebat dan keributan besar yang melelahkan batin di dalam rumah keesokan harinya.

Demi membalas utang budi kecelakaan sungai di masa lalu, garis batas toleransi dan kesabaran yang dimiliki oleh Alessandro di depan Valeria memang selalu terpaksa digeser mundur semakin jauh ke belakang dari waktu ke waktu.

Valeria mengembuskan napas panjang yang sarat akan beban batin di dalam hatinya saat mengulurkan jemarinya untuk menerima butiran obat tersebut dari telapak tangan Alessandro. Namun, tepat pada detik saat permukaan kulit obat itu menyentuh jemarinya, sebuah alarm kewaspadaan biologis mendadak berdering kencang di dalam otaknya.

Tunggu dulu! Kondisi fisik tubuh ini kan sekarang sedang berbadan dua alias hamil muda! Apakah aman bagi perkembangan janin jika aku nekat menelan obat kimia pereda nyeri dosis kuat seperti ini secara sembarangan tanpa resep dokter spesialis kandungan?

Detik berikutnya, sebuah pemikiran taktis yang dingin menyelinap di otaknya. Ah, lagian buat apa aku repot-repot mengkhawatirkan kesehatan janin ini? Toh, pada akhirnya aku murni ingin melenyapkan eksistensi anak ini sesegera mungkin dari rahimku, bukan? Jika terjadi komplikasi medis akibat obat ini, bukankah hal itu justru akan membantu mempermudah jalannya rencanaku tanpa perlu repot-repot melewati prosedur aborsi medis ginekologi nanti?

Namun, Valeria dengan cepat menyapu bersih pemikiran ceroboh tersebut. Ia teringat akan sebuah risiko yang jauh lebih mengerikan: bagaimana jika dampak buruk dari obat kimia ini justru merusak sistem reproduksi rahim dan membahayakan keselamatan nyawa dari tubuh fisik yang sedang ia tempati saat ini? Ia sudah bersusah payah mendapatkan kesempatan emas kedua dari Tuhan untuk bisa kembali menghirup udara kehidupan di dimensi baru ini; ia mutlak tidak akan pernah sudi membiarkan dirinya mati konyol atau menderita cacat fisik permanen hanya karena kecerobohan medis yang sepele.

Menatap Valeria yang hanya duduk mematung menatap butiran obat di tangannya dalam waktu yang terlampau lama tanpa ada niat untuk menelannya, seberkas kilatan rasa curiga dan kebingungan mendadak memancar dari dalam bola mata hitam milik Alessandro. "Kenapa obatnya cuma dilihatin terus dari tadi? Kenapa nggak langsung diminum?"

Valeria tersentak kaku, namun dengan kemampuan adaptasi daruratnya, ia segera memasang ekspresi wajah yang dipenuhi oleh rasa jijik, cemberut, dan manja khas pemilik tubuh terdahulu. Ia mendengus ketus, "Aku... aku dari dulu kan paling benci dan takut sama rasa pahit dari obat tablet, Ales! Lidah aku bisa langsung mati rasa seharian kalau nggak pakai penawar. Tolong turun ke lantai bawah sekarang dan ambilkan aku beberapa butir gula pasir atau permen manis buat penawarnya!"

Permintaan manja yang terkesan kekanak-kanakan tersebut terasa sangat selaras dengan watak asli Valeria Francesca yang selalu gemar memerintah dan merepotkan orang lain demi kenyamanan pribadinya. Alessandro tidak menaruh curiga sedikit pun; pria itu hanya mengembuskan napas pendek yang sarat akan kepasrahan, mengeluarkan suara gumaman afirmasi yang rendah, lalu berbalik tubuh melangkah keluar kamar menuju dapur bawah demi mencarikan apa yang diinginkan sang kekasih.

Begitu siluet tubuh tegap Alessandro dipastikan telah menghilang sempurna di balik kelokan koridor luar, Valeria langsung melompat turun dari atas kasur dengan gerakan yang sangat tangkas dan senyap. Ia berlari kencang menuju ke dalam kamar mandi utama, melemparkan kedua butir tablet obat pereda nyeri tersebut ke dalam lubuk kloset, lalu menekan tombol flush hingga aliran air menyapu bersih keberadaan obat kimia tersebut tanpa menyisakan satu pun bukti fisik.

Setelah menuntaskan aksi sabotase daruratnya, Valeria bergegas kembali naik ke atas ranjang, memosisikan tubuhnya berbaring dengan manis di bawah selimut, lalu meneguk sedikit air putih dari cangkir hangat di meja nakas demi membasahi permukaan bibirnya agar terlihat seolah-olah dirinya baru saja menyelesaikan proses minum obat.

Ketika Alessandro kembali melangkah masuk ke dalam kamar tidur dengan membawa semangkuk kecil gula pasir di tangannya, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah kondisi telapak tangan Valeria yang sudah kosong melompong dengan isi cangkir air putih yang telah berkurang setengahnya. Ia meletakkan mangkuk gula tersebut di atas meja nakas, lalu melayangkan pertanyaan kasual dengan nada suara yang tenang, "Obatnya sudah berhasil kamu telan semuanya?"

Valeria menganggukkan kepalanya dengan gerakan mantap penuh keyakinan. Ia mengulurkan jemarinya untuk menyendok sedikit butiran gula pasir dan memasukkannya ke dalam mulut, tidak lupa untuk terus memperdalam totalitas kualitas aktingnya dengan cara mengerutkan hidung cantiknya dalam-dalam sembari meluncurkan keluhan manja, "Udah kok... tapi sumpah pahit banget, Ales! Sampai sekarang pangkal lidah aku rasanya masih kaku dan mati rasa semua gara-gara tablet sialan itu."

Pandangan mata Alessandro perlahan turun, terkunci lurus menatap ke arah permukaan bibir ranum milik Valeria yang tampak basah berkilau akibat sisa cipratan air putih hangat malam ini. Kilauan basah tersebut memancarkan sebuah visualisasi kelembutan feminin yang teramat memikat indra penglihatannya, membuat sepasang manik mata hitam milik sang CEO penguasa bisnis tersebut mendadak berkilat secara samar dalam keheningan yang cukup lama.

Setelah menjeda kalbunya selama beberapa saat, Alessandro kembali membuka suara untuk melanjutkan interogasi ringkasnya, "Sebenarnya... faktor apa yang membuat lambung atau perut kamu bisa mendadak mengalami kontraksi dan rasa sakit sehebat itu di tengah jalannya acara pameran tadi?"

Valeria mengulurkan telapak tangannya, menggosok permukaan perut bagian bawahnya secara perlahan dari balik kain selimut. "A-ah... kayaknya tebakan kamu tadi emang bener deh, Ales. Ini murni karena kualitas kebersihan dari hidangan salmon asap di meja konter pameran tadi kurang higienis, makanya lambung aku langsung bereaksi kram."

Di dalam lubuk batinnya sendiri, Valeria sebenarnya juga dilanda kebingungan yang teramat sangat mengenai anomali medis ini. Kapasitas makanan yang ia konsumsi di area pesta tadi tergolong sangat sedikit dan berada di batas wajar, lalu mengapa respon biologis dari organ perutnya bisa melepaskan efek rasa melilit yang begitu menyiksa dan pekat layaknya remasan tangan raksasa?

Apakah struktur organ tubuh fisik dari Valeria asli ini memang memiliki tingkat kerapuhan dan kelemahan biologis yang separah itu? Cuma bermodalkan mengonsumsi beberapa potong hidangan kuliner mewah dari restoran bintang lima saja langsung memicu reaksi kram lambung yang menyiksa? Sialan, tampaknya mulai besok dan seterusnya aku mutlak nggak boleh bersikap serakah dan teledor lagi dalam memilah menu makanan luar, rutuk Valeria meratapi kelemahan raga barunya di dalam batin.

Alessandro sempat membisu dalam waktu yang cukup panjang, menganalisis untaian kalimat pembelaan tersebut dengan logika bisnisnya yang kaku. "Bukannya di sepanjang sejarah kehidupan kamu selama ini, kamu adalah sosok wanita yang paling penakut, anti terhadap penderitaan, dan paling defensif jika harus merasakan rasa sakit fisik? Lalu kenapa malam ini kamu justru bersikap sangat keras kepala menolak opsi untuk dibawa ke rumah sakit ginekologi?"

Seluruh urat saraf di dalam rongga dada Valeria seketika mendadak mengetat kuat dilanda ketegangan yang hebat akibat pertanyaan menyelidik tersebut. Insting detektif dan tingkat kewaspadaan yang dimiliki oleh seorang Alessandro Dirgantara ternyata terbukti berada di level yang teramat mengerikan; pria berotak genius itu rupanya masih terus konsisten memburu celah ketidakselarasan dari seluruh pembawaan sikapnya malam ini.

Valeria buru-buru berdeham pelan, membersihkan tenggorokannya yang terasa kering demi menstabilkan kembali kontrol emosi di wajah cantiknya agar tidak memancarkan gurat kepanikan di hadapan lawan bicaranya. Ia melayangkan sebuah tatapan mata ketus yang dipenuhi oleh keangkuhan manja khas Valeria terdahulu, lalu menyahut dengan nada suara yang dibuat mencemooh, "Kamu kan tahu sendiri kalau hal yang paling aku benci seumur hidupku di dunia ini adalah proses mengonsumsi obat-obatan medis dari klinik, Ales! Penyakit sepele sekecil apa pun itu, kalau kita nekat datang ke rumah sakit, tim dokter di sana pasti bakal langsung meresepkan rentetan belasan botol obat kimia posisi tinggi yang ukurannya besar-besar dan pahitnya minta ampun! Aku bener-bener nggak sudi dan ogah kalau harus dipaksa melewati penderitaan menyiksa menelan semua tablet sialan itu murni cuma buat urusan kram perut sepele kayak gini."

Untaian kalimat pembelaan diri yang sarat akan egoisme, kemanjaan yang berlebihan, serta penolakan terhadap aturan medis tersebut terdengar teramat selaras, orisinal, dan identik dengan bagaimana profil karakter asli dari seorang Valeria Francesca di masa lalu. Mendengar konfirmasi yang dinilai masuk akal tersebut, seluruh rentetan kecurigaan dan analisis prasangka yang sejak tadi membiak di dalam isi kepala Alessandro akhirnya perlahan-lahan luruh dan menghilang tanpa bekas. Pria itu mempercayai kebohongannya.

Alessandro mengulurkan lengan kokohnya ke samping, menekan sakelar tombol elektronik untuk mematikan pencahayaan lampu kamar utama, tidak lupa untuk melontarkan sebuah kalimat instruksi pelindung dengan nada suara bariton yang melunak tipis di balik kegelapan malam, "Ya sudah, kalau begitu tidurlah sekarang. Jika nanti di tengah malam buta kondisi perut kamu kembali mengalami denyutan kram yang tidak tertahankan, kamu wajib membangunkan saya detik itu juga. Saya tidak akan menerima alasan penolakan apa pun lagi dan akan langsung membawa tubuh kamu ke rumah sakit secara paksa menggunakan tim ambulans."

Valeria mengeluarkan suara gumaman samar dari balik gulungan selimut tebalnya sebagai bentuk formalitas pemenuhan jawaban, "Iya... aku tahu kok, Ales."

Namun, jauh di lubuk batinnya yang paling dalam, Valeria sudah memantapkan sebuah sumpah mutlak yang tidak bisa diganggu gugat oleh kekuatan apa pun: Bahkan jika malam ini aku harus mati kehabisan darah atau pingsan menahan penderitaan rasa sakit perut sekalipun, aku bersumpah tidak akan pernah sudi membangunkan kamu atau mengizinkan tubuh ini dibawa masuk ke dalam area rumah sakit ginekologi!

Bagi logika keselamatannya, menahan penderitaan kram biologis yang menyiksa selama beberapa jam di atas ranjang ini... level risikonya masih jauh lebih aman dan dapat ditoleransi jika dibandingkan dengan malapetaka kehancuran total yang harus ia hadapi jika Alessandro sampai mengetahui fakta kehamilannya dan memaksa tubuh ini melewati prosedur operasi aborsi paksa di bawah pengawasan intelijen konglomerat kelak.

Melihat posisi tubuh Valeria yang kini sudah diam membisu di balik selimut tanpa meluncurkan rentetan keluhan rasa sakit baru, Alessandro berasumsi bahwa efek dari obat pereda nyeri sudah mulai bekerja menetralkan kram lambung sang kekasih. Pria itu akhirnya memejamkan kedua kelopak matanya sendiri untuk ikut terlelap tidur di sisi ranjang yang sama.

Begitu atmosfer di dalam ruang kamar tidur utama telah sepenuhnya tenggelam ke dalam kegelapan malam yang sunyi, seluruh urat saraf di tubuh Valeria yang sejak tadi sore terus dipaksa meregang kaku menahan ketegangan psikologis akhirnya perlahan-lahan mengendur rileks. Ia mengulurkan telapak tangannya yang gemetar, menyentuh permukaan perut bagian bawahnya yang kini intensitas rasa nyerinya sudah mulai mengalami penurunan drastis, menyisakan denyutan halus yang samar. Seberkas rasa lega yang teramat sangat mengalir di dalam dadanya.

Syukur... untuk malam yang penuh ketegangan ini, aku lagi-lagi berhasil meloloskan diri dan mengelabuhi ketajaman otak Alessandro dengan selamat, batin Valeria bersyukur penuh kelegaan.

Namun, bersamaan dengan rasa lega tersebut, seberkas rasa cemas dan ketidakpastian yang teramat pekat mengenai masa depannya di dunia ini juga ikut menyeruak naik mengotori kedamaian batinnya. Ia sama sekali tidak memiliki jaminan atau kepastian logis mengenai sampai kapan lembaran skenario kebohongan publik ini akan sanggup bertahan menutupi eksistensi janin di perutnya. Ia juga tidak tahu apakah di kemudian hari, saat momentum krisis darurat baru kembali meledak secara tidak terduga ke permukaan, dirinya akan masih cukup beruntung untuk bisa kembali berkelit menghindar dari radar pelacakan Alessandro.

Beruntung, jika denyutan kram biologis di dalam rahimnya malam ini tidak berlangsung dalam durasi yang terlampau panjang. Di bawah pengaruh rasa lelah fisik yang teramat berat, Valeria akhirnya perlahan-lahan ikut terhanyut, tenggelam masuk ke dalam kesadaran alam tidur yang lelap.

Di sepanjang fase tidurnya menjelang fajar tersebut, struktur otak Valeria mendadak melahirkan sebuah visualisasi mimpi buruk yang teramat mengerikan, riil, dan terasa begitu nyata. Di dalam dimensi mimpi tersebut, ia melihat sosok Alessandro Dirgantara sedang berdiri kokoh di samping brankar rumah sakit dengan sepasang mata hitam yang memancarkan kilatan kebencian, kemurkaan, dan aura kekejaman yang teramat dingin tanpa sepeser pun belas kasihan manusia. Pria berkuasa itu sedang memerintahkan jajaran tim dokter spesialis ginekologi untuk mengikat sepasang tangan dan kakinya di atas meja operasi secara paksa. Tepat pada detik saat bilah pisau bedah operasi yang teramat dingin dan tajam mulai digerakkan menyentuh permukaan kulit perutnya demi mengeksekusi janin di rahimnya, letupan rasa nyeri yang teramat tajam dan nyata seketika menyengat seluruh sistem saraf pusat Valeria, meledakkan kesadarannya untuk langsung tersentak bangun dari dalam tidurnya dengan napas yang memburu pendek, tersengal-sengal parah.

Ketika ia berhasil membuka kedua kelopak matanya dengan sentakan refleks, Valeria mendapati seluruh permukaan dahinya telah basah kuyup dibanjiri kepulan keringat dingin. Ia mengembuskan napas panjang berulang kali demi menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang laksana genderang perang akibat sisa-sisa trauma dari visualisasi mimpi buruk tadi.

Ia melayangkan pandangan matanya menatap ke arah luar jendela kaca besar kamar. Gurat pencahayaan langit di luar sana ternyata sudah tampak terang benderang disiram oleh kilau keemasan sang surya pagi, menandakan waktu malam telah sepenuhnya berganti. Area permukaan perut bagian bawahnya saat ini hanya menyisakan denyutan kram halus yang teramat samar—sebuah indikasi biologis yang menjelaskan secara logis kenapa struktur otaknya sampai bisa melahirkan visualisasi mimpi buruk mengenai pisau bedah operasi di dalam tidurnya menjelang pagi tadi.

Valeria menyeka sisa-sisa peluh keringat dingin di pelipis wajah cantiknya menggunakan ujung lengan pakaian tidurnya, mengembuskan napas lega yang teramat panjang dari dalam dadanya. Gila... untung cuma mimpi buruk fiktif. Aku sempat mengira kalau Alessandro bener-bener sudah mendatangkan tim dokter bedah ke dalam kamar ini buat menguliti perutku hidup-hidup tadi.

Saat ia mengalihkan pandangan matanya memeriksa ke area sisi kanan tempat tidur, ia mendapati kasur di sebelahnya telah kosong melompong dan rapi tanpa menyisakan eksistensi tubuh sang pemilik. Alessandro rupanya telah lama bertolak bangun dari tidurnya demi menunaikan rutinitas kerja harian. Valeria meraih ponsel pribadinya yang tergeletak di atas meja nakas murni untuk memeriksa jam digital, namun sepasang matanya justru langsung membentur sebuah notifikasi pesan singkat masuk dari nomor kontak pribadi Alessandro yang dikirimkan sekitar setengah jam yang lalu:

Alessandro: Aku sudah memerintahkan kepala pengasuh rumah untuk secara khusus memasak dan menyajikan satu porsi menu bubur ayam hangat bernutrisi tinggi di atas meja makan untuk sarapan kamu pagi ini. Ingat, habiskan seluruh isinya sampai bersih demi memulihkan kesehatan lambungmu sebelum kamu beraktivitas.

Menatap rangkaian teks formal yang tertera di atas layar gawai tersebut, sebuah getaran emosi yang asing dan halus mendadak kembali berdesir, menyelinap di dalam lubuk hati Valeria yang terdalam. Ia terpaksa meluncurkan pengakuan jujur di dalam batinnya bahwa seorang penguasa korporat raksasa selevel Alessandro Dirgantara ternyata masih memiliki secuil porsi nurani dan kepedulian detail yang teramat hangat di dalam sistem kepribadiannya. Tindakan proaktif memikirkan menu sarapan khusus berupa bubur hangat dan mengirimkan pesan teks pengingat kesehatan seperti ini... kastanya dinilai jauh lebih berkelas, peka, dan manis jika dibandingkan dengan tipikal jajaran pria tidak peka di dunia asalnya dulu yang sewajarnya hanya tahu cara meluncurkan kalimat klise tak berguna seperti "Jangan lupa perbanyak minum air putih hangat ya" saat mengetahui pasangannya sedang sakit perut.

Namun, letupan rasa kagum romantis tersebut hanya bertahan selama beberapa detik di otak Valeria sebelum akhirnya disapu bersih oleh realitas logika yang dingin. Ia mengingatkan dirinya sendiri dengan keras bahwa seluruh porsi nurani, kelembutan sikap, dan kepedulian manis yang ditunjukkan oleh Alessandro pagi ini... mutlak bukan dialokasikan untuk eksistensi jiwanya yang sekarang! Pria itu melakukan semuanya murni karena terikat oleh rantai utang budi moral atas aksi kepahlawanan palsu yang dilancarkan oleh sosok Valeria Francesca yang asli di masa lalu.

Valeria segera menyibak selimutnya, melangkah turun dari atas kasur menuju ke dalam ruang ganti untuk menanggalkan gaun pesta kemben biru laut miliknya yang sejak semalam belum sempat diganti akibat insiden sakit perut. Setelah melewati fase malam yang penuh kepasrahan di atas kasur, material kain satin premium gaun malam tersebut kini telah berubah wujud menjadi teramat lecek, berkerut berantakan di berbagai sudut, memancarkan visualisasi lusuh yang terkesan persis seperti selembar pakaian murah seharga belasan ribu rupiah yang dibeli dari lapak pasar malam jalanan.

Setelah melangkah turun ke lantai bawah dan menyelesaikan menu sarapan bubur hangat hasil masakan pengasuh rumah dengan tenang, Valeria segera berpamitan darurat, melangkah keluar pagar teras vila, lalu segera memesan taksi daring murni untuk mengantarkan dirinya menuju ke sebuah klinik rumah sakit swasta lain yang lokasinya berada di distrik yang berbeda. Meskipun intensitas sakit perutnya pagi ini sudah jauh mereda, namun demi menjamin keselamatan aset fisik rahimnya, ia merasa wajib melakukan pemeriksaan ginekologi ke dokter spesialis.

Begitu nomor antreannya dipanggil masuk ke dalam ruang konsultasi dokter ginekologi dan ia duduk di hadapan meja kerja sang dokter wanita paruh baya, Valeria langsung mengutarakan seluruh kronologi medis mengenai gejala kram perut melilit yang menghantam tubuhnya di tengah panggung pesta semalam secara jujur tanpa ada satu pun fakta yang disembunyikan.

Mendengar penuturan tersebut, sang dokter wanita paruh baya seketika langsung mengernyitkan dahinya dalam-dalam, menatap wajah Valeria dengan intonasi suara yang beralih menjadi menegur keras penuh rasa prihatin moral, "Nona... seorang wanita yang usia kandungannya masih berada di fase trimester pertama kehamilan muda seperti Anda ini... mutlak tidak pernah diizinkan secara medis untuk mengonsumsi jenis makanan apa pun yang disajikan dalam kondisi mentah, mentah sebagian, ataupun dingin, seperti contohnya hidangan salmon asap tadi malam! Tahukah Anda bahwa bakteri biologis dan suhu dingin dari kuliner mentah tersebut memiliki tingkat agresivitas yang teramat tinggi untuk merangsang sistem saraf usus, memicu malafungsi pencernaan, hingga yang paling berbahaya adalah menyulut reaksi kontraksi dini pada dinding rahim yang bisa memicu keguguran spontan?"

Valeria hanya bisa tertegun membisu dengan kelopak mata yang mengerjap polos, menyerap ilmu medis baru tersebut dengan rasa syok yang tertahan. Ia baru benar-benar mengetahui hari ini bahwa fase kehamilan ternyata memiliki daftar pantangan makanan yang teramat ketat, rumit, dan berbahaya bagi kelangsungan hidup rahim.

Sialan... ternyata rasa sakit melilit hebat semalam murni terjadi karena keteledoran dan keserakahanku sendiri yang asal comot makanan gratisan tanpa mikirin kondisi perut, rutuk Valeria menyesali kebodohannya di dalam hati.

Sang dokter menghela napas pendek sembari melayangkan pertanyaan lanjutan, "Kira-kira... seberapa besar porsi salmon asap mentah yang Anda telan ke dalam perut sepanjang acara pesta semalam?"

Valeria menyahut dengan raut wajah yang dibuat tampak teramat bersalah dan kikuk, "A-ah, porsinya nggak terlalu banyak kok, Dok... seingat saya cuma sekitar empat sampai lima potong garpu kecil saja."

Dokter paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah penuh rasa tidak habis pikir. "Anda ini sebentar lagi akan bertransformasi memikul tanggung jawab moral sebagai seorang ibu, jadi tolong jangan pernah bersikap teledor, masa bodoh, dan sembarangan lagi dalam memperlakukan aset kesehatan fisik tubuh Anda sendiri ke depannya, Nona. Sekarang, mari melangkah ke atas brankar pemeriksaan USG terlebih dahulu demi mendeteksi bagaimana kondisi detak jantung dan keselamatan posisi janin di dalam rahim Anda pasca-kontraksi semalam."

Proses pemeriksaan fisik ginekologi dan pemindaian ultrasonografi (USG) darurat tersebut berlangsung dalam durasi yang teramat singkat dan efisien. Lembar dokumen hasil rontgen medis memperlihatkan sebuah konfirmasi yang melegakan: bahwa kondisi fisik rahim serta posisi perkembangan janin kecil di dalam perut Valeria tercatat masih berada di dalam status yang teramat aman, sehat, dan tidak mengalami tanda-tanda kerusakan atau komplikasi biologis pasca-insiden kram semalam, dengan syarat Valeria wajib menjaga pola makannya dengan ketat ke depan demi melindungi kehamilannya.

Mendengar konfirmasi medis yang menyatakan bahwa calon anak di dalam perutnya ternyata masih bertahan hidup dengan sehat, lubuk hati Valeria mendadak dilanda oleh sebuah pergolakan emosi yang teramat rumit; ia sendiri bahkan tidak sanggup mendefinisikan apakah informasi ini adalah sebuah berita bagus atau justru sebuah kabar buruk bagi kelangsungan takdir hidupnya.

Di satu sisi, sebuah pemikiran dingin sempat melintas di otaknya: Jika saja insiden kram melilit semalam sukses membuat janin di perut ini gugur secara spontan akibat seleksi alam, bukankah hal itu secara instan justru akan sangat menguntungkan posisiku? Aku tidak perlu lagi membuang waktu, energi batin, dan menanggung risiko medis untuk melewati tahapan konsumsi obat aborsi kimia dosis tinggi di hotel nanti.

Namun, Valeria dengan cepat menghapus sapu bersih pemikiran hitam tersebut dari otaknya. Mengingat kembali bagaimana dahsyatnya penderitaan rasa sakit melilit yang menghantam rongga perutnya semalam yang bahkan baru berada di skala kram ringan, ia dipastikan akan kehilangan separuh dari pasokan nyawanya sendiri akibat pendarahan hebat jika janin ini sampai benar-benar mengalami keguguran spontan tanpa penanganan medis yang steril di dalam rumah. Cara sekotor itu terlampau berbahaya untuk keselamatan raganya.

Sementara itu, di belahan kota metropolitan Jakarta yang lain, tepatnya di dalam ruang kerja CEO menara utama Dirgantara Group yang megah. Permukaan ujung-ujung jemari kokoh milik Alessandro Dirgantara tampak bergerak mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja kayu mahoninya secara berkala dengan ritme yang teratur, menciptakan gema ketukan pelan yang konstan di dalam ruangan yang sunyi. Sepasang manik mata hitamnya yang setajam elang tampak terpaku lurus menatap ke arah layar monitor ponsel pribadinya yang tergeletak di atas meja.

Rentetan pesan teks singkat berisi kalimat perhatian dan instruksi sarapan bubur hangat yang ia kirimkan kepada Valeria Francesca semenjak setengah jam yang lalu... sampai detik ini terpantau masih bersih total dari adanya tanda-tanda balasan teks dari pihak sang kekasih.

Siluet tubuh Valeria yang tampak meringkuk membulat di sudut ranjang vila dengan raut wajah memutih pucat menahan penderitaan rasa sakit perut tadi malam... secara konstan terus-menerus berputar secara otomatis di dalam memori otaknya sepanjang hari. Itu adalah catatan sejarah pertama di mana Alessandro melihat sisi kerapuhan dan kelemahan fisik yang teramat nyata memancar dari dalam diri seorang Valeria Francesca.

Tepat pada momen kontemplasi tersebut, daun pintu kaca ruang kerja CEO diketuk pelan dari luar. Sasa Zenita melangkah masuk dengan gerakan anggun yang dibuat-buat, meletakkan secangkir kopi hitam arabika pesanan sang atasan di atas meja kerja, lalu mulai membuka dokumen jadwal operasional harian. "Pak Alessandro, mohon maaf mengonfirmasi ulang. Berdasarkan lembar agenda kerja, Anda dijadwalkan memiliki janji temu makan malam dan lobi bisnis yang teramat penting bersama dengan Direktur Utama Chen dari grup mitra kerja kita tepat pada pukul setengah empat sore nanti. Pihak manajemen sudah menyelesaikan konfirmasi kehadiran."

Alessandro menurunkan fokus pandangan matanya, menatap berkas dokumen di tangan sekretarisnya selama beberapa detik dengan ketenangan yang dingin, sebelum akhirnya membuka suara dengan intonasi bariton yang mantap, "Batalkan janji temu bisnis dengan Direktur Utama Chen sore nanti. Geser seluruh jadwal pertemuannya menjadi besok pagi. Sampaikan kalimat permohonan maaf resmi dari pihak saya, katakan pada sekretarisnya bahwa saya mendadak memiliki sebuah urusan pribadi yang teramat mendesak dan tidak bisa ditinggalkan hari ini."

Mendengar instruksi pembatalan sepihak tersebut, Sasa Zenita seketika tertegun kaku di tempatnya berdiri. Ia bersusah payah menekan gejolak keterkejutan dan rasa tidak setuju yang meletup hebat di dalam lubuk batinnya, lalu mencoba meluncurkan kalimat solusi alternatif dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, "Mohon maaf sebelumnya, Pak Alessandro... jika boleh saya memberikan saran darurat, bagaimana jika saya berkoordinasi ulang dengan pihak asisten Direktur Utama Chen untuk menggeser jam pertemuannya menjadi pukul setengah tujuh malam nanti saja? Dengan begitu, Anda tetap akan memiliki sisa waktu yang teramat longgar untuk menuntaskan seluruh urusan pribadi Anda di sore hari tanpa perlu mengorbankan jalannya agenda lobi bisnis strategis perusahaan kita hari ini."

Ekspresi wajah Alessandro tetap terlihat kaku, datar, dan acuh tak acuh tanpa riak emosi saat ia meluncurkan kalimat penolakan mutlak yang murni menghancurkan seluruh ekspektasi sang sekretaris, "Nggak usah digeser ke jam malam. Langsung pindahkan saja seluruh agendanya ke esok hari. Kondisi kesehatan fisik Valeria sedang terganggu di rumah; saya memutuskan untuk segera pulang ke vila sore ini murni untuk memeriksa perkembangan kondisinya secara langsung."

Setelah menyelesaikan kalimat keputusannya, Alessandro tidak memberikan celah bagi Sasa Zenita untuk menyuarakan argumen baru. Ia langsung menyambar mantel jas kerjanya, meraih kunci mobil Bentley hitam di atas meja, lalu melangkah tegap melintasi ambang pintu ruangan meninggalkan area kantor pusat.

Menatap lurus ke arah siluet punggung tegap Alessandro yang bergerak pergi meninggalkan koridor kantor demi seorang wanita, seluruh topeng keramahan profesional di wajah cantik Sasa Zenita seketika runtuh total tanpa sisa, digantikan oleh ekspresi kedengkian, kecemburuan, dan amarah yang teramat pekat membakar dadanya. Ia sudah mengabdi bekerja mendampingi Alessandro selama lebih dari setengah tahun lamanya di menara korporasi ini, dan di sepanjang ingatan memorinya, Alessandro Dirgantara adalah sosok pemimpin gila kerja yang mutlak tidak akan pernah sudi mematikan atau mengorbankan jalannya sebuah agenda lobi bisnis strategis yang bernilai miliaran rupiah hanya demi kepentingan ego siapa pun di dunia ini!

Lalu sekarang... hak istimewa dan perlakuan khusus yang teramat mahal tersebut mendadak didelegasikan secara cuma-cuma murni hanya karena urusan kram perut ringan dari seorang wanita vulgar nan kelas rendah seperti Valeria Francesca?!

Sialan... lihat saja nanti, Valeria. Aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan wanita parasit seperti kamu bisa bertingkah sok berkuasa dan mengikat hidup Pak Alessandro lebih lama lagi! maki Sasa Zenita di dalam batinnya yang dipenuhi dendam kesumat, sembari mencengkeram erat map dokumen di tangannya hingga berkerut kusut.

Ketika mobil mewah milik Alessandro akhirnya terparkir dengan mulus di dalam area garasi vila sore harinya, salah seorang pelayan wanita paruh baya langsung datang menyambut kehadirannya dengan takzim di dekat koridor pintu depan. Alessandro menyerahkan mantel jasnya, lalu melayangkan pertanyaan singkat, "Di mana Valeria sekarang?"

"Tuan Muda Alessandro... Nona Valeria sejak siang tadi setelah pulang dari luar terpantau langsung melangkah naik ke lantai atas dan saat ini sedang tertidur lelap di dalam kamar utamanya," lapor sang pelayan dengan suara rendah.

Alessandro menganggukkan kepalanya pelan, lalu melangkah mantap menyusuri anak tangga menuju ke arah kamar tidur utama di lantai dua. Ia mendorong daun pintu kayu jati kamar secara perlahan tanpa menimbulkan suara bising, melangkah masuk ke dalam ruangan yang suasananya tampak teramat tenang dan kedap udara.

Di atas permukaan ranjang raksasa, tubuh Valeria tampak sedang berbaring dengan posisi miring yang tenang di balik selimut tebal, dengan ritme hembusan napas yang terdengar teratur dan stabil—sebuah indikasi visual yang menjelaskan bahwa kondisi warna kulit di wajah cantiknya kini telah jauh membaik dan memancarkan rona kesegaran yang normal jika dibandingkan dengan kepucatan semalam.

Namun, tepat pada detik saat Alessandro melayangkan pandangan matanya memeriksa ke arah permukaan meja nakas di samping tempat tidur, sepasang manik mata hitam miliknya mendadak menangkap keberadaan sebuah kantong plastik kemasan medis rumah sakit berwarna putih yang tergeletak di sana, memancarkan visualisasi yang teramat mencolok dan kontras di dalam kamar.

Alessandro melangkah maju beberapa tapak kaki mendekati area nakas. Didorado oleh ketajaman insting pelindung dan rasa ingin tahunya untuk mendeteksi jenis obat atau suplemen apa yang sebenarnya diresepkan oleh dokter untuk kesehatan lambung kekasihnya, ia secara refleks mengulurkan tangan kanannya ke depan, berniat untuk menyambar dan memeriksa lembar label dokumen medis yang tertempel di permukaan kantong plastik tersebut.

Tepat pada momen di mana ujung-ujung jemari kokoh milik Alessandro baru saja menyentuh permukaan plastik medis hingga menimbulkan bunyi gemerisik halus, kesadaran tidur Valeria mendadak tersentak bangun dari fase lelapnya akibat sensitivitas alarm kewaspadaannya yang tinggi. Menatap pemandangan mengerikan di mana telapak tangan Alessandro sudah berada dalam jarak satu senti siap menguliti isi kantong obat rumah sakit ginekologinya, Valeria seketika dirundung oleh rasa terkejut dan ketakutan tingkat tinggi yang membuat jiwanya seolah terbang keluar dari raga.

Tanpa membuang waktu satu milidetik pun demi berpikir, Valeria dengan gerakan refleks yang super cepat laksana kilat langsung meluncurkan seluruh tubuhnya ke arah depan, menjangkau sekuat tenaga, lalu menyambar paksa kantong plastik medis tersebut dari sela-sela jangkauan jemari Alessandro dalam satu gerakan sentakan yang teramat agresif dan defensif.

Ia memeluk erat kantong obat itu di depan dadanya sembari mendudukkan posisi tubuhnya di atas kasur dengan napas yang memburu pendek, menatap Alessandro dengan sepasang mata bulat yang membelalak panik. "K-kamu... kamu kenapa bisa mendadak ada di dalam kamar ini tanpa suara?! Kenapa sore-sore begini kamu udah pulang dari kantor, Ales?!"

Gerakan telapak tangan Alessandro seketika membeku kaku di udara terbuka, tertahan tepat di posisi tempat kantong plastik itu berada beberapa detik lalu. Pria berkuasa itu secara perlahan menarik kembali lengannya, menegakkan postur tubuh tingginya hingga berdiri kokoh di samping ranjang, lalu menurunkan pandangan matanya yang teramat tajam, dingin, gelap, dan sarat akan intensitas interogasi mendalam yang mengunci lurus ke arah raut wajah Valeria yang dipenuhi oleh kepanikan yang tidak bisa disembunyikan.

Suara bariton Alessandro terdengar bergaung rendah penuh penekanan konstan saat meluncurkan sebuah pertanyaan skakmat yang seketika membungkam seluruh pasokan udara di dalam kamar:

"Valeria... kenapa kamu harus bersikap sepanik dan se-defensif itu cuma karena urusan sekantong obat? Kamu... hari ini diam-diam habis pergi berkunjung ke rumah sakit tanpa sepengetahuan saya, kan?"

___

Bersambung~~

1
Putri Amalia
semoga ngk Hiatus yah author 😭
FearMe: semoga ya😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!