"Ugh..
aku harus..."
Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.
tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 15 : Terlambat
"Oh ya." Theo segera bangkit dari tempat tidurnya.
"Paman, Dimana Lucy dan Silas?" tanya Theo dengan tergesa-gesa.
"Baru saja berangkat, emang kenapa? Kok buru-buru banget."
"Oh, nggak papa paman, cuma ada sedikit urusan. Theo pergi dulu paman."
Theo segera berlari keluar penginapan, menuju kuil.
Beruntung, di jalan Theo bertemu dengan Robert.
"Maaf, aku lupa." Theo segera menghampiri Robertus dan menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa, tenang saja aku juga terlalu terburu-buru. Lagian, kamu kan baru saja sampai. Jadi, memang harusnya aku membiarkan kamu istirahat dulu."
"Makasih, oiya ngomong-ngomong, kita mau ke mana?"
"Rubanah Suci."
Robertus segera berjalan menuju kuil. Theo pun mengekorinya, takut tersesat di dalam kuil yang megah.
Sesampainya mereka di sebuah lorong sempit yang buntu, Theo memberanikan diri untuk bertanya.
"Umm... Maaf, kok kita ke jalan buntu ya?"
"Lihat saja."
Robertus memajukan tangannya, lalu menyentuh dinding di ujung lorong.
Krek!
Greek!
Dinding itu perlahan menghilang, menyisakan jalan baru ke sebuah ruangan yang terlihat besar.
"Woah." Theo terpana dengan pemandangan di hadapannya.
Berdiri pilar-pilar megah, dan banyak tabung-tabung alkemis yang sangat rumit dan mendebarkan. Anehnya, entah bagaimana Theo merasa peralatan itu mirip dengan alat kimia di kehidupannya di bumi.
"Selamat datang di 'Rubanah Suci' tempat para alkemis mendedikasikan ilmu, dan pengetahuan mereka."
Theo berkeliling, mencari alkemis di situ. Namun, ia tidak melihat sedikitpun alkemis di rubanah itu.
"Hei, dimana para alkemis? Kenapa mereka nggak ada?"
"Mereka libur, ini kan hari libur Kerajaan Barat. Tentu saja kita harus meliburkan para alkemis."
"Ooo, ngomong-ngomong, ada gerangan apa aku diminta ke sini?"
"Aku mau membicarakan ini."
Clap!
Robertus menepuk tangannya, seketika membuat ruangan menjadi bergetar.
Grrr!
"Eh, ada apa?" Theo terlihat gusar dan tidak tenang dengan gempa kecil di ruangan itu.
"Tenang saja."
Sebuah tangki kaca perlahan muncul di tengah ruangan.
Di dalamnya, terdapat seekor anjing dan seorang manusia yang sudah mulai bertransformasi.
"Setelah aku meneliti penyakit ini, aku mencoba menginfeksikan dua orang dengan lumatan sisik dan daging tumbuh."
Anjing itu terlihat memberontak, sedangkan orang yang sedang bertransformasi terlihat meringkuk tidak punya tenaga.
"Aku akhirnya mencoba menggunakan mukjizat percepatan waktu. Bisa kamu lihat hasilnya."
Robertus menunjuk ke arah tabung kaca, menunjukkan ekspresi kagum dan bangga.
"Gila! Kamu gila!" Theo segera berlari dan mencekik kerah jubah yang digunakan Robert.
"Ada apa? Lagipula, mereka bukanlah manusia."
"Apanya yang bukan? Lihat itu ada orang, dan aku yakin anjing itu sebelumnya juga orang." Theo marah dan hendak memukul Robert.
"Seorang pemerkosa, korbannya berjumlah 7 wanita. Semua dibunuh, di perkosa dan di mutilasi. Seorang pembunuh berantai, korbannya 12 keluarga." Robertus tidak terlihat takut, maupun larut dengan emosinya.
"Apa?" Theo menutup mulutnya.
"Hehehehe, kalau begitu. Aku punya sesuatu."
Theo segera mengeluarkan segelas cairan yang dia buat sebelumnya.
"Ukh, barang bau apa yang kau bawa?" Robertus segera menutup hidungnya dengan lengan jubah panjangnya.
"Ini minuman yang aku berikan kemarin. Namun, aku membuatnya lebih banyak dengan rasio waktu yang lebih lama."
Theo kemudian mengeluarkan minyak dan herbal yang sudah pernah ia buat.
"Umm... Kalo boleh tau, aku bisa buka tabung ini nggak ya?"
Robertus menarik sebuah tuas, membuka tutup besi di atas tabung.
Theo memanjat sisi tabung, lalu ia menuangkan sedikit air cukanya.
"Argh!" Orang yang bertransformasi menjadi anjing berteriak kencang.
"Wah, lihat sisik dan dagingnya mulai meleleh." Robertus memandang orang itu, terpukau dengan kejadian yang ada di depannya.
"Hmm, baiklah sepertinya cuka cukup efektif menghilangkan sisik dan daging itu."
Theo kemudian turun dan menatap ke arah Robertus.
"Hebat, hebat, hebat. Cuma kamu orang yang bisa setidaknya mengurangi sisik itu."
Clap! Clap! Clap!
Robertus menepuk tangannya kagum dengan pencapaian Theo.
"Ngomong-ngomong, gimana kalo kamu coba mengobati tahanan itu?"
Theo segera menyambut baik ide dari Robertus, lalu ia segera memanjat tabung itu lagi.
"Argh!"
Teriakan demi teriakan keluar dari mulut tahanan yang mulai menunjukkan tanda-tanda pulih dari penyakit.
"Brengsek! Kalian seenaknya dengan diriku."
"Kau sudah membunuh 12 keluarga, artinya kau sudah main main dengan nyawa orang. Sekarang, giliranku." Theo membalas sambil kesenangan menyiramkan minuman asam yang sudah ia buat.
Tidak lama, orang itu pulih.
Aneh, sungguh aneh. Orang itu tidak diterkam oleh anjing di sebelahnya.
"Hmm, tolong ambilkan aku darah."
Robertus mencari kantong di sekitarnya, lalu melemparkannya ke Theo.
Syuurr
"Aduh, tanganku kepleset," ucap Theo berpura-pura panik.
"Aaaa, argh!"
Anjing gila yang mencium aroma darah sontak menerkam tahanan yang telah pulih itu.
"Ok, Eh... Robertus, gimana kalo kita coba pake cuka yang aku buat lagi untuk nyembuhin yang satu ini?"
"Boleh, terserah kamu aja." Robertus mengiyakan ide Theo dan menganggukan kepalanya.
Theo segera mengeluarkan cuka dengan sihir ruangnya. Lalu, ia menuangkan cuka itu ke anjing di hadapan.
Grrr, Graung!
Anjing itu meronta kesakitan, tapi terlihat jelas bahwa beberapa bagian tubuhnya mulai terlihat pulih dan kembali menjadi manusia.
Tangan, kaki, bahkan wajah anjing itu telah berubah menjadi bagian manusia.
"Graum, Guk Guk Guk!" Manusia itu meronta-ronta, mencoba melawan rasa sakit yang diberikan Theo.
Ketika Theo hendak mengeluarkan cukanya lagi.
"Ha? Kok nggak mau keluar cukanya? Apa udah abis ya? Robertus, bisa minta tolong ditutup lagi nggak tabungnya?"
Robertus merespon pertanyaan Theo dengan mengangguk, lalu ia mengangkat tangannya.
Tabung itu kembali tertutup, mengurung monster setengah manusia di dalam.
Buk!
Boom!
Boom!
Anjing itu mencoba menabrakan dirinya ke dinding, mencoba kabur dari tabung itu.
"Eh Theo, ini sudah waktunya makan siang. Ayo kita makan bersama."
"Eeeh? Sudah waktunya makan siang? Bukannya masih lama ya?"
"Sekarang udah waktunya."
Theo segera turun dari atas tabung itu.
Hup
Mereka berjalan ke luar rubanah, menuju sebuah ruangan dengan makanan yang sudah disajikan di meja.
"Selamat makan!" Ucap Theo dengan lantang di depan Robertus.
"Uhm... Kakak?" White mendongakkan kepalanya dan melihat sajian di depannya.
"White? Akhirnya kamu bangun. Ngomong-ngomong, kamu mau ke ruang jiwaku? Di sana ada inti dari Leviathan yang kita lawan kemaren," bisik Theo kepada White.
"Hehehe, senangnya..."
White segera melingkari tangan Theo, kemudian Theo mengirim White ke ruang jiwanya.
"Theo kok bisa kamu nyembuhin mereka?" Robertus mulai membuka obrolannya, berharap bisa mendapatkan sedikit informasi dari Theo.
"Umm... Di tempatku, cuka sering dipakai untuk menyembuhkan luka."
"Hmm, ok aku catat." Robertus segera mengambil selembar kertas dan mencatat informasi yang baru di dapatnya dari Theo.
Tiba-tiba, terdengar ledakan di Rubanah Suci.
Duar!
"Ada apa?"
Theo dan Robertus segera berlari ke arah Rubanah Suci meninggalkan ruang makan.
...****************...
End Ch. 15 : Terlambat
Makasih semuanya sudah baca karyaku.
Jangan lupa like, comment dan favorit.