NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUNGA SALJU DAN DEBU JALANAN

•​ Ranah Pemurnian Tubuh (Body Refining): Level 1-9 (Fokus pada kekuatan otot dan tulang).

•​ Ranah Pengumpulan Qi (Qi Gathering): Level 1-9 (Mulai menyimpan energi alam di Dantian).

•​ Ranah Pondasi Dasar (Foundation Establishment): Level Awal, Tengah, Puncak (Energi menjadi cair).

•​ Ranah Inti Sejati (True Core): (Puncak kekuatan di wilayah kerajaan).

•​ Status Han Feng: Secara fisik berada di Puncak Pemurnian Tubuh, namun secara kualitas energi (Dantian Emas), ia mampu menekan lawan di level Pengumpulan Qi.

...****************...

​Sekte Pedang Langit hari ini tidak seperti biasanya. Sejak fajar menyingsing, atmosfer di puncak utama terasa bergetar oleh energi dingin yang menyegarkan. Sembilan dentuman lonceng emas bergema, memecah kabut pagi dan memanggil seluruh murid untuk berkumpul di gerbang dalam.

​"Dia keluar! Jenius nomor satu kita, Kakak Senior Su Yan, akhirnya menyelesaikan meditasi panjangnya!" seru seorang murid dengan wajah memerah penuh semangat.

​Su Yan. Nama itu adalah legenda di Sekte Pedang Langit. Di usianya yang baru sembilan belas tahun, dia dikabarkan telah menyentuh Ranah Pondasi Dasar, sebuah pencapaian yang bahkan sulit diraih oleh beberapa Tetua dalam waktu lima puluh tahun.

​Di tengah kehebohan itu, Han Feng berdiri di pinggir kolam teratai yang terletak di jalur utama menuju aula besar. Tugasnya hari ini sangat rendah: menguras lumpur dan membersihkan lumut yang menempel di dasar kolam. Celana pelayannya digulung hingga lutut, tubuhnya basah kuyup oleh air keruh, dan tangannya memegang jaring pembersih.

​Han Feng tidak menoleh ke arah kerumunan. Baginya, riuh rendah itu hanyalah kebisingan yang mengganggu konsentrasinya dalam menyelaraskan napas dengan Sutra Dewa.

​"Minggir! Beri jalan untuk Kakak Senior!"

​Rombongan murid inti mulai melintas. Di tengah-tengah mereka, seorang wanita berjalan dengan keanggunan yang seolah mampu membekukan udara di sekitarnya. Su Yan mengenakan jubah sutra putih bersih dengan sulaman perak berbentuk bunga plum. Kulitnya seputih salju, dan wajahnya memiliki kecantikan yang dingin, tak tersentuh, seolah ia adalah dewi yang turun dari langit ke bumi yang kotor.

​Saat ia berjalan melewati kolam, aura dingin dari teknik Hati Salju Abadi miliknya membuat air kolam yang sedang dibersihkan Han Feng sedikit membeku di permukaannya.

​Sret.

​Sebuah sapu tangan sutra berwarna putih yang terselip di pinggang Su Yan tertiup angin dan jatuh tepat di atas tumpukan lumpur di dekat kaki Han Feng.

​Langkah kaki rombongan itu terhenti. Su Yan menunduk, matanya yang jernih namun dingin menatap sapu tangannya yang kini ternoda kotoran. Han Feng, yang berada paling dekat, secara refleks membungkuk dan mengambil sapu tangan itu.

​"Ini milikmu," ucap Han Feng tenang.

​Ia berdiri tegak dan mengulurkan sapu tangan itu. Untuk sesaat, mata mereka bertemu.

​Su Yan tertegun. Di depannya berdiri seorang pria yang basah kuyup dan kotor, namun memiliki wajah yang—bahkan di mata seorang jenius sepertinya—terlihat sangat sempurna. Tapi bukan ketampanan itu yang membuatnya diam sesaat, melainkan mata Han Feng. Mata itu tidak menunjukkan pemujaan, tidak menunjukkan rasa malu, dan tidak memiliki ketakutan. Mata itu jernih seperti telaga kuno yang tak berdasar.

​Su Yan merasakan getaran aneh di dalam Dantiannya, seolah-olah energinya merasa terintimidasi oleh kehadiran pria di depannya. Siapa dia? Murid inti baru? pikirnya.

​Namun, keheningan itu segera pecah.

​"Kurang ajar! Beraninya sampah sepertimu menyentuh barang milik Kakak Senior Su!"

​Li Wei, yang masih menggunakan perban tersembunyi di bawah lengan bajunya, merangsek maju dan menyentakkan tangan Han Feng hingga sapu tangan itu jatuh kembali ke tanah.

​"Kakak Senior Su, jangan tertipu oleh wajahnya!" Li Wei berkata dengan nada jijik yang dipaksakan. "Dia ini Han Feng. Si pelayan sampah yang legendaris di sekte kita. Dia tidak punya bakat, nadinya cacat total, dan dia hanya bisa menyapu lantai. Dia hanya seonggok daging tanpa kegunaan yang kebetulan punya wajah tampan."

​Mendengar itu, murid-murid di sekitar mulai tertawa mengejek.

​"Oh, jadi dia si 'Pangeran Sampah' itu?"

"Benar, dia yang kemarin dilempar ke hutan tapi entah bagaimana kembali merangkak seperti kecoa."

"Kasihan sekali, wajah dewa tapi nasibnya lebih rendah dari anjing penjaga."

​Su Yan mendengarkan semua itu dengan ekspresi yang perlahan berubah. Cahaya ketertarikan di matanya padam seketika, digantikan oleh kedinginan yang lebih tajam dari sebelumnya. Di dunia kultivasi, bakat adalah segalanya. Seseorang tanpa bakat, tidak peduli seberapa tampannya dia, hanyalah debu yang akan hilang ditiup waktu.

​Su Yan menarik napas pendek. Ia melihat sapu tangannya yang tergeletak di lumpur, lalu menatap Han Feng sejenak—kali ini dengan tatapan meremehkan yang murni.

​Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan rasa kasihan yang merendahkan. Ia bahkan tidak sudi mengambil kembali sapu tangannya.

​"Buang saja sapu tangan itu. Sudah kotor," ucap Su Yan dengan suara yang terdengar seperti es yang pecah.

​Tanpa sepatah kata pun lagi, ia berbalik dan melanjutkan perjalanannya. Baginya, Han Feng bukan lagi teka-teki yang menarik, melainkan hanya gangguan kecil di jalan menuju puncak keabadian. Baginya, berbicara lebih lama dengan seorang pelayan tanpa bakat adalah penghinaan terhadap statusnya.

​Rombongan itu pergi, meninggalkan Han Feng yang masih berdiri di tepi kolam. Li Wei sempat meludahi lumpur di depan Han Feng sebelum menyusul Su Yan.

​"Ingat posisimu, sampah. Kau dan Kakak Senior Su berada di dunia yang berbeda!" teriak Li Wei.

​Han Feng tetap diam. Ia melihat sapu tangan sutra di bawah kakinya, lalu menatap punggung Su Yan yang kian menjauh. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak ada rasa sakit hati.

​Melalui mata Sutra Dewa, Han Feng justru melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun, bahkan oleh Master Sekte sekalipun.

​“Teknik Hati Salju Abadi... dia memaksa energinya mengalir ke arah terbalik di nadi ketiga untuk mencapai kecepatan tembus ranah,” batin Han Feng sambil menggelengkan kepala tipis.

​“Dingin di luar, tapi terbakar di dalam. Dalam tiga tahun, jika dia tidak memperbaiki jalur energinya, semua kultivasi yang dia banggakan itu akan menghancurkan organ dalamnya sendiri. Jenius? Dia hanya orang buta yang berlari menuju jurang.”

​Han Feng memungut sapu tangan itu, namun bukan untuk menyimpannya sebagai kenangan. Ia menggunakannya untuk mengelap sisa lumpur di tangannya, lalu melemparkannya ke tempat sampah dengan gerakan santai.

​Baginya, Su Yan bukan seorang dewi. Dia hanyalah seorang kultivator cacat yang terlalu sombong dengan pengetahuan dangkalnya.

​"Dunia yang berbeda?" Han Feng bergumam kecil sambil kembali mengambil jaring pembersihnya. "Benar. Kita memang berada di dunia yang berbeda. Tapi kalian salah melihat siapa yang berada di atas, dan siapa yang berada di bawah."

​Ia kembali menyapu lumut di dasar kolam dengan gerakan ritmis. Di permukaan, ia tetaplah si pelayan sampah yang dihina. Namun di dalam tubuhnya, energi emas dari Sutra Dewa terus berputar, makin padat, makin kuat, menunggu saat yang tepat untuk meledak dan menunjukkan pada seluruh dunia siapa sebenarnya penguasa sejati di bawah langit ini.

​Matahari makin terik, dan Han Feng terus bekerja dalam kesunyian, mengasah pisau kehendaknya di balik topeng seorang pelayan yang terlupakan.

1
dikoiku
Luar biasa
Danzo28: Terima kasih! Bagian mana yang menurutmu paling luar biasa di bab ini? Saya penasaran dengan sudut pandang pembaca."
total 1 replies
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!