SINOPSIS
Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.
Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 PAGI YANG BARU
Pagi yang Baru
Keesokan harinya, matahari pagi bersinar cerah. Tepat jam 07.00 pagi, Alesia sudah berdiri tegak di depan cermin besar di kamarnya. Ia telah rapi mengenakan seragam SMA Binara 2 yang pas di tubuhnya. Kakinya ditopang oleh sepatu hitam model hak boots yang memberikan kesan tegas namun modis. Rambut lurusnya dibiarkan terurai indah ke bahu. Dengan sentuhan make-up natural yang diajarkan mamanya, wajah Alesia terlihat luar biasa cantik, segar, dan memancarkan aura yang berbeda dari sebulan lalu.
"Sudah siap. Semoga aku bisa menjadi lebih baik dan lebih kuat di sekolah baruku," gumam Alesia pada bayangannya di depan cermin. Ia tersenyum penuh keyakinan, menarik napas dalam, lalu melangkah keluar dari kamarnya.
"Mama, aku berangkat ya!" seru Alesia begitu sampai di lantai bawah.
Mama Alesia yang sedang mempersiapkan sesuatu di meja makan langsung menoleh. Matanya berbinar takjub. "Wah... anak Mama cantik sekali hari ini!" puji sang mama tulus, berjalan mendekat lalu mencium kening putrinya dengan penuh kasih. "Ini kotak bekalmu," lanjut sang mama sambil menyodorkan sebuah kotak bekal beserta botol air minum yang senada.
Tanpa menunggu, mama Alesia dengan cekatan membantu melepaskan tas punggung yang dipakai Alesia, membuka ritsletingnya, lalu menata kotak bekal dan botol minum itu dengan rapi di dalam tas sebelum memakaikannya kembali ke punggung sang anak.
"Makasih banyak, Mama," Alesia tersenyum manis, merasa sangat dihargai dan disayangi.
"Apa mau Mama antar pakai motor?" tanya sang mama menawarkan, sedikit khawatir melepas putrinya di hari pertama.
Alesia menggeleng pelan sambil tersenyum tenang. "Tidak usah, Mama. Aku akan naik bus umum saja untuk pergi ke sekolah. Lagi pula halte bus dekat dari sini."
Mamanya sempat bersikeras dan terus memaksa ingin mengantar karena takut Alesia terlambat atau merasa tidak nyaman. Namun, Alesia dengan lembut menolak tawaran tersebut. Alesia tahu betul bahwa jam-jam segini adalah waktu tersibuk di toko kue mereka. Banyak pengunjung pagi yang datang untuk mencari sarapan, dan para karyawan pasti akan kewalahan jika mamanya pergi mengantarnya yang memakan waktu hampir dua jam pulang-pergi. Akhirnya, melihat keteguhan mata anaknya, sang mama pun mengiyakan.
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan ya, sayang. Semangat!" ucap mamanya melambaikan tangan.
Alesia pun berpamitan, mencium tangan ibunya, lalu melangkah keluar rumah menuju halte bus yang letaknya memang tidak jauh dari kompleks rumahnya.
Pertemuan di Atas Bus
Tidak butuh waktu lama bagi Alesia untuk menunggu. Sebuah bus kota jalur sekolah berhenti tepat di depannya. Begitu Alesia melangkah naik melewati pintu bus, sang sopir bus langsung menatapnya dengan pandangan heran sekaligus kagum. Sopir bus ini sudah sangat mengenali Alesia karena jalur rumahnya yang searah, namun ini adalah kali pertama ia melihat Alesia berdandan sedemikian rupa.
"Alesia, bukan?" ujar pengemudi bus memastikan dengan nada heran.
"Iya, Om. Aku Alesia," jawab Alesia ramah seraya mengulas senyum manis.
"Wah, kamu cantik sekali hari ini! Tapi... apa kamu pindah sekolah? Mengapa memakai seragam yang berbeda?" tanya sang sopir bus penasaran, matanya melirik lambang di dada Alesia.
"Iya, Om, aku baru saja pindah sekolah. Oh iya Om, udah dulu ya nanyanya, kita berangkat sekarang yuk, takut saya telat nanti," sahut Alesia halus. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin masa lalunya diulik kembali.
"Oh, ya sudah. Alesia, kamu cari duduk di sana ya," sahut sopir bus sambil mulai menjalankan kendaraannya.
"Iya, Om, terima kasih." Alesia mulai melangkah koridor bus untuk mencari tempat duduk. Namun, kondisi di dalam bus pagi itu sangat padat dan penuh sesak. Maklum, ini adalah jam sibuk di mana semua orang berhamburan untuk berangkat kerja, sekolah, maupun kuliah.
Mata Alesia menyapu seluruh sudut bus. Beruntung, di barisan agak belakang, hanya tersisa satu tempat duduk yang kosong. Kursi kosong itu berada tepat di sebelah seorang cowok yang mengenakan seragam yang persis sama dengannya—seragam SMA Binara 2.
Cowok itu tampak tidak peduli dengan sekelilingnya. Ia duduk menyamping, wajahnya menghadap ke jendela bus luar sambil mendengarkan musik dengan headset putih yang menyumbat kedua telinganya.
Alesia melangkah mendekat. "Permisi... apa aku boleh duduk di sini?" ujar Alesia cukup keras.
Namun, cowok itu sama sekali tidak menyahut atau menoleh sedikit pun. Dentum musik dari headset-nya tampaknya terlalu keras menulikan kesadarannya dari dunia luar.
Merasa tidak ada pilihan lain, Alesia akhirnya nekat melambaikan tangan kanannya tepat di depan wajah cowok itu. "Halo... halo?" panggil Alesia berulang kali.
Merasakan ada gerakan yang mengganggu pandangannya, cowok itu tersentak pelan. Ia menurunkan pandangannya, lalu melirik Alesia dengan tatapan mata yang sangat dingin dan datar. Ia melepas sebelah headset-nya. "Ada apa?" tegurnya dengan nada suara yang terdengar ketus dan tak bersahabat.
Alesia tidak gentar. "Boleh aku duduk di sini? Karena cuma tersisa kursi di sebelahmu saja yang kosong," ujar Alesia sambil menunjuk kursi di samping cowok itu.
Cowok itu memperhatikan penampilan Alesia sekilas dari atas ke bawah. "Oh, silakan," balas cowok itu singkat dan dingin, lalu kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela luar bus.
"Terima kasih." Alesia pun segera duduk di samping cowok asing tersebut. Selama perjalanan, atmosfer di antara mereka terasa sangat canggung. Alesia sesekali melirik sedikit ke arahnya.
Di sisi lain, cowok itu sebenarnya menyadari kehadiran Alesia. Dari pantulan kaca jendela bus, Gian bisa melihat dengan jelas bahwa seragam yang dikenakan cewek di sampingnya ini sama persis dengan seragamnya. Gian juga sempat melirik wajah Alesia dari samping yang sedang fokus memandang ke arah depan bus.
“Seperti familiar…” batin Gian penuh tanya. Ia mencoba mengingat-ingat barangkali cewek, apa pernah bertemu sebelumnya.
Namun, setelah beberapa detik berpikir dan tidak menemukan jawaban, Gian memilih untuk mengabaikannya. “Ah, mungkin cuma perasaanku saja,” gumam Gian dalam hati, memilih untuk kembali memasang headset-nya dan tidak memperdulikan hal itu lagi.
Gerbang SMA Binara 2
Hampir lima puluh menit berlalu, laju bus kota itu akhirnya melambat dan berhenti tepat di halte depan kompleks gedung SMA Binara 2.
Alesia dan Gian bergerak bersamaan untuk turun dari bus. Mereka mengantre di pintu depan, tak lupa membayar ongkos perjalanan kepada kernet bus, lalu menapakkan kaki di atas trotoar jalan.
Alesia menghentikan langkahnya sejenak. Ia mendongak, menatap lurus ke arah papan nama besar bertuliskan SMA BINARA 2 yang terpampang di atas gerbang sekolah. Dari luar, sekolah ini memang terlihat tidak semewah dan tidak seterkenal sekolah lamanya, SMA Nuansa 1. Namun, arsitektur bangunannya yang rapi dan suasana pepohonan yang rindang di dalamnya membuat Alesia merasa kagum sekaligus tenang. Tempat ini terasa seperti tempat yang aman untuk memulai segalanya dari awal.
Dengan helaan napas panjang untuk mengusir sisa-sisa keraguan, Alesia memantapkan hatinya. Ia pun mulai melangkah masuk melewati gerbang sekolah, siap menghadapi takdir barunya.