Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri Yang Menghilang
Suasana kamar langsung berubah tegang. Duke Cedric Vareinne menatap pelayan itu tajam.
“Apa maksudmu menghilang?” tanya Duke Cedric khawatir.
Pelayan tersebut tampak hampir menangis. “K-Kamar Nona Lunaria sudah kosong sejak pagi…” katanya.
“Pelayan pribadinya bilang beliau tidak kembali ke kamarnya semalaman." sambung pelayan itu.
Mata Arcelia Vareinne langsung menyipit.
"Terlalu cepat. Seseorang mulai bergerak lagi." batin Arcelia.
“Cari ke seluruh mansion,” perintah Duke Cedric dingin. “Sekarang.!” teriak Duke Cedric.
“B-Baik!” katanya. Pelayan itu langsung berlari pergi.
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Namun kali ini suasananya jauh lebih berbahaya.
Di atas meja, Auriel menundukkan telinga perlahan. “Ini buruk.”
“Apa menurutmu dia diculik?” tanya Arcelia.
Auriel terlihat berpikir. “Belum tentu. Tapi waktunya terlalu mencurigakan.” kata Auriel.
Duke Cedric mengusap pelipisnya keras. Duke Cedric terlihat sangat frustasi melihat keadaan mansion miliknya.
Baru beberapa hari yang lalu racun terbongkar.
Pagi ini identitas keluarga lama mulai muncul.
Dan sekarang Lunaria menghilang.
Semuanya terjadi terlalu cepat.
“Ayah.” panggil Arcelia.
Duke Cedric menoleh dan menatap Arcelia.
“Terakhir kali Ayah melihat Lunaria kapan?” tanya Arcelia.
“Malam itu.” jawab Duke Cedric.
Tatapan pria itu berubah sedikit rumit. “Setelah percakapan di lorong.” sambung Duke Cedric.
Berarti setelah Arcelia sengaja menekan Lunaria soal surat-surat yang hilang.
“Apa Ayah yakin dia tidak kabur sendiri?” tanya Arcelia karena memikirkan beberapa kemungkinan.
Duke Cedric terkejut dan tidak terpikirkan. “Kabur?” tanya Duke Cedric.
“Kalau seseorang mulai takut rahasianya terbongkar, bukankah itu mungkin?” kata Arcelia mencoba menyadarkan ayahnya.
Lilian langsung terlihat gugup. “Nona…”
Namun Arcelia tetap tenang karena kemungkinan itu memang ada.
Dan reaksi Lunaria kemarin malam terlalu mencurigakan.
“Aku tidak tahu,” jawab Duke Cedric akhirnya.
Suara Duke Cedric terdengar jauh lebih lelah sekarang.
Auriel tiba-tiba melompat turun dari meja dan bulunya sedikit bercahaya.
“Ada sisa aura.” kata Auriel yang mendeteksi.
“Aura?” kata Duke Cedric.
Auriel mengendus udara pelan seperti rubah sungguhan. Lalu matanya menyipit.
“Takut. Dan… darah.” kata Auriel.
Semua orang terkejut dan Duke Cedric langsung bergerak cepat.
“Di mana?." tanya Duke dengan cepat.
Auriel berjalan menuju pintu. “Arahnya dari lorong sebelah Timur.” kata Auriel sambil menatap jauh kearah timur.
Mereka langsung bergerak dengan sangat cepat.
Langkah kaki bergema cepat di koridor mansion yang panjang. Para pelayan buru-buru menyingkir saat melihat Duke berjalan dengan aura dingin menyesakkan.
Arcelia berjalan tepat di belakangnya.
Sementara Auriel berlari kecil di lantai marmer.
“Nona…” Lilian berbisik gugup. “Kalau benar ada darah…Berarti seseorang terluka.” kata Lilian.
Tatapan Arcelia perlahan berubah tajam, "Atau dibungkam." batin Arcelia menggertak kan giginya.
Mereka berhenti di lorong timur lantai dua.
Tempat yang sangat jarang digunakan. Bahkan debu tipis terlihat di sudut-sudut dinding.
Auriel tiba-tiba berhenti di depan sebuah pintu kecil.
"Ini gudang lama." kata Duke Cedric sambil menatap pintu itu.
“Di sini.” kata Auriel.
Duke Cedric langsung membuka pintu secara paksa dengan di tendang.
BRAK!
Pintu gudang langsung terbuka. Ruangan gelap itu dipenuhi bau lembap.
Setelah pintu terbuka Lilian langsung menjerit kecil. “N-Nona Lunaria!” teriak Lilian.
Mata Duke Cedric langsung menatap sesosok Lunaria Vareinne yang terbaring di lantai.
Gaun tidurnya sedikit robek dan pergelangan tangannya terluka ringan.
Namun yang paling mengejutkan mata Lunaria itu dipenuhi ketakutan.
“Ayah…!” panggil Lunaria dengan suara serak dan gemetar.
Duke Cedric langsung mendekat. “Apa yang terjadi?!” tanya Lunaria.
Tubuh Lunaria gemetar hebat karena ketakutan, “A-Aku diculik…” katanya suaranya sangat pelan nyaris tidak terdengar.
Arcelia memperhatikan Lunaria dalam diam. "Tidak ada luka serius, tidak ada bekas perlawanan besar. Dan ruangan ini terlalu dekat untuk disebut penculikan sungguhan." kata Arcelia kepada Aurie lewat pikirannya.
Auriel juga tampak menyadari kejanggalan itu. “Dia berbohong.” kata Auriel.
Layar biru transparan tiba-tiba muncul lagi,
[Kebohongan terdeteksi aktif.]
[Kebohongan terdeteksi.]
"Huh.. Jadi benar ini hanya drama kecil." batin Arcelia sambil menatap Lunaria malas.
"Lunaria sedang memainkan drama baru." kata Auriel kepada Arcelia.
“Aku tidak melihat wajahnya…” kata Lunaria sambil menangis kepada Duke Cedric.
“Tiba-tiba saja seseorang menyerangku dari belakang…” lanjut Lunaria.
Duke Cedric membantu gadis itu berdiri dengan wajah dingin, karena dirinya juga merasakan sesuatu yang ganjal.
"Sepertinya ada yang janggal dengan penjelasan Lunaria." batin Duke sambil menatap wajah Lunaria.
“Siapa pun yang melakukan ini akan ayah bunuh." kata Duke Cedric.
Namun Arcelia justru memperhatikan detail lain.
Di tangan Lunaria ada noda hitam kecil di ujung jarinya.
Meskipun sangat samar tetapi sangat familiar. Sangat mirip dengan bubuk racun.
Mata Arcelia menyipit tipis dan Auriel langsung menatap tangan itu juga.
“…Tuan Rumah. Sepertunya dia baru menyentuh racun belum lama ini.” kata Auriel.
"Menarik sekali. Jadi Lunaria bukan sekadar anak manis yang dimanfaatkan ibunya. Dia juga terlibat jauh lebih dalam daripada dugaan awal." kata Arcelia.
"Dan kemungkinan besar dia baru saja bertemu seseorang malam tadi." kata Auriel.
Tepat saat keluarga Arcelia mereka mulai menyentuh rahasia Black Serpent langsung ada kejadian ini, semua terlalu kebetulan.
“Ayah.” panggil Arcelia.
Duke Cedric menoleh ke arah Arcelia. "apa apa?" tanya Duke Cedric.
“Aku rasa kita perlu bicara dengan Lunaria lebih serius nanti.” kata Arcelia.
Ucapan Arcelia membuat Lunaria langsung terkejut dan gemetar.
Tatapan Lunaria bertemu dengan mata merah anggur milik Arcelia.
Dan Arcelia langsung melihat ketakutan yang nyata di mata Lunaria itu.
Bukan takut pada penculik melainkan seperti takut rahasianya akan terbongkar.