NovelToon NovelToon
Mahkota Duri Sang Putri Mati

Mahkota Duri Sang Putri Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: DRR_LOVE

Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.

Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.

Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.

Namun kali ini berbeda.

Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.

Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.

Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Minum Teh

Sore hari mulai turun ketika kereta keluarga Vareinne memasuki halaman mansion.

Perjalanan yang awalnya hanya bertujuan membeli gaun ternyata berubah menjadi hari yang jauh lebih panjang dari perkiraan Arcelia. Atau lebih tepatnya lebih panjang karena Serena Albright.

Begitu turun dari kereta, Serena bahkan masih melambaikan tangan dengan penuh semangat dari keretanya sendiri. "Jangan lupa!"

Arcelia mengangkat alis. "Lupa apa?"

"Undangan minum teh!" Serena menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.

"Besok."

"Lusa."

"Minggu depan."

"Atau kapan saja."

Arcelia menahan senyum. "Kau bahkan belum menentukan waktunya."

"Itu detail kecil."

"Bukan detail kecil."

"Bagi orang yang ingin berteman, itu detail kecil."

Lilian sampai menundukkan kepala untuk menyembunyikan tawanya. Sementara Auriel berbisik pelan dari balik rambut Arcelia.

"Aku mulai mengerti kenapa dia menyenangkan."

"Kau hanya senang karena dia memberimu tiga potong kue."

"Empat."

"Ternyata kau menghitungnya."

"Tentu saja."

Serena tertawa keras mendengar percakapan sepihak yang tidak bisa ia dengar.

Meskipun tidak memahami apa yang sedang terjadi, entah bagaimana ia merasa yakin bahwa rubah kecil itu sedang membicarakannya.

"Aku akan menunggu suratmu!"

teriaknya sebelum kereta keluarga Albright akhirnya bergerak menjauh.

Arcelia memperhatikan kereta itu hingga menghilang dari gerbang utama.

Untuk beberapa saat, ia tetap berdiri diam.

Perasaan hangat yang aneh masih tersisa di dalam dadanya.

Mungkin karena sejak tiba di dunia ini, hampir semua orang yang mendekatinya memiliki tujuan tertentu.

Mencurigainya.

Memanfaatkannya.

Atau mengawasinya.

Serena adalah orang pertama yang tampak benar-benar tulus.

Dan itu membuat Arcelia sedikit bingung.

Karena ia tidak terbiasa menerima kebaikan tanpa syarat.

Malam tiba perlahan.

Setelah makan malam, Arcelia kembali ke kamarnya.

Api perapian menyala lembut.

Menciptakan suasana hangat yang nyaman.

Lilian sedang merapikan beberapa kotak berisi pakaian baru yang dibeli tadi siang.

Sementara Auriel berbaring di atas tempat tidur seperti seekor bangsawan kecil yang baru saja memenangkan perang.

"Aku lelah."

"Kau tidak melakukan apa-apa."

"Aku melakukan banyak hal."

"Contohnya?"

"Aku mengawasi."

Arcelia menatapnya datar.

Auriel menguap.

"Itu pekerjaan penting."

"Tentu."

Lilian tersenyum kecil.

"Menurut saya, Tuan Auriel hanya terlalu banyak makan hari ini."

"Itu fitnah."

"Kau memakan empat potong kue."

"Itu bukan jumlah yang banyak."

"Untuk rubah seukuranmu?"

"Itu penghinaan."

Arcelia akhirnya tertawa pelan.

Suara tawanya begitu singkat hingga bahkan ia sendiri sedikit terkejut.

Ruangan mendadak hening.

Lilian membeku.

Auriel mengangkat kepala.

"Apa?"

tanya Arcelia.

"Nona tertawa."

Lilian terlihat hampir terharu.

Arcelia langsung merasa tidak nyaman.

"Aku pernah tertawa sebelumnya."

"Jarang."

"Sangat jarang."

Auriel mengangguk setuju.

Arcelia menghela napas panjang.

Mungkin mereka benar.

Baik sebelum maupun sesudah kematiannya, ia bukan orang yang sering tertawa.

Namun akhir-akhir ini, hal itu mulai berubah sedikit demi sedikit.

Dan sebagian besar penyebabnya adalah seekor rubah cerewet dan seorang gadis bangsawan yang terlalu ramah.

Malam semakin larut.

Lilian akhirnya pamit keluar setelah memastikan semuanya beres.

Kini hanya Arcelia dan Auriel yang tersisa di dalam kamar.

Untuk beberapa saat, keheningan terasa nyaman.

Sampai tiba-tiba sebuah layar transparan muncul di depan mata Arcelia.

MISI BARU

Bangun hubungan sosial pertama.

Target:

Menerima undangan pribadi Serena Albright.

Hadiah:

• 50 Poin Sistem

• Informasi Rahasia Tingkat Rendah

• Keterampilan Analisis Sosial Dasar

Arcelia mengernyit. "Sudah lama kau tidak mengeluarkan misi."

Auriel yang tadinya setengah tertidur langsung duduk tegak.

"Aneh."

"Kau tidak tahu?"

"Aku tidak membuat misi."

"Itu sistemmu."

"Bukan." Auriel tampak sama bingungnya. "Sejak aku berevolusi, sebagian besar fungsi lama memang berkurang."

Arcelia memperhatikan layar itu sekali lagi.

Informasi rahasia.

Hadiah itu menarik perhatiannya.

Sistem selama ini tidak pernah memberikan sesuatu tanpa alasan.

"Menurutmu apa maksudnya?"

Auriel menggeleng.

"Aku tidak tahu."

Untuk pertama kalinya sejak berevolusi, rubah kecil itu terlihat serius.

"Namun aku punya firasat."

"Firasat apa?"

"Misi ini bukan tentang Serena."

Arcelia terdiam.

Auriel melanjutkan dengan suara lebih pelan.

"Kurasa seseorang akan muncul melalui hubungan itu."

Api perapian berderak pelan.

Membuat suasana kamar tiba-tiba terasa sedikit lebih dingin.

Arcelia menatap layar transparan yang perlahan menghilang.

Entah kenapa.

Ia merasa sistem sedang mencoba mengarahkannya menuju sesuatu.

Atau seseorang.

Di sisi lain...

Kediaman Marquis Albright.

Serena sedang berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.

Pelayan pribadinya hanya bisa memperhatikan dengan bingung.

"Nona Serena..."

"Aku harus mengundangnya."

"Siapa?"

"Arcelia."

"Tuan Putri Duke itu?"

"Ya."

Serena menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.

Kemudian menatap langit-langit.

"Aku suka dia."

Pelayan itu hampir tersedak.

"Nona!"

"Apa?"

"Itu terdengar aneh."

Serena memutar bola matanya.

"Bukan seperti itu."

Pelayan itu menghela napas lega.

Serena tertawa.

"Dia berbeda."

"Dalam hal apa?"

"Semuanya."

Serena memejamkan mata sambil mengingat pertemuan mereka.

Arcelia tenang.

Cerdas.

Tidak mudah terpancing.

Namun di balik semua itu, Serena bisa merasakan sesuatu.

Kesepian.

Perasaan yang sangat samar.

Tetapi cukup jelas bagi seseorang yang terbiasa membaca ekspresi orang lain.

"Aku ingin menjadi temannya."

Pelayan itu tersenyum.

"Kalau begitu kirim undangan."

Serena langsung duduk tegak.

"Itu ide bagus."

"Itu ide yang baru saja Nona katakan lima menit lalu."

"Tapi sekarang terdengar lebih cemerlang."

Pelayan itu menyerah.

Jauh di dalam Istana Kekaisaran.

Seorang pria berpakaian hitam berlutut di hadapan Putra Mahkota.

Elias Astrael menutup dokumen terakhir yang sedang dibacanya.

"Ada laporan baru?"

"Ya, Yang Mulia."

Ksatria itu menyerahkan sebuah berkas.

Elias membukanya.

Tatapannya bergerak cepat membaca isi laporan.

Kemudian berhenti.

Lagi.

Arcelia Vareinne.

Nama itu muncul sekali lagi.

Kali ini terkait keluarga Albright.

Sudut bibir Elias sedikit terangkat.

Fenomena yang cukup langka.

"Menarik."

"Yang Mulia?"

"Tidak ada."

Elias menutup laporan tersebut.

Namun pikirannya tetap bekerja.

Dalam dunia bangsawan, hubungan sosial bukan hal sepele.

Terutama jika melibatkan keluarga Albright yang terkenal berhati-hati memilih sekutu.

Jika Serena Albright mendekati Arcelia, berarti ada sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

Dan Elias mulai penasaran.

Semakin penasaran.

Namun bahkan dirinya tidak menyadari bahwa setiap laporan yang ia baca perlahan sedang membawanya semakin dekat pada gadis yang belum pernah ditemuinya itu.

Sementara jauh di balik bayang-bayang ibu kota...

Sepasang mata dingin sedang mengamati nama yang sama.

Arcelia Vareinne.

Seseorang yang seharusnya sudah mati.

Dan seseorang yang mulai menarik perhatian pihak yang tidak seharusnya memperhatikannya.

1
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
jadi penasaran terus bacanya
T28J
Ayo cari tau cel, tidak mungkin ayah tidak peduli dengan anaknya
Rain Aricia
Awal dari penasaran bisa jatuh cinta sama Arcel lho/Chuckle/
Rain Aricia
Mungkin kamu teman yang cocok baginya Cel
Rain Aricia
Enaklah dapat undangan pribadi
mama Al
ups keceplosan 🤭
mama Al
Arcelia, kamu pasti bisa
Nyai Aksara 👩‍🦯
Waduh ngeri juga ya, racunnya secara perlahan berarti. Perlahan tapi mematikan...
arsyila putri
kan..... lama-lama pasti ketahuan juga
mama Al
Leo lagi Leo lagi 🤭
Nyai Aksara 👩‍🦯
Oh, apakah para pelayan juga membencinya?
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
wao mencurigakan bukan, ada energi negatif
arsyila putri
suka Thor sama ceritanya 💪💪
Rain Aricia
Apkh merrka akan jadi bestie/Chuckle/
Rain Aricia
Berarti semakin banyak yg iri dengki
T28J
transmigrasi + sistem ya thor?
Rain Aricia
Mereka mau culik Arcel kah?
Rain Aricia
Ya namanya jg bangsawan ga mungkin sederhana/Chuckle/
Rain Aricia
Sesuai tebakan pembaca hh
Nyai Aksara 👩‍🦯
Wih, skilnya berguna banget tuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!