Seorang gadis polos kehilangan harta warisannya akibat kelicikan saudara tiri, ia dipaksa menikah dengan seorang pria dari keluarga perwira tinggi, namun pria tersebut pergi di hari pernikahan hingga akhirnya adik pria tersebut yang notabene seorang duda harus menyelamatkan nama besar keluarga dengan menyembunyikan identitas aslinya. Ayah gadis itu pun seorang tentara tapi seolah tak pernah menyayanginya.
Saat tau kabar kabur tentang identitas pria tersebut. Ibu tiri gadis itu menyesal dan iri setengah mati.
Kesakitan yang di alami gadis itu membuatnya trauma hingga sangat waspada dan sulit percaya. Kini pria tersebut harus berjuang sekuat tenaga untuk menembus tembok pertahanan hati istrinya yang selalu berpura-pura di balik tingkah randomnya, padahal ia tidak tau.. siapa pria yang bersamanya saat ini.
SKIP bagi yang tidak tahan dengan KONFLIK.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Diselesaikan secara rahasia.
Malam itu, setelah Jill tidur.. Bang Reigar menghubungi karyawan perusahaan nya dan menegur keras staff pengacara karena menuntut anak cabang yang sedang di pegang Jill, istrinya.
"Apa saja kerjamu?? Apa tidak kau baca siapa nama pemilik penggalian tambang untuk di bawa kesini??? Lembar ke tujuh tetap saya pemilik dan penanggung jawabnya. Kalian mau menuntut saya juga??????" Omel Bang Reigar.
"Maaf Pak, kami kurang teliti."
"Selesaikan itu, sekecil apapun jangan libatkan istri saya dalam kekacauan ini. Kalian cari truk itu lintas tambang sampai ke perusahaan, sampai siang ini truk itu tidak balik.. Kalian semua yang tanggung akibatnya..!!" Ancam Bang Reigar. "Satu lagi, awasi surat jalannya beserta sopir yang mengantarnya..!!"
"Baik, Pak Jordan. Kami paham."
***
Hingga pagi hari Bang Reigar mengurusi seluruh kekacauan yang ada di dalam perusahaan tambangnya. Ia tak segan-segan mengirimkan ancaman SP bagi karyawan perusahaan yang bertingkah.
Akhirnya adzan subuh pun terdengar. Bang Reigar membangunkan Jilly agar bisa sholat bersama.
"Bangun, dek. Sudah jam berapa nih?? Kamu juga harus lihat kampus barumu disini." Kata Bang Reigar.
"Uugghh.. Malaas..!! Jill masih ngantuuk..!!" Jill yang sulit membuka mata masih merengek manja.
"Kau dapat rejeki darimana kalau tidak dari Tuhan? Tuhan selalu menjagamu tapi kamu tidak mau meluangkan waktu untuk mengadu meskipun hanya sedikit." Ujar Bang Reigar mengingatkan istri kecilnya. "Ayo bangun sebentar, mandi.. Atau minimal wudhu, nanti puaskan tidurmu, Abang tidak akan ganggu."
Bang Reigar membantu Jill untuk bangkit dari posisi nyamannya.
"Jill lagi dapet." Alasannya.
"Nggak usah ngarang. Sudah Abang tutup pipanya." Dengan sabar Bang Reigar terus membujuk Jill.
...
Dua ajudan Bang Reigar sudah kembali, mereka mengantar sarapan ke rumah dinasnya.
"Ijin, Danton. Ibu tidak ada di tempat. Kami hanya menggantung nasi kuning ayam bakar di gagang pintu depan ruang teras." Laporan Prada Garo.
"Ya sudah, biar saja. Nanti saya telepon istri saya." Jawab Bang Reigar.
"Siap.."
"Oiya, kemarin saya pesan sapi sudah di carikan?" Tanya Bang Reigar karena dirinya berniat berqurban seekor sapi dan seekor kambing di Batalyon.
"Siap, sudah Danton." Prada Danu menunjukan foto sapi dan kambing tersebut pada Bang Reigar.
"Oke.. Bagus, gagah nih." Bang Reigar langsung menyetujui sapi yang di ajukan Prada Garo dan Prada Danu.
...
Tak butuh waktu lama, truk pengangkut batubara sudah di temukan di area belakang pegunungan yang sepi.
Laporan tersebut sudah sampai pada Bang Reigar, senyum pria tersebut terangkat tipis. "Interogasi, siapa yang membayar mereka. Kalau tidak mau mengaku.. Lempar saja ke laut..!!"
//
Jill yang mencoba bernegosiasi sana sini akhirnya mendapatkan nomer telepon pihak lawan, ia pun segera menghubunginya.
"......... Terkait permasalahan kemarin, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya dan akan mengirim ulang batubara tersebut pada bapak, hanya saya butuh waktu sekitar dua hari. Saya harap Pak Jordan tidak marah dan masih berkenan bekerja sama dengan pihak kami."
"Oohh.. Begini Bu Jill.. Masalah tersebut sudah clear. Barangnya sudah kami terima satu jam yang lalu." Kata anak buah rekanan perusahaan.
"Clear??? Jadi truk itu tidak hilang??" Tanya Jill masih kaget dengan berkah dari Tuhan yang baru saja di terimanya.
"Benar, ibu. Dari informasi yang kami dapat, sopir dari tambang ibu mengambil jalan pintas tapi ternyata kena pecah ban. Itu sebabnya perjalanan jadi terhambat." Jawab Pak Harto.
"Oohh.. Begitu ya Pak. Baik Pak, mohon maaf atas keteledoran dari pihak kami ya Pak. Saya pastikan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi." Janji Jill saat itu.
Jujur saat ini hati Jill begitu lega. Perlahan perasaan nya mulai tenang. Panggilan telepon di akhiri dengan senyuman Jill yang penuh dengan rona kemenangan.
Beban di hati dan pikiran Jill terasa hilang, ia berjalan keluar dari kamar, menuju ruang tengah rumah dinas yang lumayan luas itu. Rasanya Jill ingin segera bertemu dengan Bang Reigar bahwa masalah selesai, tuntutannya dicabut dan pengiriman batubara bernilai miliaran itu sudah aman sampai di tangan penerima.
Saat sampai di ruang tamu, ia berjalan melongok melihat keluar jendela. matanya menangkap kotak nasi kuning yang tergantung rapi di gagang pintu depan. Ia mendekat, membuka sedikit penutupnya. Wangi nasi yang gurih bercampur aroma ayam bakar langsung menyeruak masuk ke hidungnya, membuat perutnya yang sejak kemarin malam tak terisi makanan mulai terasa semakin lapar.
"Pasti Abang yang pesan, kan??" batin Jill sambil tersenyum sendiri. Ia tau betul, suaminya yang kaku dan suka mengomel itu masih memberikan perhatian padanya.
Belum sempat Jill duduk untuk menyantap sarapannya, suara langkah kaki berat dan tegas terdengar mendekat. Bang Reigar masuk ke ruangan itu, wajah dingin itu membawa wibawa seorang pimpinan.
Bang Reigar memastikan ekspresi wajah istrinya yang kini sudah kembali cerah dan tidak satupun ada jejak ketakutan atau kebingungan seperti tadi malam.
Senyum Bang Reigar tersungging tipis. Pastinya ia sudah tau segala hal sebelum Jill menelepon Pak Harto. Ia yang menggerakkan semua peran penyelamatan dan rekayasa di balik layar ini.
"Baru bangun? Sarapannya sudah Abang belikan dari tadi, kenapa tidak dimakan?" tanya Bang Reigar sambil duduk di kursi makan dan berhadapan dengan Jill, ia menatap tanpa melepas pandangan dari sang istri.
Jill ikut duduk di hadapan Bang Reigar dengan wajah berseri. Tanpa basa basi Jill langsung bercerita dengan semangat empat lima, seolah melupakan kepanikan dirinya semalam.
"Abang, tau tidak.. Masalah yang semalam sudah selesai, semua beres." Katanya sambil membuka kotak nasi kuning padahal kini Bang Reigar sudah membawa lagi dua porsi nasi padang. "Tadi Jill telepon pihak perusahaan yang menampung batubara, namanya Pak Harto. Beliau bilang barangnya sudah sampai satu jam yang lalu. Katanya sopir tambang ambil jalan pintas lalu kena musibah pecah ban, jadi tertahan lama di tengah hutan. Jill kira hilang, padahal hanya telat sampai."
Bang Reigar ikut membuka bungkus nasi padangnya dengan senyum tipis.
Jill semakin melebarkan senyum. "Daaann.. Berita yang lebih menyenangkan, tuntutannya dicabut. Pak Harto bilang semua sudah beres, tidak ada denda, tidak ada masalah hukum. Jill juga tidak ada rugi milyaran. Berkah banget deh, Bang? Jill pikir harus jadi TKW biar bisa bayar kerugian, ternyata nggak."
Bang Reigar hanya mendengarkan diam, sesekali mengangguk pelan sambil menatap wajah istrinya yang begitu bahagia. Di dalam hatinya, ia tertawa lepas.
'Pecah ban?'
Bang Reigar jelas tau. Kronologi ban itu pecah karena perintahnya agar sopir dan barangnya bisa masuk perusahaan tanpa banyak kata dan situasi yang membuat Jill panik dan bingung, sementara ia membereskan kekacauan administrasi di perusahaannya dan menangkap pelaku utama di balik jebakan untuk sang istri.
"Baaang.. dengar nggak sih, Jill cerita. Abang nih selalu setengah hati kalau sama Jill." tanya Jill merasa kesal karena Bang Reigar seakan kurang memberikan respon.
"Dengar. Mana ada Abang setengah hati. Mau apapun yang Abang lakukan kalau untuk kamu pasti sepenuh hati. Kamunya saja yang kadang ngomel setengah sadar." jawab Bang Reigar. Melihat sang istri mulai cemberut, Bang Reigar langsung menyuapi Jill. "Makan dulu, biar kuat ngomel sampai sore."
.
.
.
.
Bang Huda sabar yaaa...
bang rakit semoga kau juga dapa wanita yg sholeha..amin🙏
dosa klo cinta sm istri abang sendiri🙏
Jilly : ( pipi udah semerah tomat) 🤣🤣🤣🤣🤣
bayangke sambil ngekekkk/Kiss//Kiss/
lanjt mba Nara👍👍👍
kyknya ada tanda-tanda nih dr Jill... ati² ya Bang Reigar🤭🤭🤭