NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11: Di Antara Penyesalan dan Kenyataan

Malam itu, keheningan bukan lagi sekadar keadaan sunyi, melainkan menjadi siksaan terbesar bagi Arkan. Ia masih berdiri di halaman depan, napasnya terengah-engah, dadanya naik turun menahan rasa sakit yang seolah merobek seluruh isi tubuhnya. Panggilannya yang memekakkan telinga tadi, nama Nara yang diteriakannya ke dalam kegelapan, hanya dijawab oleh angin malam yang dingin dan dedaunan yang bergoyang pelan. Tidak ada jawaban. Tidak ada sosok kecil dengan senyum lembut yang biasa muncul di balik pintu itu, menatapnya dengan pandangan tenang yang selalu mampu menenangkan segala keruh di hatinya.

Arkan memegangi dadanya yang terasa sesak luar biasa. Matanya menatap kosong ke arah jalan aspal yang panjang dan gelap, jalan yang baru saja dilalui Nara sendirian di tengah malam yang dingin. Di tangannya, ia masih mencengkeram erat selembar kertas putih—surat perpisahan yang ditulis gadis itu dengan tinta air mata. Ia sudah membacanya puluhan kali sejak ia menemukannya di meja ruang tamu, namun setiap kali matanya melirik tulisan tangan rapi itu, rasanya seolah ada pisau tajam yang ditusukkan berulang kali ke dalam hatinya.

"Saya tidak akan menunggu waktu dua tahun itu habis... Mulai besok, saya akan pulang ke rumah Ayah. Kontrak ini bisa kita akhiri lebih awal..."

Kata-kata itu berputar terus di kepalanya, bergema lebih keras daripada suara apa pun. Arkan terhuyung mundur, kakinya terasa begitu lemas hingga ia terpaksa bersandar pada tiang teras agar tidak jatuh kembali ke tanah. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ia begitu buta selama ini? Bagaimana bisa ia membiarkan wanita yang diam-diam menjadi pusat dunianya pergi begitu saja, sementara ia sibuk terjebak dalam bayang-bayang masa lalu dan rasa bersalah yang salah alamat?

Di belakangnya, pintu utama terbuka perlahan. Kirana muncul dengan wajah mengantuk, mengenakan pakaian tidur yang masih rapi, rambutnya terurai indah menutupi bahu. Ia melangkah keluar mendekati Arkan dengan wajah bingung, seolah tidak paham apa yang sedang terjadi dan mengapa suasana malam itu berubah menjadi begitu mencekam.

"Arkan?" panggil Kirana pelan, tangannya terulur ingin menyentuh bahu pria itu. "Kamu kenapa teriak-teriak di luar jam segini? Ada apa? Siapa yang kamu cari? Tadi aku dengar kamu teriak nama Nara... Dia ke mana?"

Saat ujung jari Kirana menyentuh bahu Arkan, pria itu seolah tersentak tersadar dari lamunan panjangnya. Ia menoleh menatap Kirana, namun tatapan matanya kosong, dingin, dan asing. Tidak ada lagi kelembutan, tidak ada lagi rasa bahagia, tidak ada lagi sorot mata penuh kerinduan yang biasa ditunjukkan Arkan saat berhadapan dengannya sejak kepulangannya kemarin. Arkan menatap Kirana seolah menatap orang asing yang baru pertama kali dilihatnya, seolah wanita inilah penyebab utama segala kekacauan dan kehancuran yang baru saja menimpanya.

Wajah Arkan terlihat kaku sekali. Rahangnya mengeras, otot-otot di wajahnya menegang menahan amarah dan penyesalan yang bercampur aduk menjadi satu. Ia merasa bingung, merasa asing dengan dirinya sendiri, merasa lupa bagaimana caranya bersikap manis, bagaimana caranya tersenyum, atau bagaimana caranya berbicara lembut seperti yang ia lakukan kemarin malam. Semua itu rasanya telah hilang bersama kepergian Nara.

"Dia pergi..." jawab Arkan pelan, suaranya serak dan berat, hampir tak terdengar. Matanya kembali menatap ke kegelapan jalan, menghindari tatapan Kirana. "Nara pergi, Kirana. Dia meninggalkan rumah ini."

Kirana mengerutkan kening, berpura-pura terkejut meski jauh di lubuk hatinya ada rasa lega dan kemenangan yang meletup nyaring. Ia menarik tangannya perlahan dari bahu Arkan, lalu melipat kedua tangannya di depan dada, berusaha menata ekspresi wajah agar terlihat sedih dan khawatir.

"Pergi? Kok bisa? Kenapa dia pergi malam-malam begini? Apa ada yang bikin dia tersinggung? Padahal tadi sore dia masih ada di kamar, kan?" Kirana berbicara dengan nada lembut, berusaha seolah tidak tahu apa-apa. Lalu ia melangkah lebih dekat lagi, menatap wajah Arkan lekat-lekat. "Sudahlah, Arkan. Mungkin dia merasa tidak betah di sini. Kan kamu sendiri yang bilang, dia cuma istri kontrak, dia ada di sini cuma karena perjanjian bisnis antar keluarga. Sekarang mungkin dia merasa tugasnya sudah selesai, atau mungkin dia kaget dengan kehadiranku. Biarkan saja dia pergi, ya? Lagipula, kan sekarang aku sudah ada di sini. Aku yang seharusnya ada di sisimu, bukan dia."

Kalimat itu seolah menjadi pemicu yang meledakkan sesuatu di dalam diri Arkan. Pria itu mengangkat wajahnya kembali menatap Kirana, dan kali ini tatapannya begitu tajam, begitu penuh amarah dan kekecewaan yang membuat Kirana mundur selangkah karena terkejut.

"Istri kontrak?" ulang Arkan pelan, namun nada bicaranya penuh penekanan yang menyakitkan. "Kamu bilang dia cuma istri kontrak? Kamu pikir semuanya ini cuma soal perjanjian, Kirana? Kamu pikir keberadaan Nara di sini hanya sebatas kertas perjanjian yang ditandatangani Ayahku?"

Arkan menggelengkan kepalanya perlahan, tertawa kecil dengan nada yang kering dan menyedihkan. Tubuhnya masih terasa kaku, gerakannya lambat dan berat seolah ada beban berton-ton yang menempel di setiap sendinya. Ia merasa dirinya bodoh, sangat bodoh karena selama ini membiarkan definisi "istri kontrak" itu menjadi tembok pembatas yang memisahkannya dari kebahagiaannya sendiri.

"Kamu tidak tahu apa-apa, Kirana. Kamu tidak pernah tahu apa yang terjadi selama lima tahun kamu pergi meninggalkanku," ucap Arkan dingin. Ia berjalan melewati Kirana, masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah berat. Ia berjalan menuju ruang tamu, berjalan melewati meja kaca tempat surat itu diletakkan, dan berhenti tepat di tengah ruangan yang kini terasa begitu luas, kosong, dan dingin.

Kirana mengikuti Arkan dari belakang, wajahnya kini mulai terlihat cemas. Ada perubahan besar pada Arkan yang tidak ia kenali lagi. Arkan yang ia kenal dulu adalah pria lembut, sabar, dan sangat bergantung padanya. Tapi pria yang berdiri di depannya sekarang adalah sosok yang dingin, tertutup, dan penuh dengan rasa sakit yang bukan karena dirinya.

"Arkan, kamu ngomong apa sih?" tanya Kirana dengan nada mulai merajuk, mencoba menggunakan senjata andalannya: air mata dan kemanjaan. Ia berjalan mendekat, berusaha memeluk lengan Arkan, namun Arkan segera melepaskan diri dengan halus namun tegas, membuat Kirana tertegun kaget. "Aku pergi karena terpaksa, kan? Aku pergi karena aku harus kuliah, karena orang tuaku memaksaku. Aku sudah menunggumu, Arkan! Aku sudah bertahan bertahun-tahun supaya kita bisa bersatu lagi! Dan sekarang... sekarang setelah aku pulang, kenapa kamu malah berubah begini? Demi wanita asing yang baru kamu kenal beberapa bulan saja? Apa dia lebih penting dari janji kita? Dari cinta kita selama bertahun-tahun?"

Arkan berbalik menghadap Kirana. Wajahnya masih kaku, matanya sayu namun tajam. Ia menatap wanita yang dulu menjadi satu-satunya alasannya hidup, wanita yang ia tunggu setengah mati, wanita yang ia anggap sebagai satu-satunya cintanya. Tapi saat ini, di hadapannya, ia tidak melihat lagi sosok Kirana yang ia rindukan. Yang ia lihat hanyalah wanita yang penuh ambisi, wanita yang egois, wanita yang tanpa sadar telah membuatnya kehilangan permata paling berharga yang pernah dikirimkan takdir untuknya.

"Janji?" gumam Arkan pelan, senyum pahit terukir di bibirnya. "Kamu terus bicara soal janji, Kirana. Kamu terus bicara soal cinta kita. Tapi selama kamu pergi, selama kamu jauh di sana, siapa yang ada di sini menemani aku? Saat aku jatuh sakit, saat aku terpuruk karena masalah perusahaan, saat aku merasa sendiri dan hancur... siapa yang ada di sini? Bukan kamu, Kirana. Kamu sibuk dengan hidupmu di sana, sibuk dengan duniamu sendiri."

Suara Arkan mulai meninggi, namun tetap datar dan kaku, seolah ia sedang membacakan fakta yang baru saja ia sadari sendiri.

"Yang ada di sini adalah Nara. Gadis pendiam yang menurutmu lemah dan tidak berdaya itu... dialah yang ada. Dia yang diam-diam menyiapkan makan saat aku pulang larut malam. Dia yang duduk diam menemaniku bekerja sampai pagi tanpa banyak tanya. Dia yang menatapku dengan pandangan percaya dan bangga, bahkan saat aku merasa diriku adalah orang paling gagal sedunia. Dia yang menerima segala kekuranganku, segala beban keluargaku, segala masa laluku yang berantakan ini... dengan tulus, tanpa menuntut apa pun, tanpa menyebut janji-janji manis, dan tanpa pernah menagih rasa terima kasih."

Air mata mulai menetes di pipi Arkan. Ia menyeka kasar air matanya dengan punggung tangan, gerakannya masih terasa canggung dan kaku, seolah ia sudah lupa bagaimana caranya menangis, lupa bagaimana caranya merasakan rasa sakit hati sedalam ini.

"Dan aku... aku yang bodoh ini, aku yang terjebak di antara rasa bersalah dan masa lalu... aku malah menyiksanya. Aku membiarkan dia merasa dirinya tidak berharga. Aku membiarkan dia merasa hanya sebagai bayangan atau pelengkap saja di rumah ini. Aku membiarkan kamu masuk, berkuasa, dan mengucilkannya... sampai dia merasa tidak punya alasan lagi untuk tetap bertahan di sini."

Arkan berjalan mendekati Kirana, menatap wanita itu tepat di mata.

"Kamu bilang aku milikmu, Kirana? Kamu bilang tidak ada wanita yang bisa menggantikanmu? Kamu salah besar. Karena saat kamu baru saja kembali, saat kamu baru saja mulai berusaha mengambil tempatmu kembali... aku sudah kehilangan hatiku sepenuhnya. Dan hatiku itu pergi bersamaan dengan langkah kaki Nara tadi malam."

Kirana mundur selangkah demi selangkah, air matanya kini benar-benar jatuh bukan lagi karena pura-pura, tapi karena rasa kaget dan sakit hati yang nyata. Ia tidak menyangka kepulangannya yang ia rencanakan begitu indah akan berakhir seperti ini. Ia pikir dengan kehadirannya, semuanya akan kembali seperti dulu. Ia pikir Arkan masih sama seperti Arkan yang ia tinggalkan lima tahun lalu. Ia lupa, waktu terus berjalan, dan perasaan manusia bisa berubah, bisa tumbuh, dan bisa menemukan rumah barunya di tempat yang tak terduga.

"Jadi... aku datang terlambat?" bisik Kirana gemetar, suaranya pecah. "Aku pulang jauh-jauh ke sini... hanya untuk mendengar kalau kamu sudah mencintai wanita lain?"

Arkan tidak menjawab. Ia hanya membuang muka, menatap tangga yang kosong di ujung lorong—tangga tempat Nara biasa turun dengan langkah pelan dan malu-malu. Di sana, di kamar yang kini kosong dan dingin itu, tersimpan semua kenangan singkat namun begitu berarti bagi Arkan.

"Aku harus menemukannya," ucap Arkan tiba-tiba, suaranya kembali tegas meski tubuhnya masih terasa kaku dan lemah karena rasa sedih yang mendalam. Ia berbalik berjalan cepat menuju pintu utama, mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja dekat pintu.

Kirana langsung berlari menghadang langkahnya. "Arkan! Kamu mau ke mana? Jam berapa ini?! Kamu mau pergi mencarinya sekarang? Di tengah malam begini? Kamu tahu di mana dia tinggal? Kamu tahu dia pergi ke mana?"

Arkan menatap Kirana tajam, menyingkirkan tangan wanita itu yang berusaha menahannya.

"Aku tidak tahu, Kirana. Aku tidak tahu ke mana dia pergi, aku tidak tahu di mana dia berada sekarang, dan aku tidak tahu apakah dia mau menemuiku atau tidak," jawab Arkan jujur, rasa bingung dan takut kembali menghantuinya. Ia benar-benar merasa bingung, kaku, dan tidak tahu harus berbuat apa selain mencari. "Tapi aku tidak bisa diam di sini. Aku tidak bisa tidur nyenyak di rumah ini, di rumah yang seharusnya menjadi tempatnya, sementara dia berjalan sendirian di luar sana entah di mana. Aku harus meminta maaf. Aku harus bilang kalau surat itu salah. Aku harus bilang kalau dia tidak berhak pergi, karena dialah pemilik rumah ini, pemilik hidupku, dan pemilik segala apa yang ada padaku."

"Kalau kamu pergi sekarang... kalau kamu mengejar dia sekarang... itu artinya kamu memilih dia, Arkan," ancam Kirana dengan suara bergetar, berusaha bertahan dengan sisa-sisa kekuasaannya. "Kamu membuang lima tahun cinta kita demi beberapa bulan bersama dia. Kamu yakin?"

Arkan berhenti sejenak di ambang pintu. Angin malam kembali menerpa wajahnya yang dingin dan basah. Ia menoleh ke belakang, menatap Kirana untuk terakhir kalinya malam itu dengan pandangan yang penuh keputusan namun juga penuh penyesalan.

"Kirana, aku tidak pernah membuang apa pun. Aku hanya sadar... bahwa apa yang dulu kita miliki, itu sudah berlalu. Itu hanya kenangan. Tapi apa yang aku rasakan pada Nara... itu kenyataan. Itu hidupku yang nyata."

Tanpa menunggu jawaban lagi, Arkan melangkah keluar pintu. Ia berjalan cepat menuju mobilnya, masuk ke dalam, dan menyalakan mesin dengan tergesa-gesa. Cahaya lampu kendaraan itu menerangi jalanan sepi di depannya.

Di ambang pintu, Kirana berdiri sendirian, menangis dalam diam. Ia melihat mobil hitam itu melaju kencang membelah kegelapan, menjauh meninggalkannya seorang diri di rumah besar yang kini terasa begitu kosong dan asing baginya. Rencananya gagal. Usahanya untuk kembali ke masa lalu hancur lebur. Dan ia sadar, bahwa memenangkan pertarungan kekuasaan kemarin sore dengan membuat Nara menangis dan merasa tersisih... ternyata justru menjadi kekalahan terbesarnya.

Di dalam mobil, Arkan menyetir dengan kecepatan tinggi, matanya menatap lurus ke depan meski pandangannya kabur oleh air mata. Ia tidak tahu ke mana ia harus pergi. Ia tidak tahu alamat rumah orang tua Nara dengan pasti. Ia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Ia merasa bodoh, merasa kaku, merasa lupa segalanya, merasa tidak cukup baik untuk menjadi pria yang pantas bagi Nara.

Namun satu hal yang ia tahu pasti: ia tidak akan berhenti sampai ia menemukan Nara. Ia tidak akan beristirahat sampai ia bisa menatap mata itu lagi, memegang tangan itu lagi, dan berkata dengan lantang bahwa ia salah, bahwa ia butuh Nara, dan bahwa kepergian gadis itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya yang tidak akan ia biarkan berlarut-larut.

Di bawah langit malam yang gelap itu, Arkan menyadari satu hal penting. Cinta tidak selalu datang dengan gemerlap dan janji indah seperti apa yang ia miliki bersama Kirana. Kadang cinta datang diam-diam, pelan-pelan, dalam keheningan, dalam kesederhanaan, dan dalam ketulusan yang tidak berlagak. Dan bagi Arkan, cinta itu bernama Nara.

Mobil itu terus melaju ke dalam kegelapan, mencari seberkas cahaya yang baru saja hilang dari hidupnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!