NovelToon NovelToon
Twin Gus: A Love Story

Twin Gus: A Love Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Hantu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"

Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.

Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kia sayang Kakak!

“Makasih ya, Kia, udah masakin Kakak tadi.” Aryan berkata sambil duduk santai di ruang keluarga. Di tangannya masih ada segelas teh hangat yang tadi dibuatkan Zaskia.

“Sama-sama, Kak.” Zaskia tersenyum kecil. “Enak enggak? Maaf ya kalau masih kurang enak. Soalnya Kia baru belajar.”

Aryan menoleh menatap istrinya yang duduk di karpet dekat meja. “Kirain kamu memang pintar masak. Selama ini selalu enak kalau bikin kue.”

“Kia bisanya baking, Kak.”

“Oh...” Aryan mengangguk paham. “Tapi masakan kamu tadi enak kok.”

“Beneran enak?”

“Beneran.” Aryan tersenyum tipis. “Kan yang masak bidadari. Walaupun makanannya biasa aja, kalau yang masak kamu pasti rasanya jadi enak.”

Zaskia langsung memanyunkan bibirnya malu. “Apaan sih. Gombal banget.”

“Memangnya itu gombal ya?” Aryan terkekeh pelan. “Kakak serius kok.”

“Oh iya nih.” Zaskia tiba-tiba menyodorkan sebuah toples bening berisi cookies. “Tadi Kia bikin ini. Kak Aryan cobain.”

Aryan mengambil satu lalu menggigitnya pelan.

“Gimana, Kak? Enak?”

Aryan mengunyah beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.

“Banget.” Ia kembali mengambil satu lagi. “Tapi kok rasanya mirip cookies yang Kafa suka beli ya?”

Aryan mendadak teringat sesuatu. Bentuk, rasa, bahkan aroma cookies itu terasa sangat familiar.

“Oh jadi selama ini Kak Kafa bilang cookies itu beli...” batin Zaskia langsung tak enak hati.

“Tapi enggak mungkin ah.” Aryan tertawa kecil. “Cookies kamu lebih enak.”

Zaskia hanya tersenyum canggung. Ia tidak mungkin bilang kalau cookies yang selama ini dimakan Aryan dari tangan Kafa memang buatannya.

“Widihhhh makan cookies gak ngomong-ngomong!”

Tiba-tiba Zaid muncul entah dari mana sambil duduk selonjoran di dekat mereka.

“Kamu mau, Za?” tawar Aryan.

“Enggak, Bang. Buat Bang Aryan aja.” Zaid menggeleng santai. “Zaid udah sering makan. Kan Kak Kia sering bikin juga.”

“Oh ya?”

“Iya.” Zaid mengangguk polos. “Emang Kakak enggak pernah nyobain? Kak Kia kalau bikin cookies selalu bilang buat Bang Kafa, Bang Aryan, sama Bang Arshaf.”

Deg!

Jantung Zaskia seolah jatuh seketika. Ia langsung melirik Aryan dengan panik.

Sementara itu, senyum Aryan yang tadi begitu santai perlahan memudar.

“Oh gitu ya, Za...” jawab Aryan pelan. “Ini baru pertama kali aku makan langsung dari Kia.”

“Iya. Soalnya biasanya dikasih lewat—”

“ZAID!” Zaskia langsung memotong ucapan adiknya dengan suara sedikit meninggi.

Zaid sampai terkesiap. “Kenapa sih, Kak?”

“Kamu tuh...” Zaskia menggertakkan gigi sambil memberi kode supaya Zaid berhenti bicara.

Aryan menunduk sebentar menatap cookies di tangannya. “Oh...” bibirnya tersenyum tipis, namun sorot matanya berubah samar. “Pantesan rasanya familiar.”

Zaskia makin salah tingkah. “Itu... Kia cuma—”

“Gapapa kok.” Aryan buru-buru menyela sambil berdiri. “Kakak ngantuk. Mau ke atas dulu ya.”

“Iya, Bang...” jawab Zaid polos tanpa merasa bersalah.

Aryan melangkah pergi menuju kamar sambil meninggalkan toples cookies di meja.

Langkahnya tetap tenang seperti biasa.

Namun entah kenapa, dadanya terasa sedikit sesak.

Sepeninggal Aryan, Zaskia langsung mencubit lengan Zaid keras.

“Aduh! Kak, sakit!”

“Kamu itu benar-benar ya!”

“Apaan sih main cubit aja!”

“Kamu gak bisa jaga perasaan abang ipar kamu tau gak!”

“Lah aku kan gak tau!” protes Zaid. “Yang aku tau emang begitu. Kakak selalu bilang cookies itu buat Bang Kafa, Bang Aryan, sama Bang Arshaf.”

“Stop! Udah sana pergi!”

“Dih, iya iya.” Zaid akhirnya pergi sambil mengusap lengannya yang dicubit.

Sedangkan Zaskia menghela napas panjang sambil menutup wajahnya frustasi.

“Ya Allah... pasti Kak Aryan salah paham.”

Sementara di kamar atas, Aryan duduk di tepi ranjang sambil menatap kosong ke depan.

Ternyata selama ini cookies yang sering dibawa Kafa itu buatan Zaskia.

Dan bodohnya, Aryan tadi sempat merasa spesial karena mengira dirinya orang pertama yang dibuatkan cookies oleh istrinya.

***

Zaksia kini yang sudah tiba di depan pintu kamarnya tampak ragu ketika hendak masuk. Ia berhenti sejenak untuk memikirkan kata-kata yang tepat ketika bertemu Aryan nanti. Dengan sekali tarikan nafas panjang Zaskia pun membuka pintu kamarnya melihat ke dalam. Ia mendapati Aryan sudah berbaring dengan posisi terlentang sambil meletakkan lengannya untuk menutupi muka.

Zaskia menghembuskan nafas pelan dan mulai membawa langkahnya perlahan memasuki kamar. Setelah itu ia menutup pintu dengan sangat pelan hingga tak menimbulkan suara.

Terlebih dahulu Zaskia akan membereskan dirinya di kamar mandi. Ia akan buang air kecil, gosok gigi, mencuci muka dan berwudhu.

Sebelum menuju toilet Zaskia membuka lemari dan mengambil tima tidur. Ia akan membawa baju ganti dan sekalian berganti pakaian di sana.

Setelah beberapa menit berlalu Zaskia pun menyusul Aryan naik ke tempat tidur. Pergerakannya sangat pelan ketika akan berbaring di samping laki-laki itu,

"Kak."

Tidak ada jawaban.

"Kakak udah tidur ya?"

Masih tidak ada jawaban.

Hal tersebut membuat Zaskia menoleh ke samping menatap wajah Aryan yang mengarah ke atas. Mata yang tertutup lengan itu tampak terpejam. Sepertinya Aryan memang benar-benar sudah terlelap.

Zaskia menghela nafas. Ia jadi semakin merasa bersalah karena membiarkan Aryan tertidur begitu saja tanpa ia sempat mengucapkan maaf pada laki-laki itu.

"Maafin kia ya, Kak. Sebenarnya yang dikatakan Zaid itu emang benar, kalau Kia suka bikin untuk Kak Kafa. Tapi Kia benar-benar gak tau, kalau Kak Kafa bilangnya itu beli. Tapi cookies tadi beneran Kia bikin khusus untuk kakak kok. Kia juga belajar masak untuk kakak. Jujur, Kia masih canggung sama hubungan ini padahal dulu kita sering main waktu kecil kan. Kia gak pernah terpikir kalau kita akan menikah karna kak Aryan udah Kia anggep seperti kakak sendiri sama seperti Kak Arshaf. Tapi, kak Aryan jangan khawatir. Kia pelan-pelan udah bisa ngelupain kak Kafa kok. Kia mau membuka hati untuk kak aryan" Zaskia bermonolog seolah ia sedang berbicara dengan aryan

Aryan tiba-tiba membuka mata. Ia baru saja tidur lantas mendengar dengan jelas semua perkataan istrinya yang baru saja ia dengar membuat ia terbangun namun ia sengaja untuk tidak membuka matanya.

"Kia,"

"Astagfirullah!" Pekik Zaskia seraya menarik selimut karena kaget. Pandangan perempuan itu lekas teralihkan ke samping, ke tempat di mana Aryan berada.

"Coba ulang" Ucapnya, kemudian merubah posisi jadi menyamping sambil menyanggah kepala menggunakan tangan dengan ujung siku yang bertumpu ke permukaan bantal.

Zaskia tercekat, mendadak tidak bisa berkata-kata. "J-jadi kakak belum tidur."

"Udah, tapi karena kamu berisik kakak jadi bangun."

"Masa sih? Perasaan Kia ngomongnya pelan kok." Gumamnya lirih, tapi aryan nasih dapat mendengar.

"Kia?"

"Ya?"

"Coba ulang perkataan kamus sbelumnya."

Zaskia menelan ludahnya susah payah.

"Ayo" Desak aryan.

Zaskia menghela napas panjang. Ia lalu memejamkan matanya rapat-rapat sebelum mengucapkan kembali kata-katanya tadi.

"Maafin Kia ya kak. Kia bakalan mem-"

Sebuah kecupan yang mendarat secara mendadak di bibirnya, membuat ucapan Zaskia seketika terputus. Ia lantas membuka mata dan mendapati wajah Aryan berada di atas wajahnya.

"Makasih ya dan maafin kakak juga."

Zaskia melipat bibir ke dalam mulut lalu mengangguk dengan kaku.

"Boleh kakak peluk?"

"Boleh." Zaskia menjawab kalem.

Aryan tersenyum, Dan setelah itu berbaring lebih dekat di samping Zaskia, ia kemudian memindahkan kepala Zaskia agar bersandar di lengannya. Wangi parfum yang menguar dari tubuh Aryan memanjakan indera penciuman Zaskia.

"Kak, Kia boleh tanya gak?"

"Tanya apa?"

"Kalau seandainya Kia belum bisa balas perasaan kakak dalam jangka waktu yang lama, kakak bakal gimana?"

Aryan diam tak langsung menjawab. Ia tercenung sedang mencerna pertanyaan yang membuat sentakan kecil menyergap jantungnya.

"Kak?"

"Nungguin kamu sampai kamu suka sama kakak."

"Kakak enggak capek?"

"Nunggu kamu sampai bisa kakak nikahi aja sanggup, Kia. Apalagi cuma itu."

Zaskia tertegun. Kemudian ia mendongak menatap wajah Aryan yang berada di atas kepalanya. Aryan yang tadi menyandarkan dagu di pucuk kepala. Zaskia lantas ikut bergeser ketika kepala istrinya bergerak. Wajah keduanya kini jadi saling menghadap.

"Maksud Kakak?"

"Kamu gak paham?"

"Kakak udah lama naksir sama Kia?"

Aryan terkekeh pelan. "Polos banget sih."

Zaskia mengulum bibirnya seraya mengalihkan wajah. Namun belum sempat Zaskia menatap ke depan, jemari Aryan lebih dulu menahan dagunya sehingga membuat perempuan itu tidak jadi berpaling dari pandangan Aryan. Zaskia mengerjap ketika Aryan menatapnya begitu dalam.

"Boleh?"

"Hm?" Zaskia bingung.

Ibu jari Aryan kemudian mengusap bibir bawah Zaskia. "ini."

Denyut jantungnya seketika berdesir kuat. Zaskia termangu menatap mata Aryan yang memperhatikannya, Lembut.

untuk beberapa detik, keduanya terdiam saling mengunci pandangan.

"Kia."

Perlahan Zaskia mengangguk samar. Ia mulai memejamkan mata tatkala wajah Aryan mendekat pada detik-detik momen yang mengguncang dadanya. Kedua tangan Zaskia menggenggam selimut begitu erat.

Rasa hangat tak lama menimpali bibir bawahnya bersamaan dengan terbukanya mulut Aryan yang bersiap mengulum.

Jari lelaki itu beralih merengkuh pipi hingga rahang istrinya. Dapat Zaskia rasakan hembusan nafas milik Aryan hangat menerpa wajah.

Bibir keduanya telah menyatu secara sempurna. Aryan kemudian merubah posisi dengan menegakkan kepala di atas wajah Zaskia. Seraya terus memagut, tangannya kemudian turun ingin menyentuh bagian bahu ke bawah, namun tangan Zaskia yang tiba-tiba menahan membuat Aryan mengurai ciuman lalu membuka mata. Di tatapnya wajah Zaskia yang menatapnya gamang.

Perempuan itu lalu menggeleng di antara bibirnya yang perlahan cekung ke bawah.

"Kia masih takut, Kak. Sakit." Pada kata terakhir ia mengucapkan dengan suara lirih.

"Maaf!"

Tidak tega melihat wajah Aryan yang mungkin sedang menahan kecewa. Zaskia kemudian menarik selimut hingga menutupi mata.

Ya, Aryan memang sedikit menanggung kecewa, namun ia kembali tersadar ketika mengingat malam itu. Malam di mana ia tak sengaja membuat Zaskia menangis sesunggukan. Kini rasa bersalah kembali mengusik relung. Seharusnya ia ingat untuk selalu mengontrol syahwat sampai Zaskia benar-benar membalas perasaannya.

Aryan lantas menghembuskan napas panjang lewat mulut bersamaan dengan pipinya yang turut menggelembung. Ia kembali berbaring, namun kali ini posisinya terlentang. Pistol airnya terlanjur tegang. Ia harus bagaimana sekarang untuk membuat miliknya agar kembali tertidur?

Mendapati tak ada jawaban dari mulut Aryan membuat Zaskia perlahan-lahan menurunkan selimut dari wajahnya menoleh ke samping, ia mendapati Aryan sedang mengatur jalan pernapasan seperti halnya seseorang yang hendak melakukan yoga.

"Kak."

Aryan meringis seraya mengubah posisi jadi menyamping, memunggungi Zaskia menghalangi perempuan itu dari pemandangan epik di balik celananya yang terangkat.

"Kakak marah ya?"

"Enggak, Kia. Udah yuk tidur,"

"Terus kenapa tidurnya gitu?"

"Adik kakak lagi bangun, Kia."

"Adik siapa?"

Aryan menghela napas. Bagaimana cara menjelaskan pada Zaskia agar istrinya itu mengerti?

"Ular piton maksudnya. Nanti dia matok."

"Kakak pelihara ular"

"Bukan itu maksudnya."

"Maksud kakak apa sih? Kia enggak ngerti."

"Kamu tahu Jhony?"

"Nama orang kan?"

"Bukan. susah jelasinnya, Kia. Udah mendingan kamu tidur deh, kakak takut khilaf!"

Zaskia menatap punggung Aryan, Sedih. ia tau ia salah, tapi apakah Aryan harus bersikap seperti itu? Kenapa dia tidak bersikap biasa saja? begitulah pikiran Zaskia yang tidak tau bagaimana beratnya seorang lelaki ketika sedang ingin namun keinginan itu malah tidak bisa dilepaskan.

"Ya udah sih, enggak usah ngegas!"

Zaskia ikut merubah posisi memunggungi Aryan.

"Kakak enggak ngegas, Kia."

"Itu tadi ngomongnya kayak orang lagi kesel."

"Ya udah maaf ya."

"Iya enggak apa-apa. Kia ngerti kok. Kakak pasti kecewa."

Sepasang suami istri yang seharusnya masih menikmati momen malam panas mereka sebagai pengantin baru, kini malah tampak seperti pengantin lama.

Berbicara saling memunggungi, seolah baru saja terjadi pertengkaran hebat. Padahal hanya salah paham kecil.

"Nggak begitu sayangnya kakak.."

Ucapan yang terdengar seperti Aryan sedang berada gemas itu membuat sentakan kecil mengguncang jantung Zaskia. Hawa panas berasa naik membawa pipinya bersemut seperti terkena uap.

"Terus kenapa gitu tidurnya,"

"Ya Kalau dekat kamu pikiran kakak bisa travelling, Kia."

"Ya terus Kia harus gimana?"

"Kita tidurnya gini aja. Gapapa, kan?"

Zaskia menghela nafas. Entah mengapa ia kecewa. Apakah benih cinta mulai tumbuh sehingga membuatnya merasa hampa ketika Aryan memberi jarak seperti ini? Padahal sebelumnya Zaskia berharap jika Aryan tetap menjaga batasan sehingga malam panas tak perlu terulang. Oh Tuhan, ada apa dengan hati Zaskia? Apakah rasa yang bernama nyaman telah membuat perasaannya berpaling dari Kafa sepenuhnya pada Aryan?

"Ya udah."

Jawaban yang terdengar berat itu membuat Aryan menolehkan wajah menatap Zaskia yang masih memunggunginya. Tapi setelah itu ia kembali tidak merubah posisinya sama sekali.

"Kia, Kakak boleh tanya?"

Zaskia diam sejenak sedang menunggu pertanyaan apa yang akan tercetus untuk ia jawab. "Kakak mau tanya apa?"

"Selama kamu pacaran sama Kafa? Hal apa aja yang udah kalian lakuin?"

Zaskia tercenung, ia kembali bergeming, sementara pikirannya melayang kembali mengingat hari-harinya bersama Kafa ketika hubungan spesial masih mengikat mereka di masa lalu.

"Buat apa Kakak nanya masa lalu Kia, kalau pada akhirnya bakalan buat Kakak overthinking."

"Jawab aja Kia,"

"Kita gak pernah ngapa-ngapain Kak, pegangan tangan juga gak pernah, tapi kak kafa sering ngusap kepala Kia."

"Dia enggak pernah cium kamu?"

"Enggak,"

"Jujur aja, Kia,"

"Beneran gak pernah Kak, tanya aja sama Kak Kafanya kalau gak percaya." ucapnya sedikit menggunakan emosi.

"Cuma ngusap kepala doang, yakin?"

"Terserah Kakak deh mau mikir apa!"

Aryan terdiam, terdengar helaan nafas berat yang mengalir dari dua rongga hidungnya. Setelah itu hening, tidak terdengar lagi suara Arian yang memberi pertanyaan.

Padahal Zaskia menunggunya, apakah seperti ini akhirnya malam yang akan mereka lalui? Saling bungkam dengan prasangka yang mengiringi hembusan nafas kecewa kembali terurai dari lubang pernapasan Zaskia. Entahlah, ia tidak mengerti apa yang saat ini sedang Aryann pikirkan, sedari tadi laki-laki itu memang agak sensitif.

Suara detak jarum jam yang berlalu, melewati angka demi angka membawa malam kian larut.

Tidak terdengar lagi riuh suara manusia di ruangan itu, hening bersama mata-mata yang membawa pemiliknya berkelana ke alam mimpi.

Zaskia dan Aryan akhirnya tertidur bersama pikiran mereka yang belum selesai dikupas secara tuntas.

Zaskia terusik, ketika ada yang menyentuh kepalanya, perlahan matanya yang mengerat itu terbuka. Pandangannya remang-remang memperhatikan tempat yang tidak terdapat cahaya di dalamnya.

Zaskia merasakan dejavu, ia mengingat tempat di mana ia terbangun saat ini. Ketika ia bangkit, Zaskia terkejut melihat sosok nenek duduk di tepi ranjang tempat tadi ia meletakkan kepalanya.

"Astaghfirullah," Zaskia lekas beringsut mundur. Kenapa ia mengalami hal ini lagi?

"Tidur lagi sayang," sosok itu berbicara dengan matanya yang menyorot aneh.

Zaskia lekas turun dari tempat tidur usang itu dan hendak berlari. Namun dari arah kolong sebuah tangan pucat mencekal kakinya membuat ia akhirnya terjatuh, hampir mencium lantai berdebu.

"Ya Allah, tolong Zaskia."

Zaskia memejamkan kuat matanya di tengah rasa takut yang teramat ia bahkan tidak menoleh ke belakang karena ia tahu sosok yang baru saja menyentuhnya itu bukan manusia.

"Lagi ribut ya nduk sama suaminya. Manusia memang begitu, mau ikut mbok tidak, nanti kamu jadi ratu di dunia kami." Suara parau itu membuat jantung Zaskia kian terpacu bagaimana sosok itu tahu jika hubungannya dengan Aryan sedang tidak berjalan baik.

"Tolong jangan ganggu saya!"

"Manusia itu jahat, nduk. Suamimu itu tak sungguh mencintaimu, dia hanya memikirkan nafsunya sendiri."

Zaskia menutup telinga. Menepis suara sumbang yang entah mengapa terasa sangat menyeramkan.

"Kia? Ini kakak, ayo pulang." Zaskia membuka mata kala suara aryan menyentuh indera pendengarannya.

Di depannya, sosok laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengan aryan menyodorkan tangan. Ia tersenyum di antara wajahnya yang bercahaya.

"Kakak...." Zaskia merengek menatap sosok dk depannya dengan perasaan lega.

Ketika ia menyentuh tangan yang terasa hangat itu, Zaskia seperti tertarik ke dimensi yang lain. Begitu membuka mata, Zaskia terkejut mendapati wajah Aryan sedang menatapnya khawatir.

"Kia? Hei, kamu kenapa? Kia?"

"Kak?" Zaskia kangsung meraba-raba wajah aryan begitu ia sadar, memastikan jika ia masih bermimpi atau tidak.

Aryan mengernyit kemudian menimpali tangan zaskia di pipinya.

"Ini mimpi atau bukan?" Tanya Zaskia, tampak tegang.

Aryan menghela nafas sedih, sekarang ia tahu apa yang membuat Zaskia tiba-tiba menangis dalam tidurnya. "Kamu mimpi buruk lagi?"

Mengetahui ini bukan mimpi, tangis Zaskia seketika mengudara. Aryan sigap memberi perlindungan dengan memeluk erat tubuh istrinya.

"Kenapa Kia masih mimpi yang aneh-aneh, Kak?" Ia sesenggukan.

"Besok kita temui Ustad Mansyur, ya?"

Zaskia mengangguk. Aryan memeluk perempuan itu dengan posisi berbaring memasukkan kepala Zaskia ke dalam dadanya.

"Kia takut, Kak."

"Sudah, sekarang udah ada kakak. Kamu aman sekarang."

"Kak, mungkin kita harus ngelakuin itu lagi."

Aryan tertegun. Apakah harus seperti itu? Ia mendadak gugup.

"Tapi Kia,-"

"Kak... Kia beneran gapapa." Ia langsung memotong perkataan Aryan.

"Seserem itu kah mimpi kamu, Kia?"

Zaskia mengangguk. Aryan kemudian perlahan melepaskan pelukan ia mendorong kedua bahu Zaskia untuk membawa wajah perempuan itu agar bisa ia lihat dengan jelas.

Setelah wajah mereka saling menghadap, jemari Aryan bergerak lembut mengusap lelehan bening dari kedua sudut mata Zaskia yang berjatuhan ke permukaan bantal.

"Nanti kalau sakit gimana?"

"Pelan-pelan, Kak."

Aryan kian gugup. "Kalau tetap sakit?"

"Kia bakal tahan."

"Kakak gak tega, Kia."

"Tapi Kia takut mimpi aneh lagi, Kak."

Aryan menghembuskan nafas panjang guna menekan kikuk dalam dirinya agar tidak menguar. laki-laki itu perlahan mencondongkan wajah kembali mendekati bibir Zaskia. Zaskia di tempatnya lantas mengejamkan mata.

Entah apa yang akan terjadi nanti, ia akan pasrah. Aryan memagut bibir Zaskia beberapa kali sambil memberi kecupan lembut guna memantik syahwat istrinya. Jemari besar Aryan lalu menimpali pipi Zaskia. Ibu jarinya membelai lembut permukaan wajah perempuan itu dengan sayang.

Aryan pelan-pelan melepaskan tautan bibirnya dari bibir Zaskia. Iris coklatnya menyorot teduh wajah perempuan yang sedikit terengah akibat permainan mereka yang agak menggebu.

Aryan kemudian bangkit duduk untuk membuka kaus yang menutupi tubuh atletisnya. Perut dengan bentuk proporsional itu kini sudah terlihat dengan jelas. Setelah itu ia merangkak berpindah ke atas Zaskia, mengurungnya sembari meneliti pupil mata istrinya yang bergerak cemas.

"Jangan dipaksa, Kia."

"Enggak, Kak. Kia beneran ikhlas."

Aryan tidak punya pilihan walau sebenarnya ia enggan untuk melakukan hal yang bukan didasari antara suka sama suka.

Menyadari kegundahan di wajah Aryan atas dirinya, Zaskia kemudian menarik wajah Aryan untuk selanjutnya ia kecup bibir laki-laki itu. Aryan terperanjat, matanya membulat.

"Kia sayang kakak." Ucapnya usai memberi kecupan sembari memandang teduh ke dalam manik mata Aryan yang bergerak-gerak.

Deg!

1
Syti Sarah
Masya Allah bucin bnget sih Aryan 🥰🥰
Ayu Oktaviana
jodohnya kafa msih unyu unyu😁😁😁😂😂😂
syora
dara nih kyak si onty zura 🤣🤣🤣🤣
Nifatul Masruro Hikari Masaru
wah jodoh nya kafa masih sd
Syti Sarah
kocak juga nih anak nya Azzam 😂😂
Shabrina Darsih
blm Tau aja kia. uda nikah pasti hbs tuh sm aryan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ya nggak papa lah wong yang hamilin kan suami sendiri
nan luxiao
suka banget, dari cerita athar cila, abidzar zuya, azzam aira, sama yang ini selalu seruu banget
Syti Sarah
waah,mmang ya umma zuya absurd nya gak ada lawan.msa anak sndiri di bilang hamil 😂😂
anakkeren
best ,❤️
Anak manis
cakep buat authornya 🥰
just a grandma
seruuu
cutegirl
pokoknya aku sllu menunggu cerita dri author ini
cutegirl
ada ada aja😂
Ayu Oktaviana
selamat untuk kia dan aryan😍😍.. kita tinggal tunggu arshaf nih
Fegajon: kurang lebih begitu 😛
total 3 replies
Syti Sarah
Masya Allah,lengkap sudh kbhgian pasangan ini.slmat ya kia Aryan 🥰🥰
Syti Sarah
ciie yg udh di blas cinta nya sama istri 🥰
Syti Sarah
prsis kyak Abi nya ya aryan ini.tpi klau udh sah,bda bnget sifat nya sama istri nya .jdi syang ,bucin bnget sama istri nya .eeeh,udh mulai brani ya kia😁😁
Syti Sarah: iya btul bnget kak 😊
total 4 replies
Syti Sarah
ciie yg msak untuk pak suami 🤭🤭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
udah terlambat kali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!