Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri atau Tahanan?
Pintu itu tertutup.
Dan suara 'klik' kecil dari kunci otomatis, terasa menakutkan baginya.
Alya masih berdiri di tempatnya, menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Arkan.
Ucapannya terus berputar di kepala Alya.
"Nama bukan sekedar identitas, tapi itu adalah sebuah ancaman."
Napasnya terasa berat, seolah udara di kamar ini tiba-tiba menipis. Ia melangkah mundur perlahan, lalu terduduk di tepi tempat tidur. Tangannya gemetar tanpa bisa ia kendalikan.
"Ini bukan hidupku," bisiknya lirih.
Tapi kenyataan tidak peduli, karena Alya sudah berada di dalamnya.
Beberapa menit berlalu, atau mungkin lebih lama. Alya tidak yakin, karena pikirannya penuh untuk sekedar menghitung waktu.
Hingga suara ketukan pelan terdengar dari pintu, tubuh Alya langsung menegang. Jantung berdetak lebih cepat, ucapan Arkan kembali terngiang di kepalanya.
"Jangan pernah membuka pintu untuk siapa pun."
Ketukan itu terdengar lagi, di barengi dengan suara seseorang yang memanggil namanya.
"Alya?"
Suara seorang wanita yang terdengar lembut, tapi Alya merasa bahwa ia mengenal suara wanita itu.
"Nisa? Apa mungkin itu dia?"
Alya perlahan mulai berdiri, lalu mendekati pintu.
"Ini aku, Nisa. Tolong buka pintunya."
Alya merasa ragu, kalau itu benar Nisa, kenapa dia ada di sini?
Bagaimana dia bisa masuk ke mansion Arkan?
Dan, kenapa Arkan memperingatkannya?
Pertanyaan itu muncul di benak Alya, ia masih terdiam tidak berani membuka pintu itu.
"Alya? Kamu ada di dalam, kan?"
Suara wanita itu terdengar kembali, Alya menggigit bibir bawahnya. Logikanya berkata bahwa itu memang Nisa, tapi hatinya menolak untuk percaya jika wanita itu Nisa.
"Alya, please... aku khawatir sama kamu."
Alya memejamkan mata sejenak, "A-aku tidak bisa membuka pintu ini sembarangan," jawabnya pelan.
"Kenapa, Alya? Ini aku Nisa, bukan orang lain."
"Nisa? Tapi, jika itu benar, kenapa kamu bisa berada di mansion ini?"
Tidak ada jawaban, namun suara langkah kaki terdengar mulai menjauh dari pintu.
Alya mulai merasa bahwa perasaannya tidak enak, ia mundur perlahan dari pintu, lalu kembali ke tengah kamar.
Alya menghela napas pelan, "Berarti itu bukan Nisa."
Alya berpikir sejenak, kalau itu bukan Nisa. Lalu wanita itu siapa?
Dan yang lebih mengerikan, bagaimana orang itu tahu namanya?
***
Satu jam kemudian, Alya masih belum berani tidur. Lampu kamar tetap menyala terang, ia duduk memeluk lututnya, sambil menatap kosong ke arah pintu.
Setiap suara kecil membuatnya jadi waspada, hingga pintu terbuka. Alya langsung tersentak, karena Arkan masuk tanpa mengetuk pintu.
Tatapannya langsung tertuju pada Alya, yang masih duduk di posisi yang sama.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanyanya datar.
Alya menatapnya dengan perasaan yang takut dan marah. "T-tadi ada seseorang yang mencoba ingin masuk ke kamar ini."
Alis Arkan sedikit terangkat, "Siapa?"
"Aku tidak tahu siapa, tapi wanita itu bilang, kalo dia Nisa."
Raut wajah Arkan langsung berubah lebih tajam, "Apa kamu membuka pintunya?"
Alya menggeleng cepat, "Tidak."
Arkan berjalan mendekat, langkahnya lebih cepat dari biasanya. Ia berhenti tepat di depan Alya.
"Dia bilang apa?" ucap Arkan dengan sedikit menunduk.
"Aku disuruh membuka pintu, katanya dia khawatir sama aku."
Arkan menghela napas pelan, "Baguslah kalau kamu nggak membuka pintu itu."
"Siapa wanita itu, Arkan? Kenapa dia mengaku sebagai Nisa?"
Arkan berjalan ke arah jendela, mematikan tirai tertutup dengan rapat. Baru setelah itu, ia mulai berkata.
"Orang yang ingin memastikan kamu mati."
"Apa? Kenapa dia menginginkan aku mati?"
"Karena sekarang, kmu sudah menjadi target baru mereka."
"Ta-tapi, kenapa aku?" tanya Alya dengan suara bergetar.
"Karena kamu sekarang adalah istriku," jawab Arkan tanpa menoleh.
"Jadi... aku cuma jadi sasaran karena kamu?"
Arkan langsung menoleh, dan Alya bisa merasa tatapannya begitu tajam. "Bukan cuma itu. Tapi, untuk sekarang belum waktunya kamu untuk tahu."
Alya mengepalkan tangannya, "Selalu saja begitu! Semua tentang kamu penuh dengan rahasia, dan sekarang aku harus hidup dalam ketakutan tanpa tahu alasannya apa?!"
"Kalau kamu tahu semuanya, kamu nggak akan kuat, Alya."
"Jangan tentukan aku kuat atau nggak!" balas Alya dengan sedikit berteriak.
"Turunkan nada bicaramu, Alya. Kamu tidak tahu, saat ini aku sedang berusaha untuk melindungimu."
"Dengan cara mengurungku seperti ini," potong Alya cepat. "Ini bukan perlindungan, Arkan. Tapi ini sebuah penjara. Aku ini istrimu, atau tahananmu?"
Arkan hanya diam, tapi tatapannya berubah menjadi lebih dalam dan dingin.
"Yang jelas, kamu akan aman jika berada disini."
Alya menggeleng, "Aku tanya, aku ini apa buat kamu?"
Arkan mendekat, bahkan jarak mereka hampir tidak terlihat. "Kamu milikku, Alya. Milik Arkan Virello."
Alya terdiam, karena lagi-lagi ia tidak bisa menyangkalnya. "Aku bukan barang, dan aku nggak punya pilihan," bisiknya lirih.
"Kamu salah, semua orang punya pilihan."
Alya menatapnya, "Pilihan apa? Kabur? Lalu diburu orang-orangmu?"
Arkan menatapnya lama, "Kalau kamu mau, aku bisa saja membiarkanmu pergi."
"Kamu serius?" tanya Alya dengan wajah berbinar.
"Aku serius, tapi setelah itu tidak ada jaminan bahwa kamu akan tetap hidup."
Wajah yang tadinya berbinar, kini berubah menjadi raut wajah ketakutan. Tapi sebisa mungkin, Alya menutupi rasa takutnya itu.
"Jadi, tetap saja aku ini tahanan."
Arkan tidak menyangkalnya, dan itu lebih menyakitkan dari jawaban apa pun.
Alya memalingkan wajah, air matanya akhirnya jatuh. "Aku cuma mau hidup normal," suaranya terdengar begitu lirih.
Untuk saat ini, Alya benar-benar terlihat hancur. Arkan terdiam, tapi tatapannya tidak setajam tadi. Ia melangkah mendekati Alya.
"Normal adalah hal yang relatif," katanya rendah.
Alya menggeleng, "Bukan seperti itu."
Arkan berdiri di depannya, namun kali ini ia tidak menyentuhnya.
"Alya, lihat aku."
Alya mengangkat wajahnya, air matanya masih ada. Arkan menatapnya beberapa detik, lalu ia mulai berkata.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu."
Kalimat itu terasa aneh, di satu sisi terdengar seperti janji. Tapi di sisi lain, seperti sebuah kepemilikkan.
"Aku tidak butuh dijaga seperti itu," bisik Alya.
Arkan menghela napas pelan, "Mungkin kamu belum menyadari sesuatu."
"Menyadari apa?"
Arkan menatapnya dalam, "Bahwa satu-satunya tempat yang paling aman untukmu sekarang, adalah tetap berada di sisiku."
Alya terdiam, karena ia tidak tahu harus percaya atau tidak.
Malam semakin larut, Alya akhirnya berbaring, meski matanya tetap terbuka.
Arkan tidak pergi, ia duduk di kursi dekat jendela. Diam seperti penjaga, atau mungkin Arkan sedang mengawasinya.
Alya menatap langit-langit, pikirannya kacau. Hidupnya berubah dalam hitungan hari, dari mahasiswa biasa, kini ia menjadi istri dari seorang mafia.
Dari hidup sederhana, menjadi target pembunuhan. Dan dari dunianya yang bebas, ia menjadi terkurung di dalam mansion yang begitu megah.
"Istri, atau tahanan?" gumamnya pelan.
Tidak ada jawaban, hanya ada suara jam yang berdetak dengan pelan. Namun satu hal yang pasti, mulai malam ini Alya sadar.
Ia tidak hanya harus bertahan dari Arkan, tapi juga dari dunia gelap yang kini sedang mengincarnya.
Dan dunia itu, tidak ada tempat untuk orang yang lemah. Perlahan Alya menutup matanya, bukan karena tenang, tapi karena ia sudah lelah, bahkan sangat lelah.
Di sisi lain ruangan, Akan masih duduk terdiam. Tatapannya tidak lepas dari Alya, ada sesuatu yang lain dari sorot matanya. Sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Namun satu hal yang jelas, malam ini bukan akhir dari ketakutan Alya, tapi ini baru permulaan.