Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.
Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.
Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.
Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Gaun untuk Orang Lain
Arkana masih memegang pergelangan tangan Kemuning di samping ranjang dalam sunyi malam yang menyesakkan. Tatapan pria itu terlihat jauh lebih gelap dari biasanya. Sedangkan napas Kemuning langsung tidak stabil setelah mendengar kalimat rendah tadi. Jantungnya terasa hampir berhenti berdetak.
“Kalau terus seperti ini... kau yang akan membuatku kehilangan kendali.” Suara Arkana terdengar pelan tetapi menghantam dada Kemuning tanpa ampun.
Tatapan mata pria itu terlalu serius untuk dianggap bercanda. Dan itu justru membuat Kemuning makin membeku. Ia tidak mampu menjawab apa pun.
Tubuhnya terasa panas dan lemas bersamaan sekarang. Ucapan Arkana terdengar jauh lebih intim daripada sekadar perhatian biasa. Dan itu membuat pikirannya semakin kacau.
Kemuning mulai sadar hubungan mereka sudah terlalu dekat. Terlalu banyak sentuhan, tatapan, dan perhatian yang tidak seharusnya ada. Namun setiap kali Arkana bersikap seperti ini, pertahanannya selalu runtuh perlahan. Dan hal itu mulai menakutkan baginya. Karena semakin lama, Arkana terasa semakin penting di hidupnya. Pria itu selalu muncul saat dirinya takut, menangis, atau terluka. Seolah tanpa sadar, Kemuning mulai bergantung pada Arkana sedikit demi sedikit.
Kemuning takut jika suatu hari semua itu hilang. Namun mereka berasal dari dunia yang berbeda. Arkana Mahendra hidup di dunia yang tinggi dan sempurna. Sedangkan dirinya hanyalah gadis desa yang bahkan tidak punya apa-apa. Kemuning tidak boleh berharap terlalu jauh.
Di sisi lain, Arkana juga mulai terganggu oleh dirinya sendiri. Ia sadar tidak seharusnya bicara seperti tadi.
Kalimat itu terlalu jujur dan terlalu dekat dengan sesuatu yang selama ini ia hindari. Namun semakin dekat dengan Kemuning, semakin sulit dirinya menjaga batas. Wajah polos gadis itu terlalu mudah memancing sisi protektif Arkana keluar. Mata Kemuning terlalu jujur setiap kali menatapnya. Dan yang paling berbahaya, Arkana mulai menyukai cara gadis itu bergantung padanya. Kesadaran itu membuat rahangnya mengeras samar.
Perlahan, Arkana akhirnya melepaskan pergelangan tangan Kemuning. Namun tatapannya masih tertahan terlalu lama di wajah gadis itu. Kemuning langsung menunduk malu sambil memeluk ujung selimut erat. Jantungnya masih belum bisa tenang.
“Tidur.” Suara Arkana terdengar rendah seperti perintah. Namun ada perhatian terselubung di dalam nada dingin tersebut. Dan itu justru membuat dada Kemuning makin berdebar.
Kemuning akhirnya kembali berbaring perlahan di ranjang besar itu. Ia memunggungi Arkana sambil memeluk selimut erat sampai ke dada. Namun sepanjang malam, pikirannya terus dipenuhi wajah dan suara pria tersebut. Membuat tidurnya tidak pernah benar-benar nyenyak lagi.
Pagi datang bersama suasana mansion Mahendra yang jauh lebih sibuk dari biasanya. Beberapa orang keluar masuk membawa kotak makeup, gaun, dan peralatan styling mahal. Pelayan mondar-mandir menyiapkan kebutuhan gala dinner perusahaan malam nanti. Sedangkan Kemuning hanya berdiri bingung di sudut ruang tengah. Ia merasa semua itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Dunia glamor seperti ini terlalu jauh dari kehidupan Kemuning sebelumnya. Bahkan melihat para stylist berpakaian mahal saja sudah membuatnya kikuk. Jadi ia memilih diam dan memperhatikan dari jauh.
Ratih Maharani duduk elegan sambil mengawasi persiapan dengan wajah dingin. Beberapa desainer memperlihatkan koleksi gaun malam pilihan mereka di depan Ratih. Mahardika juga tampak sibuk membaca agenda acara malam nanti. Sampai akhirnya pria itu mengangkat kepala perlahan.
“Kemuning ikut malam ini.” Kalimat Mahardika langsung membuat seluruh ruangan sunyi beberapa detik. Bahkan beberapa pelayan saling melirik terkejut diam-diam.
Sedangkan Kemuning langsung membelalak panik.
“A-aku?” Kemuning refleks menunjuk dirinya sendiri dengan gugup. “Aku tidak bisa datang ke acara seperti itu...” Tubuhnya langsung menegang takut.
Ratih langsung memasang ekspresi tidak suka samar. Beberapa stylist juga terlihat bingung mendengar keputusan tersebut. Mereka jelas tidak menyangka gadis desa seperti Kemuning akan hadir di acara elite Mahendra Group. Dan hal itu membuat Kemuning semakin tidak nyaman.
“Aku tidak pantas berada di sana...” Kemuning buru-buru menolak sambil menunduk dalam.
Namun Mahardika hanya menatapnya tenang tanpa berubah pikiran sedikit pun. “Kau bagian dari rumah ini sekarang.”
Kalimat itu justru membuat Kemuning makin gugup.
Bagian dari rumah ini. Ucapan sederhana tersebut terasa terlalu besar bagi gadis seperti dirinya. Dan itu membuat dadanya bergetar aneh.
Tepat saat suasana masih tegang, suara langkah kaki terdengar dari tangga utama mansion. Arkana turun dengan setelan santai berwarna gelap sambil melonggarkan jam tangannya. Namun langkah pria itu langsung berhenti ketika mendengar percakapan tadi. Tatapannya otomatis tertuju pada Kemuning.
Kemuning terlihat sangat panik di tengah ruangan besar itu. Jemarinya saling meremas kecil karena gugup. Dan wajah polosnya jelas menunjukkan bahwa dirinya ingin kabur saja sekarang. Arkana memperhatikan semuanya diam-diam.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Ratih tampak menunggu Arkana menolak keputusan Mahardika. Namun pria itu justru berjalan mendekat sambil berkata datar.
“Siapkan gaun untuk dia.”
Semua orang langsung terdiam lagi. Ratih menoleh tajam pada putranya sendiri. Sedangkan Kemuning membeku menatap Arkana tidak percaya. Jantungnya langsung berdetak kacau lagi. Kemuning sadar Arkana sedang membelanya sekali lagi. Tanpa banyak bicara. Tanpa membuatnya merasa kasihan.
Dan perhatian diam-diam itu justru terasa jauh lebih berbahaya.
Beberapa stylist langsung mulai mengelilingi Kemuning dengan antusias. Mereka mencoba mencocokkan warna kulit, rambut, dan bentuk tubuh gadis itu. Sedangkan Kemuning terlihat sangat malu dan kaku di tengah semua perhatian tersebut. Ia bahkan tidak tahu harus berdiri bagaimana.
Di sisi lain ruangan, Arkana duduk sambil membaca dokumen kerja di tablet. Namun matanya beberapa kali diam-diam terangkat ke arah Kemuning. Dan setiap kali gadis itu terlihat gugup, rahang Arkana ikut mengeras samar. Pria itu terlalu memperhatikan sekarang.
Salah satu stylist akhirnya membawa gaun merah gelap dengan potongan terbuka di bagian dada. “Ini akan terlihat sangat seksi di tubuhnya.” Stylist itu tersenyum puas sambil mendekatkan gaun tersebut ke tubuh Kemuning. Namun suasana langsung berubah dingin.
“Ganti.” Suara Arkana terdengar datar dari sofa.
Semua orang langsung menoleh ke arahnya. “Yang lain.” Nada suaranya tenang tetapi jelas tidak bisa dibantah.
Stylist itu langsung salah tingkah dan buru-buru menyingkirkan gaun tadi. Sedangkan Kemuning hanya bisa menunduk malu dengan pipi memanas. Ia terlalu sadar Arkana memperhatikannya.
Ratih yang melihat semua itu mulai mengerutkan dahi. Putranya tidak pernah peduli pada detail pakaian perempuan sebelumnya. Namun sekarang Arkana bahkan memperhatikan seberapa terbukanya gaun Kemuning. Dan itu membuat Ratih mulai merasa tidak nyaman.
Di sisi lain kota, Selvina yang menerima undangan gala dinner juga mulai menyadari sesuatu. Arkana tidak pernah membiarkan perempuan asing terlalu dekat dengannya. Namun sekarang Kemuning perlahan masuk ke ruang pribadi pria itu tanpa sadar. Dan hal itu membuat Selvina semakin waspada.
Setelah beberapa pilihan gaun ditolak, suasana kembali sunyi. Sampai Arkana tiba-tiba berdiri dan berjalan mendekati rak koleksi gaun. Pria itu memperhatikan beberapa kain dengan tatapan serius. Membuat semua orang otomatis diam memperhatikannya.
Jari panjang Arkana menyentuh salah satu gaun warna champagne lembut perlahan. Kain satin halus itu jatuh ringan dan elegan di tangannya. Tatapan pria itu terlihat sangat fokus saat memilih.
Dan jantung Kemuning langsung berdebar tidak karuan melihatnya.
Arkana akhirnya mengambil gaun tersebut lalu berjalan mendekat ke arah Kemuning. Pria itu menyerahkan gaun itu langsung ke tangannya tanpa banyak bicara. “Pakai yang ini.” Nada suaranya singkat tetapi terasa terlalu personal.
Kemuning langsung salah tingkah menerima gaun itu. Entah kenapa pilihan Arkana terasa jauh lebih intim dibanding perhatian lainnya. Seolah pria itu benar-benar membayangkan dirinya memakai gaun tersebut. Dan itu membuat pipinya semakin panas.
Beberapa jam kemudian, suasana mansion berubah jauh lebih sibuk. Para stylist membantu Kemuning bersiap di kamar tamu khusus. Rambut panjang hitamnya ditata lembut dengan makeup tipis natural. Sedangkan Kemuning sendiri masih sulit percaya melihat pantulan dirinya di cermin. Gaun pilihan Arkana jatuh sempurna di tubuhnya.
Warna lembutnya membuat kulit Kemuning terlihat semakin bersih dan elegan. Tanpa banyak aksesori berlebihan, kecantikannya justru terlihat jauh lebih alami.Dan itu membuat semua stylist diam kagum.
“Dia cantik sekali...” Salah satu stylist berbisik pelan tanpa sadar. Bahkan para pelayan yang lewat ikut terpaku beberapa detik. Kemuning sendiri malah makin malu mendengarnya.
Saat akhirnya keluar dari kamar menuju ruang tengah mansion, suasana langsung berubah sunyi. Beberapa orang yang tadi sibuk langsung menghentikan aktivitas mereka. Tatapan kagum otomatis tertuju pada Kemuning. Dan gadis itu langsung gugup luar biasa.
Di sofa ruang tengah, Arkana sedang membaca dokumen kerja sambil menunggu. Namun perlahan pria itu mengangkat kepala begitu mendengar langkah kaki mendekat. Lalu untuk beberapa detik, Arkana benar-benar terpaku diam. Tatapan matanya berhenti tepat pada Kemuning.
Rambut panjang Kemuning jatuh lembut di bahunya.
Gaun warna champagne itu membuat gadis tersebut terlihat anggun tanpa kehilangan kepolosannya. Dan kecantikan alami Kemuning justru terasa jauh lebih memikat daripada sosialita mana pun yang pernah Arkana lihat. Sampai pria itu lupa mengalihkan pandangan.
Kemuning langsung menunduk malu saat sadar sedang diperhatikan seperti itu. Pipinya memerah halus dan jemarinya kembali saling meremas kecil.
Sedangkan Arkana perlahan berdiri dari sofa tanpa melepaskan tatapannya sedikit pun.
Suasana di ruang tengah mendadak terasa terlalu sempit. Arkana berjalan mendekat perlahan ke arah Kemuning. Langkahnya tenang tetapi membuat jantung gadis itu berdetak semakin liar. Pria itu berhenti tepat di depan Kemuning sambil terus menatapnya intens.
Lalu suara rendah Arkana akhirnya terdengar pelan.
“Mulai malam ini...” Tatapan mata pria itu turun perlahan ke wajah Kemuning yang memerah gugup.
Dan kalimat berikutnya langsung membuat napas Kemuning tercekat. “Jangan pergi jauh dariku.”