NovelToon NovelToon
Aksara Cinta Sang Penulis

Aksara Cinta Sang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Jati menghentikan motor tuanya dengan halus tepat di depan sebuah toko bunga yang masih terang benderang.

Aroma harum berbagai jenis kembang langsung menyapa indra penciuman mereka.

"Tunggu sebentar ya," ucap Jati sambil melepas helmnya.

Gayuh mengangguk pelan. "Iya, aku tunggu di sini saja."

Ia memperhatikan punggung Jati yang melangkah masuk ke dalam toko.

Ada rasa hangat yang aneh menjalar di hatinya. Pria ini begitu penuh kejutan.

Tak berselang lama, Jati keluar dengan senyum yang menghiasi wajah tegasnya.

Di kedua tangannya, ia membawa sesuatu yang membuat mata Gayuh membulat.

"Ini untuk kamu," ujar Jati sambil menyerahkan pot berisi bunga anggrek yang sangat indah dan segar. "Dan ini, juga untuk kamu."

Jati menyerahkan satu lagi, namun kali ini bukan rangkaian bunga biasa.

Itu adalah sebuah money bouquet—buket besar yang dirangkai dari lembaran-lembaran uang kertas bernominal tinggi yang tersusun rapi.

Gayuh menatap buket uang itu dengan tatapan tak percaya.

Ia tertegun sejenak, lalu perlahan menggelengkan kepalanya dengan mantap.

"Aku ambil anggrek ini saja," ucap Gayuh lembut sambil meraih pot bunga anggrek tersebut.

"Bunganya cantik sekali, terima kasih."

Ia menatap Jati tepat di matanya. "Tapi untuk yang ini, maaf aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak mau pertemuan pertama kita hancur hanya karena uang."

Jati tampak sedikit terkejut. Ia menatap lekat wanita di depannya, mencari kebohongan di mata itu, namun ia hanya menemukan ketulusan.

"Tryas, kamu yakin tidak mau ini? Ini hanya hadiah kecil."

Gayuh kembali mengangguk. Tanpa diduga, ia menoleh ke arah seorang ibu pengemis yang duduk tak jauh dari parkiran motor mereka.

Dengan langkah ringan, Gayuh menghampiri ibu itu dan menyerahkan buket uang tersebut ke tangannya.

"Ini untuk Ibu, semoga bisa membantu," ucap Gayuh tulus, meninggalkan si ibu yang terpaku seribu bahasa.

Gayuh kembali ke sisi Jati yang masih terdiam melihat pemandangan itu.

Di dalam hati Jati, sebuah dinding prasangka runtuh seketika.

Wanita ini benar-benar bukan seperti yang ia bayangkan.

"Ayo, kita lanjut cari lalapannya. Aku sudah lapar sekali!" ajak Gayuh dengan nada ceria, seolah baru saja memberikan benda yang tak berharga.

Jati tersenyum, kali ini lebih lebar dan penuh arti. "Ayo. Pegangan yang erat, ya."

Beberapa menit kemudian, Gayuh menepuk bahu Jati dan menunjuk ke sebuah warung tenda di pinggir jalan yang cukup ramai. Jati menghentikan motornya dengan cekatan.

Suasana warung itu sangat merakyat, dipenuhi aroma sambal terasi yang digoreng dan ayam yang baru saja diangkat dari penggorengan.

Gayuh langsung memesan dua porsi lalapan komplit dan meminta Jati untuk duduk di area lesehan beralaskan tikar pandan.

"Bagaimana pekerjaanmu sebagai model? Lancar?" tanya Jati tiba-tiba saat mereka sedang menunggu pesanan.

Gayuh sedikit kaget. Jantungnya berdegup kencang karena ia hampir lupa bahwa ia sedang berperan sebagai Tryas yang memang seorang model kelas atas.

"Oh... itu... ya, lancar kok. Begitulah, kadang sibuk, kadang tidak," jawab Gayuh dengan sedikit gugup, mencoba tetap tenang sambil merapikan gaun merah mudanya agar tidak terkena debu tikar.

Jati mengangguk-angguk, lalu ia mengambil ponsel dari saku jaketnya.

"Tryas," panggil Jati.

"Ya?"

"Boleh kita foto berdua? Untuk kenang-kenangan pertemuan pertama kita," pinta Jati hangat.

Gayuh tidak bisa menolak. Mereka duduk berdampingan, dan Jati mengarahkan kamera ponselnya ke arah mereka. Klik.

Sebuah foto terambil—menampilkan Jati yang tersenyum tulus dan Gayuh yang tersenyum manis namun sedikit cemas.

"Aku boleh minta nomor WhatsApp-mu?" tanya Jati lagi setelah menyimpan foto itu.

Gayuh mengangguk pelan, menyebutkan deretan angka ponselnya sementara Jati mengetiknya dengan saksama. Namun, sesaat setelah itu, Gayuh teringat sesuatu yang sangat krusial.

Jika Jati mengunggah foto ini ke media sosial atau status WhatsApp, identitas penyamarannya bisa terbongkar dalam sekejap jika dilihat oleh teman-teman Tryas yang asli.

"Jat, jangan dibuat status ya, foto kita tadi," pinta Gayuh cepat, suaranya terdengar sedikit mendesak.

Jati mengernyitkan keningnya, tampak bingung dengan permintaan mendadak itu.

"Kenapa?"

Gayuh memutar otak, mencari alasan yang masuk akal. "Ehm... aku hanya ingin lebih... privat saja malam ini."

Jati akhirnya tersenyum tipis, seolah menyimpulkan sesuatu sendiri.

"Iya, Tryas. Aku mengerti. Aku tahu kamu banyak penggemar, mungkin kamu tidak mau mereka heboh melihatmu makan lesehan bersamaku."

"Ishhh, apaan sih! Bukan begitu maksudnya," sahut Gayuh sambil mengerucutkan bibirnya, merasa sedikit bersalah sekaligus lega karena Jati salah paham ke arah yang menguntungkannya.

Beruntung, pelayan datang membawa dua piring penuh lalapan dan nasi hangat yang mengepul.

"Ayo, kita makan dulu. Keburu dingin nanti!" ajak Gayuh, berusaha mengalihkan pembicaraan agar Jati tidak bertanya lebih jauh tentang dunianya sebagai "model".

Jati hanya tertawa kecil melihat tingkah "Tryas" di depannya.

Baginya, sisi malu-malu dan sederhana ini jauh lebih memikat daripada foto-foto kaku yang pernah ia lihat sebelumnya.

Malam semakin larut, namun suasana di warung lalapan itu terasa begitu hangat bagi mereka berdua.

Gayuh menyuap nasi hangat dengan sambal korek yang pedasnya pas, mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang karena urusan foto tadi.

"Lalu bagaimana pekerjaanmu? Apakah semuanya lancar?" tanya Gayuh sambil menikmati makanannya.

Sambil menunggu jawaban Jati, pikiran Gayuh melayang kembali pada percakapannya dengan Tryas di kafe tadi sore.

Suara melengking sahabatnya itu seolah terngiang kembali di telinganya.

Dia itu pria kuno, Gayuh! Paling-paling kerjanya serabutan atau jadi ojol. Aku tidak sudi punya suami yang jemput aku pakai helm bau keringat!

Gayuh menatap Jati yang sedang mencuci tangannya di kobokan.

Ia merasa iba jika benar Jati hanyalah seorang pekerja serabutan seperti yang dituduhkan Tryas. Namun, Jati justru menanggapi pertanyaan itu dengan senyum yang sangat tenang.

Jati menganggukkan kepalanya perlahan. "Alhamdulillah, lancar. Aku bekerja sebagai ojol, dan tadi sebelum menjemputmu, aku sempat mendapatkan lima penumpang."

Mendengar kejujuran itu, Gayuh tidak merasa ilfeel atau jijik seperti yang dibayangkan Tryas.

Ia justru merasa kagum pada laki-laki yang tidak malu mengakui pekerjaan kasarnya demi mencari nafkah yang halal.

"Alhamdulillah," ucap Gayuh tulus. "Lima penumpang itu sudah bagus, Jat. Yang penting berkah."

Jati terdiam sejenak, menatap Gayuh dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada binar kekaguman di matanya melihat reaksi "Tryas" yang begitu menghargai profesi kecil.

Sebenarnya, ada rahasia besar yang Jati simpan rapat-rapat. Ia sengaja merahasiakan jati diri aslinya, bahkan dari kedua orang tua Tryas yang merupakan sahabat mendiang ayahnya.

Mereka hanya tahu Jati adalah lulusan Mesir yang sedang memulai hidup dari nol.

Padahal, di balik jaket sederhana dan motor tua itu, Jati adalah seorang CEO dari sebuah perusahaan investasi yang memiliki puluhan anak cabang.

Ia hanya ingin tahu, apakah wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya nanti bisa mencintai sosoknya yang "biasa saja", bukan karena tahta yang ia punya. Dan malam ini, di atas kursi lesehan yang sederhana, Jati mulai merasa bahwa ia telah menemukan permata itu pada sosok wanita yang ia kira adalah Tryas Adiguna.

1
Dew666
😍😍😍😍
Rahmawati
wow maharnya fantastis bgt👏👏👏
Rahmawati
hahaha, pagi pagi udah nongol aja si jati
Rahmawati
tryas km akan nyesel nanti😂
Rahmawati
lah kok malah jadi nyaman😂
Rahmawati
baru mulai baca
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Vie
aaaa..... ini disini juga aku mau jati... ini udah mangap dari tadi loh... 🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
nah itu kau tahu sendiri kan.... makanya selamat tersiksa ya tryas.... 🤪🤪🤪🤪
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍👍👍
Vie
iiihhhh jadi baper deh.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Vie
kamu dasar cucu durhakim.... bilang neneknya sakit.... eh ternyata lagi santai di ln..... dasar cucu durhakim... 🤭🤭🤭🤭
Vie
demi bos jadi ikutan nyamar.... 🤣🤣🤣🤣 demi apa coba hal itu dilakukan.... demi cinta... 🤭🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
lanjut kak..... 👍👍👍👍 seru banget..
Vie: makasih kak.... aku selalu stay walau jarang komen, tapi tetap lanjut baca... lanjut sampai ceritanya tamat ya kak.. 👍👍👍👍😊😊😊
total 2 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!