Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Dua Dunia
Tiga minggu telah berlalu sejak pertempuran di Aequoria.
Reruntuhan istana mulai dibersihkan. Para mantan Siren Hitam — kini dengan ingatan yang telah Nana pulihkan — bekerja bahu-membahu membangun kembali kota. Ada yang mengangkut puing-puing karang, ada yang menanam kembali bunga laut yang mati, ada yang hanya duduk di tepi jalan dan menangis, karena untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun mereka bisa menangis.
Tapi di tengah hiruk-pikuk pembangunan itu, Nana merasa kosong.
Bukan karena ia tidak bahagia. Ia bahagia — melihat rakyatnya tersenyum, melihat Aequoria perlahan bangkit dari kematian. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, di samping Jantung Aequoria yang berdenyut setia.
Mira.
Ibu angkatnya masih di darat. Masih terbaring lemah di rumah reyot di ujung dermaga. Dan Nana belum pernah kembali sejak malam ia meninggalkan Mira untuk menyelamatkan Jeno.
"Aku harus kembali," kata Nana suatu malam, saat ia dan Jeno duduk di atas reruntuhan balkon istana — tempat yang sama di mana dulu mereka berpelukan sebelum badai.
Jeno menoleh. Matanya yang biru pucat — kini lebih terang dari sebelumnya, setelah lukanya mulai pulih — menatap Nana dengan lembut.
"Aku tahu."
"Kau... tidak keberatan?"
Jeno tersenyum kecil. "Aku akan ikut."
Nana mengerjap. "Kau? Ke darat? Tapi kau Siren. Kau tidak bisa—"
"Aku bisa." Jeno mengangkat tangannya, memperlihatkan sisik biru di pergelangan tangannya yang mulai pudar. "Siren tingkat tinggi bisa mengubah wujud. Sementara. Kaki, paru-paru, semuanya. Tapi hanya untuk beberapa hari. Setelah itu, kita harus kembali ke laut atau kita akan mati lemas di darat."
Nana terdiam. "Kau rela melakukan itu? Untukku?"
Jeno tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya meraih tangan Nana dan menggenggamnya erat — jawaban yang sudah cukup.
Pagi harinya, mereka berdiri di perairan dangkal dekat pantai desa nelayan. Air laut setinggi pinggang Nana — dan setinggi dada Jeno, karena tubuhnya yang lebih tinggi.
"Ini akan terasa aneh," kata Jeno. "Dan mungkin sedikit menyakitkan. Tapi jangan panik."
Nana mengangguk. "Aku percaya padamu."
Jeno menutup mata.
Nana melihat transformasi untuk pertama kalinya — bukan transformasi dari manusia ke Siren, tapi sebaliknya. Sisik biru gelap di tubuh bagian bawah Jeno perlahan memudar, berubah menjadi kulit pucat normal. Ekornya yang panjang dan ramping terbelah menjadi dua, membentuk kaki — kaki laki-laki yang jenjang, dengan otot-otot yang tegas karena terbiasa berenang.
Tapi prosesnya tidak semulus itu.
Jeno mendesis kesakitan, tangannya mencengkeram bahu Nana erat-erat. Tulang-tulang di ekornya terasa seperti diremukkan dan dibentuk ulang. Selama sepuluh tahun ia tidak menggunakan kaki — tubuhnya lupa caranya.
Ketika transformasi selesai, Jeno jatuh ke depan — dan Nana menangkapnya.
"Kau... berat," keluh Nana, mencoba menahan tubuh Jeno yang basah dan telanjang (karena pakaian Siren tidak ikut berubah). Untunglah, Nana sudah menyiapkan jubah panjang dari rumput laut kering yang ditenun oleh para Siren perempuan di Aequoria.
"Maaf," bisik Jeno, wajahnya memerah — bukan karena malu telanjang, tapi karena malu perlu ditolong.
Nana tertawa kecil. "Jangan minta maaf. Aku yang berhutang budi padamu. Sepuluh tahun kau menjagaku. Sekarang giliranku menjagamu di darat."
Jeno hanya bisa mengangguk lemas, kakinya yang baru terasa seperti dua batang kayu yang tidak bisa ia kendalikan.
Rumah itu masih sama seperti yang Nana tinggalkan.
Dinding kayu lapuk. Atap rumbia yang bolong di sana-sini. Bau asin dan amis yang sudah mendarah daging. Tapi ada yang berbeda: di depan pintu, sepasang sandal anyaman baru tergeletak — sandal yang terlalu kecil untuk kaki Nana, terlalu besar untuk kaki Mira.
Ada orang lain.
Nana membuka pintu perlahan, Jeno di belakangnya dengan jubah rumput laut dan jalan yang masih pincang.
"Mira?" panggil Nana pelan. "Bu, aku pulang—"
Sebuah sendok kayu melayang ke arah kepalanya.
Nana menghindar dengan refleks Siren yang baru ia miliki — gerakan yang terlalu cepat untuk manusia biasa. Sendok itu menghantam dinding di belakangnya dan jatuh ke lantai dengan bunyi klatek.
"NAKAL!" teriak suara perempuan dari dalam. "PERGI KAU! AKU TIDAK MAU BELI IKAN KAMU! KEMAREN HARGA TERLALU MAHAL—"
"Bu, ini aku, Nana!"
Diam.
Kemudian suara langkah kaki terhuyung-huyung. Seorang perempuan dengan rambut putih kusut, wajah penuh keriput, dan mata sembab muncul dari balik pintu dapur.
Mira.
Ia sudah tua. Sepuluh tahun merawat Nana, lalu setahun hidup sendiri setelah Nana pergi — waktu tidak memperlakukan Mira dengan baik. Tapi matanya — matanya yang hitam dan hangat — masih sama.
"Nana?" bisik Mira.
Air mata Nana jatuh. "Bu..."
Mira tidak menunggu lebih lama. Ia berlari — secepat yang ia bisa dengan kaki bengkoknya — dan memeluk Nana erat-erat. Begitu erat sampai Nana hampir tidak bisa bernapas.
"Kau... kau pulang..." Mira terisak di pundak Nana. "Aku kira kau tidak akan kembali. Aku kira kau sudah mati di laut. Aku kira—"
"Aku pulang, Bu," bisik Nana, membelai rambut putih Mira dengan lembut. "Aku pulang. Dan aku tidak akan pergi lagi. Setidaknya... tidak sekarang."
Di belakang mereka, Jeno berdiri dengan canggung di ambang pintu. Kaki telanjangnya terasa aneh di lantai kayu yang kering. Udara daratan terasa tipis di paru-parunya yang sudah terbiasa dengan air.
Mira melepaskan pelukannya dan menatap Jeno.
Matanya menyipit.
"Kau... bukankah kau laki-laki yang dulu menitipkan Nana padaku? Sepuluh tahun lalu? Dengan mata biru itu?"
Jeno mengangguk sopan. "Iya, Mira. Aku Jeno."
Mira terdiam. Lalu ia berjalan mendekati Jeno, menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki yang masih gemetar.
"Kau terlihat lebih tua sekarang," kata Mira. "Tapi sama tampannya."
Jeno tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya tersenyum canggung.
"Tapi kenapa kau memakai jubah rumput laut? Dan kenapa kau tidak pakai celana?"
Nana tertawa. Jeno ingin tenggelam kembali ke laut.
Mira memasak ikan bakar dengan bumbu sederhana — hidangan yang sudah sepuluh tahun tidak Nana cicipi. Di meja kayu reyot yang hanya memiliki tiga kaki (kaki keempat diganti tumpukan batu bata), mereka bertiga duduk.
Jeno gelisah. Kakinya masih terasa aneh. Jari-jari kakinya bergerak-gerak sendiri, tidak mau diam. Dan ia tidak bisa duduk bersila seperti dulu di dasar laut.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Mira sambil menyendok nasi ke piring Jeno.
"Baik-baik saja," jawab Jeno. "Hanya... lupa caranya jadi manusia."
Mira tertawa. "Aku lupa caranya jadi muda. Kita sama-sama belajar."
Malam itu, setelah makan, Mira dan Nana duduk di teras, menatap laut yang bergemuruh di kejauhan. Jeno duduk di samping Nana, kakinya diluruskan ke depan, matanya tertutup — menikmati suara ombak yang baginya seperti lagu pengantar tidur.
"Nana," kata Mira pelan. "Ibu harus cerita sesuatu."
Nana menoleh. "Apa?"
Mira menarik napas panjang. Tangan keriputnya menggenggam erat cangkir teh hangat.
"Sepuluh tahun lalu, ketika Jeno menitipkan kau padaku... aku tidak kenal dia. Aku hanya seorang perempuan miskin yang jualan ikan di pasar. Tidak ada alasan bagiku untuk menerima bayi orang asing."
"Tapi kau menerimaku."
"Karena aku mengenal ibumu."
Nana terkesiap. "Apa?"
Mira tersenyum pahit. "Ratu Ruenna. Dulu, sebelum ia menjadi ratu, ia pernah tersesat di perairan desa ini. Aku yang menemukannya, merawatnya selama seminggu, mengobati lukanya. Kami menjadi... teman. Saudara, bahkan. Tapi kemudian ia kembali ke laut, dan aku ke darat. Kami bertukar janji: jika suatu hari ia punya anak, aku yang akan menjaganya jika diperlukan."
Air mata Mira jatuh.
"Aku tidak tahu bahwa 'jika diperlukan' itu berarti kudeta berdarah. Aku tidak tahu bahwa aku harus menyembunyikan putri seorang ratu dari bibinya sendiri. Tapi ketika Jeno datang dengan kau dalam gendongannya... aku tidak bisa menolak. Karena aku berhutang budi pada Ruenna. Dan karena..."
Mira menatap Nana dengan mata berkaca-kaca.
"...karena wajahmu persis seperti ibumu. Aku tidak tega membiarkanmu mati."
Nana tidak bisa berkata apa-apa. Dadanya sesak. Jantung Aequoria berdenyut — bukan sakit, tapi haru.
"Jadi itu sebabnya kau selalu menangis saat melihat laut," bisik Nana. "Bukan karena kau takut laut. Tapi karena kau takut aku akan pergi seperti ibuku."
Mira mengangguk, terisak. "Maaf, Nak. Aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untukmu. Aku terlalu takut. Terlalu lemah."
Nana memeluk Mira.
"Kau ibu terbaik yang pernah aku miliki," bisiknya. "Kau menyelamatkan hidupku. Dan aku tidak akan pernah bisa membayarnya."
Jeno, dari samping, hanya tersenyum kecil. Diam-diam, ia mengusap sudut matanya yang basah.
(Bagian 5 — Jantung yang Rindu)
Tiga hari berlalu.
Nana menghabiskan waktunya dengan Mira — memasak, membersihkan rumah, bercerita tentang masa kecil Nana yang dulu, tertawa, menangis, dan hidup. Jeno di sampingnya, masih canggung dengan kaki manusia, tapi perlahan mulai terbiasa. Bahkan ia sudah bisa berjalan tanpa tersandung — meski kadang kakinya masih terbalik saat mau berbelok.
Tapi di malam ketiga, saat Nana terbaring di tempat tidur lamanya, ia merasakan sesuatu.
Denyut.
Jantung Aequoria di dadanya berdetak — tidak sinkron dengan detak jantung manusianya. Seperti dua suara yang seharusnya seirama, tapi kini bentrok.
Dan ada rasa sakit. Bukan sakit fisik. Tapi sakit rindu.
Nana bangun dari tidurnya. Ia berjalan ke jendela, membuka tirai tipis, dan menatap laut. Di kejauhan, ombak berkejaran di bawah sinar bulan.
Laut itu memanggilnya.
Bukan dengan suara. Tapi dengan detak. Detak yang sama dengan Jantung Aequoria — detak yang mengatakan: "Kau bukan manusia. Kau Siren. Aequoria membutuhkanmu."
Nana mengepalkan tangannya di atas dadanya.
"Aku tahu," bisiknya. "Tapi mereka juga membutuhkanku."
Ia menatap ke arah kamar Mira di seberang lorong — pintunya terbuka sedikit, memperlihatkan Mira yang tertidur lelap dengan selimut tipis. Dan di ruang tamu, Jeno tertidur di dipan bambu, kakinya menjuntai, mulutnya sedikit terbuka — tidak anggun sama sekali untuk seorang penjaga kerajaan.
Nana tersenyum.
Ini keluarganya. Dua dunia. Dua keluarga. Dan ia harus memilih.
Pagi harinya, saat sarapan, Nana membuka suara.
"Bu, aku harus kembali ke laut."
Mira tidak terkejut. Ia hanya meletakkan sendoknya pelan-pelan.
"Kapan?"
"Mungkin besok. Atau lusa."
Mira mengangguk. "Aku tahu ini akan terjadi. Sejak kau lahir, aku sudah tahu bahwa suatu hari kau akan kembali ke dunia aslimu."
Ia meraih tangan Nana.
"Tapi janji sama ibu, Nak. Jangan lupakan daratan. Jangan lupakan desa ini. Dan jangan lupakan... ibu."
Nana menangis. "Aku tidak akan pernah lupa, Bu."
Mira tersenyum. Lalu ia menoleh ke Jeno yang sedang sibuk berusaha memegang sendok dengan benar (jari-jarinya terlalu kaku untuk alat makan manusia).
"Kau," panggil Mira.
Jeno menegang. "Ya?"
"Jaga anakku."
Jeno menatap Nana sekilas, lalu kembali ke Mira. Matanya biru pucat itu bersinar dengan tekad yang tidak perlu diragukan lagi.
"Aku akan menjaganya sampai napas terakhirku, Mira. Aku bersumpah demi laut dan daratan."
Mira mengamatinya lama. Lalu ia mengangguk.
"Bagus. Karena kalau kau menyakitinya, aku akan datang ke laut dan memukulimu dengan sendok kayu."
Jeno menelan ludah. "Siap."
Nana tertawa — tawa yang paling tulus dalam beberapa hari terakhir.
Sebelum berangkat, Nana dan Jeno berdiri di tepi pantai. Air laut mulai naik, membasahi pergelangan kaki mereka.
Mira berdiri di belakang, di atas pasir kering, tangannya meremas ujung kain sarungnya.
"Bu," kata Nana. "Aku akan kembali. Aku janji."
"Aku tunggu, Nak."
Nana menatap Jeno. "Kau siap?"
Jeno mengangguk. "Selama kau di sampingku, aku siap."
Mereka berjalan ke dalam air.
Begitu air mencapai pinggang Nana dan dada Jeno, transformasi terjadi. Kaki Jeno menyatu menjadi ekor biru gelap yang indah. Sisik-sisik biru kehitaman kembali menutupi tubuh bagian bawah Nana. Insang mereka terbuka, dan udara daratan berganti dengan air laut yang dingin dan akrab.
Nana menoleh ke belakang sekali lagi. Mira masih berdiri di pantai, tangannya terangkat setengah, seolah ingin melambai tapi tidak tega.
Nana melambai.
Lalu ia berbalik dan menyelam bersama Jeno ke dalam biru.
Di perjalanan kembali ke Aequoria, Nana tidak bisa berhenti memikirkan janjinya pada patung Lira.
"Aku akan membebaskan kalian."
Ia sudah mengucapkannya. Tapi belum mewujudkannya.
"Jeno," panggil Nana, saat mereka berenang melewati hutan rumput laut.
"Ya?"
"Kau tahu cara mematahkan kutukan Aramis pada para Siren yang membatu?"
Jeno terdiam sejenak. Matanya menyipit, mengingat-ingat.
"Ada legenda kuno," katanya akhirnya. "Tentang Sumur Kenangan. Sebuah sumber air suci yang konon dapat mengembalikan ingatan siapa pun — bahkan batu sekalipun."
Nana berhenti berenang. "Di mana sumur itu?"
Jeno menatapnya dengan serius.
"Di Lembah Bisu, Nana. Tempat di mana Siren kehilangan suaranya. Tidak ada yang pernah kembali dari sana."
Nana tidak bergeming.
"Maka kita akan menjadi yang pertama."
Jeno menarik napas panjang. Lalu ia tersenyum — senyum yang sama yang ia berikan saat pertama kali mengulurkan tangan pada Nana di malam pertama.
"Baik, Putriku. Aku ikut."
Mereka berenang berdampingan menuju Aequoria — dan menuju petualangan berikutnya.
Ketika Nana dan Jeno tiba di gerbang Aequoria, para Siren yang sedang bekerja langsung berhenti.
Mereka berlutut.
Bukan karena terpaksa. Tapi karena hormat.
"Ratu Nanara," kata seorang Siren perempuan tua dengan suara bergetar. "Kami pikir kau meninggalkan kami."
Nana berenang ke tengah kerumunan. Jantung Aequoria di dadanya bersinar terang, menerangi wajahnya yang teduh namun tegas.
"Aku tidak meninggalkan kalian," katanya. "Aku hanya menjenguk ibuku di darat. Dan sekarang aku kembali. Dengan sebuah misi."
Para Siren saling berpandangan.
"Misi apa, Yang Mulia?" tanya seorang Siren laki-laki muda.
Nana menatap patung Lira di gerbang — patung yang masih menangis, masih membatu, masih menunggu.
"Aku akan mematahkan kutukan Aramis," kata Nana. "Aku akan membebaskan saudara-saudari kita yang membatu. Tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku butuh bantuan kalian."
Diam.
Kemudian, seorang demi seorang, para Siren mulai bersuara.
"Apa pun perintah Yang Mulia."
"Kami siap mati untuk Ratu."
"Aequoria bangkit kembali!"
Nana tersenyum.
Di belakangnya, Jeno berdiri dengan bangga. Bukan karena ia mencintai Nana — meski itu juga benar. Tapi karena ia melihat ratu di hadapannya. Bukan gadis desa yang ketakutan. Bukan putri mahkota yang bingung.
Tapi Nanara Ciel Aequoria. Pewaris takhta yang sesungguhnya.