NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1: Aroma Dan Lensa

Karya Vian's

"Thalassa Coffee, tempat di mana aroma kopi dan kenangan bertemu dalam satu bidikan lensa."

Cahaya mentari pagi menembus kaca jendela yang bertuliskan '' Open '', Diatasnya sebuah plang besar bertuliskan '''Thalassa Coffee'' dengan huruf latin berwarna emas yang sedikit memudar, menyambut siapapun yang melintas. dibalik meja bar kayu jati yang di poles rapi, Savya sedang melakukan ritual paginya. Suara mesin espresso yang menderu pelan dan aroma biji kopi yang baru digiling menjadi musik pembuka harinya.

Savya bukan hanya pemilik; dia adalah jiwa dari tempat ini. Dengan celemek cokelat tua yang melingkar di pinggangnya, dia memeriksa setiap detail. Bagi Savya, kopi adalah bahasa, dan setiap cangkir yang dia sajikan adalah sebuah cerita.

Saat kedai masih sepi, Savya mengambil kamera analog tua miliknya yang tergeletak di samping mesin kasir. Dia melangkah ke arah jendela, membidik bayangan dedaunan yang terpantul di meja kayu.

Klik.

Suara mekanik kamera itu selalu berhasil menenangkan hatinya. Baginya, fotografi analog adalah tentang kesabaran—sama seperti merintis kedai kopi sederhana ini di tengah persaingan kota yang gila.

Pintu berdenting. Seorang pria paruh baya masuk dengan senyum lebar.

"Pagi, Savya! Seperti biasa, ya?"

"Pagi, Pak Doni! Long black tanpa gula, kan? Siap segera meluncur," jawab Savya dengan nada ceria. Lalu segera membuatkan pesanan untuk salah satu pelanggan setianya.

Meskipun Savya adalah anak tunggal dari keluarga yang harmonis dan cukup berada, dia memilih untuk tidak berpangku tangan. Kedai ini adalah bukti keputusannya untuk berdiri di atas kaki sendiri. Namun, menjalankan bisnis sendiri tidak selalu mudah. Dia harus memutar otak saat harga biji kopi naik atau ketika mesin pendingin ruangannya tiba-tiba mogok. Tapi bagi Savya, selama dia bisa menyeduh kopi dan memegang kameranya, semua masalah terasa bisa dihadapi.

Beberapa jam berlalu, waktu mulai menunjukan saat istirahat dan makan siang bagi para pekerja. Di momen ini biasanya kedai akan ramai oleh pengunjung yang mampir sejenak untuk minum secangkir kopi, atau sekedar mengobrol ringan bersama kolega.

Di tengah kesibukan itu, lonceng pintu kembali berbunyi. Seorang pria masuk. Dia mengenakan kemeja flanel sederhana dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya ramah, dengan senyum yang tampak tulus namun menyimpan ketenangan yang tidak biasa.

Pria itu mendekat ke bar, matanya tidak langsung tertuju pada menu, melainkan pada kamera analog yang diletakkan Savya di dekat mesin espresso.

"Leica seri M, ya? Masih pakai film manual di zaman sekarang itu... butuh ketelitian luar biasa," ucap pria itu pelan, suaranya rendah dan hangat.

Savya mendongak, sedikit terkejut karena jarang ada pelanggan yang langsung mengenali kamera tuanya. "Prosesnya yang membuat hasilnya terasa nyata," jawab Savya sambil tersenyum. "Pesan apa, Tuan?"

"Satu Cappuccino. Dan... kalau boleh tahu, siapa nama pemilik kamera hebat ini?" Tanya pria itu.

Savya dengan sopan menjawab. "Saya sendiri pemiliknya" Ujar Savya dengan binar bangga yang tertahan.

Pria itu tidak segera membalas. Ia hanya menatap kamera itu,lalu beralih menatap Savya dengan tatapan yang sulit di artikan.

" Hmm.... Menarik " Ucapnya pelan,seolah sedang menyimpulkan sesuatu hanya dia yang tahu.

Namun Savya memilih untuk mengabaikannya. "Mungkin dia tertarik atau hanya penasaran." Batin Savya berpikir positif.

Sementara itu, pria tersebut menatap Savya dengan pandangan lembut dan sedikit menilai.

Savya tidak tahu, bahwa di balik kesan sederhana dan ramahnya, pria di depannya adalah seseorang yang akan mengisi hari-harinya yang tenang dimasa depan.

Siang itu, kedai menjadi sangat ramai. Savya bergerak lincah di balik bar, tangannya terampil mengoperasikan Porta filter. Di tengah keriuhan suara mesin dan obrolan pelanggan, dia merasakan sepasang mata memperhatikannya.

Di meja paling pojok, dekat rak buku tua, seorang pria duduk tenang. Ia tidak bermain ponsel seperti pelanggan lainnya. Di depannya hanya ada secangkir kopi yang uapnya sudah menghilang dan sebuah buku catatan kecil.

Pria itu—Valerius—memperhatikan bagaimana Savya bekerja. Ia mengamati ketelitian Savya saat menimbang biji kopi, dan bagaimana ekspresi wajah wanita itu berubah menjadi sangat damai ketika ia sesekali meraih kamera analog nya untuk mengabadikan cahaya matahari yang jatuh di atas permukaan meja.

Savya sempat menoleh ke arah meja pojok itu. Tatapan mereka bertemu sesaat. Valerius tidak membuang muka; ia hanya memberikan anggukan kecil yang sangat sopan—sebuah gestur formal yang jarang ditemui di tempat seperti ini—lalu kembali pada catatannya. Tidak ada kata-kata. Tidak ada perkenalan. Hanya ada sebuah pengakuan bisu atas keberadaan satu sama lain.

Suasana siang itu benar-benar di luar kendali. Lonceng pintu seolah tak berhenti berdentang, mengirimkan gelombang pelanggan yang mencari perlindungan dari terik matahari. Savya melirik tumpukan struk pesanan yang mulai mengular di samping mesin espresso.

"Sila, tolong bantu di bagian input kasir dan tangani pesanan take away dulu. Antrean di depan sudah hampir sampai ke pintu keluar," perintah Savya tenang namun suaranya tetap terdengar di tengah kebisingan.

Sila, yang sedang mengelap meja, segera bergegas. "Baik, Mbak Savya! Saya segera ke depan. Duh, tumben sekali ya siang ini ramai luar biasa."

"Mungkin karena cuaca sedang panas-panasnya, Sila. Kita harus tetap fokus," jawab Savya sambil tangannya terus lincah melakukan tamping kopi.

Di sisi lain bar, Farel terlihat sedikit kewalahan mengantarkan pesanan ke meja-meja pelanggan. "Mbak, pesanan meja nomor lima dan tujuh sudah siap? Saya mulai bingung urutan nomornya," tanya Farel dengan napas yang sedikit terburu-buru.

Savya melirik dua cangkir latte yang baru saja ia selesaikan seninya. "Ini untuk nomor lima, Farel. Dan tolong, setelah ini prioritaskan pesanan ibu yang di pojok, dia sudah menunggu cukup lama. Tetap tenang, jangan sampai ada gelas yang pecah karena terburu-buru."

"Siap, Mbak Savya. Maaf ya, saya agak keteteran," ujar Farel sambil membawa nampan dengan hati-hati.

"Tidak apa-apa, Farel. Kalian sudah bekerja dengan sangat baik. Setelah gelombang ini lewat, kita istirahat sebentar bergantian," ujar Savya memberikan senyum penyemangat.

Sila dan Farel adalah dua orang pegawai yang sudah bekerja sejal awal kedai ini buka, mereka sangat membantu pekerjaan Savya yang terkadang sangat keteteran. Sila adalah sosok gadis ceria dan sedikit suka bergosip,namun dia bukan tipe orang yang suka melebih-lebihkan perkataan atau mengadu domba orang lain dengan perkataannya. Sedangkan farel, adalah pemuda yang rajin namun terkadang ceroboh jika sedang dilanda panik. Dengan kepribadian mereka yang beragam, mereka bertiga telah menjadi tim yang sangat akrab dan kompak.

Sedangkan di tengah hiruk pikuk perbincangan Savya dengan pegawainya, Valerius tetap duduk tenang di mejanya. Ia seolah menjadi "pulau ketenangan" di tengah badai kesibukan kedai itu.

Setelah gelombang pelanggan mulai surut, suasana kedai perlahan kembali tenang. Sila sedang sibuk merapikan meja kasir, sementara Farel mulai mengumpulkan cangkir-cangkir kosong. Saat itulah, sosok pria dari meja pojok bangkit berdiri dan melangkah menuju kasir.

Savya, yang sedang membersihkan steam wand mesin kopi, secara otomatis menoleh. Ia meletakkan kainnya dan melangkah menuju mesin kasir untuk menggantikan Sila. Entah mengapa, ia merasa harus melayani pria ini sendiri.

Pria itu berdiri di depan bar. Dari dekat, auranya terasa sangat tenang, seperti air telaga yang dalam. Ia tidak mengeluarkan dompet usang; ia mengambil sebuah kartu dari saku kemejanya dengan gerakan yang sangat tertata.

"Mohon maaf jika harus menunggu lama, suasana hari ini sedikit lebih sibuk dari biasanya," ucap Savya dengan nada sopan, berusaha tetap profesional meski ia merasa sedikit canggung di bawah tatapan pria itu.

Pria itu tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak sampai ke mata, namun terasa tulus. "Tidak perlu meminta maaf, Nona. Menyaksikan bagaimana Anda mengelola situasi tadi adalah sebuah pertunjukan yang menarik. Kesabaran adalah bumbu terbaik untuk secangkir kopi."

Savya terpaku sejenak. Kalimatnya terdengar sangat baku dan tertata, bukan gaya bicara pria seumurannya pada umumnya. "Terima kasih atas pengertiannya, Tuan..." Savya menggantung kalimatnya, berharap pria itu akan menyebutkan namanya.

Namun, pria itu hanya mengangguk hormat sebagai jawaban. Setelah transaksi selesai, ia menyimpan kartu itu kembali ke sakunya.

"Kopinya sangat nikmat. Terima kasih," ucapnya singkat dengan suara rendah yang berat.

Tanpa basa-basi atau usaha untuk merayu, pria itu berbalik dan melangkah menuju pintu.

Bunyi denting lonceng di atas pintu menandai kepergiannya. Savya hanya bisa berdiri terpaku, melihat punggung pria itu menghilang di balik keramaian trotoar.

"Mbak Savya?" tegur Sila, memecahkan lamunan atasannya. "Ganteng ya? Tapi kok auranya agak... seram-seram berwibawa gitu ya, Mbak?"

Savya hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Matanya kemudian tertuju pada meja pojok yang baru saja ditinggalkan pria itu. Di atas meja yang sudah kosong, terdapat secarik kertas kecil yang tertindih vas bunga mini. Savya mengambilnya dan membaca tulisan tangan yang sangat rapi di sana:

"Lensa yang baik bukan hanya menangkap cahaya, tapi juga menangkap jiwa yang ada di dalamnya. Teruslah memotret." _V

Savya tertegun. Pria itu bahkan menyadari hobinya tanpa perlu bertanya. Di bawah catatan itu, tidak ada nama, hanya sebuah inisial huruf tunggal yang ditulis dengan gaya klasik: V.

...^^^"Story by Vian's". ^^^...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!