NovelToon NovelToon
Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hz. ceria

Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.

ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.

Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.

tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Tawanan Berharga

Ruang Bawah Tanah Istana Kristal dingin dan lembap. Dinding-dinding batu yang kasar menyerap suara, menciptakan keheningan yang mencekam. Di tengah ruangan, terikat kuat pada kursi besi yang tertanam di lantai, duduk Lord Valerius.

Armor peraknya penyok dan kotor oleh lumpur Lembah Naga. Wajahnya bengkak di satu sisi, bekas pukulan gagang pedang saat dia menolak menyerah. Matanya, yang biasanya arogan, kini menyala dengan kemarahan murni yang bercampur rasa malu.

Pintu besi berat terbuka dengan derit panjang. Langkah kaki bergema masuk. Pertama, Kaelia, dengan wajah datar dan tangan bersilang di dada. Di belakangnya, Julian, yang masih tampak lemah dan berjalan tertatih, didukung oleh Arsen. Dan terakhir, Floren.

Floren tidak mengenakan mahkota. Dia mengenakan jubah sederhana berwarna abu-abu, membuat sosoknya terlihat lebih kecil, namun kehadirannya memenuhi seluruh ruangan. Dia membawa sebuah nampan kecil berisi segelas air dan sepotong roti kering.

Dia meletakkan nampan itu di atas meja kayu di depan Valerius, lalu menarik sebuah kursi dan duduk berhadapan dengannya. Jarak mereka hanya dua meter.

Valerius meludah ke arah Floren. Dahak itu mendarat di lantai, tepat di depan sepatu bot Floren.

"Kau datang untuk mengejekku, Penyihir?" geram Valerius, suaranya serak karena debu dan teriakan. "Atau kau datang untuk membunuhku seperti pengecut?"

Floren tidak mengelap ludah itu. Dia bahkan tidak berkedip. Dia hanya menatap Valerius dengan tatapan yang tenang, hampir kasihan.

"Aku datang untuk menawarkan pilihan, Lord Valerius," kata Floren lembut. Suaranya kontras tajam dengan kekacauan di luar.

Valerius tertawa, tawa yang pahit dan kering. "Pilihan? Kau mengubur pasukanku hidup-hidup! Lima ribu pria! Dan kau bicara tentang pilihan?"

"Lima ribu pria yang menyerbu tanah kedaulatan saya tanpa provokasi," koreksi Floren dingin. "Mereka memiliki pilihan untuk tidak menginvasi. Mereka memilih perang. Saya hanya memilih cara untuk mengakhirinya dengan korban jiwa pihak kami seminimal mungkin."

"Minimal?" Valerius menggeram, rantai di pergelangan tangannya berdenting saat dia mencoba bergerak. "Kau monster. Isolde akan menghancurkan Mobelle menjadi debu karena ini."

"Isolde tidak bisa melakukan apa-apa," potong Arsen, melangkah maju dari bayangan. Wajahnya keras, berbeda dari Arsen yang pemalu dulu. "Armada lautnya hancur di Teluk Merah. Pasukan daratnya terjebak di Lembah Naga. Dan komandan tertingginya..." Arsen menunjuk Valerius, "...adalah tawanan saya."

Valerius menatap Arsen, matanya menyipit. "Pangeran pengkhianat. Kau berdiri di samping wanita gila ini?"

"Aku berdiri di samping kebenaran," balas Arsen tegas. "Dan aku berdiri di samping saudara saya yang selamat berkat intervensi Ratu Floren."

Valerius mendengus, mengalihkan pandangannya kembali ke Floren. "Apa yang kau inginkan? Uang? Tebusan? Kau pikir Isolde akan membayar emas untuk nyawa seorang jenderal yang gagal?"

"Bukan emas," kata Floren. Dia mengambil gelas air dari nampan dan mendorongnya sedikit ke arah Valerius. "Minum. Tenggorokanmu kering."

Valerius menatap gelas itu dengan curiga. "Beracun?"

"Jika aku ingin membunuhmu, aku sudah melakukannya saat kau pingsan di lembah," kata Floren datar. "Ini hanya air. Dan rotinya juga tidak beracun. Kau butuh tenaga jika ingin berbicara."

Valerius ragu sejenak, tapi rasa haus akhirnya mengalahkan egonya. Dengan gerakan canggung karena tangannya terikat, dia menjulurkan leher dan meminum air dari gelas yang disodorkan Floren. Dia meneguknya habis, lalu menggigit roti itu dengan lapar.

Floren menunggu sampai Valerius selesai makan. Baru kemudian dia berbicara lagi.

"Isolde tidak akan membayar tebusan," lanjut Floren. "Dia akan menyangkal keberadaanmu. Dia akan menyatakan bahwa kau gugur sebagai pahlawan, dan menggunakan kematianmu—atau kabar kematianmu—sebagai alasan untuk membakar Mobelle hingga rata dengan tanah. Itu yang akan dia lakukan."

Wajah Valerius memucat sedikit. Dia tahu Floren benar. Isolde tidak pernah peduli pada individu, hanya pada narasi politik.

"Lalu... apa gunanya aku bagimu?" tanya Valerius, suaranya kehilangan sebagian ketajamannya.

"Gunamu ada dua," kata Floren, mengangkat dua jari. "Pertama, sebagai jaminan. Selama kamu hidup dan berada dalam tahanan kami, Isolde akan ragu-ragu untuk meluncurkan serangan total. Dia tidak bisa mengumumkan kematianmu jika dia belum memastikan mayatmu. Keraguan adalah musuh terbesar dalam perang. Dan keraguan memberi kami waktu."

Valerius menggerutu. "Dan yang kedua?"

Floren tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Yang kedua... informasi. Kau tahu struktur komando Aethelgard. Kau tahu lokasi gudang senjata rahasia. Kau tahu kelemahan pertahanan istana Isolde."

"Aku tidak akan pernah berbicara," teriak Valerius. "Aku setia pada Ratu."

"Setia?" Floren tertawa kecil, suara yang dingin dan sinis. "Valerius, Isolde mengorbankan lima ribu prajuritmu di Teluk Merah hanya sebagai umpan agar pasukan utamamu bisa masuk lewat darat. Dia tidak peduli jika kamu mati di lembah itu. Bagi dia, kamu hanyalah pion yang bisa dikorbankan."

"Itu bohong!" teriak Valerius, meski suaranya gemetar.

"Arsen," panggil Floren tanpa menoleh.

Arsen melangkah maju, membawa sebuah gulungan perkamen. Dia membukanya di depan Valerius. Itu adalah salinan surat perintah militer yang disita dari tenda komando Valerius sebelum longsoran terjadi.

"Baca bagian bawah," perintah Arsen.

Valerius memicingkan mata, membaca tulisan kecil di sudut surat. Wajahnya berubah dari marah menjadi pucat pasi, lalu menjadi putih seperti kertas.

"Jika Lord Valerius gagal menembus garis pertahanan dalam 48 jam, anggap posisinya hangus. Lanjutkan serangan udara tanpa mempertimbangkan kerugian pihak kawan. - Ratu Isolde."

Tangan Valerius gemetar. "Dia... dia memerintahkan serangan udara... di atas kepala pasukanku sendiri?"

"Dia rela membakar pasukannya sendiri demi memastikan kemenangan," kata Floren pelan. "Apakah itu yang kau sebut kesetiaan, Valerius? Atau itu disebut pengkhianatan oleh pemimpin terhadap rakyatnya?"

Hening panjang menyelimuti ruang bawah tanah. Hanya suara napas berat Valerius yang terdengar. Pertahanan mentalnya retak. Keyakinannya goyah.

Julian, yang selama ini diam, akhirnya berbicara. Suaranya lemah tapi jelas. "Kami tidak ingin menyiksamu, Valerius. Kami tidak barbar seperti Isolde. Kami menawarkan jalan keluar. Bukan untukmu, tapi untuk ribuan prajurit Aethelgard biasa yang terjebak di perbatasan. Mereka punya keluarga. Mereka punya anak. Jika kau membantu kami merundingkan gencatan senjata lokal, mereka bisa pulang. Tanpa darah tambahan."

Valerius menatap Julian, lalu ke Arsen, dan akhirnya ke Floren. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sakit fisik, tapi karena hancurnya dunia yang dia percayai.

"Apa... apa yang harus kulakukan?" bisik Valerius, suaranya pecah.

Floren berdiri. Dia berjalan mendekat, dan dengan pisau kecil yang diambil dari sabuk Kaelia, dia memotong tali yang mengikat tangan kanan Valerius.

Valerius tersentak, menarik tangannya mundur, siap menyerang. Tapi dia berhenti. Dia melihat Floren tidak mengambil sikap defensif. Dia hanya berdiri di sana, terbuka.

"Tulis surat," kata Floren. "Kepada para komandan lapangan di perbatasan. Perintahkan mereka untuk menghentikan serangan dan berkumpul di Zona Netral Sungai Beku untuk pembicaraan gencatan senjata. Gunakan otoritasmu. Jika kau melakukannya, aku janji, prajurit-prajuritmu akan diperlakukan sebagai tamu, bukan tahanan. Mereka akan diberi makanan, obat-obatan, dan dipulangkan setelah perjanjian damai ditandatangani."

Valerius menatap tangannya yang bebas. Lalu dia menatap Floren.

"Dan jika aku menolak?"

"Maka kau akan tetap di sini," kata Floren dingin. "Dan Isolde akan terus mengirim gelombang demi gelombang pasukan muda untuk mati demi ambisinya. Darah mereka akan ada di tanganmu, Valerius. Bukan di tanganku."

Valerius menunduk. Bahunya turun. Beban kepemimpinan, beban kesetiaan buta, tiba-tiba terasa terlalu berat. Dia ingat wajah-wajah prajuritnya yang dia lihat terakhir kali di Lembah Naga. Wajah-wajah muda yang penuh harap, kini tertutup debu dan darah.

Dia mengangkat kepalanya. Matanya masih merah, tapi ada keputusan baru di sana. Keputusan seorang pria yang akhirnya memilih kemanusiaan di atas dogma.

"Berikan aku pena dan kertas," kata Valerius pelan.

Floren mengangguk pada Kaelia. Kaelia melemparkan sebuah bundel perkamen dan tinta ke pangkuan Valerius.

Saat Valerius mulai menulis, tangannya masih gemetar, tapi tulisannya tegas.

Floren berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, dia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.

"Selamat datang di sisi yang benar, Lord Valerius," katanya. "Perang ini belum berakhir. Tapi malam ini... setidaknya, beberapa nyawa telah selamat."

Pintu besi tertutup, meninggalkan Valerius sendirian dalam keheningan, dengan suara pena yang menggores kertas sebagai satu-satunya musik pengiring penyesalan dan harapan barunya.

1
Musim
Menarik dan menginspirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!