"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."
Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.
Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.
Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Hidup, Mati, dan Cinta
Suasana di ruang bawah tanah pabrik tua itu bener-bener gila. Bau apek, debu, sama aroma mesiu kecampur jadi satu. Nabila hampir nggak percaya sama apa yang dia liat di depan matanya. Ayahnya, orang yang selama ini dia kira udah nggak ada, sekarang duduk di depan dia dalam kondisi mengenaskan. Mukanya pucat, badannya kurus kering, dan yang paling parah—ada bom yang melilit badannya.
"Ayah! Ini Nabila, Yah!" Nabila mau lari meluk ayahnya, tapi tangannya langsung ditarik kasar sama Kenzo.
"Jangan bego, Nabila! Liat kabel itu!" bentak Kenzo. Suaranya nggak dingin lagi, tapi kedengeran panik yang ditutupin sama ketegasan.
"Tapi itu Ayahku, Kenzo! Lepasin!" Nabila berontak, air matanya udah nggak karuan ngalir di pipinya yang kotor kena debu.
Kenzo nggak peduli. Dia malah makin erat meluk pinggang Nabila dari belakang, nahan biar gadis itu nggak maju selangkah pun. "Lo mati, gue nggak bakal maafin diri gue sendiri. Diem di sini!"
Tiba-tiba, suara ketawa pecah dari speaker butut di pojok ruangan. Itu suara Bram, paman Kenzo yang ternyata selama ini jadi dalang di balik semua kekacauan. "Wah, wah... adegan drama yang bagus banget. CEO dingin kita ternyata punya hati juga ya buat asisten miskin kayak dia?"
"Bram, keluar lo! Hadapi gue kayak laki-laki, jangan main bom kayak pengecut!" teriak Kenzo. Matanya nyari-nyari kamera tersembunyi di ruangan itu.
"Nggak perlu, Kenzo. Gue lebih suka nonton kalian meledak dari sini," suara Bram makin kedengeran sinting. "Pilihannya simpel. Lo selamatin tuh orang tua, tapi data korupsi bapak lo gue sebar ke seluruh media. Lo bakal jatuh miskin, Aditama Group hancur, dan lo bakal masuk penjara. Atau... lo lari sekarang, biarin mereka meledak, dan lo tetep jadi raja di Jakarta. Gue kasih sepuluh detik. Satu... dua..."
Nabila lemes. Dia natap Kenzo dengan pandangan putus asa. "Kenzo... pergi. Selamatkan perusahaanmu. Aku nggak mau kamu hancur gara-gara keluargaku lagi."
Kenzo nggak jawab. Dia malah ngelepas jas mahalnya, cuma nyisain kemeja putih yang lengannya digulung. Dia jalan pelan mendekat ke arah ayah Nabila. Tangannya yang biasanya megang pena buat tanda tangan kontrak milyaran, sekarang megang tang potong yang dia temuin di lantai.
"Kenzo, lo gila?! Pergi!" teriak Nabila histeris.
"Diem, Nabila! Jangan berisik, gue lagi fokus!" sahut Kenzo tanpa nengok. Keringat dingin mulai netes dari jidatnya. Dia liat angka di layar bom itu terus jalan mundur. 08... 07... 06...
"Kenzo, perusahaan kamu gimana? Kamu bakal kehilangan semuanya!" Nabila masih teriak-teriak.
Kenzo berhenti sejenak, dia nengok ke Nabila dengan senyum miring yang tipis banget. "Perusahaan bisa gue bangun lagi dari nol, Bil. Tapi kalau gue kehilangan lo, gue nggak punya alasan lagi buat jadi kaya. Lagian, bapak gue emang salah. Gue nggak bakal nutupin bangkai pakai nyawa orang."
Detik itu juga, hati Nabila rasanya mau copot. Kata-kata Kenzo barusan lebih romantis daripada sejuta puisi yang pernah dia baca.
Kenzo narik napas dalem. Ada dua kabel di depan dia, merah sama biru. "Bil, lo percaya gue?"
Nabila ngangguk kenceng, meskipun badannya gemeteran. "Aku percaya kamu, Kenzo. Apapun yang terjadi."
"Oke. Kalo ini meledak, gue seneng bisa kenal lo di akhir hidup gue," ucap Kenzo santai banget, seolah-olah dia nggak lagi taruhan nyawa.
03... 02... CEKLEK!
Kenzo motong kabel merah. Suasana mendadak hening. Angka di layar bom itu berhenti di angka 01. Semuanya diem, nggak ada yang berani napas selama beberapa detik. Pas sadar bomnya nggak meledak, Nabila langsung lari dan nubruk Kenzo sama ayahnya. Dia nangis sejadi-jadinya.
"Dasar gila! Kamu bener-bener gila, Kenzo!" Nabila mukul-mukul dada Kenzo sambil nangis sesenggukan.
Kenzo cuma diem, dia malah meluk Nabila kenceng banget, seolah nggak mau lepas lagi. "Gue emang gila. Gila gara-gara lo."
Ayah Nabila cuma bisa nangis haru liat mereka. Tapi momen manis itu nggak lama. Tiba-tiba pintu ruang bawah tanah dikunci dari luar. Suara Bram kedengeran lagi, kali ini dia kedengeran marah banget.
"Kalian pikir udah menang? Gue udah kunci pintunya dan gue udah panggil polisi ke sini dengan bukti palsu kalau KALIAN yang nyekap ayah Nabila buat meres harta. Selamat menikmati penjara, Kenzo!"
Kenzo berdiri, wajahnya balik lagi jadi dingin dan sangar. Dia ngerangkul pundak Nabila dengan protektif. "Bram lupa satu hal. Gue nggak pernah dateng ke medan perang tanpa persiapan."
Tiba-tiba, suara helikopter kedengeran di atas gedung tua itu. Pintu didobrak dari luar bukan sama polisi, tapi sama tim keamanan pribadi Kenzo yang bersenjata lengkap. Kenzo natap ke arah kamera di pojok ruangan sambil ngangkat jari tengahnya.
"Gue bakal bikin lo nyesel karena udah lahir di keluarga Aditama, Bram," ucap Kenzo pelan tapi tajem banget.
Dia nengok ke Nabila, terus ngangkat dagu gadis itu biar natap dia. "Sekarang, nggak ada lagi rahasia. Nggak ada lagi sandiwara. Lo... beneran jadi milik gue. Paham?"
Nabila nggak bisa jawab apa-apa selain ngangguk. Di tengah reruntuhan pabrik yang gelap, dia ngerasa akhirnya nemuin cahaya. Tapi dia nggak tahu, kalau di luar sana, pengacara Ibu Sofia udah nyiapin rencana balas dendam yang jauh lebih licin dari ini