NovelToon NovelToon
Possessive CEO: Sweet Obsession

Possessive CEO: Sweet Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Mengantar Camilan ke Bawah Asrama

​Tania mengambil ponselnya dan melihat pesan dari Hans Lesmana. Hanya ada dua kata sederhana di layar: 【Turunlah.】

​Ia terpaku sejenak. Bagaimana pria itu tahu kalau dia sedang ada di asrama? Terlebih lagi, nada memerintah ini... anehnya, Tania tidak merasa risih.

​Jemari lentiknya bergerak membalas dengan emoji kucing kecil yang sedang mengintip, diikuti tiga kata: 【Tunggu sebentar ya.】

​Tania menutup bukunya, bangkit dari kursi, lalu berjalan ke depan cermin untuk merapikan rambut dan pakaiannya.

​"Ghin, aku turun sebentar ya."

​Ghina mendongak dari layar ponselnya dengan ekspresi menggoda. "Oh? Kencan lagi?"

​Pipi Tania memanas. Ia menegur pelan, "Jangan bicara sembarangan, aku cuma sebentar kok." Setelah itu, ia melangkah keluar dari asrama dengan langkah ringan.

​Hans Lesmana sudah bangun sejak pagi buta. Ia merindukannya.

​Pikirannya dipenuhi bayangan Tania Santoso—senyumnya, tatapan polosnya yang menawan—setiap ekspresi kecil gadis itu terekam begitu jelas dan mendalam, membuat hatinya bergejolak setiap kali mengingatnya. Ia mengambil ponsel, mengetuk layar, dan mengirimkan ucapan selamat pagi kepada Tania melalui IG.

​Hans berpikir bahwa dengan menyusup ke dalam hidup Tania sedikit demi sedikit seperti ini, ia akan membuat gadis itu terbiasa dengan kehadirannya hingga Tania tidak bisa lagi berpaling darinya.

​Di kantor lantai teratas Gedung Grup Lesmana, Hans duduk di balik meja besarnya dengan dokumen-dokumen yang menumpuk, namun ia sering kali melamun. Hanya dalam satu pagi, ia tidak tahu sudah berapa kali ia mengambil ponsel, membuka kuncinya, lalu meletakkannya kembali.

​Ia merasa seolah-olah telah terkena sihir, sebuah sihir bernama "Tania Santoso" yang tidak ada obatnya, dan hanya dengan melihat gadis itu ia bisa merasa tenang. Rasa rindu yang menggaruk-garuk hatinya itu hampir mengonsumsi seluruh fokusnya.

​Akhirnya, ia menekan interkom: "Lian."

​"Saya, Tuan. Apa perintah Anda?" Suara Asisten Lian terdengar stabil dan cakap seperti biasanya.

​Hans terdiam beberapa detik, sepertinya sedang menimbang kata-katanya, namun akhirnya ia bertanya langsung:

​"Cari tahu di mana dia sekarang." Tanpa perlu disebut namanya pun, Lian sudah tahu siapa "dia" yang dimaksud.

​"Baik, Tuan." Lian sangat paham. Sepertinya mulai sekarang, tugas baru akan otomatis ditambahkan ke dalam deskripsi pekerjaannya—memantau pergerakan Nona Tania secara real-time—dan itu akan menjadi prioritas utama di atas pekerjaan lainnya.

​Lian bergumam dalam hati; tuannya yang merupakan "pohon besi berusia sepuluh ribu tahun" ini memang tidak mudah berbunga, tapi sekali berbunga, efeknya sungguh mengguncang dunia.

​Tak lama kemudian, Lian kembali melapor dengan nada yang tenang:

​"Tuan, Nona Tania mendapatkan kamar asrama di kampus dan tinggal bersama sahabatnya, Nona Ghina. Setelah kuliah selesai siang ini, mereka langsung kembali ke asrama dan belum keluar lagi."

​"Asrama..." Jemari Hans mengetuk meja pelan, sekali, dua kali, seolah sedang menghitung sesuatu.

​Tak mampu lagi menahan keinginan kuat di hatinya, ia tiba-tiba berujar: "Lian."

​"Iya, Tuan."

​Hans berhenti sejenak, namun nadanya tidak menerima bantahan: "Segera atur agar restoran 'Yuna' menyiapkan dua porsi hidangan penutup yang disukai gadis muda. Pastikan kemasannya cantik. Aku akan mengambilnya sendiri."

​'Yuna'—itu adalah restoran privat paling mewah milik Tuan Hans. Biasanya, tempat itu hanya melayani tamu-tamu terhormat dari kalangan elite Jakarta yang sudah memesan jauh-jauh hari. Bagi banyak orang, mendapatkan reservasi di sana sama sulitnya dengan mendaki langit.

​Sekarang, mereka justru akan mengerahkan koki pastri terbaik di sana hanya untuk membuat dua camilan kecil? Dan tuannya sendiri yang akan mengambilnya? Lian merasa dirinya berada dalam kondisi syok setiap hari. Bagaimana bisa ia tidak menyadari sebelumnya bahwa tuannya punya sisi yang sangat... manusiawi? Ternyata bukannya Tuan Hans tidak suka wanita; hanya saja wanita-wanita itu bukanlah Tania Santoso.

​Lian segera menguasai diri dan menjawab sigap: "Baik, Tuan, segera saya laksanakan."

​Sebuah Rolls-Royce Phantom hitam berhenti dengan tenang di bawah gedung asrama putri Universitas Nasional. Bodinya yang mewah namun elegan terlihat sangat menonjol di antara gedung-gedung kampus yang agak tua di sekitarnya.

​Hans duduk di kursi belakang dan mengirim pesan IG kepada Tania. Ia tidak khawatir apakah Tania akan langsung membacanya atau tidak; ia punya banyak kesabaran untuk menunggu gadis itu.

​Tak disangka, ponselnya bergetar hampir seketika. Ia membuka pesan dan melihat emoji kucing kecil yang muncul di layar. Sudut bibir Hans terangkat sedikit, dan kilat kelembutan yang bahkan tidak ia sadari sendiri muncul di matanya.

​Heh, dia benar-benar mirip dirinya sendiri—manis dan penurut, membuat hatiku gemas.

​Siang hari itu, pejalan kaki di bawah gedung asrama cukup sepi karena sebagian besar mahasiswa sedang beristirahat. Hans menyandarkan tubuhnya di pintu mobil, tatapannya yang dalam terkunci pada pintu masuk asrama putri. Udara seolah membeku karena penantiannya yang fokus. Ia ingin melihat Adek-nya pada momen pertama.

​Tania tidak ingin membuatnya menunggu terlalu lama dan berlari menuruni tangga. Begitu melangkah keluar dari pintu asrama, ia langsung mengenali sosok yang luar biasa mencolok itu dalam sekali lirik.

​Pria itu berdiri tegak, dengan bahu lebar dan pinggang ramping. Kemeja hitam yang pas di tubuhnya menonjolkan proporsi tubuh yang sempurna. Bahkan hanya dengan berdiri santai, ia memancarkan aura berwibawa yang alami.

​Cahaya matahari mempertegas garis profil wajahnya yang dingin serta hidung mancungnya. Mata yang biasanya tajam seolah bisa menembus hati orang itu, kini hanya berisi bayangan Tania.

​Langkah kaki Tania melambat tanpa sadar, dan pipinya terasa sedikit panas.

​Hans menangkap sosok Tania tepat di detik gadis itu muncul. Kaki jenjang Tania yang terlihat di balik rok pendeknya tampak seputih pualam. Rambut hitam bergelombangnya terayun lembut seiring langkahnya, dan mata indah yang selalu tampak berkaca-kaca itu kini menatap dengan sedikit rasa malu.

​Baru tidak melihatnya selama satu malam, Hans merasa seolah sudah sangat lama berlalu. Rasa rindu di dadanya hampir meluap. Ia melangkah maju beberapa tindak dan berdiri tepat di depan Tania.

​Karena berlari agak terburu-buru, napas Tania sedikit tidak teratur, dan pipinya yang putih merona merah muda yang menggemaskan. Hans mengulurkan tangan, ujung jarinya dengan lembut menyelipkan seuntai rambut yang berantakan karena angin ke belakang telinga Tania. Gerakannya terasa sangat alami dan intim.

​Suara beratnya membawa setitik senyuman yang hampir tak terdengar:

​"Lain kali tidak perlu berlari. Aku akan menunggumu."

​Kedekatan yang tiba-tiba dan gestur yang ambigu ini membuat jantung Tania berdegup kencang, dan rona merah di pipinya semakin dalam.

​"Aku... aku tadi tidak terburu-buru kok," bela Tania dengan sedikit gugup. "Cuma... cuma cuacanya agak panas saja."

​Binar jenaka di mata Hans semakin dalam, meski ia tidak membongkar kebohongan kecil gadis itu.

​"Kenapa Bapak datang ke sini?" tanya Tania pelan, berusaha keras agar suaranya terdengar tenang.

​"Aku merindukanmu..." Tiga kata itu sudah berada di ujung lidah Hans sebelum akhirnya ia telan kembali.

​Ia takut jika terlalu blak-blakan akan menakuti "anak kucing" yang mudah terkejut ini, jadi ia mengubah kalimatnya:

​"Aku tahu kamu suka makanan manis. Tadi aku kebetulan lewat daerah sini dan membelikannya sekalian."

​Lian yang berdiri tak jauh dari sana melangkah maju di saat yang tepat dan menyerahkan kotak hidangan penutup yang dikemas sangat mewah kepada Hans. Hans mengambil kotak itu, lalu meraih tangan Tania dan meletakkan kotak tersebut di telapak tangannya yang lembut.

1
Mxxx
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!