"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Jam digital di atas nakas memancarkan angka redup, namun bagi Zoya, jam biologisnya sebagai seorang santriwati tidak pernah meleset.
Perlahan, ia membuka matanya. Sentuhan hangat di pinggangnya masih terasa, lengan Arvin masih melingkar protektif di sana, bahkan dalam keadaan tertidur lelah.
Zoya tersenyum tipis, menatap wajah tidur suaminya yang tampak begitu damai tanpa beban target perusahaan.
Dengan sangat hati-hati, agar tidak membangunkan Arvin, Zoya memindahkan tangan kekar itu dari pinggangnya. Ia bergeser ke pinggir ranjang, menurunkan kakinya, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu.
Guyuran air dingin di sepertiga malam itu seketika menyegarkan tubuh dan jiwanya.
Zoya keluar dari kamar mandi, mengenakan mukena putih bersih yang selalu dibawanya dari pesantren. Ia membentangkan sajadah di sudut kamar yang lapang, menghadap ke arah kiblat, dan memulai salat Tahajudnya.
Di atas ranjang, gerakan halus Zoya rupanya terusik oleh rasa kehilangan kehangatan. Arvin perlahan membuka matanya. Kamar itu sepi, namun sayup-sayup ia mendengar suara bisikan yang sangat merdu dan bergetar penuh penghayatan.
Arvin mengubah posisinya menjadi duduk. Di sudut kamar, di bawah sorot lampu tidur yang temaram, ia melihat pemandangan yang seketika membuat dadanya bergemuruh oleh rasa haru. Zoya sedang bersujud. Sosok berbalut mukena putih itu tampak begitu suci dan tenang.
Arvin tidak beranjak. Ia memilih duduk diam di atas ranjang, menyaksikan istrinya menyelesaikan rakaat demi rakaat. Suara Zoya saat melantunkan ayat suci Al-Qur'an setelah salat terdengar seperti melodi surgawi yang meresap ke dalam pori-pori dinding apartemennya yang dingin.
Arvin menyadari satu hal yang paling krusial, kekayaannya bisa membeli apartemen paling mahal di Jakarta, namun hanya wanita ini yang bisa membawa rumah ke dalam apartemennya.
Setelah menyelesaikan doanya, Zoya membalikkan tubuh dan terkejut saat melihat Arvin sudah duduk bersandar di kepala ranjang, memperhatikannya tanpa berkedip.
"Arvin? Sejak kapan kamu bangun? Apa suaraku mengganggu tidurmu?" tanya Zoya cemas, terburu-buru merapikan bagian depan mukenanya.
Arvin menggeleng pelan. Ia turun dari ranjang, melangkah mendekati sajadah Zoya dengan kaki telanjang, lalu berlutut di hadapan istrinya.
"Suaramu tidak pernah mengganggu, Zoya. Justru suara inilah yang membuatku sadar betapa miskinnya aku selama ini meskipun memiliki segalanya," ucap Arvin dengan mata yang berkaca-kaca. Ia meraih kedua tangan Zoya yang masih mengenakan mukena. "Zoya... boleh aku meminta sesuatu?"
"Apa itu?"
"Ajari aku," bisik Arvin serak. "Ajari aku cara berdoa seperti yang kau lakukan. Ajari aku cara menenangkan hati yang selalu dipenuhi amarah ini. Selama ini aku hanya tahu cara mengejar dunia, tapi aku buta tentang cara mengejar ketenangan yang kau miliki."
Zoya terpaku mendengarnya. Air mata haru merebak di pelupuk matanya. Seorang pria setinggi Arvin Dewangga, yang biasanya mendikte semua orang, kini berlutut di atas sajadahnya dan meminta untuk diajari.
Ini adalah momen yang paling luar biasa, di mana perbedaan latar belakang mereka bukan lagi menjadi jurang pemisah, melainkan jembatan untuk saling melengkapi.
Zoya menggenggam balik tangan Arvin, memberikan senyuman terbaiknya dari balik mukena putih. "Kita belajar bersama-sama, Arvin. Aku juga masih banyak kekurangan. Jika kamu mau, besok subuh... kamu yang menjadi imamku. Bagaimana?"
Arvin menatap tangan mereka yang bertautan di atas sajadah, lalu menatap mata jernih istrinya. Sebuah senyuman haru terukir di wajah tampannya. "Ya. Aku akan menjadi imammu. Bukan hanya untuk subuh besok, tapi untuk seluruh sisa hidup kita."
Sinar matahari pagi Jakarta menyelinap masuk melalui celah-celah gorden besar penthouse, membawa kehangatan baru.
Di dapur, Mbok Sum sedang sibuk menyiapkan sarapan saat ia mendengar suara langkah kaki yang kompak. Ketika ia menoleh, matanya membelalak tak percaya, disusul oleh senyum lebar yang terukir di wajah tuanya.
Arvin dan Zoya berjalan bersama menuju meja makan. Arvin yang sudah rapi dengan kemeja kasualnya, sementara Zoya tampak anggun dengan gamis harian dan jilbab instan yang menutup dada.
Tangan mereka tidak terlepas, saling menggenggam erat dengan sisa-sisa kehangatan salat Subuh berjamaah yang baru pertama kali mereka lakukan tadi.
"Wah, selamat pagi Tuan, Non Zoya!" sapa Mbok Sum riang, buru-buru menyajikan nasi goreng kampung hangat dan telur dadar di atas meja. "Non Zoya, Non sangat cantik sekali, dan kelihatan segar sekali hari ini."
"Pagi, Mbok. Terimakasih, Mbok. Wangi masakan Mbok Sum bikin aku jadi laper," puji Arvin yang langsung menarik kursi untuk Zoya sebelum dirinya sendiri duduk di samping sang istri.
Suasana sarapan pagi itu dipenuhi dengan obrolan ringan yang hangat. Tidak ada lagi keheningan yang canggung, tidak ada lagi tatapan curiga. Drama rumah tangga mereka kini mengalir begitu manis, membuat siapa pun yang melihat akan merasa iri.
"Zoya," ucap Arvin setelah menyelesaikan suapan terakhirnya. Ia meminum air putihnya lalu menoleh serius namun lembut pada istrinya. "Mengenai rencana kita ke pesantren lusa... aku sudah meminta asistenku untuk mengosongkan jadwalku selama tiga hari penuh. Tidak ada urusan kantor yang boleh mengganggu kita."
Zoya menghentikan gerakan sendoknya, menatap Arvin dengan rasa tidak enak. "Tiga hari? Apa itu tidak mengganggu pekerjaanmu di Dewangga Group? Kamu baru saja menyelesaikan masalah besar di kampus kemarin."
Arvin meraih jemari Zoya di atas meja, mengusapnya lembut dengan ibu jarinya. "Dengar, Zoya. Dewangga Group bisa berjalan tanpa kehadiranku selama beberapa hari. Tapi hidupku tidak akan bisa berjalan dengan benar jika aku tidak segera meluruskan masalah ini dengan orang tuamu. Aku ingin datang ke Abah bukan sebagai CEO yang angkuh, tapi sebagai seorang menantu yang ingin belajar menjaga putrinya dengan benar."
Hati Zoya menghangat mendengarnya. Ketulusan Arvin yang begitu memprioritaskan keluarganya di kampung membuat sisa-sisa keraguan di hatinya benar-benar sirna.
"Terima kasih, Arvin. Abah dan Ummi pasti akan sangat senang melihat perubahanmu," bisik Zoya tulus.
"Dan satu lagi," Arvin tersenyum misterius, membuat Zoya menaikkan sebelah alisnya bingung. "Aku sudah menyiapkan sebuah kejutan kecil untuk perjalanan kita lusa. Tapi... aku tidak akan memberi tahu mu sekarang."
"Kejutan apa?" tanya Zoya penasaran, matanya berbinar jenaka.
"Kalau diberi tahu sekarang, namanya bukan kejutan lagi, Sayang," goda Arvin sambil mencolek hidung Zoya pelan, membuat wajah istrinya kembali merona merah.
Dari sudut dapur, Mbok Sum hanya bisa tersenyum lebar sambil mengusap air mata bahagianya melihat pemandangan itu. Badai besar yang kemarin menimpa pernikahan majikannya rupanya telah berlalu, menyisakan pelangi yang begitu indah di dalam rumah ini.
Namun, perjalanan menuju pesantren asri di Jawa Tengah lusa dipastikan akan membawa dinamika baru dalam drama pernikahan mereka.
...----------------...
**To Be Continue** ....