Alih-alih menikmati fasilitas orang tuanya Sheeva memilih menepi dan hidup di panti asuhan sejak duduk di bangku kelas 8 menengah atas. Banyak hal membuatnya memutuskan demikian
lantas apa yang mendorong gadis sekecil itu menjauh dari dekapan hangat keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka itu belum juga sembuh
Hembusan angin malam yang terasa begitu menusuk tulang tak membuatnya beranjak. Ia masih terus asyik menatap langit. Entah hal apa yang selalu menarik minatnya memandangi angkasa yang begitu luas.
Queenara Sheeva gadis mungil yang sedari tadi begitu asyik menatap langit itu bahkan tak menyadari dirinya pun sedari tadi ada yang memperhatikan. Dia begitu asyik dengan dunianya sendiri.
Sudah lima tahun berlalu, akan tetapi kebiasaannya duduk menyendiri di atas ayunan ini tak pernah dia tinggalkan. Tak ada yang dia lakukan, dia hanya berdiam diri sembari menatap langit. Bahkan jika tidak ada yang menegurnya, dia bisa sampai pagi berada di sana.
" Sayang ..!" Usapan lembut di pundaknya membuat sheeva mengalihkan pandangannya. Siapa lagi yang berani menegurnya jika bukan bunda Wijayanti pengasuh panti asuhan tempat Sheeva mengasingkan diri.
" Masuk yuk, sudah sangat larut. Anginnya juga sangat dingin." Ucap perempuan yang sehari-hari di panggil bunda Aya oleh anak-anak asuhnya.
Kalau boleh berkata jujur. Sebenarnya teramat menyakitkan bagi seorang Wijayanti. Dia setiap hari harus menyaksikan putri dari sahabat baiknya ini terus menenggelamkan diri dalam duka. Akan tetapi, apalah daya dia pun tak mampu berbuat banyak. Sheeva selalu berkata " Izinkan aku menikmati luka ini sejenak saja bun " Setiap kali dia mencoba membawa gadis manis itu bangkit.
" Sebentar lagi ya bun, aku masih mau di sini " Jawab Sheeva sembari memejamkan matanya.
" Bukankah kakak besok mau pindahan ke ruko ?" Sheeva mengangguk.
" Kalau masih bergadang begini bisa-bisa kesiangan lho " Bunda Aya mencoba merayu Sheeva dengan alasan itu supaya Sheeva mau kembali ke kamarnya.
" Bun..!"
" Apa sayang ?" Wijayanti mengelus surai hitam legam milik Sheva dengan penuh kasih sayang.
" Mama sedang apa ya di atas sana ?" Satu pertanyaan yang selalu sukses membuat tenggorokan seorang Wijayanti tercekat.
" Apa mama di sana juga merasakan apa yang Sheeva rasakan saat ini ya bun, Sheeva kangen mama bun ?" Ucap Sheeva sembari menenggelamkan kepalanya di atas lututnya yang di tekuk.
" Tentu sayang, saat ini mama juga pasti sedang rindu bisa memeluk kamu. Mama pasti sedang memperhatikan kamu dari atas sana, beliau sedang menatap anak gadisnya ini penuh kerinduan " Jawab bunda Aya dengan suara berat. Air matanya pun sudah meluncur tanpa mampu beliau cegah.
" Maaf ya bun, aku selalu saja membuat bunda sedih dan menangis " Tanpa kata-kata bunda Aya membawa Sheeva masuk kedalam dekapannya. Keduannya sama-sama menangis.
Sudah lima tahun nyatanya luka itu tak benar-benar bisa sembuh.
" Terima kasih banyak bun, sudah menampung aku di sini dan menjadi rumah ternyaman buat aku pulang saat mereka yang seharusnya menjadi tempat aku berlindung bahkan tak mengharap kehadiranku " Dengan lembut bunda Aya mengusap pungung Sheva.
" Ini rumah kamu juga sayang. Mamamu mendirikan panti asuhan ini sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran kamu waktu itu." Jawab bunda Aya.
" Nggak nyangka aku malah sekarang jadi salah satu penghuninya ya bun ?" Bunda Aya terlihat menghela nafas.
" Kakak jadi pindah ke ruko besok ?" Bunda Aya mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Jadi bun, semua sudah siap kok. Izin aku bawa mbak Misya ya bun ?"
" Iya, biar mbak Misya temani kamu nanti."
" Terima kasih bu,tolong jangan beri tau om David dan bang Jagad ya bun "
" Sama-sama, bunda ikut saja bagaiman mau mu kak. Sekarang masuk yuk bunda kedinginan " Sheeva mengalah, dia tak mau perempuan yang sudah menjaganya selama ini jatuh sakit.
Sheeva kini duduk di bangku kelas 11 menengah atas. Terhitung sudah lima tahun gadis ini tinggal di panti asuhan yang didirikan mamanya dan di jaga oleh sahabat baik mamanya ini.
Sheeva sebenarnya terlahir dari keluarga yang sangat berada. Dia putri dari Maharani Syailendra dan Pandu Hutama. Mamanya seorang bisnis Woman. Beliau sukses dengan bisnis supermarket yang menyebar di beberapa kota besar negeri ini. Bisnis yang dia rintis sejak sebelum menikah. Sayang kini dalam penguasaan sang papa dan istri keduanya.
Alih-alih menerima fasilitas dari keluarganya Sheeva yang saat itu baru duduk di bangku kelas 8 menengah atas memilih tinggal di panti asuhan ketimbang tinggal dengan nyaman bersama keluarganya.
Bahkan Sheeva menanggalkan kemewahan selama dia hidup di panti. Dia bahkan memilih bekerja paruh waktu ketimbang mengandalkan uang dari orang tuanya. Konyol bukan?
Akan tetapi jika kita tau alasan seorang Sheeva melakukan ini semua pasti kita akan berucap "Pantas dia melakukan itu "
Banyak hal yang membuat seorang gadis kecil seperti Sheeva memutuskan keluar dari zona nyamannya. Dan memilih bekerja meras memenuhi kebutuhannya sendiri.
Sejak pindah ke panti Sheeva benar-benar memangkas uang jajannya. Dia bahkan hidup layaknya anak panti yang lain. Mulai kelas 9 menengah atas Sheeva susah ikut bantu-bantu di salah satu cafe milik kakak dari teman sekolahnya.
Sedikit-demi sedikit dia menabung dari hasil dia bekerja di cafe tersebut. Lalu saat dia memasuki bangku menengah atas keberuntungan seolah mulai berpihak padanya. Hobi mendisain perhiasannya di mintai salah satu perusahaan usai dia memenangkan perlombaan desain yang di selenggarakan perusahaan tersebut. Sheeva bahkan di rekrut menjadi desainer tetap meskipun dia tidak pernah datang ke kantor. Hanya sesekali saja dia datang jika di perlukan.
Dari gaji desain dia itulah Sheeva berhasil membeli sebuah ruko. Sesuai rencana dia akan membuka toko sembako dan kebutuhan rumah tangga lainnya di sana. Sesuai saran dari Misya dan beberapa kakak asuhnya di panti lah dia membuka toko sembako itu. Jika sudah ada modal kembali Sheeva berencana mengembangkan tokonya itu menjadi grosir sembako yang lebih besar lagi.
Dia berharap dari usahanya ini dia bisa membantu bunda Aya dalam memenuhi keuangan panti yang tak jarang keteteran. Dia mau semua adik-adiknya bisa sekolah tinggi, agar mereka kelak bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Dia juga berharap dengan usaha ini bisa menciptakan lapangan kerja untuk teman-temannya di panti yang susah lulus sekolah menengah atas dan tidak bisa berkuliah.
Bagaimanapun dia merasa punya tangung jawab atas keberlangsungan panti yang dulu didirikan dan di biayai oleh mamanya ini. Sayang semenjak lini usaha mamanya di pengang oleh papanya tak lagi ada sokongan untuk panti asuhan dengan alasan kebijakan pimpinan yang baru. Sheeva sempat di buat geram oleh kelakuan papanya itu.
Sejak itu dia bertekad harus mandiri dan mapan soal finasial agar panti tak perlu mengemis belas kasian orang lain terutama papanya.
terlalu berat beban hidup sheeva..