"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.
Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.
Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: JEJAK YANG TERSAMAR
Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah gorden kamar Keano membuat Arcelia mengerang pelan. Hal pertama yang ia rasakan adalah beban berat di pinggangnya. Begitu ia membuka mata, wajah kaku Keano sudah berada hanya beberapa senti dari wajahnya. Pria itu masih tertidur, tapi pelukannya pada Arcelia seperti kunci besi yang tidak membiarkannya pergi.
"Sialan, bener-bener posesif ini orang," bisik Arcelia pelan.
Ia mencoba menyingkirkan tangan Keano dengan perlahan agar tidak membangunkan sang raksasa, namun begitu tangannya menyentuh punggung tangan Keano, pria itu justru mempererat pelukannya. Mata Keano terbuka perlahan, menatap Arcelia dengan tatapan yang dalam dan sedikit... bingung.
"Kau..." suara Keano serak khas orang bangun tidur. Ia menatap Arcelia lama, seolah sedang mencari seseorang di balik mata itu. "Kenapa caramu menatapku sangat mirip dengan seseorang dari masa laluku? Bukan Alzena... tapi seseorang yang lebih berani."
Arcelia tertegun. Jantungnya berpacu cepat. "Mungkin karena lo terlalu banyak halusinasi, Keano. Lepasin, gue mau mandi."
Keano akhirnya melepaskan pelukannya, duduk di pinggir tempat tidur sambil mengusap wajahnya. "Siapapun kau sekarang, aku akan mencari tahu. Dan soal kejadian di kelab malam kemarin... jangan harap kau bisa keluar rumah tanpa izin dariku lagi."
"Terserah lo lah," sahut Arcelia sambil berjalan menuju kamar mandi dengan gaya angkuhnya.
Di sisi lain kota, di kediaman besar keluarga Halim, suasana sedang kacau. Aldric Halim duduk di ruang kerjanya dengan napas memburu. Video yang diputar Alzena di kantor kemarin dan kejadian di kelab malam yang menyebar luas membuat saham Halim Group merosot tajam. Nama baik keluarganya dipertaruhkan.
Virel masuk ke ruang kerja ayahnya dengan wajah datar. Ia meletakkan laporan keuangan terbaru di meja Aldric.
"Ayah, investor mulai menarik diri. Mereka bilang mereka tidak mau bekerja sama dengan keluarga yang memiliki skandal anak angkat yang licik dan anak kandung yang... berubah drastis," ujar Virel.
Aldric membanting berkas itu ke lantai. "Ini semua gara-gara Alzena! Sejak dia bangun dari koma, dia jadi seperti iblis! Dia tahu rahasia yang seharusnya tidak dia tahu, Virel! Dari mana dia bisa tahu soal panti asuhan itu?!"
Virel terdiam sejenak. "Panti asuhan? Ayah bicara apa? Bukankah Alzena dulu selalu di rumah? Panti asuhan mana yang Ayah maksud?"
Aldric tersadar bahwa ia hampir saja membocorkan rahasianya sendiri. Ia berdehem kasar, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Bukan apa-apa! Intinya, kau harus awasi adikmu itu. Dia berbahaya. Kalau dia sampai bicara macam-macam lagi, kita semua akan hancur."
Virel keluar dari ruangan ayahnya dengan sejuta pertanyaan di kepalanya. Selama ini, ia tahu ayahnya keras, tapi ia tidak pernah melihat ayahnya setakut ini hanya karena gertakan Alzena.
"Panti asuhan... ada apa sebenarnya sepuluh tahun lalu?" gumam Virel. Ia teringat bagaimana Alzena (Arcelia) sangat emosional saat menyebut soal "anak yang dibuang". Virel mulai merasa bahwa ada bagian dari sejarah keluarganya yang sengaja dihilangkan. Ia harus mencari tahu sendiri, tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana. Baginya, Alzena tetaplah adiknya, tapi versi yang sekarang membuatnya merasa seperti sedang bicara dengan orang asing yang sangat cerdik.
Arcelia tidak membuang waktu. Setelah mandi dan bersiap, ia langsung menuju ruang kerja di mansion Winchester yang sudah ia "sulap" menjadi markas kecilnya. Ia menyalakan laptop canggihnya, jarinya menari cepat di atas keyboard.
"Aldric Halim, lo pikir lo bisa sembunyi di balik kekuasaan lo? Gue bakal bikin lo nggak punya tempat buat berpijak," gumam Arcelia.
Ia mulai meretas masuk ke server pribadi bank yang digunakan Aldric. Ia butuh bukti aliran dana gelap yang digunakan untuk membayar orang-orang yang membakar panti asuhannya dulu. Saat sedang fokus, pintu ruangannya terbuka.
Keano masuk tanpa mengetuk, membawakan nampan berisi sarapan dan susu. Ia meletakkan nampan itu di samping laptop Arcelia.
"Makan," ujar Keano singkat.
"Gue sibuk, taruh aja di situ," jawab Arcelia tanpa menoleh.
Keano melihat layar laptop Arcelia yang penuh dengan barisan kode rumit. Ia menyipitkan mata. "Alzena yang kukenal dulu butuh waktu satu jam hanya untuk menyalakan komputer. Kau... siapa yang mengajarimu ini?"
Arcelia berhenti mengetik. Ia menatap Keano dengan tatapan menantang. "Gue belajar sendiri pas lagi koma lewat mimpi. Puas?"
Keano tertawa dingin. Ia menarik kursi dan duduk tepat di samping Arcelia, membuat jarak mereka sangat dekat. "Kebohonganmu sangat buruk. Tapi aku suka kegigihanmu. Kau sedang mencoba menghancurkan ayahmu sendiri?"
"Dia bukan ayah gue," kata Arcelia tanpa sadar. Begitu menyadari ucapannya, ia segera meralatnya. "Maksud gue, ayah macam apa yang tega biarin anaknya hampir mati dan lebih sayang sama anak angkat ular kayak Shania?"
Keano terdiam. Ia melihat kemarahan yang begitu murni di mata istrinya. Ia mengulurkan tangan, menyentuh rambut Arcelia dengan lembut—gerakan yang sangat jarang ia lakukan.
"Kalau kau butuh bantuan untuk meratakan Halim Group, kau hanya perlu mengatakannya. Aku punya banyak cara yang lebih cepat daripada sekadar meretas," bisik Keano.
Arcelia menepis tangan Keano. "Gue nggak butuh bantuan lo. Gue mau hancurin dia pake cara gue sendiri. Kepuasan pas liat dia jatuh itu harus dateng dari tangan gue, bukan tangan lo."
Keano berdiri, menatap Arcelia dengan bangga yang aneh. "Baiklah. Lakukan sesukamu. Tapi jangan lupa makan. Aku tidak mau istriku pingsan sebelum sempat melihat musuhnya hancur."
Setelah Keano keluar, Arcelia menarik napas panjang. Ia merasa hatinya sedikit bergetar karena perhatian Keano, tapi ia segera menepis perasaan itu. "Jangan bego, Arcelia. Dia itu cuma suami Alzena, bukan suami lo. Fokus ke tujuan utama."
Siang harinya, Shania yang merasa terpojok mulai melakukan langkah nekat. Ia mendatangi kantor Halic Group dan menemui Aldric.
"Ayah, kita nggak bisa diem aja! Alzena punya bukti video itu. Dia bakal sebarin semuanya!" seru Shania sambil menangis buaya.
Aldric menatap Shania dengan muak. "Ini semua salahmu karena ceroboh! Sekarang, satu-satunya cara adalah membuktikan bahwa Alzena tidak stabil secara mental. Kita harus membawanya ke rumah sakit jiwa sebelum dia melakukan kerusakan lebih lanjut."
"Tapi Ayah, Keano pasti bakal ngelindungin dia," ujar Shania.
"Keano tidak akan bisa berbuat apa-apa kalau ada surat resmi dari dokter keluarga kita bahwa Alzena menderita delusi akut pasca koma. Kita akan jemput dia paksa besok," ujar Aldric dengan mata berkilat jahat.
Mereka tidak menyahu bahwa Arcelia sudah memasang penyadap di ruangan itu melalui ponsel Shania yang sempat ia "sentuh" kemarin. Arcelia yang mendengar itu dari mansion Winchester hanya bisa tertawa sinis.
"Mau bawa gue ke RSJ? Oke, ayo main," bisik Arcelia. Ia langsung menghubungi sebuah kontak rahasia di ponselnya. Kontak yang selama ini ia gunakan saat masih menjadi hacker bayaran.
"Halo, ini gue. Gue butuh 'panggung' besok pagi. Siapkan semua kamera tersembunyi di kediaman Halim. Kita bakal kasih tontonan paling seru buat warga New Ardent."
Malam harinya, Arcelia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia bahkan bersedia makan malam bersama Keano dan keluarga Winchester lainnya. Adrian, ayah Keano, memperhatikan Arcelia dengan seksama.
"Alzena, besok adalah jadwal keberangkatan kita ke Calveron yang tertunda. Kau sudah siap?" tanya Adrian dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.
Arcelia menatap Adrian, lalu beralih ke Keano. "Sepertinya besok pagi bakal ada 'tamu' yang datang buat jemput gue, Pa. Jadi mungkin jadwalnya bakal agak sedikit berubah."
Keano mengernyit. "Tamu? Siapa?"
"Lo bakal liat besok pagi. Dan Keano... kalau besok ada orang yang bilang gue gila, lo bakal percaya nggak?" tanya Arcelia sambil tersenyum miring.
Keano menatap Arcelia dalam-dalam. "Dunia mungkin akan bilang kau gila, tapi aku tahu kau adalah wanita paling waras yang pernah aku temui. Siapapun yang berani menyentuhmu besok, mereka harus melawati mayatku dulu."
Arcelia merasa dadanya menghangat, tapi ia tetap menjaga wajahnya tetap datar. Di sisi lain meja, Riven dan Velina saling lirik, merasa suasana antara kakak dan ipar mereka ini sangat intens tapi juga sangat aneh.
...****************...
TBC
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘