NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Lari ke Barat

Mereka berlari tanpa menoleh selama beberapa menit yang terasa seperti satu jam.

Jalur di belakang kampung itu sempit dan tidak rata. Rumput liar tumbuh tinggi di sisi kiri, sementara di kanan terdapat parit dangkal yang airnya mengalir pelan. Wira beberapa kali hampir terpeleset karena tanahnya lembek. Napasnya mulai terengah, dada terasa panas, dan telapak kakinya nyeri akibat terus menghantam batu kecil di jalur sempit itu. Panca, yang berjalan tepat di belakangnya, mengeluarkan keluhan pendek setiap beberapa langkah. Ki Rangga tetap berada paling belakang, menjaga jarak dari pengejar yang mungkin menyusul.

Di belakang mereka, terdengar suara teriakan dari arah kampung.

“Kejar mereka!”

“Jangan biarkan lolos!”

Wira menahan napas sebentar lalu menoleh cepat. Dari antara semak, ia sempat melihat dua bayangan orang muncul di ujung jalan kecil. Salah satunya membawa senjata. Satu lagi berlari sambil memberi isyarat ke arah kampung. Berarti mereka tidak hanya mencari, tapi sudah yakin bahwa Wira ada di sana.

“Cepat!” seru Ki Rangga.

Wira memaksa kakinya bergerak lebih cepat. Mereka menembus rumpun semak yang lebih rapat, lalu belok tajam ke kiri mengikuti jalur tanah yang menurun. Di depan, pepohonan kembali rapat. Hutan kecil di sisi kampung mulai menyambut mereka dengan bayangan lebih tebal. Udara terasa lebih sejuk, tetapi Wira tak sempat menikmatinya. Ia hanya ingin terus bergerak agar tidak tertangkap.

Setelah cukup jauh, Ki Rangga mengangkat tangan. Mereka berhenti di balik pohon besar yang batangnya berlubang di satu sisi. Wira langsung membungkuk, menahan dada yang naik turun cepat. Panca bersandar di batang pohon dan mengusap keringat di wajah.

“Sudah jauh?” tanya Panca dengan napas putus-putus.

Ki Rangga memandang ke belakang lewat celah semak. “Belum aman.”

Wira memejamkan mata singkat. “Mereka sampai ke kampung itu juga.”

“Ya,” jawab Ki Rangga.

“Berarti Mbah Sura...” Wira tidak meneruskan kalimatnya.

Ki Rangga diam sejenak sebelum berkata, “Kalau dia menahan mereka cukup lama, kita masih punya waktu.”

Wira menatap gurunya dengan tajam. “Kalau?”

Ki Rangga tidak menjawab. Jawaban itu justru membuat perut Wira semakin terasa dingin. Ia tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk, tetapi bayangan Mbah Sura yang menutup pintu sambil memegang tongkat tua langsung muncul di kepalanya. Orang tua itu mungkin membantu mereka dengan sadar bahwa dirinya bisa jadi membayar mahal.

Panca menatap Wira lalu berkata pelan, “Kita tidak bisa balik sekarang.”

Wira tahu itu benar, tapi tetap sakit mendengarnya. “Aku juga tidak bilang mau balik.”

“Tatapanmu bilang begitu.”

Wira mendengus kecil, tapi tidak membantah. Ki Rangga mengamati keduanya lalu berkata, “Emosi jangan dibiarkan menguasai langkah. Kalau kalian terlalu terpaku pada yang ditinggalkan, kalian akan kehilangan yang di depan.”

Wira menatapnya. “Kau bicara seolah gampang.”

“Aku tidak bilang gampang.”

Mereka berjalan lagi setelah jeda singkat. Kali ini Ki Rangga memilih jalur yang agak menyimpang ke arah barat. Jalurnya naik turun, kadang melewati akar besar, kadang memotong semak rendah. Wira mulai sadar bahwa mereka tidak lagi hanya kabur. Ada tujuan yang berubah, atau setidaknya arahnya sedang disusun ulang. Ki Rangga tampak lebih waspada daripada tadi. Matanya terus menyapu sekitar, seolah sedang menghitung waktu dan jarak.

Setelah sekitar setengah jam berjalan, mereka tiba di sebuah lereng kecil yang menyingkap pandangan ke arah dataran lebih luas. Dari sana, terlihat jalur lama yang menuju wilayah barat. Bukan jalan utama, tetapi bekas lintasan lama yang tampaknya jarang dipakai. Ki Rangga berhenti di tepi semak dan menatap jauh ke sana.

Panca mengikuti arah pandangnya. “Kita ke barat?”

Ki Rangga mengangguk. “Ada satu tempat yang mungkin aman untuk sementara.”

Wira memicing. “Bukannya tadi kau bilang di timur ada kampung yang bisa memberi petunjuk?”

“Ada,” jawab Ki Rangga. “Dan kita sudah mendapat petunjuknya.”

Wira menatapnya tidak yakin. “Lalu kenapa mendadak ke barat?”

“Karena sekarang mereka tahu kita sudah melalui kampung timur.” Ki Rangga menunjuk jalur di belakang mereka. “Kalau terus bergerak ke arah yang mudah ditebak, kita akan dikepung.”

Panca mengangguk perlahan. “Jadi kita memutar.”

“Betul.”

Wira menatap jalur barat itu dengan rasa cemas. “Ke mana tepatnya?”

Ki Rangga menjawab singkat, “Sebuah tempat singgah lama. Bukan kampung. Bukan desa. Tapi ada orang yang kadang lewat.”

Panca mengernyit. “Kedengarannya tidak meyakinkan.”

“Memang tidak untuk orang yang ingin kenyamanan,” kata Ki Rangga.

Wira menoleh tajam. “Kau terus bicara seperti tahu semua jalan.”

“Aku tahu cukup untuk membuat kalian tetap hidup.”

Kalimat itu menghentikan bantahan Wira. Ia tidak suka nada gurunya yang selalu tenang, tetapi ia harus mengakui bahwa sejauh ini Ki Rangga memang membawa mereka keluar dari beberapa situasi buruk. Tanpa lelaki itu, Wira mungkin sudah ditangkap sejak pagi.

Mereka melanjutkan perjalanan ke barat. Semakin jauh, medan semakin berbatu. Pohon-pohon berjarak agak renggang, dan tanahnya lebih keras. Wira mulai mencium bau angin kering yang datang dari dataran terbuka. Cahaya sore memanjang di antara batang-batang pohon. Hari sudah hampir senja, dan langit di ujung barat mulai berwarna keemasan pucat.

Di tengah perjalanan, Wira akhirnya memberanikan diri bertanya sesuatu yang sejak tadi menumpuk di benaknya. “Ki Rangga.”

“Ya.”

“Kenapa mereka begitu ingin menangkapku?”

Ki Rangga tidak langsung menjawab. Ia tetap berjalan sambil mengamati sekitar. Baru setelah beberapa langkah, ia berkata, “Karena kau bukan sekadar anak yang kebetulan membawa tanda itu.”

Wira menunggu.

“Karena ada kemungkinan darah yang mengalir dalam dirimu membuatmu punya hak atas sesuatu yang lama disembunyikan.”

Panca menoleh cepat. “Darah?”

“Ya,” kata Ki Rangga. “Dan itu yang paling mereka takuti.”

Wira merasakan tengkuknya dingin. “Hak atas apa?”

Ki Rangga memandangnya sekilas. “Jawaban itu belum aman diucapkan keras-keras.”

Panca mendecak kecil. “Aku benar-benar benci jawaban seperti itu.”

Wira tidak membalas. Dalam kepalanya, kata-kata Ki Rangga justru berputar terus. Hak atas sesuatu. Darah. Disembunyikan. Ia mulai menyusun kemungkinan-kemungkinan, tetapi semuanya terlalu kabur. Satu-satunya yang pasti adalah bahwa hidupnya terhubung pada sesuatu yang besar, lebih besar dari desa, lebih besar dari dirinya, dan mungkin lebih besar dari yang bisa ia pahami sekarang.

Mereka berhenti saat matahari nyaris tenggelam. Ki Rangga memilih tempat berteduh di balik tiga pohon besar yang batangnya rapat. Di bawahnya, ada batu datar dan semak tinggi yang cukup menutup pandangan dari jalan terbuka. Mereka duduk untuk beristirahat sejenak. Panca langsung merebahkan diri, sedangkan Wira menatap arah barat yang kini semakin gelap.

“Masih jauh?” tanya Panca.

“Tidak terlalu,” jawab Ki Rangga.

“Jawabanmu lagi-lagi tidak jelas.”

“Jelas bagi orang yang sedang berjalan.”

Panca mengeluh pelan. Wira hampir tersenyum, tetapi pikirannya terlalu penuh. Ia mengambil lempeng kayu kecil dari pinggang lalu memutarnya di telapak tangan. Sejak pagi hingga sekarang, benda itu seakan tidak berubah, tetapi bagi Wira, semua yang berkaitan dengannya sudah berubah total.

“Ki Rangga,” katanya pelan.

“Ya?”

“Kalau ibu saya masih hidup, kenapa dia tidak datang mencariku?”

Ki Rangga diam sebentar. Wira menatapnya, menunggu jawaban. Panca pun duduk lebih tegak, seperti ikut penasaran.

“Karena bisa jadi ia sedang bersembunyi,” jawab Ki Rangga.

“Dari siapa?”

“Orang yang memburu kalian juga memburunya.”

Wira menelan ludah. “Jadi dia tidak bisa datang begitu saja.”

“Tidak selalu.”

“Kalau begitu dia pasti tahu aku akan dicari.”

“Mungkin.”

Wira meremas kain di pangkuannya. “Berarti selama ini ibu memang menunggu saat yang salah?”

Ki Rangga memandangnya. “Bisa jadi ia menunggu saat yang tepat.”

Wira memejamkan mata singkat. Pertanyaan tentang ibunya makin rumit. Ia ingin marah karena tidak diberi penjelasan, tetapi di saat yang sama ia juga merasa ibunya mungkin memang menyimpan semuanya demi melindungi dirinya. Pikiran itu sedikit mengurangi rasa kesalnya, meski tidak menghapusnya.

Langit makin gelap. Suara malam mulai turun perlahan. Serangga bersahutan di balik semak, dan angin membawa bau tanah kering. Setelah istirahat singkat, mereka kembali bergerak sebelum benar-benar gelap. Ki Rangga memimpin ke jalur kecil di antara dua bukit rendah. Dari sana, mereka akhirnya melihat bangunan kecil di kejauhan.

Sebuah pondok singgah tua berdiri sendiri di tepi jalur barat.

Bangunannya tidak besar. Dinding kayunya menghitam karena usia dan cuaca. Atapnya miring di satu sisi, dan bagian depan ditumbuhi rumput liar yang jarang dibersihkan. Namun pondok itu masih berdiri tegak, seolah menolak roboh walau ditinggalkan lama. Wira memandangnya dengan hati-hati. Tidak ada suara dari dalam. Tidak ada asap. Tapi tempat itu memang tampak seperti pernah dipakai orang-orang yang lewat jauh.

Panca menatap pondok itu dengan curiga. “Ini aman?”

Ki Rangga menjawab, “Cukup untuk satu malam.”

“Kalau ada pembunuh datang?”

“Kalau ada pembunuh datang, kau lari lebih dulu,” kata Ki Rangga datar.

Panca langsung mendengus. “Terima kasih atas kepercayaanmu.”

Wira berjalan lebih pelan. Ada perasaan aneh melihat pondok itu berdiri sendiri di bawah langit yang mulai gelap. Tempat seperti itu sering menyimpan cerita. Dan entah kenapa, ia merasakan bahwa malam ini pun akan membawa cerita baru.

Ki Rangga membuka pintu depan. Engselnya berderit panjang. Di dalam, ruangan kecil itu cukup bersih meski berdebu. Ada bangku kayu, tungku kecil yang sudah lama tidak dipakai, tikar gulung, dan beberapa peralatan tua. Wira menatap ke seluruh sudut. Tak ada tanda penghuni baru-baru ini, tetapi juga tak sepenuhnya kosong. Ada rasa lama yang tertinggal di sana.

Mereka masuk satu per satu. Panca langsung menjatuhkan diri di bangku. Wira berdiri dekat pintu, masih mengamati luar. Ki Rangga menyalakan lampu minyak kecil yang tersisa di rak, lalu menaruhnya di tengah ruangan.

Setelah cahaya kecil itu menyala, suasana pondok berubah menjadi lebih hangat, meski tetap sunyi.

Wira akhirnya duduk di tikar. Ia memandang Ki Rangga, lalu berkata, “Sampai di sini, aku masih belum tahu siapa yang paling berbahaya.”

Panca mengangkat kepala. “Aku setuju. Aku juga bingung.”

Ki Rangga duduk di seberang mereka. “Yang paling berbahaya bukan selalu yang paling keras.”

Wira menatapnya. “Maksudmu?”

“Kadang orang yang tersenyum terlalu tenang jauh lebih berbahaya daripada yang langsung mengancam.”

Panca mengernyit. “Itu terdengar seperti nasihat, atau ancaman terselubung.”

Ki Rangga tidak menjawab. Ia malah menatap pintu sesaat, seperti mendengar sesuatu di luar. Wira ikut diam. Beberapa detik kemudian, suara langkah terdengar di tanah dekat pondok.

Panca langsung tegang. “Ada orang?”

Ki Rangga mengangkat tangan, menyuruh diam. Langkah itu berhenti di luar. Kemudian terdengar suara seorang laki-laki yang belum dikenal, agak serak, berbicara dari balik pintu.

“Kalau kalian masuk, jangan terlalu ramai.”

Wira membeku.

Ki Rangga langsung berdiri. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah tajam. Ia melangkah ke pintu dan membukanya sedikit.

Di luar berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan pakaian perjalanan yang sederhana. Wajahnya tertutup debu, rambutnya agak kusut, dan di pinggangnya tergantung senjata pendek. Sorot matanya tajam, tapi tidak galak. Orang itu memandang Ki Rangga, lalu Wira, lalu Panca, seakan sedang memastikan sesuatu.

“Sudah lama aku menunggu kalian lewat sini,” katanya.

Wira menahan napas. Ki Rangga tidak langsung menjawab. Panca memandang orang asing itu dengan wajah penuh curiga.

Pria itu menyentuh dadanya sebentar, lalu berkata, “Nama saya Jaya. Dan kalau kalian masih ingin hidup, kita harus bicara sekarang.”

Wira menatap Ki Rangga. Gurunya diam sesaat, lalu membuka pintu lebih lebar.

Dan malam itu, di pondok singgah tua di jalur barat, jawaban baru akhirnya mengetuk pintu mereka.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!