Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Suasana terasa sedikit canggung saat anak itu semakin menempel. Bahkan dengan santainya ia duduk di atas pangkuan Adinda, seolah tempat itu memang miliknya.
“Sayang, sudah… nanti Tantenya capek,” tegur pria itu dengan nada lembut.
Anak itu langsung menggeleng cepat. “Enggak, Papa. Jangan Tante… tapi Mama,” sahutnya tegas, seolah tidak mau dibantah.
“Gak gitu, Sayang,” cegah pria itu pelan, terlihat tidak enak.
Namun tanpa sengaja, Adinda justru menyahut dengan tenang. “Tidak apa-apa, Pak. Biarkan saja… namanya juga anak kecil,” ucapnya, mencoba mencairkan suasana.
Pria itu menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan.
Ada rasa lega, meskipun tetap terselip rasa canggung di wajahnya. Beberapa detik mereka terdiam. Namun rasanya aneh jika pertemuan kedua seperti ini tetap tanpa saling mengenal.
Pria itu akhirnya membuka percakapan.
“Oh ya, Mbak… rumahnya dekat sini?” tanyanya hati-hati.
Adinda menoleh, lalu tersenyum tipis. “Enggak kok. Kebetulan saja aku kerja di dekat sini,” jawabnya santai.
“Kerja di mana?” lanjut pria itu.
“Aku kerja di perusahaan Winata Group,” sahut Adinda.
Pria itu sedikit terdiam. Tatapannya berubah sekilas, tapi cepat ia tutupi dengan anggukan pelan.
“Oh… Winata Group,” gumamnya, seolah mengenal nama itu dengan baik.
“Di bagian apa?” tanyanya lagi.
Adinda mengusap lembut kepala anak kecil di pangkuannya sebelum menjawab.
“Aku di bagian keuangan… lebih tepatnya finance supervisor,” ucapnya tenang.
Pria itu kembali mengangguk, tapi kali ini sorot matanya lebih dalam. Seolah sedang menilai… atau menghubungkan sesuatu di dalam pikirannya.
“Berarti cukup lama ya di sana?” tanyanya lagi.
“Lumayan,” jawab Adinda singkat. “Sudah hampir lima tahun, tapi sebelumnya sering pindah-pinda, dan ini tempat kerja terlamaku."
“Setia juga,” sahut pria itu dengan senyum tipis.
Adinda tidak langsung menjawab. Hanya membalas dengan senyum kecil yang sulit diartikan.
Sementara itu, anak kecil di pangkuannya tampak semakin nyaman. Bahkan tanpa sadar, kepalanya bersandar di dada Adinda.
Dan anehnya, Adinda tidak merasa terganggu. Justru ada rasa hangat yang perlahan muncul. Rasa yang tidak bisa ia jelaskan.
Sementara pria itu memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Tatapannya kini bukan lagi sekadar penasaran. Melainkan mulai dipenuhi sesuatu yang lebih dalam. Seolah-olah. Pertemuan ini bukan kebetulan.
Mengingat waktu sumpah hampir lama, Adinda segera melihat jam di pergelangan tangannya.
"Anak baik, waktu Tante sudah hampir habis, nanti kita bertemu lagi ya," ucap Adinda dengan lembut.
Anak itu sedikit beringsut seolah tidak mau melepaskan wanita yang sedang mendekapnya itu.
"Ya pisah lagi deh," keluhnya masih bisa terdengar.
"Kita pisah hanya sementara, nanti kalau mau ketemu di tempat ini saja," imbuh Adinda segera.
Anak itu diam sejenak, lalu mulai berpikir seperti ada yang ingin ia tanyakan pada wanita yang sedang memangkunya itu.
"Mama cantik namanya siapa?" tanya anak itu.
Adinda sontak terkejut, sedari tadi dia sendiri tidak kepikiran malah anak itu yang mencoba membuka perkenalan.
"Nama Mama ... Adinda," sahut Adinda pelan.
"Namanya bagus," puji anak itu spontan.
"Terus nama anak cantik ini siapa? Masak Mama tidak dikasih tahu?" tanya Adinda balik.
"Oh ya hampir lupa," sahut anak itu yang membuat dua orang dewasa itu tersenyum bersamaan. "Perkenalkan namaku Alesia," ucapnya.
"Nama yang indah secantik orangnya," kata Adinda.
"Makasih, kata Papa aku adalah princes tercantik di dunia," selorohnya dengan bangga.
Adinda menurunkan tubuh kecil itu dari pangkuannya lalu menunduk kepalanya sedikit. "Sayang, pasti kamu sangat bahagia mempunyai ayah yang hebat dan sangat menyayangimu," ujar Adinda sambil menoleh ke arah pria itu.
"Ale sangat bahagia," ulang bocah itu seolah menegaskan.
“Pasti,” jawab pria itu singkat, membalas tatapan Adinda dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
Ada jeda sesaat antara keduanya, namun tidak canggung seolah waktu bisa dimasak kompromi.
Adinda kembali melirik jam di pergelangan tangannya. Wajahnya sedikit berubah, kesadarannya kembali pada rutinitas yang menunggu.
Ia mengusap lembut kepala Alesia. “Mama cantik harus kerja dulu ya,” ucapnya pelan.
Alesia langsung memeluk lehernya sekali lagi, lebih erat dari sebelumnya. “Jangan lama-lama ya, Ma,” lirihnya manja.
Deg.
Kata sederhana itu kembali menembus pertahanan Adinda. Dan kali ini… ia tidak membantah, hanya tersenyum.
“Iya… nggak lama,” jawabnya pelan, meski ia sendiri tidak yakin kenapa bisa berkata seperti itu.
Perlahan, ia melepaskan pelukan itu. Tangannya sempat ragu sejenak, seolah tidak rela. Tapi akhirnya ia berdiri.
Pria itu juga ikut berdiri. “Terima kasih ya, sudah mau menenangkan anak saya,” ucapnya sopan, namun tatapannya seolah menyimpan sesuatu yang belum terucap.
Adinda menggeleng kecil. “Tidak apa-apa. Dia anak yang manis,” jawabnya tulus.
Alesia langsung menimpali dengan bangga, “Karena aku anak Papa,” katanya polos.
Mereka bertiga tersenyum. Namun di balik itu… ada sesuatu yang terasa ganjil, Adinda mengambil tasnya, lalu melangkah mundur perlahan. “Saya pamit dulu,” ucapnya.
“Baik. Hati-hati,” sahut pria itu.
Langkah Adinda mulai menjauh. Namun entah kenapa… sebelum benar-benar keluar dari tempat itu, ia menoleh sekali lagi.
Dan di sana, anak kecil itu menatapnya dengan tatapan yang terasa terlalu dalam untuk anak seusianya.
"Tatapan itu kenapa membuat dasar hatiku terguncang," gumam Adinda.
Namun sebelum rasa itu terus menjalar di hatinya. Adinda segera membuang pandangan dan melangkah keluar.
Ia tidak tahu Kenapa langkahnya terasa berat, untuk meninggalkan seorang anak yang bahkan ia sendiri baru saja mengenalnya.
Bersambung ...
Maaf ya hari ini telat lagi .... Mungkin besok jadwal up nya sudah mulai normal kembali 🙏🙏🙏🙏