Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Silas berjalan mendekat, gerakannya lambat dan hati-hati. Ia berdiri di samping Elara, memandang tuannya yang terperangkap dalam bingkai emas.
"Beliau memang bahagia saat itu," suara Silas terdengar jauh, seolah ia sedang berbicara dari masa lalu. "Beliau penuh semangat. Tuan Kaelen muda adalah pemuda paling cemerlang di Vhaloria Utara. Beliau suka berkuda, membaca puisi—meski beliau tidak akan pernah mengakuinya sekarang—dan beliau memiliki tawa yang bisa menghangatkan seluruh aula kastil ini."
Elara menatap Silas, terkejut dengan informasi itu. Puisi? Tawa? Itu terdengar seperti dongeng tentang orang asing.
"Apa yang terjadi?" tanya Elara pelan. "Apa yang mengubahnya menjadi... seperti sekarang?"
Wajah Silas berubah. Tirai profesionalismenya kembali turun, menutupi emosi yang sempat bocor. "Perang, Nyonya. Perang mengubah semua pria."
"Bukan hanya perang," desak Elara. Ia memutar tubuhnya menghadap Silas sepenuhnya. Ia memutuskan untuk mengambil risiko. "Perang bisa membuat orang menjadi keras, tapi tidak membuat mereka dihantui mimpi buruk setiap malam hingga berteriak memanggil nama seseorang."
Mata Silas melebar sedikit. Tangannya yang memegang kain lap menegang, buku-buku jarinya memutih. "Nyonya..."
"Siapa Lyra?"
Nama itu jatuh di antara mereka seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur dalam.
Hening.
Keheningan yang terjadi begitu total hingga Elara bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Wajah Silas memucat. Ia melihat ke kiri dan ke kanan, seolah takut dinding-dinding kastil memiliki telinga dan akan melaporkan percakapan ini kepada tuannya.
"Nyonya," suara Silas bergetar, rendah dan penuh peringatan. "Saya mohon... jangan pernah mengucapkan nama itu di kastil ini. Terutama di depan Tuan Duke."
"Kaelen sudah mendengarnya dariku," kata Elara jujur. "Saat dia bermimpi buruk di perpustakaan. Dia menyebut nama itu. Dia tampak hancur, Silas. Bukan marah, tapi hancur."
Bahu Silas merosot. Pria tua itu tampak menyusut, beban bertahun-tahun seolah menumpuk di punggungnya dalam satu detik. Ia menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti angin musim dingin yang melewati celah jendela retak.
"Itu bukan cerita saya untuk diceritakan, Nyonya," bisik Silas. "Dan itu adalah cerita yang berbahaya. Luka Tuan Kaelen... itu bukan sekadar luka gores. Itu adalah luka yang membusuk karena tidak pernah diobati."
"Bagaimana aku bisa menjadi istrinya jika aku tidak tahu siapa yang memegang hatinya?" tanya Elara, suaranya mengandung kepedihan yang tulus. "Aku hidup dengan hantu, Silas. Aku tidur di bawah atap yang sama dengan pria yang membenciku karena aku bukan wanita itu."
Silas menatap Elara. Untuk pertama kalinya, ia melihat bukan hanya seorang gadis bangsawan manja dari ibu kota, melainkan seorang wanita muda yang putus asa mencoba memahami posisinya. Ia melihat keteguhan di mata cokelat Elara.
"Lady Lyra," Silas memulai, suaranya nyaris tak terdengar, "adalah putri Count Blackwood. Tetangga kami di sebelah timur."
Elara menahan napas, menyerap setiap kata.
"Mereka tumbuh bersama," lanjut Silas, matanya menerawang kembali ke lukisan Kaelen muda. "Mereka tidak pernah bertunangan secara resmi karena ayah Tuan Kaelen, Duke Garrick, menginginkan aliansi politik dengan keluarga kerajaan. Tapi hati tidak bisa diperintah. Tuan Kaelen dan Lady Lyra... mereka adalah satu jiwa dalam dua tubuh. Mereka berencana kawin lari setelah Tuan Kaelen kembali dari penugasan pertamanya di perbatasan."
"Lalu?" tanya Elara.
Silas menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun dengan susah payah. "Perang pecah lebih cepat dari dugaan. Pemberontak menyerang wilayah Blackwood saat Tuan Kaelen sedang berada di garis depan. Bantuan terlambat datang. Kastil Blackwood dibakar habis."
Elara menutup mulutnya dengan tangan.
"Tuan Kaelen memacu kudanya sampai mati untuk kembali," suara Silas pecah. "Tapi saat beliau sampai di sana... yang tersisa hanya abu. Lady Lyra tidak pernah ditemukan. Mereka bilang dia tewas dalam kebakaran itu bersama keluarganya. Tapi Tuan Kaelen... beliau tidak pernah berhenti mencari jasadnya di reruntuhan selama berminggu-minggu. Dengan tangan kosong."
Bayangan itu menghantam benak Elara dengan brutal. Kaelen muda, penuh harapan, menggali abu dan batu dengan tangan berdarah, mencari cinta sejatinya yang telah menjadi debu.
"Sejak hari itu," Silas berbisik, "pemuda yang tersenyum di lukisan ini mati. Dan Iblis Utara lahir. Beliau menyalahkan dirinya sendiri. Beliau menyalahkan ketidakmampuannya melindungi orang yang dicintainya. Dan beliau bersumpah untuk tidak pernah membiarkan siapa pun masuk ke hatinya lagi, karena cinta... bagi beliau, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Air mata menggenang di sudut mata Elara. Bukan karena rasa kasihan, tapi karena pemahaman yang tiba-tiba dan menyakitkan. Kaelen tidak membencinya. Kaelen takut padanya. Atau lebih tepatnya, Kaelen takut merasakan sesuatu lagi.
Menikahi Elara adalah pengkhianatan terhadap memori Lyra. Dan setiap kali Kaelen melihat Elara, dia diingatkan bahwa dia masih hidup sementara Lyra sudah tiada.
"Terima kasih, Silas," ucap Elara serak.
Silas menatapnya dengan pandangan memohon. "Nyonya, pengetahuan ini... ini bukan senjata. Ini beban. Tuan Duke akan membunuh saya jika beliau tahu saya menceritakan ini."
"Rahasia ini aman bersamaku," janji Elara. "Aku tidak akan menggunakannya untuk menyakitinya. Aku hanya... aku hanya butuh mengerti siapa yang kucintai."
Kata itu meluncur begitu saja. Cintai? Tidak, mungkin belum cinta. Tapi rasa ingin memiliki, rasa ingin menyembuhkan, rasa keterikatan yang aneh pada pria rusak itu.
Silas mengangguk pelan, tampak lega sekaligus khawatir. Ia kembali membasahi kain lapnya, bersiap melanjutkan tugasnya membersihkan debu dari wajah-wajah mati itu.
Elara mundur selangkah. Ia memandang lukisan Kaelen muda sekali lagi. Senyum itu. Mata yang hidup itu.
Sekarang dia punya tujuan.
Dia tidak akan mencoba menggantikan Lyra. Itu mustahil. Kau tidak bisa bersaing dengan hantu yang telah disucikan oleh kematian. Tapi Elara bisa menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh hantu: kehidupan. Kehangatan yang nyata. Tangan yang bisa dipegang saat mimpi buruk datang.
Elara berbalik meninggalkan galeri itu. Langkahnya lebih mantap daripada saat ia datang.
Saat ia berjalan kembali menyusuri koridor yang dingin, sebuah rencana mulai terbentuk di benaknya. Ulang tahun Kaelen. Ia melihat tanggalnya di bawah lukisan tadi. Minggu depan.
Di kastil yang suram ini, di mana tidak ada perayaan dan tidak ada tawa, Elara memutuskan untuk melakukan sesuatu yang nekat. Sesuatu yang mungkin akan membuat Kaelen marah besar, atau... membuka retakan kecil di dinding es yang mengelilingi hatinya.
Dia akan membuat kue. Dan dia akan membawa musim semi ke dalam musim dingin abadi Blackiron, entah suaminya menginginkannya atau tidak.