Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.
Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.
Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.
Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.
Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.
Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.
Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10. mabuk
Maya sempat tersenyum lebar saat suara mobil terdengar dari luar. Namun berikutnya, ekspresi wajahnya berubah menjadi guratan masam dan waspada karena suara yang terdengar setelahnya adalah suara percakapan antara dua lelaki.
Maya langsung duduk tegak di pinggir sofa, tubuhnya kaku dan gelisah. Jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena takut, tapi karena situasinya yang makin canggung.
"Sial banget deh hari ini. Gue bisa-bisa dapet nilai C nih, sama dosen kolot kaya pak Ahmad! Mana gue tahu gimana caranya ngelakuin rekayasa fasad?" ucap dari salah satu lelaki tersebut.
"Makanya, kalau dosen lagi nerangin materi itu dengerin! Lo sih, banyak bacot mulu dari tadi," celetuk suara lain yang terdengar berat.
Suara mereka semakin dekat.
"Anjir. Sialan lo! Tau sendiri kan gue—"
Maya melihat dua pemuda muncul dari pintu masuk. Yang satu memakai jaket jeans hitam sementara yang satunya memakai kemeja panjang kotak-kotak.
Salah satu dari mereka sempat melirik ke penjuru kos, ekspresinya berubah sedikit heran saat melihat Maya.
"Eh, kita nggak salah masuk rumah kan, Bro?" Pemuda yang memakai jaket jeans dan berambut ikal menyenggol lengan temannya. Matanya terarah kepada Maya.
"Nggak deh kayaknya," sahut temannya.
Senyum kikuk muncul di wajah Maya, hanya sebagai basa-basi, lalu ia cepat-cepat menunduk. Maya menggerutu dalam hati. Ia mengutuk Chris yang pergi terlalu lama dan sekarang dia harus berpura-pura tenang.
'Apanya yang pulang sore?! Mereka malah pulang siang. Lebih cepat dari yang dikatakan Chris lagi!'
Pemuda berkulit sawo matang itu merapikan rambutnya dan tersenyum pada Maya. Langkahnya terdengar makin dekat masih dengan senyum ramah. Maya yang duduk, berusaha terlihat cuek meski sebenarnya tubuhnya menegang. Sementara temannya yang satu lagi yang berambut cepak dan bertubuh agak tinggi, berjalan cuek ke arah dapur sambil membuka bungkus camilan.
"Mbaknya ini, siapa ya?" tanya si pemilik rambut ikal dengan suara ramah.
Maya menoleh perlahan, mencoba tersenyum tipis walau kaku. "Ehm.. saya temannya Chris."
Maya tidak tahu di bagian mana di antara kata-katanya barusan yang terdengar aneh. Tapi setelah mengatakan itu, mereka saling bertukar pandang dengan ekspresi terkejut.
"Anjir! Chris, Broh!" Laki-laki itu berseru kencang, sementara teman satunya lagi tampak diam mengamati Maya. Tangannya yang tengah meraih kaleng minuman di dalam lemari es terhenti seketika.
Lelaki berambut ikal itu mengangguk paham, tapi matanya masih menyimpan rasa ingin tahu. Kemudian ia kembali bertanya, "Terus, Chris nya sekarang ada di mana Mbak?"
"Ehm.. tadi sih katanya mau beli makan di luar sebentar."
Maya mulai merasa tidak nyaman. Sempat terbersit ide untuk pulang saja. Tapi sialnya, tas slempangnya sudah dibawa kabur oleh Chris tanpa sepengetahuannya.
"Oh, pantesan dari tadi tuh anak dicari nggak ketemu. Tau nya bolos. Nggak ikut rapat intern camping, pula!" Laki-laki berjaket jeans hitam itu menghampiri temannya ke dapur. "Alif, ambilin satu dong!"
Laki-laki bernama Alif itu melemparkan kaleng minuman kepada temannya. Saat matanya bertemu dengan Maya, ia memberikan senyum ramah. Lalu Alif berjalan menghampiri Maya dengan kedua tangan memegang kaleng minuman.
"Nama gue Alif, terus si cowok paling buluk di kosan itu Riski. Kita juga temen satu kampus sama Chris." Alif mengenalkan dirinya sendiri sambil memberikan kaleng minuman merek asing itu pada Maya.
"Eh, sialan! Gue dibilang buluk! Padahal gue anak paling rajin yang tinggal di sini. Siapa yang sering nyapu lantai dan buang sampah disini, selain gue?!" Riski menggerutu sambil melempar kaleng minuman yang telah kosong itu ke tempat sampah.
Maya mengambil minuman itu dengan sedikit ragu. Dia tidak menyebutkan namanya, karena ia masih merasa asing dengan dua laki-laki itu.
"Ehm.. kalau gitu, kita ke atas dulu ya. Santai aja disini. Kalau ada sesuatu, lo bisa panggil kita." Alif sepertinya dapat membaca pikiran Maya yang tampak tak nyaman. Ia kemudian mundur dan menarik Riski ke atas dengan susah payah karena Riski sempat enggan untuk beranjak. Sedangkan Maya hanya mengangguk singkat.
Begitu suara langkah kaki menghilang menaiki tangga ke lantai atas, Maya akhirnya bisa menghela napas lega. Udara yang sejak tadi terasa sesak di dada perlahan mengendur. Ia menyandarkan kembali punggungnya di sandaran sofa, merapikan ujung rok sambil menatap pintu masuk yang kini masih terbuka.
“Syukurlah…” gumamnya pelan, merasa seperti baru saja keluar dari sesi wawancara kerja yang canggung.
"Ish! Chris kenapa lama banget sih!" Rutuknya kembali dengan wajah masam.
Sudah hampir empat puluh menit, tetapi Chris masih belum kembali. Kemudian pandangan matanya jatuh pada kaleng dingin di meja. Yang tadi diberikan oleh salah satu dari teman Chris, Alif. Jika dia tidak salah dengar, meletakkannya sambil berkata santai, “Minum aja, nyegerin kok.” Maya sempat mengangguk sopan, meski ragu menyentuhnya. Tapi sekarang, setelah situasi mulai tenang dan tenggorokannya terasa kering karena gerah dan gugup, minuman itu terlihat sangat menggoda.
El Diablo!
Maya baru tahu ada minuman dengan merek itu. Ia lalu mengambilnya dan membukanya, mencium aromanya sekilas, sedikit manis, ada sensasi asam yang samar. Sesaat, Maya seperti familiar dengan aroma yang tercium di indera penciumannya.
Cuaca yang panas hingga tiga puluh sembilan derajat, membuat Maya menelan ludah berkali-kali saat melihat minuman itu. Rasa haus mengalahkan segalanya. Tanpa berpikir panjang, Maya mendekatkan kaleng itu ke bibirnya dan meneguknya. Rasanya dingin dan manis di awal, lalu meninggalkan sedikit rasa hangat di tenggorokan. Tak sepenuhnya tidak enak, tapi ada sensasi aneh yang tidak bisa ia jelaskan.
Maya mengerutkan dahi. “Apa ini? Kok rasanya aneh!” pekiknya pelan mencoba menebak.
Maya ingin berhenti, tetapi ada rasa lain yang membuatnya ingin menenggak minuman itu kembali. Ia pun kembali minum hingga tiga tegukan terakhir.
Tapi setelah beberapa menit, ia mulai merasakan sensasi hangat yang perlahan menyebar ke tubuhnya, membuat wajahnya memerah tipis. Dadanya terasa sedikit ringan, dan kepalanya mulai terasa seperti melayang perlahan.
Ia menatap minuman kaleng itu lagi, lalu bergumam lirih, “Kayaknya ini bukan sekadar soda…”
Ia melihat sekeliling ruangan, dinding, meja, bahkan gantungan jaket di pojok ruangan tampak sedikit berputar perlahan, seperti dunia sedang bergoyang pelan.
“Kenapa… aku pusing gini…” bisiknya pelan.
Ia memejamkan mata sejenak, berharap sensasi aneh itu menghilang, tapi yang ada justru tubuhnya makin terasa berat. Maya kembali menyandarkan diri, napasnya mulai tidak teratur, dan wajahnya memerah. Suasana yang tadi hening kini terasa jauh dan asing.
Ada bagian dari dirinya yang mulai panik, ia sadar ada yang tidak beres. Tapi pikirannya terlalu kabur untuk bisa mengolah apa yang sebenarnya sedang terjadi. Yang ia tahu, ia tak pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya. Dan itu membuat jantungnya berdegup tak menentu.
Maya memijat keningnya. Ia kehilangan fokus. Matanya terpejam lagi, bukan karena ingin tidur, tapi karena tubuhnya tak lagi sanggup melawan rasa hilang arah yang perlahan menguasai. Lalu, semuanya menjadi kabur. Dan...