Allyssa harus meninggalkan hidup nyamannya di Bandung dan memulai semuanya dari awal di Jakarta. Di sekolah barunya, ia mencoba menjalani kehidupan remaja seperti biasa, meski perlahan ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di sekitarnya.
Pertemuan dengan orang-orang baru, termasuk sosok misterius yang sulit dipahami, membuat hidup Allyssa berubah. Kejadian demi kejadian datang tanpa ia duga, seolah membawanya masuk ke dalam rahasia yang lebih besar.
Di tengah semua itu, ia hanya berpegang pada satu hal yang paling berarti—saudara kembarnya. Namun sebuah kejadian di malam yang seharusnya biasa saja, mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Allyssa menyadari bahwa tidak semua cerita berjalan sesuai harapan. Ada yang harus berhenti di tengah jalan—dan tak pernah sempat selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aynaaa12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 4
Gadis-gadis itu hanya menyaksikan Allyssa yang terkapar di sana. Tak ada yang berniat membantu Allyssa atau berniat membawanya ke UKS.
Sementara salah satu siswa laki-laki dari tim sepak bola yang tingginya sekitar 180-an, dengan rambut berantakan, seragam olahraga yang sudah di penuhi keringat berlari paling cepat menghampiri diikuti oleh beberapa temannya langsung berjongkok di dekat gadis itu. Sebenarnya dia sempat ragu untuk bantu. Tapi, karena dia adalah penyebab gadis itu pingsan, akhirnya mengangkat tubuh Allyssa dengan hati-hati.
Seketika lapangan tambah heboh.
Beberapa siswa malah mengangkat ponsel, merekan kejadian itu. “Wah, gila, kapan lagi bisa liat most wanted sekolah gendong cewe, nggak bisa dilewatin nih!” Bisik salah dari mereka.
“Lah bukannya itu Althan.”
“Dia digendong beneran!”
“Gila, gak nyangka...”
“Gue juga mau pingsan, kalau Althan yang gendong...”
“Itu si cewek bakal kena bully nih sama Viola”
“Althan ganteng banget...”
“Mau digendong Althan juga”
Begitulah bisikan-bisikan para siswi yang melihat kejadian itu.
...****************...
Lapangan yang sempat ricuh tadi, akhirnya kembali terkendali. Guru olahraga meniup pluit panjang.
“Sudah, sudah! Jangan berkerumun! Semua kembali ke posisi masing-masing! Permainan tetap lanjut!” Ujar guru olahraga tegas.
“Yah, Pak kirain bakal di suruh ke kelas.” Ujar seorang siswa lesu berharap kejadian tadi membuat mereka semua kembali ke kelas.
Kerumunan bubar perlahan. Beberapa orang masih berbisik. Sementara beberapa siswa yang tadi diam-diam merekam, masih sibuk menunduk pada ponsel mereka. Ada juga yang langsung memposting video tadi ke akun base sekolah. Seolah tak ingin kehilangan konten yang menurutnya berharga.
Sementara itu, Athan dengan Allyssa digendongannya sudah tiba di UKS. Ruang UKS tampak sepi. Hanya ada beberapa ranjang kecil berseprei putih dan aroma anti septik yang tercium samar. Althan menurunkan Allyssa perlahan ke salah satu ranjang. Ia memastikan tubuh gadis itu tertopang dengan baik.
Ia duduk sebentar di kursi samping ranjang. Ia menatap Allyssa yang masih terkulai. Ia memperhatikan Allysa, jemarinya terangkat dan jatuh pada kacamata yang sejak tadi tertanggal di wajah Allyssa. Kacamata itu tampak retak di salah satu sisinya. Sejenak ia terpaku. Ia tersadar, dan buru-buru menaruh kacamata itu di meja samping ranjang, tepat setelah mendengar pintu UKS berderit pelan. Dua siswa berseragam putih dengan atribut PMR masuk sambil membawa kotak P3K.
“Eh, ada yang pingsan?” Salah satunya berseru.
Althan segera berdiri.
“Iya, Kena bola di lapangan. Tolong periksa dia”. Ujarnya dingin.
“Eh, Kak Althan. Oke kak, bakal kita periksa.” Ujar salah satunya lagi langsung mengeluarkan minyak kayu putih dari kotak P3K yang dibawa.
Sebenarnya keduanya mengenal sosok Althan. Terkenal dingin dan jarang berdekatan sama perempuan. Di tambah keduanya tampak kaget mendengar kata TOLONG yang keluar dari mulut seorang Althan.
“Gue ke sini lagi nanti. Kalian nungguin dia sampai gue datang!” Ujar Althan pergi tanpa menunggu jawaban dari keduanya. Mereka tampak terintimidasi dengan perkatan Althan barusan.
“Gila, most wanted Nocturnal, dingin amat.”
“Mau dijahit tuh mulut. Ntar kalau didengar mampus lu.” Ujar salah satunya.
...****************...
Setelah satu jam berlalu. Allyssa perlahan membuka matanya. Atap ruangan putih dengan stiker bulan menyambut kesadarannya. Hidungnya samar mencium bayu minyak kayu putih yang rupanya tadi petugas PMR mengoleskan sedikit di pelipisya. Cara sederhana yang sering dipakai ketika ada siswa yang pingsan.
“Akhirnya sadar juga.” Ujar salah satunya lega dengan suara pelan.
Meski masih sedikit pusing Allyssa bangun dan tersenyum tipis pada keduanya.