NovelToon NovelToon
Dia Yang Ku Pilih

Dia Yang Ku Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:887
Nilai: 5
Nama Author: Yolanda Fitri

Bianca, gadis yatim piatu yang berjuang sendiri. Hatinya terbagi antara Barra, cinta lama yang kandas karena kesalahpahaman yang sengaja diracik oleh Aza demi menghancurkan mereka. Atau Leo, sosok baru yang hadir membuatnya kembali tersenyum dan bangkit dari duka.

Bianca mengira pilihannya hanya soal cinta. Namun ia lupa, tak semua senyum itu tulus. Di balik kedekatan dan kebaikan, tersembunyi dendam, kebohongan, dan bahaya yang siap mengancam nyawanya.

Siapa yang akan ia pilih? Akankah membawa bahagia, atau justru awal mula kehancurannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yolanda Fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Manipulasi

Bianca sampai di rumahnya dan langsung masuk ke kamar mandi, lalu mengunci pintunya dari dalam. Di kamar mandi, Bianca menatap dirinya di cermin sambil menangis.

Dia menyesali nasibnya yang selalu tidak beruntung dalam hidupnya. Mulai dari dibesarkan di panti asuhan, harus membiayai hidupnya sendiri, sekolah, kuliah, bahkan dalam hal percintaan pun dia kurang beruntung.

Bianca terus menangis mengingat kejadian di kampus tadi. Dia bingung apa yang harus dilakukannya. Siapa yang tega memfitnah dirinya? Bianca bahkan merasa malu untuk bertemu dengan teman-teman di kampus, karena dia yakin mereka pasti salah paham dan berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya.

Setelah cukup lama Bianca duduk merenung di dalam kamar mandi, akhirnya dia bangkit dan kembali menatap bayangannya di cermin. Kali ini tatapannya berbeda.

Bianca mencoba menguatkan dirinya dan berkata pada dirinya sendiri, "Tidak... Aku tidak boleh lemah begini. Aku harus kuat. Aku harus buktikan kalau aku tidak bersalah, supaya orang-orang yang jahat padaku sadar bahwa aku tidak bisa dijatuhkan dengan mudah."

Bianca menghapus air matanya dan mencoba bangkit kembali. Dia lalu keluar dari kamar mandi dan mengambil air minum untuk menenangkan dirinya.

Sementara itu, Leo baru saja mengantar Dinda pulang ke rumahnya, karena tadi Dinda ikut di mobil Leo untuk memastikan Bianca sampai di rumah dengan selamat.

Pikiran Leo masih terus memikirkan satu hal: apakah benar Barra menjadi alasan Aza meninggalkannya dulu? Dia tidak akan tenang sebelum mendapatkan jawaban langsung dari Aza.

Leo mencoba menelepon Mamanya Aza untuk meminta nomor ponsel Aza, karena dia sudah tidak memiliki nomor itu lagi sejak mereka berpisah. Akhirnya Leo mendapatkan nomor tersebut dan segera mencoba menghubunginya.

Aza mendengar ponselnya berdering dan melihat ada nomor tidak dikenal yang menelepon. Dia mengangkat telepon itu dan bertanya dengan siapa dia berbicara.

"Ini aku, Leo," jawab Leo dengan nada datar. Aza sangat terkejut mendengar suara Leo, lalu dia tersenyum penuh makna.

Di dalam hati, Aza sudah menyusun rencana. Dia berniat menjauhkan Leo dari Bianca juga, supaya Bianca benar-benar tidak memiliki pendukung lagi.

Aza mulai mencari simpati Leo dengan berkata, "Untuk apa kamu menelepon aku? Kamu mau bilang kalau aku salah paham dan Bianca tidak mungkin melakukan hal seperti itu kan? Aku tahu kamu pasti akan membela pacarmu, kan?"

Leo terkejut mendengar nada bicara Aza yang tiba-tiba begitu lembut kepadanya. Leo menjelaskan bahwa bukan itu tujuannya menelepon. Dia hanya ingin bicara dan bertemu empat mata dengan Aza.

Aza pun terpaksa menyetujuinya karena dia ingin membuat Leo berpihak kepadanya. Aza menyuruh Leo datang saja ke rumahnya, karena kondisinya masih kurang sehat dan belum bisa bertemu di luar.

Leo menyetujuinya dan langsung berangkat menuju rumah Aza.

Di tempat lain, Dinda masih terus memikirkan kejadian di kampus tadi. Dia sangat yakin ada orang yang sengaja menjebak Bianca, tapi dia bingung siapa orang itu.

Dulu ada Ella yang sering membuat masalah, tapi belakangan ini dia sudah jarang muncul di kampus sehingga suasana menjadi lebih tenang. Dinda terus berpikir keras sambil mondar-mandir di dalam kamarnya. Tak lama kemudian ponselnya berdering, ternyata Bianca yang menelepon. Dinda merasa sangat senang karena Bianca mau menghubunginya kembali.

Bianca berkata bahwa dia ingin bicara sebentar dengan Dinda sebelum berangkat kerja. Dinda langsung menyetujuinya dan segera berangkat ke rumah Bianca.

Di sisi lain, Leo sudah sampai di rumah Aza dan bertemu langsung dengan Aza. Mereka duduk bersama di taman belakang rumah Aza.

Aza bertanya hal apa yang sebenarnya ingin Leo tanyakan kepadanya.

Dengan nada ragu-ragu, Leo berkata, "Apakah Barra menjadi alasan kamu meninggalkan aku dulu? Padahal saat itu hubungan kita baik-baik saja. Kenapa kamu tiba-tiba berubah?"

Mendengar pertanyaan itu, pikiran Aza langsung teringat kembali pada kejadian sebelum dia berpisah dengan Leo.

(Kilas Balik)

Saat itu Aza dipanggil oleh Papanya ke ruang kerja, dan di sana ada Mamanya juga. Papa Aza berkata bahwa perusahaan mereka sedang mengalami masalah besar dan keuangannya kacau. Jika dibiarkan terus begitu, perusahaan itu bisa bangkrut, bahkan Papanya bisa dipenjara karena terlilit banyak hutang.

Mendengar itu Aza sangat terkejut dan langsung menangis. Aza segera menawarkan diri dan bertanya apa yang bisa dia lakukan untuk membantu.

Papa Aza menjawab, "Ada. Kamu harus menjalin hubungan yang serius dengan Barra dan keluarganya. Mereka bukan orang sembarangan. Kalau kita bisa bersekutu dengan mereka, kita tidak akan terkalahkan dan bisa menjadi keluarga terkaya di Indonesia."

Aza yang terkejut mendengar hal itu langsung menjawab kalau dia sudah punya pacar, yaitu Leo. Namun Papa Aza berkata kalau latar belakang keluarga Leo masih kurang kuat dan belum mampu membantu menyelesaikan masalah besar mereka, jadi Papa Aza tidak yakin keluarga Leo bisa diandalkan.

Papa Aza menambahkan, jika Aza bisa menjadi istri Barra, maka anak cucu Aza kelak akan menjadi pewaris seluruh kekayaan dan bisnis keluarga Barra. Aza mencoba membantah dan berkata kalau Barra sudah punya pacar, dan setahu Aza Barra sangat mencintai gadis itu.

Papa Aza hanya tersenyum lalu memberi tahu Aza bahwa Papa Barra sebenarnya tidak merestui hubungan mereka karena gadis itu tidak jelas asal-usulnya. Papa Aza juga berpesan, kalau Aza bisa mengambil hati ibunya Barra, maka semuanya akan menjadi lebih mudah karena Barra sangat menyayangi dan menuruti perkataan ibunya.

Sejak saat itu, diam-diam Aza mulai mengamati hubungan antara Barra dan Bianca.

Aza melihat betapa berartinya Bianca di mata Barra. Barra begitu romantis dan memperlakukan Bianca dengan sangat istimewa, berbeda dengan Leo yang menurut Aza terlalu biasa, kurang romantis, dan tidak peka.

Pernah suatu ketika Aza melihat Barra yang sedang sakit keras, namun dia tetap memaksakan diri membuat kejutan ulang tahun yang sangat romantis untuk Bianca. Hal itu membuat hati Aza terbakar rasa cemburu. Dia ingin sekali berada di posisi Bianca yang begitu dicintai oleh seorang laki-laki.

Di situlah benih ketertarikan Aza terhadap Barra mulai tumbuh. Selama ini yang Aza tahu Barra hanyalah anak nakal yang suka kelayapan dan tidak peduli pada dirinya sendiri. Tapi ternyata Barra bisa berubah menjadi sosok lelaki yang lembut dan penyayang saat bersama wanita yang dicintainya.

Aza pun mulai bertekad dalam hatinya untuk merebut Barra dari Bianca dan meninggalkan Leo demi menyelamatkan masa depan keluarganya.

(Kilas Balik Berakhir)

Leo melihat Aza yang melamun jauh, lalu menyadarkannya. Dia bertanya apa yang sedang dipikirkan oleh Aza, dan memastikan apakah dugaan Leo benar bahwa Aza meninggalkannya dulu semata-mata demi Barra.

Aza pun mulai mengarang cerita agar Leo bersimpati padanya. Dia menceritakan kalau waktu itu perusahaan Papanya sedang mengalami kesulitan besar dan dia tidak ingin bersenang-senang di atas penderitaan orang tuanya. Karena itulah dia memutuskan untuk berhenti berpacaran dan fokus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Aza juga berkata kalau dia tidak mau menyeret Leo masuk ke dalam permasalahan rumit keluarganya. Aza menambahkan, alasan dia kembali ke Indonesia adalah karena Papanya sudah semakin tua dan kesehatannya menurun. Dia merasa kasihan melihat Papanya bekerja keras sendirian dan berniat membantu mengurus bisnis keluarga di sini.

Aza sengaja menceritakan hal itu supaya Leo merasa iba dan kelak akan berada di pihaknya. Leo mendengar penjelasan itu merasa sangat lega karena ternyata apa yang dia pikirkan selama ini tidak benar sama sekali. Dia merasa bersalah karena telah salah menilai Aza.

Leo juga bertanya kenapa Aza tidak pernah bercerita padanya dulu. Kalau saja dia tahu, mungkin Leo akan mengerti dan bisa ikut membantu serta membangun bisnis bersama-sama.

Mendengar hal itu Aza dengan cekatan langsung mengalihkan pembicaraan. Dia bertanya dengan nada santai apakah benar Leo sekarang berpacaran dengan Bianca.

Leo akhirnya jujur pada Aza dan mengaku kalau dia hanya berpura-pura menjadi pacar Bianca supaya Barra berhenti mengganggu Bianca. Aza mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum licik dalam hati. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk menjauhkan mereka berdua, supaya tidak ada lagi orang yang mendukung Bianca dan rencananya bisa berjalan lancar.

Aza juga berpikir, apakah Leo sebenarnya masih menyimpan perasaan padanya? Sebab kalau tidak, dia tidak akan mau datang jauh-jauh ke rumahnya hanya untuk menanyakan masa lalu mereka.

Aza mencoba menguji perasaan Leo dengan berkata, "Baiklah, aku mengerti sekarang. Jadi aku harap kita tidak perlu bertemu lagi ya. Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu, dan aku tahu kamu datang ke sini pasti juga untuk membela Bianca. Orang yang sudah mempermalukan aku di depan umum tadi. Kamu pasti nanti akan bilang kalau dia tidak bersalah dan dijebak orang kan?"

Aza berdiri dari duduknya dan hendak masuk ke dalam rumah, namun Leo menahan tangannya agar Aza tidak pergi dulu. Leo berkata kalau dia tidak akan membela kesalahan orang lain, tapi selama Bianca belum terbukti bersalah, maka dia tetap menganggapnya tidak bersalah.

Mendengar perkataan Leo itu, Aza menjadi marah dan berkata bahwa semuanya sudah sangat jelas dan nyata terlihat. Dia menyuruh Leo pergi dari rumahnya sekarang karena dia sudah menjelaskan semuanya.

Aza pergi meninggalkan Leo sendirian di taman. Leo merasa bingung dan galau harus berbuat apa sekarang. Jujur saja, setelah mendengar penjelasan Aza tadi, hatinya menjadi goyah dan bingung harus mempercayai siapa.

Dengan perasaan bingung dan kalut, Leo pun pergi meninggalkan rumah Aza.

Sementara itu, Dinda sudah sampai di rumah Bianca. Baru saja Dinda masuk ke ruang tamu, Bianca langsung memeluknya erat. Dia menjelaskan bahwa dia tidak bersalah dan tidak pernah melakukan hal sejahat itu. Dinda meyakinkan kalau dia percaya penuh pada Bianca dan siap membantu mencari siapa pelaku sebenarnya.

Bianca merasa sangat lega mendengar penuturan sahabatnya itu. Saat ini yang paling dia butuhkan hanyalah kepercayaan dari orang terdekatnya. Dinda pun bertanya apa yang sebenarnya terjadi di ruang dosen tadi sampai Bianca pergi begitu saja tanpa menyapanya.

Bianca menceritakan kalau dia diberi waktu satu minggu untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Jika dalam waktu tersebut dia gagal menemukan pelakunya, maka beasiswanya akan dicabut dan dia akan dikeluarkan dari kampus.

Saat itu Bianca merasa sangat bingung bagaimana cara membuktikan dirinya tidak bersalah. Dia merasa hanya seorang diri dan tidak memiliki kekuasaan apa-apa.

Dinda memberi semangat kepada sahabatnya bahwa sekarang dia tidak sendirian lagi. Dinda akan selalu mendukung dan membantu Bianca untuk mengungkap siapa pelaku di balik kejadian itu. Bianca bertanya apakah Dinda sudah punya rencana.

Dinda menjawab kalau saat ini belum ada rencana di kepalanya, tapi yang pasti besok pagi mereka harus memeriksa rekaman CCTV di lingkungan kampus. Mendengar hal itu Bianca sangat kaget dan merasa takut, karena dia merasa malu jika harus bertemu dengan warga kampus lagi.

Dia yakin mereka pasti sangat membenci Bianca dan berpikiran buruk tentang dirinya.

Namun sekali lagi Dinda menegaskan agar Bianca tenang saja karena ada Dinda yang akan selalu ada di sampingnya. Akhirnya pembicaraan mereka pun berakhir. Dinda mengantar Bianca berangkat kerja, lalu dia kembali pulang untuk memikirkan rencana selanjutnya.

1
Yolanda Fitri
oke kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!