Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.
Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.
Detik berikutnya, napasnya tercekat.
Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.
Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
you're mine 14 (END)
*Tiga hari setelah Sandra pergi dari kantor Devan dengan amarah. Parkiran Basement Ardiansyah Group. 21:40.*
Hujan deras mengguyur Jakarta. Basement lengang, hanya ada deru air dari luar dan lampu neon yang berkedip, mematahkan bayangan jadi serpihan.
Nara baru keluar dari lift. Lembur lagi. Devan sudah menyuruhnya pulang sejak sore, tapi laporan itu harus selesai malam ini. Tubuhnya sebenarnya sudah lelah. HP-nya sekarat di angka 1%. Motornya terparkir sendirian di pojok. Devan pernah menawarkan salah satu mobilnya, tapi Nara menolak. Gelar ‘pelakor’ saja sudah cukup memalukan—apalagi kalau ditambah ‘materialistis’.
_Tok. Tok. Tok._
Suara hak tinggi menggema, memantul di dinding beton. Nara menoleh. Jantungnya berhenti berdetak.
Sandra. Berbalut jas hujan hitam, masker menutupi separuh wajah, rambutnya basah kuyup. Satu tangan menggenggam payung yang masih terlipat. Tapi yang membuat darah Nara membeku adalah benda di tangan satunya.
_Cutter._ Baru. Tajamnya memantulkan cahaya neon sampai perih menyilaukan mata.
"Sendirian, Ra?" Suara Sandra manis. Terlalu manis. "Mana Devan yang katanya bakal jadi pelindung kamu?"
Nara mundur selangkah, instingnya berteriak bahaya. "Sandra... kamu ngapain di sini? Satpam—"
"Satpam sudah pulang. CCTV basement rusak dari siang tadi." Sandra tersenyum, miring dan licik. "Kebetulan, kan? seperti takdir. Takdir yang bilang kamu harus lenyap dari hidup Devan."
Nara merogoh tasnya. HP mati. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Hanya dia dan seorang wanita nekad, yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan.
"Aku sudah hancur, Ra," bisik Sandra, melangkah maju. Setapak demi setapak. "Tunangan batal. Nama baik hancur. Semua orang ngetawain aku. Aku, Sandra Wijaya, supermodel. Kurang apa aku? Tapi aku kalah sama perempuan kayak kamu." Suaranya bergetar marah. "Tante Widya sudah tidak bela aku lagi. Semua gara-gara kamu. Jadi adil dong... kalau aku hancurin kamu juga. Kita hancur sama-sama."
"Kamu gila, San. Kamu sakit!" Nara berteriak, suaranya pecah menggema. "Membunuhku tidak akan membuat Devan kembali ke kamu!"
"Tidak," Sandra mengangguk pelan. Kepalanya miring. "Tapi kalau kamu mati, dia akan menyalahkan dirinya sendiri seumur hidup. Dia tidak akan bisa sama siapa-siapa lagi. Termasuk sama bayangan kamu." Dia tertawa. Pelan. Hampa. "Itu lebih muasin buat aku daripada merebut dia kembali."
Sandra menerjang.
Nara reflek menghindar, tapi terlambat. Ujung _cutter_ menyambar lengannya. Perih menyengat. Darah langsung merembes di _blazer_ kremnya, menyebar seperti noda tinta. Lututnya menghantam keras di atas lantai yang basah saat dia jatuh.
Sandra tidak memberi ampun. Dia menginjak kaki Nara, lalu menduduki perutnya, menindih dengan seluruh berat badan. Lututnya menekan dada Nara sampai napasnya tercekat. Tangan kiri menjambak rambut Nara, menghantamkan kepalanya ke lantai berkali-kali. Dunia berputar. Pandangan Nara berkunang.
"Kenapa kamu jadi racun terus, hah? Kenapa kamu tidak lenyap saja dari dulu!" desis Sandra di telinga Nara. Bilah _cutter_ yang dingin ditempelkan di pipi Nara. "Mau aku ukir nama Devan di sini? Biar pas kamu mati, Devan tahu kamu masih menyebut nama dia?"
Nara meronta. Kukunya mencakar lengan Sandra sampai berdarah. Tapi Sandra sudah seperti kesurupan. Tenaganya bukan tenaga manusia waras.
"LEPASIN!" Nara menjerit. Serak. Putus asa.
"Ucapin selamat tinggal, Ra," Sandra mengangkat _cutter_-nya tinggi. Matanya kosong, tak bernyawa. "Ini buat..."
_Bruk!_
Tubuh Sandra terpental ke samping, menghantam tiang beton. Suara benturan itu menggema.
Devan.
Jasnya basah kuyup, menempel di tubuh. Napasnya memburu, dadanya naik-turun. Matanya merah, tapi bukan karena sedih — karena murka. Di tangannya, payung besi bengkok, bekas menghantam punggung Sandra.
Sandra mengerang, mencoba bangkit sambil tetap mengacungkan _cutter_. "Jangan ikut campur, Van! Dia—"
"DIAM." Suara Devan bukan lagi suara manusia. Itu perintah mutlak dari seorang yang tengah emosi, Dia melangkah, berdiri di depan Nara, menjadi benteng hidup untuk perempuan yang dicintainya. "Berani sentuh dia sekali lagi, aku habisin kamu di sini, San. Sumpah demi Tuhan."
Sandra tertawa. Darah menetes dari sudut bibirnya. "Kamu bela dia? Milih dia? Setelah semua yang sudah aku lakuin buat kamu?"
"Kamu tidak pernah melakukan apa-apa buat aku," jawab Devan. Setiap katanya sedingin es, menusuk. "Semua yang kamu lakukan cuma buat ego kamu sendiri. Dan sekarang kamu mau menghabisi orang yang aku cintai. Kamu sudah tidak waras!"
Devan mengeluarkan HP, jemarinya menekan nomor darurat tanpa gemetar. "Halo, polisi? Basement Ardiansyah Group. Ada perempuan gila sedang melakukan percobaan pembunuhan."
Dua kata ‘perempuan gila’ dari mulut Devan menghancurkan sisa kewarasan Sandra. Topeng manis yang dipakainya selama ini retak. Dia menangis, menjerit histeris seperti orang kesurupan.
Nara masih di lantai, gemetar hebat. Devan langsung berlutut, mengangkat tubuh Nara ke pelukannya. Blazer krem itu kini sudah separuh merah. "Ra... Ra, lihat aku. Kamu dengar suara aku, kan?"
Nara mengangguk lemah. Jemari tangannya mencengkeram kemeja Devan erat, seolah itu satu-satunya yang nyata dalam hidupnya "Kak... takut..."
"Sudah tidak apa-apa. Aku di sini. tidak ada yang bisa menyakiti kamu lagi." Mata Devan melotot ke arah Sandra yang kini sudah diringkus dua bodyguardnya yang datang bersamaan dengannya tadi. "Mau main kejam? Aku bisa lebih kejam, San. Tapi aku tida sebodoh kamu. Biar hukum yang urus kamu."
Sandra diseret sambil meronta dan menjerit. "DEVAN! KAMU NGGAK BISA GINIIN AKU! AKU CINTA KAMU! NARA HARUS MATI! DIA HARUS MATI!"
Sirine polisi dan ambulans bersahutan, memecah sunyi basement.
Devan menggendong Nara. Darah Nara merembes ke jas mahalnya, tapi dia tidak peduli, dia hanya berbisik di telinga Nara yang setengah sadar:
"Tidur saja. Pas kamu bangun, dunia sudah aman. Karena kali ini aku sendiri yang akan memastikan menghukum siapa pun yang menyakiti kamu, mulai sekarang kamu bisa bernapas tenang lagi."
*Enam Bulan Kemudian. Apartemen Devan, 06:17.*
Aroma kopi dan roti panggang bercampur di udara. Lampu dapur temaram. Di luar masih gelap, hujan rintik-rintik.
Nara mengikat rambut panjangnya ke atas dengan asal, hingga leher jenjang putih itu terlihat menggoda dengan beberapa helai rambut yang menempel di sana. Dia memakai kemeja kebesaran milik Devan. Nara mengaduk oatmeal di panci kecil, sambil bersenandung lagu jepang jadul kesukaannya. Utada hikaru "first love" dengan pelan-pelan, hampir tidak kedengaran. Kebiasaan barunya setiap pagi.
"Ra."
Nara kaget. Devan sudah berdiri di kusen pintu dapur. Rambut acak, muka bantal, tapi matanya langsung fokus ke Nara. Kaos hitam polos, celana training abu-abu. tidak ada CEO Ardiansyah Group, yang ada hanya laki-laki yang baru saja bangun tidur.
"Kok sudah bangun? Kan Sabtu," Nara mematikan kompor. "Tidur lagi saja. Biar aku yang siapin sarapan."
Devan tidak menjawab. Dia berjalan ke arah perempuan yang sudah enam bulan ini menjadi istrinya, Devan memeluk Nara dari belakang. Dagu ditaruh di puncak kepala Nara. Diendus. "Aroma kamu enak, wangi, seperti roti."
Nara tertawa kecil. "Ini aroma vanilla oatmeal, Kak."
"Aroma kamu." Devan semakin mengeratkan pelukan. "Enam bulan, Ra. Enam bulan setiap pagi aku bersyukur sebab setiap kali bangun tidur, ada kamu di sini."
Nara diam. Dulu dia tidak pernah berani membayangkan momen seperti ini, baginya ini seperti mimpi. Dulu setiap dia bangun yang ada cuma sepi yang bercampur dengan rasa bersalah. Tapi sekarang setiap pagi dia membuka mata, ada Devan, ada pelukan, ada sarapan yang dia masak untuk dua orang.
"Berisik banget isi kepala kamu," Devan mengusap pelan lengan Nara. "Mikir apa lagi?"
"Mikir... apa ini beneran," bisik Nara.
Devan membalikkan badan Nara, dipaksa berhadap-hadapan. Jemari tangannya mengusap pipi Nara pelan. "Tidak akan, tidak pernah lagi kamu sendiri." Matanya serius. "Kamu ingat janjiku? aku akan selalu ada untuk kamu, sesibuk apa pun aku tidak akan membiarkan kamu merasa kesepian."
Nara tersenyum, "iya, aku tahu,"
"Nah." Devan tersenyum. Senyum yang cuma Nara yang bisa lihat.
Hening. Cuma suara hujan sama detak jantung mereka yang terdengar.
HP Devan bunyi di meja. Notif dari Nathan.
Nathan: (Foto wisuda) "Aku berhasil, Kak, akhirnya aku berhasil menyelesaikan study aku," Devan tersenyum bangga sekaligus terharu, akhirnya Nathan benar-benar berhasil menata hidupnya.
Nara menangkap tatapan itu.
"Ada apa?" penasaran
Devan menunjukkan foto Nathan yang tengah tersenyum lebar, Nathan terlihat sangat bahagia memamerkan piagam kelulusannya. Nara tersenyum menatap foto itu, akhirnya hatinya benar-benar lega, semua berjalan dengan baik bahkan sangat baik dan dia bersyukur sekali akan hal itu.
Nara menatap kembali Devan. Laki-laki yang dulu sedingin es itu, sekarang rela bangun pagi hanya untuk memeluknya di dapur. Laki-laki yang siap melawan satu dunia hanya untuk dirinya
Air mata Nara menetes. Bukan sedih. Lega.
"Kok malah nangis?" Devan panik, mengusap pipinya. "Apa yang salah?"
"Enggak," Nara menggeleng cepat. Dia memeluk Devan kencang, mencium dada bidang itu. "Aku cuma... bahagia, Kak. Bahagia banget. semua sakit selama ini seperti terbayar lunas sekarang, aku memiliki kamu, Nathan berhasil menata hidupnya menjadi lebih baik,"
Devan diam. Lalu memeluk balik. Erat. seperti tidak mau lepas seumur hidup.
Di luar hujan masih rintik-rintik. Dingin, tapi di dalam ada hati yang hangat penuh cinta.
Karena perang sudah selesai. Sandra akhirnya di penjara 4 tahun karena percobaan pembunuhan. Mama sudah rutin ngajak Nara lunch setiap minggu. Nathan sudah bahagia dengan hidupnya.
"Aku sayang kamu, Ra," bisik Devan di rambut Nara.
Nara tersenyum di dadanya. "Aku juga. Lebih dari yang Kakak tahu, aku mencintaimu, Kak,"
end