Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pagi itu, suasana di ruang rawat kembali sibuk. Pintu kamar terbuka, dan seorang perawat lain masuk membawa nampan berisi semangkuk bubur putih hangat dan segelas air putih.
Aroma khas rumah sakit yang hambar menguar, namun Prabu dengan sigap segera mengambil alih nampan tersebut dari tangan perawat.
Xena memperhatikan gerak-gerik suaminya yang tampak sangat canggung namun berusaha keras untuk berguna.
Di tengah rasa sakit yang masih berdenyut di wajahnya, Xena tiba-tiba teringat sesuatu.
"Pra, obatmu ada di tas medisku. Jangan lupa diminum sebelum kamu makan," ucap Xena lirih. Suaranya masih lemah, namun nada perhatian itu tidak bisa disembunyikan.
Prabu tertegun. Ia menghentikan gerakannya yang sedang mengaduk bubur.
Matanya kembali memanas. Di saat seperti ini, di saat wajahnya hancur karena perbuatannya,
Xena masih memikirkan jadwal pengobatannya. Masih memikirkan pemulihan traumanya.
"Xen, harusnya kamu pikirkan dirimu sendiri dulu," bisik Prabu dengan suara serak.
Xena hanya memejamkan mata sejenak tanpa membalas.
Ia sudah terbiasa menjadi dokter bagi Prabu, sampai ia lupa bagaimana cara menjadi pasien bagi dirinya sendiri.
Prabu menghela napas, ia menganggukkan kepala dengan patuh.
"Iya, nanti aku minum. Sekarang, kamu makan dulu ya."
Dengan sangat hati-hati, Prabu meniup sesendok kecil bubur dan menyuapi istrinya.
Setiap suapan ia berikan dengan tatapan yang penuh pemujaan sekaligus penyesalan yang mendalam.
Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk pelan. Kedua orang tua Prabu masuk.
Ibu Prabu tampak membawa sebuah tas kecil yang mengeluarkan aroma manis yang akrab di penciuman Xena.
"Xena, sayang. Ibu bawakan roti cokelat kesukaanmu. Ibu ingat kamu pernah bilang suka roti dari toko dekat rumah," ucap Ibu Prabu dengan suara lembut.
Beliau mencoba menahan tangis saat melihat perban di wajah menantunya.
Ibu Prabu segera mendekat ke sisi ranjang, menggantikan posisi Prabu.
Beliau mengambil potongan roti cokelat yang lembut dan mulai menyuapi Xena dengan kasih sayang seorang ibu kandung.
"Makan yang banyak ya, Nak. Biar cepat sehat," bisik Ibu Prabu sambil mengusap kening Xena.
Ayah Prabu berdiri di ujung ranjang, menatap putranya dengan pandangan yang masih sangat tegas.
Sementara Prabu hanya bisa berdiri menyamping, membiarkan ibunya memberikan kenyamanan yang tidak bisa ia berikan.
Ia melihat bagaimana Xena menerima suapan ibunya dengan patuh, sebuah pemandangan yang membuat hati Prabu terasa dicubit.
Wanita itu adalah yatim piatu, dan di rumah sakit ini, ia seolah menemukan kembali sosok orang tua yang telah lama hilang.
"Terima kasih, Ibu," gumam Xena setelah menelan potongan roti itu.
Kehangatan yang diberikan mertuanya menjadi kontras yang tajam bagi luka dingin yang ditinggalkan Prabu.
Prabu hanya bisa terdiam, menyadari bahwa meski keluarganya telah memaafkan dan merangkul Xena, luka di hati istrinya tetaplah tanggung jawab yang harus ia pikul seumur hidupnya.
Prabu bangkit dari kursi dengan gerakan yang kaku, seolah berat tubuhnya bertambah berkali-kali lipat.
Ia melangkah menuju tas medis milik Xena yang tergeletak di sudut ruangan.
Dengan tangan gemetar, ia mencari butiran obat yang tadi diingatkan oleh istrinya.
Ia meminumnya dengan sekali teguk, merasakan pahitnya obat itu tak sebanding dengan rasa malu yang menyumbat kerongkongannya.
Setelah memastikan Xena sudah sedikit lebih tenang, kedua orang tua Prabu berpamitan.
Ayah Prabu sempat menepuk bahu putranya dengan keras—sebuah peringatan bisu sebelum mereka meninggalkan ruangan.
Kamar rawat itu kembali hening. Xena baru saja hendak memejamkan mata untuk mencari sedikit ketenangan, ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan kasar.
"Apa-apaan ini?!"
Xena tersentak, matanya terbuka lebar. Di ambang pintu berdiri Dwi, sahabat sekaligus rekan sejawatnya.
Napas Dwi memburu, wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak setelah melihat kondisi wajah Xena yang diperban.
"Dwi, tenang dulu..." ucap Xena lirih, mencoba meredam ketegangan.
"Tenang? Kamu bilang tenang, Xen?!" Dwi melangkah lebar mendekati ranjang, mengabaikan kehadiran Prabu yang mematung di sisi lain.
"Aku nggak bisa tenang kalau kamu diperlakukan seperti ini! Lihat wajahmu!"
Dwi menoleh tajam ke arah Prabu. Sorot matanya seperti ingin menembus jantung pria itu.
"Pra, kamu dari SMA memang brengsek. Entah apa yang dilihat Xena dari kamu sampai dia rela menghabiskan sepuluh tahun hidupnya cuma buat nunggu orang kayak kamu!"
Prabu tidak membela diri. Ia menunduk dalam-dalam, menerima setiap makian Dwi sebagai kebenaran yang tak terbantahkan.
"Dwi, sudah. Tarik napas panjang, tolong," sela Xena lagi.
Ia meraih ujung baju Dwi, mencoba menarik sahabatnya itu agar menjauh dari amarahnya sendiri.
Dwi mengembuskan napas kasar. Dengan hentakan kaki yang kesal, ia akhirnya duduk di kursi samping ranjang Xena.
Tangannya gemetar karena emosi yang meluap. Ia menatap Xena dengan mata berkaca-kaca, penuh rasa tidak tega.
"Kalau kamu melakukan ini lagi, aku yang akan menghajarmu, Tuan Prabu!" ucap Dwi dengan nada mengancam, matanya kembali menghunus ke arah Prabu.
"Aku tidak peduli kamu trauma atau tidak, aku akan pastikan kamu merasakan sakit yang sama!"
Mendengar ancaman berapi-api dari sahabatnya, sebuah tawa kecil—sangat tipis dan lemah—keluar dari bibir Xena.
Suara tawa itu terdengar sedikit ganjil karena tertahan perban di pipinya.
"Kamu mau menghajar pilot, Dwi? Memangnya kamu kuat?" tanya Xena jenaka, mencoba mencairkan suasana yang membeku.
Dwi mendengus, namun ketegangan di wajahnya sedikit mengendur melihat Xena masih bisa bercanda.
Sementara itu, Prabu hanya bisa menatap mereka berdua dalam diam.
Ada rasa iri yang menusuk di hatinya melihat kedekatan dan perlindungan tulus yang diberikan Dwi untuk Xena—sesuatu yang seharusnya menjadi tugasnya sebagai suami, namun justru menjadi kegagalan terbesarnya.
Keheningan di kamar rawat itu tiba-tiba pecah oleh getaran kencang dari ponsel di saku celana Prabu.
Ia tersentak, lalu segera mengeluarkan benda itu agar suaranya tidak mengganggu Xena yang sedang berusaha beristirahat. Nama "Yanuar" berkedip di layar.
Dengan langkah terburu-buru, Prabu berjalan ke arah jendela yang agak menjauh dari ranjang sebelum mengangkat teleponnya.
"Halo, Yan," bisik Prabu.
"Aku di lobi depan, Pra. Aku sudah di rumah sakit," suara Yanuar terdengar berat dan tanpa basa-basi di seberang sana.
Prabu tertegun. "Kamu tahu dari mana?"
"Tadi Ayahmu meneleponku. Beliau menceritakan semuanya, Pra. Semuanya!" Nada bicara Yanuar mengandung kekecewaan yang sangat dalam.
"Turunlah. Aku ingin bicara."
Prabu melirik sekilas ke arah Xena yang sedang berbincang pelan dengan Dwi.
Ia merasa tidak sanggup jika Yanuar masuk ke kamar sekarang dan meledak di depan Xena.
"Tunggu di sana. Aku turun," ucap Prabu singkat sebelum mematikan sambungan.
Prabu keluar dari kamar dengan langkah gontai. Di dalam lift, ia hanya bisa menatap pantulan dirinya di dinding besi yang mengilap; wajah seorang pria yang baru saja menyadari bahwa ia telah menghancurkan segalanya.
Begitu pintu lift terbuka di lantai dasar, Prabu melihat Yanuar berdiri di dekat pintu masuk utama.
Sahabat karibnya itu masih mengenakan pakaian kantor yang tampak kusut, seolah ia langsung meluncur ke sini begitu mendengar kabar buruk tersebut.
Begitu jarak mereka hanya tinggal beberapa
langkah, Yanuar langsung menghampiri Prabu.
Tatapan matanya yang biasanya jenaka kini berubah menjadi sangat tajam dan dingin.
"Apa yang ada di otakmu, Pra?" tanya Yanuar tanpa salam pembuka. Suaranya rendah namun penuh penekanan.
Prabu hanya bisa menunduk. Ia tidak memiliki satu pun kalimat pembelaan yang tersisa.
"Sepuluh tahun, Pra. Sepuluh tahun Xena menjaga perasaannya untukmu, menjaga martabatmu di depan semua orang, bahkan saat kamu seperti orang gila karena kecelakaan itu,"
Yanuar melangkah lebih dekat, suaranya mulai bergetar karena emosi. "Dan kamu membalasnya dengan tanganmu sendiri? Kamu menghajar wanita yang bahkan tidak pernah membalas kata-kata kasarmu?"
"Aku salah, Yan. Aku tahu aku bajingan," gumam Prabu lirih, suaranya hampir hilang ditelan kebisingan lobi rumah sakit.
"Bajingan saja tidak cukup untuk menggambarkanmu sekarang," potong Yanuar ketus.
"Ayahmu menceritakan soal bukti-bukti keluarga Tryas. Kamu lihat kan sekarang? Siapa yang benar-benar tulus dan siapa yang hanya menginginkan uangmu?"
Prabu terdiam membisu. Penyesalan itu kembali menghujamnya.
Di depan Yanuar, pria yang tahu betul sejarah pahit mereka sejak SMA, Prabu merasa benar-benar telanjang dengan segala kebodohannya.
Ia menyadari bahwa kali ini, ia tidak hanya kehilangan kepercayaan Xena, tapi juga hampir kehilangan rasa hormat dari sahabat terbaiknya.
Yanuar tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin di telinga Prabu.
Ia melangkah maju hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa senti.
"Jangan hanya diam dan menyesal, Pra," desis Yanuar dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh tekad.
"Kalau kamu memang tidak bisa mencintainya, kalau kamu merasa dia hanya beban atau pengganggu ingatanmu pada Tryas, biar aku yang mencintai Xena. Biar aku yang menjaganya."
Prabu tersentak. Kepalanya yang tadinya tertunduk langsung tegak seketika.
"Apa maksudmu, Yan?" tanya Prabu dengan suara yang mendadak tajam.
"Kamu dengar aku. Dari dulu, sejak SMA, aku sudah menyukai Xena," aku Yanuar tanpa ragu sedikit pun.
"Tapi aku mundur karena aku tahu dia hanya menatapmu. Aku menghargaimu sebagai sahabatku. Tapi melihat dia terbaring di atas sana karena ulahmu, aku menyesal sudah memberikan jalan untukmu dulu."
Prabu mengernyitkan keningnya. Rasa panas yang bukan berasal dari amarah, melainkan rasa takut kehilangan yang amat sangat, mendidih di dadanya.
Ia tidak pernah menyangka bahwa sahabat karibnya sendiri menyimpan perasaan sedalam itu pada istrinya.
"Yan, dia istriku," geram Prabu, suaranya rendah dan mengancam.
"Istri yang kamu pukul? Istri yang kamu buat pingsan sendirian di rumahnya?" Yanuar menantang balik, tidak gentar sedikit pun dengan tatapan Prabu.
"Xena pantas mendapatkan pria yang menghargainya sebagai manusia, bukan sebagai pelampiasan trauma."
Prabu mencengkeram kerah baju Yanuar, namun kali ini tangannya tidak mengayun untuk memukul.
Ia hanya mencengkeramnya dengan getaran hebat, seolah sedang memegang satu-satunya harga diri yang tersisa.
"Langkahi dulu mayatku, Yan," ucap Prabu dengan penekanan di setiap kata.
"Aku tahu aku bajingan, aku tahu aku salah besar. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun mengambilnya dariku. Terutama saat aku baru menyadari bahwa dia adalah oksigenku."
Yanuar melepaskan cengkeraman tangan Prabu dengan sekali sentakan kasar.
Ia merapikan kerahnya sambil menatap Prabu dengan pandangan meremehkan.
"Kalau begitu, buktikan. Jangan cuma bicara soal mayat," ucap Yanuar dingin.
"Karena kalau sampai aku melihat air mata Xena jatuh lagi karena kamu, aku tidak akan minta izin padamu untuk membawanya pergi dari hidupmu. Selamanya."
Yanuar berbalik dan berjalan meninggalkan lobi rumah sakit, meninggalkan Prabu yang berdiri mematung di tengah keramaian.
Prabu menyadari satu hal: dunianya benar-benar sedang dipertaruhkan.
Jika ia tidak segera berubah, ia akan kehilangan Xena bukan hanya karena perceraian, tapi karena ada pria lain yang jauh lebih layak yang siap memberikan surga bagi istrinya.
wwkwkwkwk
gemes bgt sama nie orang dech
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣