Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. RAUNGAN MACAN HITAM DAN DARAH SANG BIDADARI**
Ujung Pedang Naga Emas Seribu Langit bergetar halus di udara, menciptakan dengungan rendah yang menggetarkan sukma. Getaran itu bukan tanda keraguan, melainkan manifestasi dari tenaga dalam murni yang dialirkan Rangga Nata—sebuah bendungan raksasa yang siap jebol dan menghancurkan apa pun di depannya jika Nini Suro melakukan gerakan mencurigakan.
Di hadapannya, sang Ratu Racun berdiri membeku. Wajah tuanya yang semula penuh seringai pongah kini layu, kehilangan seluruh wibawa jahatnya. Sepasang matanya yang cekung, yang tadinya berkilat penuh kelicikan, kini meredup ditelan bayangan ketakutan yang pekat.
Tongkat tengkorak kebanggaannya… senjata yang telah menelan ratusan nyawa pendekar ternama… kini tak lebih dari seonggok kayu patah. Separuhnya tergeletak di tanah, separuh lagi masih ia genggam dengan tangan yang bergetar hebat hingga bunyi gemeretak tulang jarinya terdengar jelas.
Dari celah patahan kayu hitam itu, uap ungu masih mengepul lemah—seperti seekor ular berbisa yang taringnya telah dicabut paksa, hanya bisa mendesis tanpa daya.
Sunyi menyergap pelataran.
Ratusan pendekar golongan hitam yang tadi mengepung dengan tawa mengejek, kini terpaku dengan napas tertahan. Tak satu pun berani mengedipkan mata, apalagi menggeser kaki. Mereka tahu, satu gerakan salah akan memicu murka pemuda di tengah lingkaran itu. Jika pedang emas itu berayun sekali lagi, mereka bukan hanya melihat kematian Nini Suro, tapi mungkin akan menyaksikan badai kematian yang meratakan seluruh istana.
“Dua puluh jurus…” ucap Rangga pelan.
Suaranya datar, namun setiap suku katanya membawa bobot ribuan kati yang menghantam dada siapa pun yang mendengarnya.
“Kita baru sampai jurus kesepuluh.”
Rangga menatap lurus ke dalam pupil mata Nini Suro yang mengecil. Ada kilat dingin di sana, jenis kedinginan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah bersahabat dengan maut.
“Tapi kau sudah tidak mampu melanjutkan.”
Nini Suro menelan ludah dengan susah payah. Kerongkongannya terasa kering dan perih, seolah ia baru saja menelan pasir panas.
“Kau… kau…” suaranya parau dan bergetar, “Benar-benar murid si Gila itu… Ilmu Naga Langit milikmu… sudah mencapai tingkat sempurna…”
Rangga tidak menanggapi pujian pahit itu. Ia sedikit menekan ujung pedangnya. Hanya sedikit. Namun cukup untuk menggores kulit leher Nini Suro yang keriput. Setetes darah merah tua merembes, mengalir lambat menuruni leher sang nenek sihir.
“Serahkan… Empedu Macan Putih.”
Kali ini suaranya berubah. Dingin. Tanpa emosi. Seolah sedang membacakan surat takdir yang tak bisa ditawar lagi.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hitamnya, Nini Suro merasa benar-benar runtuh. Bukan hanya kalah dalam adu tenaga dalam, tapi jiwanya telah takluk di bawah keagungan aura Rangga.
Perlahan, tangannya yang gemetar merogoh ke dalam lipatan jubah hitamnya yang bau busuk mayat. Ia mengeluarkan sebuah botol porselen kecil berwarna hijau tua. Permukaannya dihiasi ukiran macan yang tampak sangat hidup, seolah otot-otot porselen itu bisa bergerak dan menerkam kapan saja.
Begitu tutup botol itu tersingkap sedikit, aura hangat namun liar langsung menyebar ke udara, menetralkan sisa-sisa uap racun yang mengambang. Itulah Empedu Macan Putih, mustika penawar racun paling langka di jagat persilatan.
“Ini…” suara Nini Suro nyaris habis, “yang kau cari…”
Rangga tidak terburu-buru. Matanya menyapu botol itu, memastikan tak ada bubuk racun tambahan atau tipu daya di tangan Nini Suro. Setelah yakin energinya murni, tangannya bergerak secepat kilat.
Sret!
Botol itu kini telah berpindah ke genggamannya. Hangat dan berdenyut, seolah jantung makhluk legendaris itu masih berdetak di dalamnya. Untuk sesaat, ketegangan di bahu Rangga sedikit mengendur. Dewi Melati… Selasih… kalian akan selamat.
Namun, kelegaan itu hanya bertahan sekejap. Sebelum ia sempat menyimpan botol itu, langit di atas Istana Macan Hitam seolah terbelah.
“ROOOOOAAAAARRRRR!!!”
Raungan dahsyat yang bukan berasal dari tenggorokan manusia mengguncang pondasi istana. Dinding batu berderak, dan debu-debu bertahun-tahun jatuh dari langit-langit. Ratusan pendekar hitam langsung jatuh berlutut, wajah mereka pucat pasi seolah melihat dewa kematian turun dari langit.
“Dia… Sang Penguasa… datang!”
Rangga mendongak. Matanya menyipit tajam. Aura yang turun dari atap istana ini jauh lebih buas dan haus darah daripada milik Nini Suro.
Dari puncak atap, sebuah bayangan raksasa meluncur turun bak meteor hitam. Sosok itu besar, otot-ototnya menonjol di balik bulu hitam kasar yang menutupi jubahnya. Sepasang tangannya menyerupai cakar binatang buas dengan kuku-kuku hitam yang memancarkan aura maut. Matanya merah menyala, memantulkan api kebencian yang murni.
Dialah… Macan Hitam, sang pemilik istana.
“BANGSAT KAU, RANGGA NATA!”
Suaranya menggelegar layaknya guntur yang menyambar di siang bolong. Tanpa peringatan, ia melesat ke arah Rangga. Tekanan angin dari gerakannya membuat tanah di bawahnya retak hancur.
Namun, di tengah lintasannya, mata licik Macan Hitam menangkap sosok lain di sudut pelataran. Seorang gadis cantik yang tengah sibuk memukul mundur sisa-sisa pengawal istana.
Ayu Wulandari.
Senyum kejam dan menjijikkan terkembang di wajah sang penguasa istana. Ia tahu ia mungkin akan kesulitan menghadapi Rangga secara langsung, maka ia memilih cara paling pengecut.
“Target yang lebih mudah!” desisnya.
Dalam sepersekian detik, Macan Hitam mengubah arah gerakannya di udara. Ia tidak menerjang Rangga, melainkan menukik tajam ke arah Ayu yang tengah lengah.
“Awas, Rangga!” teriak Ayu, merasakan firasat buruk tanpa sempat menoleh.
“MATI KAU, BIDADARI JALANG!”
Macan Hitam menghimpun seluruh tenaga dalamnya ke telapak tangan kanan. Udara di sekitarnya mendadak membeku, menciptakan hawa kematian yang menyesakkan.
“MACAN PEREMUK GUNUNG!!!”
Pukulan itu dilepaskan dengan daya hancur maksimal. Meskipun tangannya belum menyentuh tubuh Ayu, gelombang kejut tenaga dalam hitam yang kasat mata meluncur menghantam punggung gadis itu.
DUGGG!!!
Tubuh Ayu terhantam telak. Matanya membelalak kaget, mulutnya terbuka lebar berusaha meraup udara yang mendadak hilang dari paru-parunya.
“Ughh…!”
Tubuh mungil itu terlempar ke udara layaknya boneka kain yang putus talinya. Darah segar menyembur dari mulutnya, mewarnai udara dengan noktah merah yang ngeri. Ayu jatuh menghantam tanah dengan keras dan berguling beberapa kali sebelum akhirnya diam tak bergerak.
“AYUUUU!!!”
Suara Rangga pecah, menggelegar melampaui raungan Macan Hitam. Untuk pertama kalinya, ketenangan naga itu hancur total. Amarah murni meledak dari pusat inti batinnya.
Aura keemasan di sekelilingnya berubah menjadi merah membara. Pedang Naga Emas bergetar begitu hebat hingga menciptakan bunyi melengking yang menyakitkan telinga. Ia siap menerjang, siap mencincang Macan Hitam menjadi jutaan keping.
Namun, lirikannya menangkap kondisi Ayu. Gadis itu kejang-kejang di atas lantai batu. Napasnya tersengal-sengal, pendek dan berat. Serangan tadi bukan sekadar pukulan fisik; itu adalah racun penghancur organ dalam yang bekerja sangat cepat.
Jika Rangga memilih bertarung sekarang, Ayu akan mati dalam hitungan menit.
“Ha ha ha ha!” tawa Macan Hitam membahana, penuh kemenangan yang picik. “Bagaimana, Rangga?! Kau dapat obatnya, tapi kau kehilangan wanitamu! Pilih mana: kepalaku, atau nyawa jalang itu?!”
Puluhan pengawal kembali merapat, melihat celah di pertahanan Rangga yang goyah karena emosi. Senjata-senjata terhunus kembali mengarah ke leher sang pemuda.
Rangga berdiri di tengah badai itu. Giginya gemeretak, buku-buku jarinya memutih hingga nyaris menembus kulit.
“Aku bisa membunuh kalian semua dalam satu tarikan napas…” pikirnya kalap. “Tapi Ayu…”
Keputusan tersulit harus diambil. Antara harga diri seorang pendekar dan nyawa orang yang berharga. Akhirnya, dengan raungan frustrasi yang tertahan, Rangga memilih.
“Hari ini…” suaranya berat, bergetar karena dendam yang membara, “aku mengalah.”
Semua orang tertegun. Rangga Nata yang tak terkalahkan… mundur?
Wusss!
Bak bayangan yang ditarik cahaya, Rangga sudah berada di samping Ayu. Ia berlutut, jarinya menyentuh nadi di leher Ayu yang sangat lemah. “Bertahanlah… Kumohon, bertahanlah…” bisiknya lirih.
Ia menyambar tubuh Ayu, memanggulnya di pundak dengan gerakan selembut mungkin namun tetap cepat.
“JANGAN BIARKAN DIA LARI! HABISI!” teriak Macan Hitam murka melihat mangsanya mencoba lolos.
Seketika, hujan senjata turun dari segala penjuru. Anak panah, jarum beracun, dan pisau terbang menutupi langit pelataran. Rangga tidak menghindar. Ia berputar seperti gasing, pedang emasnya menciptakan kubah pelindung cahaya yang tak tertembus.
Trang! Trang! Trang!
Semua senjata itu terpental balik dengan kecepatan dua kali lipat, menumbangkan para penyerang mereka sendiri dalam teriakan kesakitan yang mengerikan. Di tengah kekacauan itu, Rangga melepaskan jurus pamungkas untuk melarikan diri.
“Naga Melintasi Samudra!”
Ledakan tenaga murni menghantam lantai batu, menciptakan tabir debu yang menutupi pandangan. Ketika debu itu menipis, Rangga sudah melesat jauh ke arah hutan, meninggalkan istana yang kini dipenuhi bau kematian dan amarah sang Macan Hitam.
Di bawah rimbunnya pohon-pohon tua Gunung Tiga Puluh, Rangga terus berlari tanpa henti. Kakinya menghantam dahan dan semak berduri hingga jubahnya semakin koyak, namun ia tak merasakannya. Fokusnya hanya satu: menjauh sebelum napas Ayu benar-benar berhenti.
Air mata jatuh membasahi pipi sang pendekar, bercampur dengan peluh dan darah. Di atas pundaknya, tubuh Ayu semakin mendingin.
“Tahan, Ayu… sedikit lagi…” bisiknya serak.
Rangga berhenti sejenak di sebuah tebing tersembunyi, menatap ke arah istana di kejauhan dengan tatapan yang sanggup membakar hutan.
“Macan Hitam…” desisnya, dan setiap kata adalah sumpah darah. “Aku akan kembali. Dan saat itu tiba, aku akan memastikan bahkan abu istanamu pun tak akan tersisa.”
Angin hutan bertiup kencang, membawa sumpah sang Naga menuju langit malam yang mulai menggelap. Perang yang sesungguhnya… baru saja dimulai.
Bersambung...