"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Suasana di dalam ruang tengah rumah besar keluarga Nugraha terasa seperti sebuah pengadilan yang tak adil. Zoya berdiri di tengah ruangan dengan tubuh gemetar, sementara Papa Dewangga duduk di kursi kebesarannya dengan wajah merah padam.
Foto-foto manipulasi hasil karya Nadia masih berserakan di atas meja marmer, seolah-olah menjadi saksi bisu atas kejahatan yang tidak pernah dilakukan Zoya.
"Jelaskan padaku, Zoya! Bagaimana kau bisa menjelaskan pengkhianatan serendah ini setelah semua kemewahan yang diberikan keluarga kami?!" Suara Papa Dewangga menggelegar, membuat vas kristal di pojok ruangan seolah bergetar.
Zoya mencoba membuka mulut, namun hanya isak tangis yang keluar. Ia menatap Arvin, berharap mendapatkan setitik pembelaan dari pria yang selama berhari-hari ia rawat dengan penuh kasih. Namun, yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang membara oleh kebencian dan kekecewaan.
Arvin melangkah maju, mendekati Zoya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Aroma parfum Arvin yang biasanya menenangkan, kini terasa menyesakkan bagi Zoya.
"Jadi ini alasanmu ingin segera ke kampus tempo hari?" desis Arvin, suaranya rendah namun lebih menyakitkan daripada teriakan ayahnya. "Kau berpura-pura peduli saat aku sakit, menyuapiku, menjagaku semalaman... itu semua hanya sandiwara untuk menarik simpatiku? Agar aku melonggarkan pengawasanku sehingga kau bisa bebas bertemu dengan pria ini?!"
"Tidak, Tuan... demi Allah, tidak seperti itu," Zoya menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Liam hanya teman. Foto-foto itu... itu diambil dari sudut yang salah. Saya tidak pernah mengkhianati pernikahan kita."
"Jangan sebut pernikahan kita dengan mulutmu yang kotor itu!" bentak Arvin. "Aku baru saja mulai mencoba memercayaimu, Zoya. Aku mulai berpikir bahwa kau berbeda dari wanita lain. Tapi ternyata kau lebih licik dari Nadia. Kau membungkus sifat busukmu dengan kain-kain suci ini!"
Nadia, yang duduk di sofa dengan raut wajah pura-pura prihatin, menyela dengan suara lembut yang berbisa. "Arvin, mungkin dia merasa kesepian karena kau terlalu sibuk. Tapi tetap saja, berselingkuh dengan mahasiswa di perpustakaan... itu sangat tidak berkelas."
Kemarahan Arvin mencapai puncaknya. Ia menarik lengan Zoya dengan kasar, menyeretnya keluar dari rumah besar itu menuju mobil. Papa Dewangga hanya menatap dengan dingin, sementara Mama Rosa membuang muka seolah Zoya adalah sampah yang paling menjijikkan.
Di dalam mobil yang melaju kencang menuju apartemen, Arvin tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Cengkeramannya pada kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Sesampainya di penthouse, Arvin membanting pintu dan langsung menarik Zoya ke ruang tengah.
"Kemas barang-barangmu sekarang!" teriak Arvin. "Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi di rumah ini. Kau benar-benar menghancurkan harga diriku!"
"Tuan, tolong dengarkan aku dulu. Aku punya bukti percakapan di grup belajar, aku bisa membuktikan bahwa kami tidak pernah berdua saja!" Zoya bersimpuh di kaki Arvin, memegang ujung celana suaminya.
"Bukti apa lagi?!" Arvin menepis tangan Zoya. "Foto-foto itu bicara lebih keras dari kata-katamu! Kau tahu betapa malunya aku di depan keluarga besarku? Aku terlihat seperti pecundang!"
Arvin menarik napas panjang, matanya berkilat dengan amarah yang mematikan. Ia membuka mulutnya, kata-kata yang paling ditakuti oleh setiap istri di dunia sudah berada di ujung lidahnya.
"Zoya Alana, malam ini juga, aku..."
Kalimat Arvin terhenti saat ia secara tidak sengaja menyenggol tas ransel Zoya yang tergeletak di atas sofa.
Tas itu terjatuh, isinya berantakan di atas lantai. Beberapa buku kuliah, alat tulis, dan sebuah buku catatan kecil bersampul biru tua, buku harian Zoya terbuka di halaman tengah.
Zoya segera hendak meraih buku itu, namun Arvin lebih cepat. Ia menyambar buku tersebut, matanya tertuju pada tulisan tangan yang rapi namun tampak ternoda oleh bekas tetesan air mata yang sudah mengering.
Arvin terdiam. Matanya mulai membaca baris demi baris tulisan yang bertanggal saat ia sedang kritis menderita tifus tempo hari.
Malam ke-3 Tuan Arvin sakit.
"Ya Allah, Sang Pemilik Nyawa... hamba mohon, angkatlah penyakit suamiku. Biarlah rasa sakitnya berpindah kepadaku jika itu bisa membuatnya kembali tersenyum, meski senyum itu bukan untukku."
"Aku tahu dia keras kepala, aku tahu dia sering menyakitiku dengan kata-katanya, tapi hamba melihat jiwanya yang kesepian di balik dinding es itu. Tolong jaga dia saat hamba tertidur. Aku mencintainya bukan karena hartanya, tapi karena hamba melihat sisi kecilnya yang butuh dicintai."
"Kuatkan hamba untuk tetap sabar di sampingnya, meski kelak hamba tetap menjadi rahasia yang ia sembunyikan dari dunia."
Arvin membalik halaman berikutnya. Isinya serupa, doa-doa yang tulus, harapan-harapan kecil agar Arvin sehat, bahkan catatan tentang jam berapa Arvin harus minum obat agar tidak terlewat sedikit pun. Di sana juga terselip doa agar Arvin bisa berdamai dengan masa lalunya dan menemukan kebahagiaan.
Suasana ruangan yang tadinya penuh teriakan, tiba-tiba menjadi hening senyap. Hanya suara isak tangis Zoya yang terdengar memilukan di lantai.
Arvin terpaku. Tangannya yang memegang buku itu mulai bergetar. Kalimat "Angkatlah penyakit suamiku... biarlah berpindah kepadaku." seolah menghujam jantungnya lebih tajam daripada pedang mana pun.
Seorang wanita yang berencana mengkhianati suaminya tidak akan pernah menuliskan doa seperti ini di saat suaminya sedang tak berdaya.
"Tuan..." suara Zoya lirih, ia masih bersimpuh. "Kau boleh mengusirku. Kau boleh membenciku. Tapi tolong... jangan pernah ragukan bahwa setiap detik aku merawatmu, itu adalah ketulusan yang murni dari hatiku."
Arvin menatap Zoya, lalu kembali menatap buku harian itu. Ia teringat bagaimana Nadia memprovokasinya semalam, bagaimana ibunya menghina Zoya, dan bagaimana ia sendiri hampir saja membuang satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya tanpa pamrih.
Amarah Arvin yang tadinya menyala-nyala, kini padam berganti dengan rasa bersalah yang amat sangat. Ia menyadari satu hal, ia baru saja hampir membunuh jiwa wanita yang justru paling sering mendoakan keselamatannya.
"Zoya..." bisik Arvin, suaranya pecah.
Ia melepaskan buku harian itu dan perlahan berlutut di hadapan Zoya. Tangannya yang tadi digunakan untuk membentak, kini terulur ragu untuk menyentuh bahu istrinya. Namun, Zoya justru sedikit menarik diri, rasa takut terpancar jelas dari balik matanya yang sembab.
Arvin memejamkan mata, merasakan kepedihan yang luar biasa. Ia telah melakukan kesalahan besar. Ia telah membiarkan ego dan kecemburuannya menutupi kebenaran yang begitu jernih di depan matanya.
"Maafkan aku..." ucap Arvin, hampir tak terdengar.
Namun, sebelum momen emosional itu berlanjut, ponsel Arvin di meja kembali bergetar. Sebuah notifikasi muncul dari nomor baru yang belum tersimpan.
"Lihatlah video yang kukirimkan ini, lalu putuskan apakah dia masih pantas kau sentuh."
Arvin menegang. Ia melihat ke arah ponselnya, lalu ke arah Zoya yang masih menangis. Badai ini ternyata belum berakhir. Nadia tidak hanya ingin Zoya pergi, ia ingin menghancurkan Zoya sampai ke akar-akarnya.
...----------------...
To Be Continue ....