Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.
Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Bertemu
"Sakit, bitch!" desis Delon saat ujung jari Clara tidak sengaja menekan memar di sudut bibirnya.
Mereka berdua kini berada di sudut rooftop yang sepi, jauh dari jangkauan siswa lain setelah insiden perkelahian dengan Ezra tadi. Clara mengepalkan tangannya kuat di balik rok seragamnya, berusaha menahan gelombang rasa kesal yang sudah sampai di ubun-ubun.
"Ya namanya juga luka, tentu saja sakit, bodoh!" jawab Clara tanpa sadar.
Seketika, suasana di atas rooftop terasa membeku. Delon mendongak dengan tatapan yang menggelap, membuat Clara terpaku di tempat.
"Kau sudah berani?" tanya Delon dingin.
"Ya maaf, diam dulu, aku obatin lukanya!" ujar Clara dengan suara bergetar karena gugup. Ia segera menunduk, kembali memfokuskan diri pada kapas dan salep di tangannya.
Delon kembali terdiam, membiarkan gadis itu bekerja meski dengan gerakan yang kaku.
"Bu Arini pasti tahu sesuatu tentang keberadaan Aurin," ujar Clara memecah keheningan.
Delon kembali mendongak dengan cepat. "Dari mana kamu tahu?"
"Selama hampir dua minggu ini, dia mengisi absen Aurin dengan keterangan sakit kata Alora. Berarti jelas ada pihak yang memberi keterangan itu," jawab Clara dengan nada serius. "Kamu harus tanya Bu Arini untuk mencari tahu jejak Aurin."
Delon terdiam sebentar, lalu menyunggingkan seringai tipis yang tampak kejam. Tangannya tiba-tiba bergerak menangkap pinggang Clara, lalu menarik gadis itu hingga duduk di atas pangkuannya.
"Sebelum Aurin ketemu, aku butuh mengisi amunisi dulu," gumam Delon dengan tatapan yang berubah menjadi penuh minat. Ia menyibak rambut Clara ke atas, lalu mulai menempelkan wajahnya di leher jenjang gadis itu.
"Delon, ini di sekolah! Kalau ada yang lihat bagaimana?" ujar Clara panik sekaligus muak. Ia berusaha menjauhkan wajahnya, tapi Delon justru mengunci pergerakannya sebelum akhirnya membungkam bibir gadis itu dengan ciuman paksa.
"Bibir Aurin pasti rasanya jauh lebih enak daripada ini!" ujar Delon tepat setelah melepaskan tautan bibir mereka, seperti sengaja ingin menghancurkan harga diri Clara.
Clara merasakan dadanya naik turun dengan cepat. Rasa muak, benci, dan keinginan untuk segera melarikan diri dari cowok itu kini beradu dalam batinnya. Ia merasa benar-benar tidak dianggap sebagai manusia di depan Delon.
"Ke ruangan kosong di lantai satu sekarang, tunggu aku di sana!" perintah Delon setelah melepaskan pangkuannya. Ia menyuruh Clara pergi sebelum mulai menyalakan cerutu di sela jarinya.
......................
Di sisi lain, suara motor Ezra yang meninggalkan halaman sekolah pagi itu melesat cepat. Cowok itu memutuskan untuk tidak mengikuti pelajaran hari ini. Seragamnya yang kusut akibat perkelahian tadi dia biarkan begitu saja. Begitu pula dengan memar di wajah serta darah tipis di sudut bibirnya yang masih belum benar-benar kering.
Ezra tidak peduli.
Pikirannya sejak tadi hanya dipenuhi satu nama.
Aurin.
Kemana perginya gadis itu?
Motor besar itu akhirnya berhenti di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai. Ezra masuk tanpa memperdulikan tatapan beberapa pengunjung yang sempat melihat wajah babak belurnya. Cowok itu memilih duduk di meja paling pojok dengan napas panjang yang terasa berat.
"Kamu sebenarnya di mana, Au..." gumamnya pelan.
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sejak tadi.
Tiga bulan.
Dia pergi hanya selama tiga bulan, tetapi saat kembali, terlalu banyak hal yang sudah berubah. Bahkan keberadaan Aurin kini seperti menghilang begitu saja tanpa jejak.
Ezra berdiri sebentar untuk memesan kopi sebelum kembali duduk di tempatnya semula.
Tatapannya perlahan jatuh pada tas hitam di samping kursi.
Cowok itu membukanya pelan, lalu mengeluarkan sebuah paperbag kecil yang sejak tadi sengaja dia bawa ke sekolah.
Sebuah gantungan kunci kecil berbentuk Big Ben.
Sepasang jepit rambut warna krem.
Dan sebuah novel fiksi edisi khusus yang masih tersimpan sangat rapi di dalam plastik beningnya.
Di halaman depan buku itu terdapat tanda tangan langsung dari penulis favorit Aurin, sesuatu yang bahkan Ezra harus menunggu cukup lama di Inggris untuk mendapatkannya.
Sedari awal, semua benda itu memang ingin dia berikan untuk gadis tersebut. Namun sekarang, bahkan untuk menemukan Aurin saja terasa sulit.
Ezra tertawa kecil hambar sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Kopi di depannya perlahan mulai dingin, sementara pikirannya semakin penuh oleh berbagai kemungkinan buruk.
Hampir dua jam berlalu begitu saja sampai akhirnya cowok itu mengembuskan napas kasar dan berdiri dari duduknya.
Dia membayar pesanannya, lalu kembali menaiki motor besar miliknya.
Namun arah tujuannya kali ini bukan rumah.
Motor itu melaju membelah jalanan pagi yang mulai ramai menjelang siang sebelum akhirnya berhenti tepat di depan rumah sang kakak.
.
.
Begitu pintu dibuka oleh Bibi Tika, Ezra masuk disambut aroma masakan yang pekat dari arah dapur. Cowok itu berhenti sebentar, menelisik seisi ruangan dengan tatapan tajam.
"Anet! Om datang!" panggil Ezra menggema di ruang tengah.
"Bibi, Anet di mana?" tanya cowok itu kemudian.
"Non Anet ada di kamarnya, Tuan," jawab Bibi Tika sopan.
Ezra mengangguk, kemudian melangkah naik ke lantai dua untuk menemui keponakannya itu. Di sela-sela anak tangga, pikiran Ezra masih diselimuti rasa penasaran terhadap istri baru kakaknya yang seharusnya berada di rumah ini.
"Little girl!" panggilnya mengetuk pintu kamar Anet begitu sampai di atas.
Pintu kamar terbuka dengan cepat. "Om... ASTAGA!!!" Geanetta spontan menutup wajahnya begitu melihat memar dan sisa darah di wajah Ezra.
"Om kenapa jadi seperti itu? Di mana wajah tampannya?!" Pekik gadis kecil itu heboh. "Masa mau ketemu mami baru Anet bawa wajah jelek seperti itu!" protes Anet dengan tangan yang masih menutupi wajah meskipun sesekali mengintip di sela jemarinya.
Ezra yang tersadar akan kondisinya langsung mengusap wajahnya kasar, lalu terkekeh rendah. "Biar mami barunya Anet tidak suka sama Om Eza" jawabnya santai. "Biasanya sekarang pesona adik ipar jauh lebih menggoda," lanjut cowok itu dengan suara lebih kecil.
"Iya juga ya. Ya sudah, ayo Om kenalan sama mami Anet!" tangan mungil gadis itu menggandeng Ezra dengan antusias.
"Hm."
Keduanya kembali turun ke lantai bawah. Begitu sampai di ruang tengah, bocah itu meminta Ezra berhenti. "Om tunggu di sini!" celotehnya, kemudian berlari kecil menuju dapur.
"Mami... mami! Ayo kenalan sama Om Eza!" panggil Anet sembari menarik tangan Aurin yang sejak tadi sedang fokus dengan masakannya. Pagi tadi Gallelio memang berpesan bahwa pria itu akan makan siang di rumah, sehingga Aurin merasa harus menyiapkan semuanya dengan sempurna.
"Iya, sebentar sayang. Mami selesaikan ini dulu," jawab Aurin sembari menyesap rasa kuah masakannya sekali lagi.
Beberapa saat kemudian, dia mematikan kompor, melepas apron dari tubuhnya, mencuci tangan, lalu melangkah mengikuti putrinya itu menuju ruang depan.
"Om, ini Mami..."
"AURIN?!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...