NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: JANGAN SENTUH BERUANGKU

Hari ini New Ardent sedang panas-panasnya, tapi suhu di dalam kantor pusat Winchester jauh lebih dingin berkat AC sentral yang bekerja maksimal. Gue datang ke kantor tanpa memberi tahu Keano. Niatnya sih baik, mau kasih kejutan bawa makan siang favoritnya—nasi padang dengan rendang ekstra bumbu yang gue beli di pinggiran kota. Gue tahu dia bosan makan *steak* atau salad mahal tiap hari.

Gue berjalan melewati lobi dengan santai. Gue nggak pakai gaun mahal, cuma celana kargo hitam, kaos putih polos, dan jaket *bomber* kebanggaan gue. Rambut gue ikat asal-asalan. Beberapa karyawan baru menatap gue bingung, mungkin mikir gue kurir makanan nyasar, tapi para staf lama langsung menunduk hormat. Mereka tahu kalau di balik penampilan santai ini, ada wanita yang bisa mematikan aliran listrik seluruh gedung ini dalam satu ketukan jari.

Begitu sampai di lantai paling atas, gue nggak melihat Evan di depan pintu ruangan Keano. *Tumben si patung itu nggak ada,* batin gue.

Gue baru saja mau membuka pintu ruangan Keano yang berlapis peredam suara itu, saat gue melihat melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Di dalam sana, Keano tidak sendirian.

Ada seorang wanita—cantik, elegan, dengan rambut pirang hasil salon mahal dan rok span yang kependekan buat ukuran orang kantoran. Namanya kalau nggak salah Clarissa, putri dari salah satu kolega bisnis Winchester yang baru saja menjalin kontrak besar.

"Tuan Keano, sepertinya berkas ini butuh penjelasan lebih detail," suara wanita itu terdengar mendayu-dayu, sengaja dibuat serak basah yang menurut gue malah kedengaran kayak orang kena asma.

Gue melihat dari celah itu. Clarissa tidak berdiri di kursi tamu. Dia malah berjalan memutar ke belakang meja kerja Keano. Tangannya yang berkuku merah panjang mulai berani menyentuh pundak Keano, lalu turun ke arah dada pria gue.

"Aku tahu Anda sangat lelah mengurus akuisisi Halim Group kemarin. Bagaimana kalau kita lanjutkan diskusi ini di tempat yang lebih... privat?" bisiknya sambil mencondongkan badan sampai (maaf) dadanya hampir menempel di lengan Keano.

Keano tampak kaku. Dia baru saja mau membuka mulut—mungkin mau mengusir—tapi gue sudah nggak tahan lagi. Darah gue mendidih sampai ke ubun-ubun. Insting bar-bar gue yang selama ini gue simpan rapi di Calveron mendadak meledak.

*BRAKK!*

Gue menendang pintu kayu jati itu sampai menghantam dinding dengan suara dentuman keras. Keano tersentak kaget sampai hampir jatuh dari kursinya, sementara Clarissa menjerit kecil dan langsung menjauh dari Keano.

"Wah, wah... gue ganggu acara 'diskusi privat' kalian ya?" suara gue keluar dengan nada dingin yang paling mematikan.

Gue berjalan masuk, meletakkan kantong plastik nasi padang itu di atas meja kaca mahal dengan bantingan yang cukup keras sampai kuah rendangnya hampir muncrat.

"Lia? Kamu sejak kapan di sini?" Keano langsung berdiri, wajahnya yang tadinya kaku sekarang berubah jadi panik. Iya, panik banget. Dia tahu kalau gue sudah mode begini, New Ardent bisa gempa bumi.

"Sejak mbak ini mulai asma di depan muka lo, Ké," jawab gue sambil melirik Clarissa dari atas ke bawah dengan tatapan menghina.

Clarissa mencoba mengumpulkan harga dirinya. Dia merapikan roknya dan menatap gue dengan angkuh. "Siapa kamu? Beraninya masuk ke ruangan Tuan Winchester tanpa permisi. Kamu kurir makanan? Taruh saja makanannya di luar!"

Gue tertawa renyah. Tawa yang bikin Keano makin pucat. Gue berjalan mendekati Clarissa, lalu gue berhenti tepat beberapa senti di depan wajahnya. Gue jauh lebih tinggi karena gue pakai *boots* tebal, dan aura gue jelas jauh lebih mengintimidasi.

"Kurir makanan?" gue narik *id-card* Winchester yang ada di leher Clarissa, lalu gue potong talinya pakai pisau lipat kecil yang selalu gue simpan di saku jaket dengan gerakan secepat kilat. "Denger ya, Mbak Salon. Nama gue Arcelia. Dan cowok yang baru aja lo pegang-pegang itu... itu Beruang gue. Paham?"

"Kamu... kamu lancang sekali!" teriak Clarissa. "Keano, siapa wanita kasar ini? Usir dia!"

Keano malah maju, tapi bukan untuk mengusir gue. Dia malah berdiri di belakang gue, memegang bahu gue seolah mau menenangkan singa betina yang lagi ngamuk. "Clarissa, jaga bicara Anda. Dia adalah istri saya. Arcelia Mirelle Winchester."

Wajah Clarissa langsung berubah jadi abu-abu. Bibirnya bergetar. "Is-istri? Bukankah Alzena itu..."

"Alzena sudah nggak ada. Yang ada cuma Arcelia," potong gue cepat. Gue mengambil segelas air putih yang ada di meja kerja Keano, lalu dengan santainya gue siramkan ke atas berkas-berkas yang tadi dia bangga-banggakan.

"Ups, tangan gue licin," kata gue tanpa dosa. "Sama licinnya kayak tangan lo yang tadi ngeraba-raba suami gue."

"Keano! Lihat apa yang dia lakukan pada kontrak kita!" Clarissa hampir menangis.

Keano menatap berkas yang basah itu, lalu menatap gue. Bukannya marah karena kontrak miliaran rupiahnya rusak, dia malah menghela napas lega. Sepertinya dia lebih takut gue ngamuk lebih parah lagi.

"Kontrak bisa dicetak ulang, Clarissa. Tapi kalau istri saya sudah marah, kantor ini bisa rata sama tanah. Sekarang, silakan keluar. Kerja sama kita... akan saya tinjau ulang. Saya tidak suka klien yang tidak tahu batasan profesional," kata Keano dengan nada dingin khas Winchester-nya yang dulu.

Clarissa lari keluar ruangan sambil menahan tangis. Begitu pintu tertutup, suasana mendadak sunyi.

Gue berbalik, menatap Keano sambil melipat tangan di dada. "Jadi... diskusi privat ya?"

Keano langsung mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Lia, sumpah, aku baru mau usir dia pas kamu tendang pintu. Dia dateng tiba-tiba, aku nggak tahu kalau dia bakal seberani itu."

"Halah, alasan! Lo pasti seneng kan ditempelin yang kenyal-kenyal gitu?" sindir gue sambil jalan ke arah sofa.

Keano mengikuti gue kayak anak anjing yang takut ditinggal induknya. Dia duduk di samping gue, mencoba memegang tangan gue tapi gue tepis. "Mana ada yang lebih kenyal dari pipi kamu kalau lagi ngamuk gini? Lia, jangan marah dong. Beruang nggak salah apa-apa."

"Geli tau nggak lo panggil diri lo Beruang pas lagi di kantor!" bentak gue, tapi jujur gue mulai mau ketawa liat muka memelasnya.

Keano langsung narik gue ke pelukannya, nggak peduli gue berontak. Dia meluk gue erat banget, nenggelamin mukanya di leher gue. "Maafin aku. Besok-besok aku pasang pagar listrik di depan meja aku supaya nggak ada yang bisa deket-deket. Janji."

Gue akhirnya luluh juga. Gue cubit pinggangnya keras-keras sampai dia mengaduh. "Awas ya kalau gue liat ada ulet keket lain nempel di lo. Gue hack semua rekening bank keluarganya sampai mereka jadi gembel permanen!"

"Iya, iya, ampun, Sayang..." Keano mencium pipi gue berkali-kali. "Sekarang, makan yuk? Bau rendangnya udah manggil-manggil nih."

Kami pun duduk di lantai kantor yang beralaskan karpet mahal itu, makan nasi padang bareng-bareng pakai tangan. Pemandangan yang sangat kontras buat kantor Winchester, tapi buat gue, ini adalah kemenangan telak.

"Lia..."

"Apa?" tanya gue sambil ngunyah rendang.

"Kamu tadi cantik banget pas cemburu. Kayak mau makan orang," godanya sambil senyum nakal.

Gue melempar kerupuk ke arah wajahnya. "Diem lo, Beruang mesum!"

Keano tertawa lepas. Di balik kemarahan gue tadi, gue sadar satu hal: Keano bener-bener sudah jadi milik gue sepenuhnya, dan nggak akan ada satu orang pun yang boleh ganggu gugat. Kalau ada yang berani? Yah, mereka harus berurusan dengan Arcelia si Bar-bar dulu.

...****************...

TBC

1
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!